Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 28| SEBUAH PERBEDAAN


__ADS_3

“Ikan bakar, kesukaanmu.” Sembari tersenyum lembut, Felix menaruh potongan ikan bakar di piring Selena. Dia juga cekatan mengambilkan lauk yang lain, memperlakukan Selena layaknya seorang putri. “Kau harus makan yang banyak agar cepat sembuh.”


Selena menghela napas, menatap tidak bersemangat piringnya yang penuh dengan lauk. “Aku sudah sembuh, Felix. Hei, aku harus segera kembali syuting, mana bisa makan sebanyak ini.”


“Kau akan tetap terlihat cantik meskipun berat badanmu bertambah, Selena. Percaya padaku.”


Senyum Selena terkembang. Dua tahun sudah ia dan Felix menjalin hubungan, dan sikap Felix masih sama: manis dan menghangatkan hati. Sorot matanya terlihat tulus, bahasa tubuhnya menunjukkan dengan jelas bahwa dia sangat menyayangi Selena. Bagaimana mungkin Selena tega membuang pria bak malaikat itu demi mengejar Ocean yang seperti Medusa versi pria?


Omong-omong soal Ocean ... Selena melirik kursi di seberangnya, mendapati Agatha yang dengan gerakan luwes menaruh lauk di piring Ocean. Dilihat dari sudut pandang mana pun, mereka berempat seperti sedang melakukan double date. Ocean-Agatha dan Felix-Selena. Siapa yang akan menduga bahwa pasangan mereka tertukar, pernikahan itu hanya omong kosong.


“Kau mau bertukar piring denganku, Selena?”


Pertanyaan Ocean membuat Selena mengerjapkan matanya, memaksa lamunannya untuk berhenti. Sial, dia bahkan tidak sadar tengah menatap piring Ocean.


“Memangnya piring itu punyamu, sehingga aku tidak boleh melihatnya?” Selena mendecih pelan. “Aku hanya membayangkan tentang makanan khas di sini yang terkenal lezat. Besok aku berencana untuk mencicipinya bersama Felix.”


“Maksudmu sate komodo?”


Selena tersedak air. Hening yang ganjil menyelimuti meja makan itu setelahnya. Sate apa?


“Makanan khas di sini. Sate komodo. Wah, kelihatannya kau tidak sabar sekali mencobanya.” Ocean tersenyum setengah menyeringai. Puas sekali menyaksikan Selena yang mengusap tengkuknya dengan canggung.


“Y-ya, sate komodo. Kita akan mencobanya, ‘kan, Felix? Aku bisa membayangkan daging komodo yang alot—” Suara Selena tercekat. Bahkan membayangkan memakan makanan tidak lazim—baginya—itu, sudah membuatnya mual.


Ocean menempatkan jemarinya di atas bibir, menyembunyikan senyum gelinya karena tingkah Selena.


Sate komodo. Tidak seperti namanya, sebenarnya sate itu tidak terbuat dari daging hewan yang dilindungi itu, melainkan daging kerbau atau sapi. Sayangnya, pengetahuan sederhana seperti itu abai diperhatikan Selena. Dia jadi tampak bodoh, namun juga menghibur dalam satu waktu.


“L-lalu kalian bagaimana? Kalian punya rencana juga untuk besok?” Selena menyuapkan ikan bakar ke mulut, bersikap seolah pertanyaan itu hanya angin lalu.


“Ah, bagaimana kalau kita jalan-jalan juga, Ocean, tentunya setelah memeriksa pembangunan berjalan lancar.” Agatha terlihat antusias. Dia sudah menantikan momen berdua bersama Ocean. Bermain di tepi pantai, jalan-jalan berkeliling pulau, tertawa sembari menikmati es krim. Itu pasti akan menjadi pengalaman paling indah dalam hidupnya.


Nyatanya bukan hanya Agatha yang berdebar menantikan jawaban Ocean, Selena lebih gugup lagi, spontan merangkai skenario bayangan kebersamaan Ocean dan Agatha yang saling berkejaran di pantai. Selena mengibaskan tangannya, mengusir jauh-jauh bayangan itu.


“Kau benar-benar ingin pergi keluar, Agatha?” Ocean menoleh.

__ADS_1


Agatha mengangguk bersemangat.


“Baiklah, ayo kita cari angin segar besok. Aku juga ingin mendiskusikan beberapa hal denganmu terkait desain perbaikan.”


Semangat Selena menguap, mood-nya hancur seketika. Sebisa mungkin dia bersikap normal dengan kembali menyuapkan makanan dalam porsi besar. Kalau saja dia sedang berada di ruangan sendirian, sudah pasti Selena akan mengumpat pada tembok—karena hanya itu yang bisa dia lakukan.


Selena tidak tahu bahwa Agatha kini memaksakan seulas senyum. Tiap kali bersamanya, Ocean lebih sering membicarakan tentang pekerjaan. Berbeda sekali dengan sikapnya pada Selena. Ocean terlihat menikmati menggoda Selena hingga membuat wanita itu kesal bukan main.


Dan Agatha benci dengan perbedaan itu.


...****...


Hamparan cahaya Labuan Bajo yang berasal dari bangunan dan lampu jalan, laut yang tampak tenang, juga bukit-bukit yang menjulang, menjadi pemandangan menakjubkan di private lounge hotel yang ditempati Ocean. Suasana di sana sunyi dan menenangkan, karena hanya ada dia di sana. Dua pasang sofa masih kosong, sepertinya para tamu tidak ada yang tertarik untuk menikmati pemandangan malam Labuan Bajo.


