Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 30| PESTA DAN SALAH PAHAM


__ADS_3

“Tidak bisa berjalan apanya.” Ocean memejamkan matanya seiring suara keras yang terasa sedang menampar gendang telinganya. Tangannya masih sibuk mencuci piring. Makan malam telah usai sejak setengah jam lalu—tentu saja dengan Ocean yang memasak semuanya.


Terpaut sekitar delapan meter dari dapur, Selena dan Adira tengah “berpesta” di ruang santai. Mereka menggila; melakukan dance dengan gerakan berlebihan, melompat, berteriak mengikuti irama lagu yang diputar keras-keras. Bahkan kini Selena mengibaskan dan memutar kepalanya ke bawah sambil “bernyanyi” dengan mic di tangannya.


“You better run, run, run.” Suara Selena mengalahkan suara penyanyi aslinya. Dia lincah menggerakkan badannya, Adira di sampingnya melakukan hal serupa. Usia tidak menghalangi ibu Ocean untuk melakukan apa yang dia suka.


Dua wanita gila yang berhasil membuat Ocean berkali-kali mendesis jengah.


Meletakkan piring terakhir yang telah dibilas, Ocean berderap ke arah mereka. Sudah cukup telinganya berdenging karena nyanyian buruk dan musik peroboh rumah, pun dance yang membuat sakit mata.


“Berhenti bersikap bodoh, para tetangga bisa terganggu!” Ocean berseru, berusaha mengalahkan bising musik.


Ocean baru hendak mengambil remote untuk mematikan televisi, ketika tangannya sudah lebih dulu ditarik oleh Selena. Dalam sekejap, posisi Ocean berada di tengah-tengah dua wanita itu. Selena dan Adira menempatkan tangan mereka di bahu Ocean sembari berteriak menyanyi dan melompat-lompat. Kini mereka terlihat seperti suporter bola yang sedang menyemangati tim kesayangan.


“Bilang ‘oh my, oh my god.” Selena menyodorkan mic ke arah Ocean sembari mengajarinya nada dan lirik lagu dengan antusias.


Sebagai balasannya, Ocean memberikan lirikan tajam.


Selena mencibir sekilas, lantas kembali bersemangat menyanyi dan melompat seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


Di tengah kekacauan itu, suara bel pintu yang terkalahkan oleh musik, samar tertangkap telinga Ocean. Dia melepaskan dua tangan di pundak kiri dan kanannya, sebelum melangkah menuju pintu utama.


“Pak Ocean, sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini? Saya tidak bisa tidur karena suara berisik dari rumah ini. Tolong peringatkan istri Anda untuk berhenti mengganggu ketenangan tetangga dengan suara buruknya. Saya ada arisan penting besok.”


Seorang wanita paruh baya yang memakai pakaian tidur terlihat bersungut-sungut di depan pintu rumah Ocean. Ia melirik sinis ke dalam rumah, suara menyedihkan Selena semakin jelas di telinganya.


“Maaf atas ketidaknyamanannya, Bu. Istri saya memang sedang sangat bersemangat sekarang. Tapi jangan khawatir, dia akan segera berhenti.” Ocean sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda permintaan maaf. Ulah Selena dan ibunya memang sudah berlebihan.


Wanita itu mendengus pelan. Baiklah, dia tidak akan memperpanjang masalah. “Sayang sekali pria macam Pak Ocean harus mendapat istri sembrono, tidak memiliki sopan santun seperti itu. Ah, saya menyesal tidak memperkenalkan Pak Ocean dengan putri saya. Dia cantik, anggun, dan tentunya memiliki sikap yang amat baik. Kalian berdua pasti akan cocok sekali ....”


Tatapan Ocean berubah, keramahannya perlahan menguap, meskipun gestur tubuhnya tetap tenang. “Terima kasih atas perhatian yang Ibu berikan kepada saya. Istri saya memang ceroboh, terkadang melewati batas. Tapi seperti Ibu yang mengetahui segala sesuatu tentang putri Anda dengan baik, saya pun mengenal istri saya lebih baik dari orang-orang yang hanya melihatnya sepintas lalu. Saya rasa, tidak adil membandingkan dua orang, menilai siapa yang lebih baik, jika hanya mengetahui satu sisi saja. Keberpihakan karena pandangan subjektif.”


Wanita itu bergerak-gerak tidak nyaman, jelas kata-kata Ocean telah menyentil egonya.


Ocean tersenyum tipis. “Sekali lagi, saya meminta maaf dengan tulus karena masalah ini. Saya jamin hal seperti ini tidak akan terjadi lagi di masa depan.”


