Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 24| KEDAMAIAN DALAM MIMPI


__ADS_3

Dinding putih dan suara cairan infus yang menetes lambat menjadi objek membosankan bagi Olivia yang setengah berbaring di ranjang rumah sakit. Dua polisi duduk di sofa tak jauh darinya, dengan wajah tampak kuyu dan kantong mata tebal yang menggantung. Mereka sepertinya kurang tidur beberapa hari belakangan ini.


Sudah berkali-kali Olivia melirik pintu putih yang sejak tadi bergeming, seseorang yang ditunggunya tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.


Derap langkah yang terdengar semakin jelas membuat Olivia terkesiap, segera memusatkan tatapannya pada kaca kecil di pintu masuk ruang perawatan. Dua detik, pintu didorong terbuka, menampakkan sosok yang membuat senyum lebar terbit wajah Olivia.


“O—cean.”


Binar di mata Olivia dalam sepersekian detik lenyap begitu saja saat melihat Selena berjalan di belakang Ocean, ikut masuk ke dalam ruangan. Berbanding terbalik dengan Olivia, kedua polisi tampak bersemangat, kantuk mereka lenyap seketika. Akhirnya tugas mereka akan selesai sebentar lagi.


“Bagaimana keadaanmu, Olivia?” Selena bertanya, meski nada hangat sama sekali tidak tercermin dalam suaranya.


“Cukup baik, berkat Ocean.” Olivia tersenyum menatap Ocean, memanggil kembali ingatan tentang aksi heroiknya beberapa saat yang lalu. “Ah, bagaimana dengan lenganmu, Ocean? Bukankah perlu perawatan lebih lanjut?”


Sorot khawatir Olivia membuat Selena melirik Ocean sinis, bertanya-tanya mengapa pria itu mudah sekali mengambil hati orang lain. Sikap Olivia ini seperti mengisyaratkan perang jilid dua terhadapnya.


“Bukan masalah besar. Sebentar lagi pasti akan sembuh dengan obat dari dokter.”


“Mana bisa begitu—”


“Apa tidak sebaiknya proses memberi keterangannya dimulai sekarang, Pak Polisi? Suami saya harus segera beristirahat.” Selena memotong cepat, sedikit sewot.


Kedua polisi mengangguk, menarik kursi ke samping ranjang Olivia sembari membawa catatan dan alat perekam. “Karena Saudari Olivia hanya ingin didampingi Pak Ocean, Bu Selena apa bisa keluar sebentar demi kerahasiaan penyelidikan?”


Kedua alis Selena berkerut sebelum dia membalas, “Saya saksi pertama kasus ini, Pak. Kemungkinan keterangan saya akan sedikit-banyak melengkapi keterangan Olivia. Bukankah kehadiran saya di sini cukup diperlukan?”

__ADS_1


Salah satu polisi menatap Olivia, bertanya, “Bagaimana Saudari Olivia?”


Menatap bergantian pada Ocean dan Selena sejenak, Olivia mengangguk pelan, setengah hati.


“Baik, kita mulai dari pertanyaan pertama dan paling penting. Apa Saudari Olivia mengenali orang yang menyerang Anda?” Polisi yang kelihatan lebih senior bertanya, setelah meletakkan alat perekam di samping Olivia.


Olivia terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, beriringan dengan tangannya yang mencengkeram selimut. Kejadian mengerikan itu kembali berkelebat di pikirannya. “Ya .... Orang yang menyerang saya namanya David Tan. Malam itu dia menerobos masuk saat saya berada di kamar mandi.”


“Apa hubungan Anda dengan David Tan?”


Ekspresi marah itu semakin memudar seiring kepala Olivia yang perlahan menunduk. Tangannya menekuri garis jahitan di selimut, terlihat menimbang sesuatu. “Saya ... saya adalah kekasih gelap David Tan selama setahun belakangan ini. Sehari sebelum kejadian itu, saya memutuskan untuk mengakhiri hubungan karena merasa amat bersalah dengan istrinya. Tapi dia menolak sejak awal, sama sekali tidak terima. Yang saya tidak perkirakan, dia akan mendatangi saya ke kamar mandi, meletuskan pertengkaran, dan berakhir dengan dia yang memukul saya dengan balok kayu lantas menusuk perut saya dengan pisau.”


“Perselingkuhan .... Apa ada hal yang bisa membuktikannya?”


Olivia mengangkat wajah saat Selena mengulurkan naskah film dengan nama ‘Olivia Daisy’ tertera di depannya. Dia mengerjapkan matanya, merasa bingung bagaimana naskahnya bisa berada di tangan Selena.


“Naskah kita tertukar, Olivia. Sebelumnya aku pun tidak menyadarinya.” Seolah bisa melihat kebingungan itu, Selena suka rela menjelaskan singkat. Dia juga punya dendam terhadap David yang telah menempatkannya pada posisi sulit, sehingga membantu seperti ini membuatnya merasa sedang bertempur dengan pria itu.