Perlahan Ocean menyesap kopi panasnya, lantas kembali beralih pada layar tablet, memeriksa pekerjaan Noah di kantor selagi dia masih mengurus pembangunan hotel baru.


Ocean menoleh saat merasakan ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Ia mengernyit, menemukan Selena di sampingnya.


“Kenapa, Selena?” Ocean kembali memfokuskan tatapannya pada tablet, ada banyak sekali laporan yang harus dia periksa.


Mata Ocean sedikit menyipit menatap Selena hingga membuat wanita itu bergerak-gerak tidak nyaman.


“K-kalau bukan karena balas budi, aku juga tidak mau repot-repot begini!”


“Aku tidak mengatakan apa pun, Selena.” Ocean tersenyum menyebalkan hingga membuat Selena mendesis kesal. “Baiklah, kau bisa mengobati dan mengganti perban sesukamu.” Ocean menyingsingkan lengan pendek kausnya, memperlihatkan lengan atasnya yang terbalut perban.


Dengan gerakan kaku, Selena melepas perban Ocean. Mati-matian dia menjaga tangannya agar tidak terlihat gugup atau akan ditertawakan Ocean lagi. Luka dengan jahitan yang masih terlihat sedikit basah itu membuat Selena menyeringai ngeri, seakan ikut merasakan sakit. Entah bagaimana Ocean bisa menahannya dan bersikap seolah baik-baik saja sepanjang waktu.


“Kau yakin tidak akan pingsan?”


“Aku bisa memukul lukamu kapan saja, Ocean. Jadi sebaiknya tutup mulutmu.” Selena sudah sibuk mengusapkan alcohol swab ke luka Ocean dengan sangat hati-hati.


Ocean sedikit membuang muka, menahan sakit, ketika Selena membubuhkan antiseptik melalui kapas.


“Wah, lihat ini siapa yang kesakitan.” Akhirnya Selena memiliki kesempatan untuk membalas Ocean. Dia tersenyum geli tanpa melepaskan atensinya pada luka. “Sepertinya kau yang akan pingsan, Ocean.”

__ADS_1


Bukannya tersinggung, Ocean justru tertawa. Benar, dia juga masih manusia. “Kelihatannya kau senang sekali melihat kelemahanku, Selena. Karena aku jarang menunjukkannya?”


“Siapa bilang? Mengomel, marah-marah, bertingkah seenaknya ... itu juga termasuk kelemahanmu, Ocean. Kau menunjukkannya setiap hari sampai rasanya telingaku jadi tuli dini.”


“Kau terlihat menikmati peranmu sebagai ibu rumah tangga.”


Selena melirik sinis. “Jangan sampai aku benar-benar memukulmu.”


Ocean tertawa. Dia hanya bergurau.


Setelah mengoleskan antibiotik, Selena menutup luka Ocean dengan perban baru. Dia mengembuskan napas lega, puas dengan pekerjaannya.


“Baiklah, sudah selesai.” Selena membereskan peralatan dan obat. “Kau bisa memanggilku kalau butuh bantuan terhadap lukamu—ah, aku melupakan Agatha. Dia pasti bisa melakukannya lebih baik dariku.”


“Memangnya kenapa kalau Agatha lebih baik?”


Selena menoleh. Pertanyaan macam apa itu?


Ocean kembali menurunkan lengan bajunya, mengambil tabletnya, lantas matanya mulai sibuk menjelajahi deretan tulisan di sana. “Tidak semua hal bisa diukur dari baik dan tidaknya, Selena. Setiap orang punya pandangan idealisnya sendiri terhadap sesuatu. Hal yang kau anggap buruk, mungkin saja begitu istimewa bagi orang lain, begitu pun sebaliknya. Kita tidak pernah benar-benar tahu hal tersembunyi apa yang ada di kepala dan perasaan orang lain.”


Ah, sekali lagi Ocean tampak memesona dengan kata-kata bijak dan pembawaan tenangnya. Benar, dunia tidak hanya ada dua pilihan: baik dan buruk, benar dan salah. Setiap orang bisa melebarkan opsi menurut sudut pandangnya masing-masing. Bahkan jika mau melihat lebih dalam lagi, mereka bisa menemukan banyak hal istimewa pada sesuatu yang terburuk sekalipun.


Kedua sudut bibir Selena tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis seiring matanya yang tertuju pada side profile Ocean. Bagaimana caranya Selena bisa lolos dari pesona pria itu sementara dia terus dihujani dengan hal-hal yang membuat hatinya luluh? Sekarang, melupakan Ocean terasa seperti sesuatu mustahil.


“Aku akan pergi dulu.” Selena memutuskan untuk bangkit berdiri. Dia bisa benar-benar gila jika terus berada di sana.


“Aku akan memanggilmu jika butuh bantuan soal lukaku, Selena.”


Gerakan Selena terhenti, melirik Ocean yang masih fokus pada tabletnya. Baiklah, jangan berlebihan. Bersikap normal. Bersikap normal—


Selena mengumpat dalam hati. Tanpa mengucapkan apa pun lagi, dia melangkah cepat keluar dari lounge. Dia hanya tidak ingin terlihat memalukan jika terus berada di sana.


Selena berderap pergi tanpa pernah tahu bahwa sebenarnya Ocean sudah mengganti perbannya dua jam yang lalu, tepat sebelum makan malam.


...****...

__ADS_1


__ADS_2