Pintu kembali tertutup bersamaan dengan wanita itu yang balik badan, kembali ke rumahnya, setelah mengangguk sekali. Ocean menghela napas, saatnya menghadapi sumber kekacauan di rumahnya.

__ADS_1


Musik terhenti, begitu pun dengan dance dan nyanyian Selena dan Adira saat Ocean menekan tombol ‘off’ pada remote televisi. Mereka langsung menatap nyalang pada Ocean, siap bertempur kapan saja.


“Jangan membuatku diusir dari lingkungan ini. Berhenti bersikap seenaknya, ini bukan mansion di pulau pribadi. Waktunya istirahat.” Ocean cuek mengempaskan diri di sofa, menikmati ketenangan setelah keributan yang membuat kepala pening.


“Ah, menyebalkan sekali.” Adira berdecak kesal. “Baiklah, Selena, kita hentikan pesta untuk hari ini, saatnya tidur. Besok Ocean juga harus bekerja.”


Tiba-tiba Selena merasa gugup luar biasa. Ia mengusap pipinya salah tingkah. “S-satu lagu lagi, Bu. Aku janji hanya satu lagu!” Selena menangkupkan tangannya, memohon dengan wajah memelas pada Adira. Dia harus mengulur waktu bagaimanapun caranya.


“Tidak, tidak. Punggung Ibu juga sudah sakit. Kita lanjutkan besok. Sekarang saatnya istirahat.” Berbeda dengan Ocean yang peka, Adira terlihat lemah memahami perasaan orang lain. Dia mengibaskan tangannya santai, meraih air putih. “Baiklah, selamat malam, Selena. Ibu benar-benar menikmati menghabiskan waktu bersamamu.”


Sepeninggal Adira, perasaan Selena semakin tidak keruan. Suasana di ruang santai itu menjadi sunyi dan sangat canggung. Ocean dan Selena tenggelam dalam pikiran masing-masing.


“Kau masih ingin di sini? Aku akan pergi dulu kalau begitu.” Ocean bangkit berdiri, sekaligus memecah lenggang. Sebelum benar-benar pergi dari sana, Ocean sengaja menggoda Selena dengan berucap, “Jangan tidur terlalu malam, Selena. Kau masih ingat di mana kamarku, bukan?”


Dan karena ucapan menyebalkan itu Selena jadi benar-benar frustrasi. Dia ingin kabur. Tidak seperti di Alaska di mana banyak bintang, Selena tidak tahu apa yang harus dia lakukan di kamar Ocean. Berkali-kali dia mengacak rambutnya, berpikir tentang pura-pura kejang hingga dibawa ke rumah sakit. Tapi itu berlebihan dan kekanakan.


Hampir dua puluh menit tidak beranjak dari tempatnya duduk, Selena akhirnya memutuskan untuk melangkah menuju lantai dua, ke kamar Ocean. Benar, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia hanya perlu memejamkan mata di sana, lantas byar, matahari akan terbit tanpa disadari.


Setelah meneguk saliva, Selena mendorong pintu kamar Ocean, menemukan pria itu tengah membaca buku di kursi. Ocean mengangkat wajah sejenak, menatap Selena.


“K-karena saat di Alaska kau sudah tidur di sofa, sekarang giliranku. Kau bisa tidur di tempat tidur.” Selena bergegas mengambil bantal. Meskipun sudah memperingatkan diri sendiri bahwa dia sama sekali tidak perlu khawatir, jantung Selena tetap saja bertalu.


“Ide bagus. Kau tidak mau memakai selimut?”


Oke, Selena benar-benar ingin menimpuk Ocean dengan buku tebal sekarang. Dia sebenarnya hanya basa-basi menawarkan diri tidur di sofa, berpikir Ocean akan bertukar posisi dengannya. Tapi apa yang bisa Selena harapkan dari pria macam Ocean? Dia akan senang sekali melihat Selena menderita, sehingga memiliki bahan untuk mengoloknya.


“Simpan selimut untukmu sendiri. Kelihatannya kau yang akan mati kedinginan jika tidak memakainya.” Selena merebahkan diri di sofa, dan seketika dia mengeluh tanpa suara. Punggungnya terasa tidak nyaman.


Ocean beranjak dari duduknya, melangkah sembari membawa bukunya menuju rak di belakang Selena. “Haruskah aku memasang karpet yang lebih tebal di samping sofa?”


Kening Selena mengernyit. “Kenapa harus begitu?”