Melihat secercah cahaya terang, Olivia menerima naskah itu, tersenyum. Kini dia akan sepenuhnya terbebas dari pria itu dan membangun kehidupan yang baru.


“Terima kasih, Selena.” Olivia mulai membuka naskah, berhenti pada halaman 88, mengambil sesuatu di sana. “Tiket teater atas nama saya dan David Tan karena penyelenggara mewajibkan calon penonton untuk mencantumkan nama masing-masing di tiket. Satu bulan yang lalu, saya memesan tiket ini bersama-sama dengan David, namanya juga sudah tercantum di sistem penyelenggaraan teater. Anda bisa mengeceknya di sana.”


Dan Ocean diam-diam mengembuskan napas lega sembari melirik Selena. Misinya benar-benar sudah berakhir sekarang.


...****...

__ADS_1


“Cuci piring, cuci baju, menyikat kamar mandi ... ah, sial, kenapa masih banyak sekali yang belum aku lakukan.” Selena mengeluh sembari melemparkan kain lap ke meja. Punggungnya sudah terasa pegal karena baru saja mengepel seluruh lantai rumah.


Tersaruk-saruk Selena berjalan ke arah kamar mandi di sisi barat, siap kembali berperang dengan sikat kamar mandi, ketika ekor matanya menangkap sesuatu di depan televisi.


Dengan langkah hampir tanpa suara, Selena mendekat, mendapati Ocean yang ketiduran dengan posisi telentang di sofa. Dokumen tebal teronggok di atas dadanya, dan laptop yang masih menyala, menampilkan deretan angka yang sama sekali tidak Selena pahami.


Setelah menghela napas, Selena mengambil dokumen dengan hati-hati agar tidak membangunkan Ocean, lantas mematikan laptopnya. Dia juga mengambilkan selimut tipis, menyelimuti Ocean hingga mencapai perut.


Di akhir gerakannya membenarkan selimut, sejenak Selena pandangi wajah damai Ocean yang larut dalam mimpi. Tidak ada lagi ekspresi menyebalkan di sana, pun omelan yang membuat pekak telinga. Ocean seolah sedang bermimpi indah, meluapkan rasa lelah melalui fantasi di alam bawah sadar.


Beberapa hari terakhir, Ocean bahkan lebih sibuk dari Selena yang tersangkut dalam kasus, melakukan segala hal yang tidak bisa Selena lakukan. Pekerjaannya di kantor pasti menumpuk, apalagi Ocean harus izin tidak masuk kerja beberapa kali. Selena bisa membayangkan betapa lelah tubuh dan pikirannya.


Perlahan Selena menurunkan kakinya, berjongkok, hingga tingginya sejajar dengan Ocean. Keheningan yang terasa menenangkan ini, turut serta membawa kedamaian dalam diri Selena ketika dia menyapukan tatapannya pada wajah Ocean, seolah ingin menyimpan baik-baik wajah itu dalam ruang khusus di pikirannya.


“Ocean Arkananta ... si Perfect Cassanova menyebalkan, kau bertingkah terlalu jauh kali ini. Seperti biasa, kau bertingkah sok keren, merasa paling pintar sedunia, dan menyombongkan kemampuan bela dirimu.” Selena berucap lirih, tersenyum samar. “Tapi terima kasih, Ocean. Sungguh terima kasih karena tetap berada di sampingku dan menjagaku seolah aku juga penting dalam hidupmu. Kau membuatku berutang banyak padamu, tanpa tahu bagaimana aku bisa membayarnya.”


Tidak pernah Selena duga jika hubungannya dengan Ocean akan jadi sejauh ini. Selena pikir, dalam pernikahan ini, dia akan seperti wanita independen, melakukan segalanya seorang diri seolah tidak memiliki tempat untuk meminta tolong. Siapa yang bisa menyangka bahwa pria yang terkenal masa bodoh dengan segala hal yang tidak menguntungkannya itu, bertingkah seolah dia benar-benar suami Selena, melakukan hal-hal gila yang bahkan membahayakan keselamatannya sendiri.


Tidak ingin terlalu lama larut dalam pikirannya sendiri, Selena bangkit berdiri. Pekerjaannya sudah menunggu. Sebelum Ocean bangun, dia sudah harus menyelesaikan semuanya atau akan terkena semprotan pedas.


Baru selangkah Selena berjalan, dia tersentak kala merasakan pergelangan tangannya ditarik hingga membuatnya terhuyung, sebelum akhirnya terduduk di samping Ocean. Mata Selena membola ketika mendapati Ocean yang menyeringai, masih dalam posisi tidur yang sama.


“Curang sekali, Selena. Coba katakan saat aku sedang membuka mata seperti sekarang.”


...****...

__ADS_1


__ADS_2