
“Oh, bukankah kita pernah liburan ke sana?” Felix berseru antusias, menunjuk lokasi film yang sedang mereka tonton.
Selena yang tiduran di sampingnya—bersandar pada lengan Felix yang terjulur—jadi lebih fokus memperhatikan layar televisi. “Ah! Kualoa Ranch. Aku masih ingat betapa indahnya pemandangan di sana.”
Felix tertawa, memeluk Selena semakin erat. “Apa sebaiknya kita liburan ke Hawaii? Kau dulu senang sekali melihat taburan bintang saat kita berkemah di sana, bukan?”
Antusiasme dan kesenangan di wajah Selena memudar dalam sekejap. Bintang membawa memori di Alaska berebut ke permukaan. Entah untuk berapa kalinya dua hari terakhir, Ocean kembali memenuhi kepalanya.
Selena pikir, dengan dia kabur ke apartemen Felix, maka suasana hatinya akan menjadi lebih baik. Kenyataannya, dia malah semakin tidak tenang. Bahkan, saat sedang menikmati waktu menyenangkan bersama Felix seperti sekarang, Selena tidak bisa mengenyahkan Ocean dari pikirannya.
“Kau tahu Ursa Major, Felix?” Selena bertanya pelan.
Felix menggeleng. “Apa itu semacam tempat wisata?”
Selena tertawa kering, membenarkan posisi kepalanya di lengan Felix. “Tidak ada gunanya juga untuk kauketahui. Ursa Major, mitologi Yunani ... sama tidak pentingnya seperti orang yang pernah menjelaskannya.”
Belum sempat Felix bertanya lebih lanjut, bel pintu apartemen terdengar terlebih dahulu, menginterupsi mereka. Felix bangkit berdiri, melangkah untuk membuka pintu yang tidak jauh dari tempat mereka sedang menonton sekarang.
Tepat ketika pintu terbuka, Felix terkesiap ketika melihat siapa yang berdiri di depannya. Ketegangan dengan cepat menyelimuti mereka.
“Ada perlu apa kau kemari, Ocean?”
Selena tersentak mendengar ucapan Felix, buru-buru beranjak duduk. Ocean meliriknya singkat dari balik pintu hingga membuat jantung Selena seperti akan lepas dari tempatnya.
Ocean masih mempertahankan wajah tak beriaknya, menjawab datar, “Aku datang untuk menjemput Selena. Suruh dia keluar.”
Atmosfer di depan pintu apartemen semakin memanas. Felix mengepalkan tangannya dan tatapan berubah menajam. “Apa hakmu melakukan itu?”
__ADS_1
“Kau jelas akan kalah telak jika aku membicarakan tentang hak atas Selena, Felix. Kurasa itu bukan ide yang bagus, mengingat posisimu saat ini.”
Selena menggigit bibir bawahnya gugup. Dia masih bersembunyi di balik sofa panjang dengan pikiran kalang kabut.
“Dan kau yakin sekali aku akan membiarkanmu membawa Selena?” Suara Felix terdengar lebih berat dari biasanya. Dia sedang menahan diri untuk tidak melayangkan tinjunya ke wajah Ocean.
Air muka Ocean masih tetap sama, seolah ucapan Felix tidak berarti apa-apa baginya. “Kurasa kau akan membiarkanku.” Tangan Ocean bergerak merogoh sesuatu di saku dalam jasnya, mengulurkannya di depan Felix.
Felix termangu saat pandangannya menyapu benda tipis yang diulurkan Ocean. Sebuah foto. Namun yang membuat jantung Felix seperti berhenti berdetak adalah dirinya dan Selena yang tercetak jelas di sana, tengah menenteng barang belanjaan dan terlihat mesra keluar dari apartemen. Foto itu sepertinya diambil kemarin.
“Ini ....”
“Aku mendapatkannya dari seorang pimpinan redaktur pagi ini. Meskipun masalah ini sudah teratasi, aku tidak bisa menjamin wartawan dari perusahaan lain tidak akan melakukan hal yang sama. Dan aku yakin kau tidak akan suka jika kabar perselingkuhan kalian tersebar.”
Tubuh Selena menegang mendengar penuturan Ocean. Wartawan? Astaga, ternyata para kuli tinta kelaparan itu masih terus berusaha mengejarnya meskipun dia sudah memiliki kehidupan yang baru. Dan apa-apaan soal perselingkuhan, Ocean-lah yang lebih pantas disebut orang ketiga.
Tidak jauh berbeda dari Selena, Felix membeku, tidak mampu membalas Ocean.
Selena menggigit bibir semakin dalam. Dia tengah berada dalam kebimbangan besar yang membuatnya harus memilih antara hati atau kewarasan.
