
Jari telunjuk Selena menekuri guratan samar meja kayu di hadapannya seiring angannya yang melayang, memikirkan tentang ucapan Ocean beberapa saat yang lalu. Berbagai macam pertanyaan mengambang di pikirannya, berputar-putar seolah sedang berusaha membuat kepalanya meledak.
“Apa itu semacam pernyataan cinta? Ah, tidak, tidak. Kalimat itu terdengar ambigu ....” Telunjuk Selena beralih menekan pelipisnya, semakin keras berpikir. “Menciptakan harapan, ya? Dia ingin menjalani hubungan layaknya pasangan pada umumnya? Dia? Ocean Arkananta yang itu?” Selena tidak habis pikir.
Pagi-pagi sudah memikirkan urusan memusingkan, otak Selena yang kecil itu seperti mengeluarkan asap mengepul.
“Oh, atau dia ingin pernikahan ini menjadi harapan bangsa. Mungkin dia ingin mendirikan yayasan sosial dengan menyertakan namaku di dalamnya. Pasti begitu.” Selena sebenarnya juga tidak yakin dengan pemikiran melencengnya ini. Namun, sekecil apa pun kemungkinannya, Selena ingin mempertimbangkannya agar jika dijatuhkan secara menyedihkan dari bintang-bintang di atas sana, dia sudah bersiap. “Benar, jangan senang dulu, Selena. Ingat, dia sering mempermainkanmu. Jangan bertingkah bodoh lalu dia akan mentertawakanmu lagi.” Selena berucap mantap, mengepalkan tangannya seolah sedang menguatkan tekad.
Bersamaan dengan Selena yang mengakhiri monolognya, Ocean muncul dari dapur, dengan dua piring omelete beraroma menggiurkan. Selena diam-diam mengambil napas panjang, mencoba bertingkah alami.
“W-wah, aku memang sudah lapar.”
Sial, tergagap.
Ocean tersenyum samar melihat tingkah Selena, meletakkan piring di meja, menyodorkan salah satunya pada Selena. “Perlu kuturunkan suhu ruangannya?”
“Kenapa?”
“Sepertinya kau sedang kepanasan, wajahmu memerah.” Ocean menyeringai, sengaja menggoda Selena.
Ha! Benar, bukan? Sudah Selena duga jika Ocean memang hanya ingin main-main. Dia senang sekali mempermainkannya, tertawa di atas penderitaannya. Pemikiran tentang yayasan sosial itu kini terasa lebih masuk akal.
“Kulitku memang sensitif.” Selena mendengus, tidak tertarik menanggapi Ocean lebih jauh.
“Mau jalan-jalan sebentar setelah sarapan?”
Selena mengeluh dalam hati, perubahan Ocean ini membuatnya khawatir sekaligus bersemangat. Mati-matian Selena harus menekan letupan menyenangkan di dadanya. Semua ini belum jelas juntrungannya.
“Baiklah kalau kau memaksa.” Selena membenarkan anak rambutnya yang melintang di wajah, menyuapkan omelete. Sling arm-nya masih dilepas karena sepertinya hari ini dia tidak akan banyak bergerak.
Sepuluh menit sarapan, Selena menunggu di luar vila sementara Ocean mencuci piring dan peralatan memasak. Menyapukan pandangannya ke hamparan rerumputan dan pohon-pohon yang rimbun menjulang, Selena merasa jauh lebih tenang. Sejenak, pikirannya teralihkan oleh kedamaian yang alam tawarkan di sana.
“Kau mau memakai topi?” Ocean muncul dari balik pintu.
“Tidak perlu.”
“Tuan Ocean!”
__ADS_1
Selena menoleh saat suara penuh semangat itu tertangkap telinganya. Seorang pria akhir enam puluhan tergopoh berlari dengan raut semringah ke arah mereka. Rambut putih pria itu bergerak-gerak tertiup angin, juga kaus biru usangnya yang seperti akan robek dengan tarikan ringan. Namun, garis tua sungguh tidak memudarkan tatapan hangatnya. Selena bisa langsung merasakan keramahan pria itu.
“Pak Hari!” Ocean memeluk hangat pria itu, menepuk-nepuk bahunya beberapa kali, tertawa lebar. “Bapak terlihat semakin segar dan gagah. Saya senang melihatnya.”
“Tuan Ocean ini.” Giliran Hari yang menepuk lengan Ocean, tertawa semakin lebar. “Dan ini ....”
Dengan gerakan secepat embusan angin, namun sarat akan kelembutan di dalamnya, Ocean meraih tangan Selena, menggenggamnya sembari menariknya pelan. “Istri saya, Selena.”
Demi Tuhan, kaki Selena terasa lemas sekarang. Perutnya bergejolak seolah sedang digelitiki sesuatu. Tersenyum kaku, Selena memaksa lidahnya yang kelu untuk bergerak. “S-senang bertemu dengan Pak Hari.”
“Ah, benar. Nyonya Selena. Saya minta maaf tidak bisa hadir di pernikahan kalian. Aduh, tubuh tua saya tidak bisa berkompromi dengan perjalanan jauh.”
Buru-buru Selena mengibaskan tangannya. “Saya yang salah karena tidak mengadakan pesta pernikahannya di sini, sehingga Pak Hari bisa datang. Padahal makanan di pesta enak sekali ....”
Teras itu dipenuhi gelak tawa.
“Pak Hari ini sahabat baik Kakek. Beliau yang biasanya membersihkan vila. Kau lihat bunga-bunga yang terawat itu, atau rumput yang terpangkas rapi, Selena? Pak Hari yang melakukan semuanya seorang diri. Hebat, bukan?” Ocean menatap penuh perhargaan pada Hari hingga membuatnya mengusap wajahnya malu.
“Tuan Ocean memang paling bisa membuat pria tua ini merasa berguna ....” Hari sekali lagi menepuk lengan Ocean. “Ah, saya mengganggu, ya? Sepertinya kalian ingin pergi keluar.”
“Hanya jalan-jalan di sekitar sini.”
Setelah Hari hilang ditelan pintu, Ocean dan Selena melangkah menuju jalan setapak yang seolah membelah taman vila yang luas. Langit hampir tak bersaput awan, matahari menjadi penguasa.
Embusan angin yang terasa menyejukkan sama sekali tidak membuat derap aneh di dada Selena menghilang, pun semburat merah yang menyembul di kedua pipinya. Tatapan matanya sejak tadi tertuju pada tangannya yang masih berada di genggaman Ocean, belum dilepaskan.
“Tunggu sebentar.” Selena berucap pelan, menghentikan gerakan kaki Ocean yang melangkah santai.
“Ada apa?”
Meneguk saliva, Selena melirik tangannya sekilas, memberi kode pada Ocean. “Bisa tolong lepaskan?”
Kerutan kecil muncul di dahi Ocean, matanya sedikit menyipit. “Kau merasa tidak nyaman?”
“Aku merasa aneh dan tidak terbiasa dengan sikapmu yang baru ....”
Ucapan penuh keraguan Selena membuat Ocean menyeringai tipis. “Maka dengan senang hati aku akan membuatmu terbiasa, Selena.”
__ADS_1
Alih-alih melepaskan tangan Selena, Ocean malah mengeratkan genggamannya, menariknya lembut saat kembali melangkah. Tanpa perlu melihat Selena, Ocean tahu wanita itu sedang tersipu sekarang, berusaha menyembunyikannya dengan membuang muka.
Ocean tahu .... Dia selalu tahu.
Dua belas menit berjalan tanpa ada yang berniat memecah lenggang yang terasa nyaman di antara keduanya, mereka sampai di sebuah tempat yang membuat Selena melebarkan matanya takjub. Sebuah danau yang tidak terlalu besar. Air birunya terlihat amat jernih, apalagi dipadukan dengan pemandangan kebun bunga lavender di sampingnya. Selena berdecak kagum.
Ocean membawanya menuju kursi putih panjang di dekat danau, berpayung pohon apel rimbun dengan satu-dua buahnya yang masih berwarna hijau.
“Aku tahu kau akan menyukainya.” Ocean menyapukan pandangannya pada permukaan air danau yang tenang.
Selena mengangguk, melupakan sejenak tangannya yang masih belum dilepaskan Ocean. “Aku jadi ingin berenang—ah, lupakan berenang.” Selena memantapkan hati untuk menatap Ocean. “Ayo kita bahas tentang ucapanmu tadi, Ocean. Hari ini atau tidak sama sekali!”
Ocean menoleh, matanya bersirobok dengan mata Selena. “Kau boleh tanya apa pun. Aku akan menjawabnya.”
“Soal menciptakan harapan di pernikahan ini ... kau sedang bercanda, bukan?” Merasa tidak ada gunanya berbasa-basi, Selena langsung menjurus pada masalah utama.
“Tidak. Aku serius.” Berbanding terbalik dengan Selena yang berapi-api, Ocean menjawab santai—kelewat santai, hingga membuat Selena meragukan jawabannya.
“Kenapa tiba-tiba begitu?”
“Ibarat hidangan di meja, aku memilih untuk memakan apa yang ada daripada bersusah payah mencari di luar.”
Hell! Jawaban mengesalkan macam apa itu?
“Baik, anggap memang kau serius. Tapi aku juga berhak menolak, bukan?”
Ocean terdiam sejenak, sebelum akhirnya berucap, “Kau selalu bisa menolak, Selena. Aku sama sekali tidak berniat memaksamu. Jika kau ingin aku berhenti di sini, aku akan melepaskanmu.”
Tidak tertinggal sorot bercanda di mata Ocean. Iris itu terlihat lebih pekat, lebih dalam dari yang seharusnya.
“Seandainya kau menikah dengan wanita lain, apa kau akan melakukan hal yang sama?” Suara Selena tiba-tiba menjadi sedikit parau, seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.
Lenggang. Gemerisik ranting yang tertiup angin menjadi melodi pengiring ketegangan yang menyelimuti Selena, menanti jawaban Ocean.
Enam detik. Ocean akhirnya kembali mengeluarkan suaranya, kali ini terdengar berat. “Tidak. Aku hanya memakan sesuatu yang kusukai.”
Gerakan tangan Selena yang hendak mencengkeram pinggi kursi terhenti. Sebagai gantinya, dia merasakan dingin di sekujur tubuhnya. Saat sekali lagi memberanikan diri untuk menatap Ocean, Selena tertegun. Dia menemukan sesuatu di mata Ocean—untuk pertama kalinya. Sekelebat keraguan, seakan dia tengah berdiri di tali tipis yang membentang di atas jurang.
__ADS_1
“Kau ... bisa menganggapnya sebagai pernyataan cinta, Selena.”
...****...