
“Beraninya dia menatapku seperti sampah. Orang suci? Hah, menggelikan sekali. Lihat saja, akan kubuktikan bahwa kau tidak lebih dari penipu, player paling memuakkan!” Selena mendesis-desis sebal seiring matanya yang memicing, menatap punggung seseorang di depan sana.
Insiden yang merenggut harga diri Selena siang tadi benar-benar mengusiknya, terlebih tatapan merendahkan Ocean. Sejak keluar dari tempat penuh mimpi buruk itu, Selena membuntuti Ocean, menunggu semua kelasnya selesai sambil memaki dan menyumpah-nyumpah. Lupakan soal masuk kelas. Selena bertekad untuk membalas Ocean lebih kejam hari ini, menemukan bukti bahwa dia tidak sebaik yang orang-orang pikirkan.
Melewati selasar dan lorong panjang, Selena masih setia mengikuti Ocean yang kini melangkah di jalan yang membelah taman dan lapangan kecil. Berbelok ke kanan di ujung jalan, Selena mengernyit ketika melihat tempat yang akan dituju Ocean. Perpustakaan.
“Ah, jadi ini markas tersembunyinya? Aku yakin dia akan bertemu seseorang di tempat keramat itu.” Selena menyeringai, bersemangat seolah bukti sudah di genggamannya.
Tempat itu cukup sepi ketika Selena menginjakkan kaki di dalam sana. Beberapa mahasiswa berkacamata tebal sibuk dengan buku-buku bertumpuk, mungkin mengerjakan paper. Sedangkan satu-dua yang lain menjadikan perpustakaan sebagai tempat tidur paling nyaman.
Ocean duduk di salah satu kursi dengan meja panjang di depannya, mengambil sebuah buku, lantas mulai tenggelam dalam bacaannya. Selena sengaja duduk agak jauh setelah mencomot satu buku sembarangan di rak.
“Kenapa dia langsung membaca buku seperti anak baik begitu?” Selena berdecak, semangatnya jadi luntur. “Ah, tidak mungkin. Aku yakin akan menemukan sesuatu di tempat ini.”
Berbekal keyakinan tak berdasar yang entah datang dari mana, Selena tidak melepaskan tatapannya dari Ocean yang tampak tenang dengan bukunya. Dia tidak akan pergi dari sana sebelum mendapatkan apa yang dia mau.
Lima menit. Selena masih memicing ke arah Ocean. Perasaan jengkel itu masih membara.
Sepuluh menit. Raut kesal Selena mulai memudar. Matanya mengerjap lambat seiring tangannya yang bergerak pelan untuk menopang dagu. Entah mengapa Selena mulai menikmati “kegiatannya” saat ini.
Lima belas menit. Selena merasakan jantungnya mulai berdetak tidak normal. Kekesalannya sepenuhnya lenyap. Dia seperti terperangkap, tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Wajah itu ... semakin lama dilihat, Selena merasakan derap aneh di dadanya. Ocean bahkan hampir tidak bergerak di tempatnya, namun Selena seolah bisa melihat laki-laki itu memancarkan sesuatu yang tidak bisa ditolaknya.
Gestur tenang Ocean yang menawarkan kedamaian, membuat Selena merasa terseret semakin dalam. Entah sejak kapan, jemarinya yang membalik halaman buku bisa terlihat—
“Hei, cepat menyingkir dari sana sebelum kupatahkan lehermu.” Selena memelotot pada seorang laki-laki berpenampilan seperti begundal yang tiba-tiba duduk di depannya, menghalangi pandangannya pada Ocean. Laki-laki itu berdecak, sebelum pindah duduk ke tempat lain. Belum apa-apa dia sudah ditolak.
—begitu memesona. Wajah yang hampir tanpa ekspresi, rambut yang bergerak-gerak pelan terkena embusan lembut angin dari jendela—
__ADS_1
Selena menggelengkan kepalanya kuat-kuat saat menyadari apa yang sedang dia lakukan. “Apa-apaan ini? Apa aku sakit?” Selena menempelkan telapak tangannya ke kening, memeriksa suhu tubuhnya. Normal. “Sadarlah, Selena. Kau di sini karena punya misi penting.”
Menepuk pipinya beberapa kali, Selena kembali melirik Ocean. Dan sial, dia kembali melihat berbagai macam bunga yang mekar di belakang laki-laki itu. Selena menurunkan kepalanya pada lipatan tangan di meja. Kembali hanyut dalam perasaan itu.
Suasana perpustakaan yang sunyi, kedamaian Ocean yang menular padanya, lambat laun membuat mata Selena menutup, untuk sesaat setelahnya dia telah tenggelam dalam mimpi.
...****...
“Astaga, aku ketiduran.” Selena mengusap wajah, sedikit meregangkan badannya yang terasa pegal karena posisi tidur yang tidak biasa dia lakukan. Entah berapa lama dia tertidur. “Oh, dia sudah pergi?”