Setengah menit, Selena muncul dari balik sofa dengan wajah suram. Bukan saatnya dia hanya memikirkan diri sendiri. Karier Felix juga dipertaruhkan di sini. Pilihan paling bijak saat ini adalah mengikuti perkataan Ocean dan mengaburkan rumor perselingkuhan.
Selena sempat mengangkat wajah ke arah Felix, berucap lewat tatapan mata, sebelum akhirnya mengekor Ocean melewati lorong panjang apartemen.
...****...
Jalanan padat, merayap, berlatar belakang deru kendaraan dan suara klakson tiada putus, menjadi teman menyebalkan para pengendara. Kalau hari-hari biasa, Selena pasti sudah menghela napas berkali-kali, mengeluh, sembari mengomel panjang. Namun hari ini, dia hanya bisa diam menatap gedung-gedung pencakar langit dan ribuan kendaraan yang semrawut. Dia sama sekali tidak berniat membuka mulut atau bahkan menatap Ocean yang menyetir di sebelahnya.
__ADS_1
Hampir lima belas menit berada di dalam mobil Ocean, ekspresi Selena masih tetap sama: amat keruh dan seperti akan melemparkan orang yang menyenggolnya ke Laut Merah.
“Sepertinya kau senang sekali tinggal dengan pacarmu, Selena. Kalian terlihat seperti pengantin baru di foto itu.” Ocean berucap sarkastik, tatapannya masih terarah ke depan.
Selena malah semakin membuang muka, memutar bola mata, tampak tidak tertarik menanggapi ucapan Ocean.
“Aku sungguh minta maaf karena telah membuatmu menunggu begitu lama, Selena.” Kali ini Ocean sepenuhnya menoleh pada Selena. Mobil sedang terhenti, lampu merah baru akan usai enam puluh detik lagi.
Selena bergeming, mencoba mengingatkan diri sendiri bahwa Ocean hanyalah berengsek tidak punya hati. Dia tidak boleh terjerat dalam kata-kata palsunya.
“Papamu tadi meneleponku, bilang aku harus memberimu cokelat dan sebuket lily. Dengan begitu kau akan memaafkanku.” Ocean mengambil jeda sejenak, sebelum melanjutkan, “Tapi kurasa itu bukan ide yang bagus. Aku tidak mau kau memaafkanku karena aku menggunakan kelemahanmu.”
Serangan maut. Ekspresi Selena hampir melunak karenanya. Dia harus bertahan habis-habisan agar pertahanannya tidak bisa ditembus Ocean.
“Ini mungkin akan terdengar seperti alasan, tapi malam itu Agatha—”
“Kenapa pula aku harus mendengarkan soal hubungan percintaanmu? Simpan untuk dirimu sendiri!” Selena menyambar cepat, mendengus. Secepat kilat juga dia menyesal. Dia bahkan kehilangan kendali atas dirinya saat nama Agatha disebut? Benar-benar memalukan sekaligus menyebalkan.
Senyum tipis terbit di wajah Ocean, berkata dengan suara tenang, “Dengarkan dulu, Selena. Kista ovarium. Malam itu Agatha meneleponku sembari merintih kesakitan, kondisinya payah sekali saat aku tiba di sana. Dia tidak punya saudara di sini, dan aku teman yang paling dekat dengannya. Sebelum aku menikah denganmu pun, dia sering meminta tolong padaku untuk beberapa hal yang tidak bisa dia lakukan sendiri.” Ocean melirik Selena, mencoba menganalisis raut wajahnya.
Tepat sebelum Ocean melanjutkan perkataannya, lampu lalu lintas berubah hijau. Ocean menekan gas mobilnya.
“Malam itu Agatha baru tahu jika dia menderita kista. Parahnya, kistanya sudah membesar sehingga harus dilakukan operasi pengangkatan. Dia tidak punya wali di sini, sehingga aku yang mewakili. Mengurus administrasi, melengkapi beberapa data, pun dalam kondisi kalut membuatku lupa mengabarimu. Aku sungguh bisa memahami kekesalanmu.”
Entah sejak kapan Selena sudah menoleh ke arah Ocean yang sibuk menggerakkan kemudinya. Separuh kekesalannya menguap begitu saja. Selena juga tiba-tiba seperti bisa memahami kondisi Ocean saat itu.
“Aku tidak tahu ...,” ucap Selena pelan, lebih seperti gumaman.
__ADS_1
“Tentu kau tidak tahu. Karena setiap kali aku menyebut Agatha kau jadi kesal sekali.” Ocean menyeringai, melirik Selena. “Kau tidak cemburu padanya, bukan?”
...****...