“Jika melihat caramu tidur di Alaska, aku bisa memastikan kau akan jatuh ke lantai sebelum satu jam kau tertidur.” Ocean menyeringai. “Wah, aku kagum sekali denganmu, Selena. Kau bisa tiba-tiba menjadi petinju yang memukuli bantal, tendanganmu sama kerasnya dengan tendangan taekwondo, dan jangan lupakan kemampuan berputarmu yang mengagumkan. Dalam lima belas menit kau bisa berputar 360 derajat. Ah, yang paling penting ... dengkuranmu keras sekali, suara nyamuk pun kalah telak.”


Selena tersedak angin, seolah ada batu besar yang mengganjal di tenggorokannya. Dia seperti kehilangan separuh nyawanya. Apa-apaan itu tadi?


Mengumpulkan sisa kesadaran, Selena berucap dengan suara setengah tercekik. “J-jangan mengada-ada, Ocean. M-mana mungkin aku begitu.”

__ADS_1


Ocean menelan tawanya yang hendak lolos karena melihat ekspresi Selena. Dia masih belum selesai. “Aku mengambil beberapa video saat itu. Mau lihat?” Ocean mengambil ponselnya, jemarinya lincah bergerak di atas layar, seolah sedang mencari file.


Melihat itu, Selena tersentak, bergegas hendak menerjang Ocean. Harga dirinya akan benar-benar hancur lebur jika video itu tertangkap matanya.


Namun Ocean juga lebih dari siap, dia segera mengangkat tangannya, menjauhkan ponselnya dari jangkauan Selena sembari mengulum senyum.


“Kemarikan! Akan kubuat benda itu berakhir mengenaskan seperti hidupmu!” Selena melompat dengan tangan terangkat untuk meraih ponsel Ocean. Namun karena perbedaan tinggi badan yang cukup besar, Selena hanya bisa mencapai pergelangan tangan Ocean.


“Coba saja.” Seringaian Ocean semakin lebar, hingga membuat Selena mendesis sebal.


Merasa usahanya sia-sia, Selena hanya terpikirkan satu jalan keluar. Dia mengerahkan seluruh tenaganya sebelum kakinya terayun untuk menendang tulang kering Ocean.


Tepat sasaran. Ocean mengaduh pelan sebelum tubuhnya oleng ke samping, terduduk di sofa.


Tanpa menunggu lagi, Selena melompat ke atas sofa, tepat di depan Ocean. Bertumpu pada kedua lututnya, Selena mengunci Ocean agar dia tidak bisa pergi ke mana pun.


Kini giliran Selena yang menyeringai. Perbedaan tinggi badan itu tidak berlaku lagi.


“Berikan ponselmu selagi aku meminta baik-baik, Ocean.” Selena setengah mendesis.


Tidak seperti yang diharapkan, Ocean malah terkekeh pelan, tampak tidak terpengaruh oleh ucapan dan tindakan Selena. “Tidak ada. Video itu tidak pernah ada, Selena.”


Dalam sepersekian detik, darah Selena terasa bergejolak. Sial, dia sekali lagi masuk dalam kubangan permainan Ocean. Lihatlah wajah super memuakkan itu. Benar-benar minta ditenggelamkan ke Laut Merah. Bagaimanapun caranya, Selena harus balas dendam malam ini.


Emosi yang menggebu itu membawa tangan Selena terangkat ke rambut Ocean, hendak menariknya. Namun belum sempat keinginannya terpenuhi, pintu kamar Ocean dibuka dari luar, membuat Selena sedikit tersentak. Mereka spontan menoleh.


“Selena, Ibu minta krim—”


Gerakan Adira terhenti. Dia membeku dengan mata mengerjap lambat. Dua detik, Adira menyembunyikan senyumannya, langsung balik badan.


“Aduh ... Ibu tidak lihat apa pun, jangan khawatir. Lakukan apa yang ingin kalian lakukan. Ibu pergi sekarang.”


Seolah baru saja mendapat lecutan di punggung, Selena terkesiap menyadari posisinya dan Ocean yang terlihat ambigu. Buru-buru Selena turun dari sofa dengan sedikit canggung, lantas segera mengejar Adira.


“B-bukan begitu, Ibu. Jangan salah paham .... Aku dan Ocean benar-benar tidak melakukan apa pun.” Selena jadi gugup sendiri, merasa harus menjelaskan kesalahpahaman.


Adira tersenyum lebar, melirik Selena di belakangnya. “Apa kita harus belanja perlengkapan bayi mulai sekarang, Selena?”

__ADS_1


Damn! Sebenarnya apa yang salah dengan diri ibu Ocean.


...****...


__ADS_2