Kursi yang tadi ditempati Ocean sudah kosong. Misinya jelas gagal total. Namun, jika boleh jujur, Selena sebenarnya juga tidak yakin Ocean menjadikan perpustakaan ini sebagai tempat rahasianya bertemu dengan wanita. Bagaimanapun—sesuai perkataan Everly—dia kaya. Perpustakaan terlalu riskan jika dia memang ingin membangun citra yang baik di kampus.
Selena baru ingin beranjak berdiri ketika sebuah susu pisang diletakkan di meja depannya. Dia mengangkat wajah dan terkesiap dengan apa yang dilihatnya.
“Sepertinya kau lelah memata-mataiku seharian.”
Ocean. Laki-laki itu yang memberikan susu pisang.
Melirik Selena sekilas tanpa minat, Ocean hendak berlalu dari sana ketika dia tiba-tiba teringat sesuatu. “Ah, ada satu lagi yang ingin kuberikan padamu.” Ocean meletakkan sebuah buku di samping susu pisang, menyeringai, sebelum akhirnya melenggang pergi dengan santai.
Di tempatnya duduk sekarang, dengan tatapan yang terarah pada buku berwarna kuning terang yang baru saja diberikan Ocean, Selena mengepalkan tangannya kuat-kuat. Giginya bergemeletuk bersamaan dengan kekesalannya yang memuncak menembus batas maksimal.
“Ocean ... keparat sialan itu ....” Selena mencengkeram buku itu, berharap bisa mengubahnya menjadi abu sekarang juga.
Membanting buku itu ke meja hingga membuat beberapa “penghuni” perpustakaan menoleh padanya, Selena kembali melirik rangkaian kata yang tercetak tebal di sampul buku.
Strategi Pengembangan Diri: dari Bodoh menjadi Bijak.
...****...
__ADS_1
“Sudah kuduga dia di sini la—oh, apa yang sedang dia lakukan?” Selena mengernyit di ambang pintu masuk perpustakaan.
Tatapannya terarah pada Ocean yang hari ini kembali mendatangi perpustakaan, sepertinya rutinitasnya memang begitu setelah seluruh kelasnya berakhir. Namun, yang membuat Selena heran, laki-laki itu terlihat menumpukan kepalanya pada lipatan tangan di meja.
Selena melangkah mendekat. Sampai di samping laki-laki itu, dia tertegun. Mata Ocean terpejam, ritme napasnya teratur. Sepertinya dia ketiduran di sana, terlihat sangat lelah.
Menimbang-nimbang sejenak, Selena akhirnya memutuskan untuk duduk di samping Ocean dengan mengambil jarak satu kursi. Bagaimanapun, ada hal yang perlu dia selesaikan dengan laki-laki itu.
“Apa-apaan. Dia mengataiku bodoh, tapi dia sendiri bertingkah bodoh sekarang.” Selena bergumam, melirik sinis Ocean yang tampak lelap tertidur.
Belum setengah menit duduk di sana, lirikan Selena berubah menjadi tatapan lekat. Demi Tuhan, Selena tidak bermaksud melakukannya, kepalanya seolah bergerak sendiri, matanya seolah hanya tertarik pada satu pusat, dan derap aneh itu kembali datang. Sebenarnya apa yang terjadi padanya—
“Selena Jasmine Athaya.”
Suara pelan yang sedikit serak itu membuat Selena tersentak, spontan memundurkan badannya. Ocean masih memejamkan matanya, namun kini Selena tahu dia sama sekali tidak sedang tidur.
Bagaimana Ocean bisa tahu namanya?
Bersamaan dengan pertanyaan itu yang mengambang di pikiran Selena, kelopak mata Ocean terbuka, langsung menatap lurus pada Selena.
“Kau ke sini untuk membalasku?”
Oh, bahkan Ocean tidak merasa perlu untuk mengangkat kepalanya, duduk dengan normal. Dia malah membenarkan posisi kepalanya, seolah mencari posisi tidur paling nyaman.
“Tentu saja. Aku membawakan sepuluh buku Siksa Kubur dan Neraka: Manusia Sombong dan Angkuh. Aku juga membawa sepuluh jus apel yang jauh lebih segar dari susu pisang.”
Di luar dugaan, Ocean tertawa kecil—mentertawakan kelakuan Selena—tanpa sedikit pun melepaskan tatapannya. “Kau ini memang bodoh, ya? Tidak bisakah kau membalasku sedikit lebih baik?”
Alih-alih marah karena disebut ‘bodoh’ sekali lagi, Selena malah membeku di tempatnya. Tawa itu, wajah itu .... Sepertinya Selena tahu mengapa Natasha terobsesi dengan Ocean Arkananta.
__ADS_1
...****...