
“Ayamnya sudah matang—”
Langkah dan perkataan Ocean terhenti ketika menemukan Selena yang tertidur dengan posisi duduk di sofa ruang santai, dekat dapur. Dia kelihatan lelah sekali, terlelap dengan apron yang masih menempel di badannya. Kepala Selena miring ke sebelah kanan, posisinya terlihat tidak nyaman.
“Selena?” Ocean memanggilnya pelan. Hanya dengkuran halus Selena yang terdengar.
Ocean mendekat perlahan, menghela napas panjang. Sejenak dia mengamati wajah damai Selena yang hanyut dalam mimpi, lantas tersenyum tipis, bertanya-tanya mengapa Selena terlihat jauh lebih baik ketika tertidur. Tidak tertinggal raut sebal dan menyebalkannya.
Dengan hati-hati Ocean menempatkan tangannya ke punggung atas Selena dan tangan yang lain di kaki. Dalam sekali gerakan, