Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 6| THE PERFECT CASSANOVA


__ADS_3

Ocean buru-buru keluar dari kamarnya ketika bunyi nyaring barang jatuh yang dibarengi dengan teriakan histeris, seolah hendak meruntuhkan rumah. Dia keluar dengan handuk kecil yang tersampir di kepala, baru saja selesai mandi.


Pemandangan pertama yang menyambut mata Ocean adalah dapur bak arena perang dengan seorang prajurit berpenampilan mengenaskan. Bau gosong tercium pekat, api seperti ingin melahap papan penggorengan di atasnya.


“Hei, hei. Kecilkan apinya, Selena!” Ocean berseru sedikit gusar, menunjuk kompor yang tengah digunakan Selena untuk memasak.


“Aku sedang menggoreng telur, Ocean. Tapi minyak gorengnya menyiprat ke mana-mana, aku takut terkena tangan.” Selena menampilkan wajah setengah memelas setengah ngeri.


Ocean berdecak, berjalan cepat mendekat, lantas mengambil salah satu lap untuk melindungi tangannya. Dengan jarak aman, Ocean memutar knob kompor, membuat api mati seketika. Dia segera membalik telur yang sudah gosong setengah, menghela napas miris.


Selena menggembungkan pipi, spatula masih teracung dalam genggamannya. Ternyata memasak dan berperang tidak ada bedanya. Mulai hari ini, selain Ocean, musuh Selena bertambah satu: minyak panas.


“Aku tidak mau memasak lagi. Rasanya seperti mau mati saja.” Selena memajukan bibir bawahnya. Membayangkan setiap hari harus menghadapi serangan maut cipratan minyak, Selena sudah bergidik. Bisa bahaya jika wajah yang menjadi sumber datangnya proyek film terkena bencana minyak panas.


“Kau bahkan menyalahkan minyak goreng sekarang? Di mana-mana, jika ingin menggoreng telur, setidaknya mengatur api kecil hingga medium. Ini tidak. Kau sebenarnya mau memasak atau membakar rumah?” Ocean mengusap wajah. Dia sepertinya perlu mandi lagi untuk mendinginkan pikiran.


“Hei, kau juga keterlaluan .... Coba kalau kusuruh kau berakting sekarang, apa kau—”


Perkataan Selena terputus kala Ocean tiba-tiba melangkah mendekat ke arahnya. Manik matanya yang kelam seakan hendak menenggelamkan Selena ke dalamnya. Rambutnya yang basah, wangi shampo yang menguar, dan kaus putih berlengan pendek—oh, baiklah, Selena sudah lama melupakan pesona seorang Ocean Arkananta. Bukan saatnya juga dia memikirkannya.


“Kau sedang apa ....” Spontan Selena mundur dengan keterperangahan yang tidak bisa dia sembunyikan. Ketika akhirnya Selena sampai di samping lemari pendingin, terpojok, Ocean menghentikan langkahnya, untuk kemudian menyeringai lebar.


“Cuaca yang indah untuk kau berlutut memohon ampun, bukan?”


Jantung Selena seakan berhenti berdetak selama beberapa saat. Dari jarak sedekat ini, Selena seakan bisa melihat dengan jelas mengapa Ocean dijuluki sebagai ‘The Perfect Cassanova’. Baiklah—sekali lagi—bukan saatnya Selena memikirkannya. Sekarang, masalah yang sebenarnya adalah ucapan Ocean. Apa-apaan itu berlutut memohon ampun.


“K-kau sebenarnya sedang—”

__ADS_1


“Itu dialog dalam film terbarumu, bukan? Another Blue. Aku sempat menontonnya. Dan ya, aku bersumpah tidak akan pernah menontonnya lagi.”


Selena melongo. Butuh beberapa saat untuknya mencerna apa yang baru saja terjadi. Ocean sedang berakting? Selena mengerjap lantas mengumpat dalam hati.


Dunia kenapa tidak adil sekali. Bertahun-tahun dia bekerja keras untuk bisa menghayati peran, jungkir balik latihan siang-malam, hasilnya Selena masih mendapat predikat ‘aktris gagal’ karena tidak bisa masuk dalam peran-peran yang dia mainkan. Sementara Ocean, hanya karena Selena menantangnya sambil lalu, dalam sekali bertindak, dia hampir sempurna melakukannya? Bahkan Selena sendiri terkecoh? Dunia pasti sedang bercanda.


“Baiklah, kita sudahi omong kosong tentang akting ini, Selena. Aku akan membantumu memasak.”


Saat Ocean akhirnya balik badan, Selena memperingatkan jantungnya agar jangan berdebar sembarangan hanya karena baru saja terpapar pesona Ocean. Cuma begitu saja sudah lompat-lompat. Dasar jantung kampungan.


...****...


Prang!


“Astaga!”


Saat ini, mereka sepakat untuk memasak sup ayam. Ocean bertanggung jawab untuk memotong dan memasak bahan-bahan, sementara Selena bertugas mencuci sayuran dan ayam—karena tidak mau kukunya tergores pisau.


Namun entah sudah berapa kali Selena membuat kekacauan di dapur hari ini, Ocean bahkan sudah tidak ingat lagi. Panci jatuh, bawang berhamburan di lantai, minyak goreng tumpah ... semua itu Selena lakukan bahkan sebelum benar-benar mulai memasak. Dapur seolah menjadi ajang Selena untuk memporak-porandakan rumah Ocean.


“Hei, airnya menyiprat ke mana-mana, Selena. Kecilkan!” Ocean berseru gemas, sejak tadi tidak ada satu pun yang Selena kerjakan dengan benar.


Selena sempat mencibir Ocean sebelum akhirnya menuruti perkataannya. “Dasar tukang memerintah. Kakek Lampir. Gerandong.”


Dan saat Ocean menghela napas mendengar cibiran Selena, sembari menumis bumbu, bel pintu berbunyi. Ocean segera menghentikan kegiatannya, berucap, “Dengar, Selena, aku ada tamu. Tolong jaga sikapmu dan gantikan aku menumis sebentar.”


“Hei, aku berurusan lagi dengan minyak panas?” Selena berseru tidak terima. Dia benar-benar bisa gila jika terus berurusan dengan minyak panas.

__ADS_1


Ocean membalasnya dengan kedikan bahu, menyerahkan spatula, lantas berjalan cepat menuju pintu depan.


Sepeninggal Ocean, Selena menatap jerih panci penggorengan. Dia mengambil jarak sejauh mungkin, lantas menggerakkan tangannya untuk menumis bumbu.


Ocean muncul kembali tak lama kemudian, bersama seorang wanita yang tampak memesona dengan pakaian kerja: celana panjang, kemeja, dan blazer yang tersampir di tangan. Selena mengernyit, dia seperti pernah melihat wanita itu.


“Astaga, bumbunya gosong, Selena.” Ocean berlari-lari kecil menuju dapur, segera mengambil alih spatula dari tangan Selena, lantas sibuk memasukkan ayam ke panci.


“Selena masih baru, ya, dalam memasak?” Wanita itu bertanya ramah, tersenyum.


Ada beberapa hal yang Selena tidak mengerti di sini. Pertama, siapa tamu yang langsung pergi ke dapur begitu sampai di rumah orang lain? Kedua, apa-apaan rasa inferior ini? Selena seperti bisa merasakan wanita itu adalah wanita cerdas, bisa melakukan segalanya, pun memiliki penampilan yang amat menarik. Benar, wanita itu memancarkan aura seperti Ocean.


Pluk.


Selena mengerjap seiring menguapnya rasa penasaran akan wanita itu saat dia merasakan sesuatu dikalungkan ke lehernya. Selena menoleh ke belakang, menemukan Ocean yang sedang sibuk mengikatkan tali apron di belakang pinggangnya.


“Nah, sekarang kau bisa menumpahkan air sebanyak yang kau mau. Kau juga tidak perlu khawatir pakaianmu terciprat minyak.”


Ocean sudah berdiri di depan Selena, melihat apakah apron itu cocok untuknya, disusul oleh wanita itu yang langsung menempatkan diri di samping Ocean.


“Maaf baru sempat memperkenalkan diri, Selena. Aku Agatha, rekan Ocean. Senang bertemu denganmu.”


Senyum manis terpatri di wajah Agatha. Tampaknya, dia wanita hangat nan ramah yang mudah mengambil hati orang lain. Dan dari suara dan gestur tubuhnya, Selena seolah bisa melihat keanggunan nan elegan yang memancar kuat.


Selena menatap Ocean dan Agatha bergantian. Dan saat itulah dia menemukan kecocokan sempurna ketika melihat Ocean berdiri berdampingan dengan Agatha. Pria dan wanita brilian yang seakan bisa menggenggam dunia dengan mudah.


Yang tidak Selena mengerti, kenapa dia kesal sekali saat menyadarinya. Dadanya bergemuruh tidak terima. Dalam sekejap, Selena ingin menendang Agatha keluar dari rumahnya.

__ADS_1


...****...


__ADS_2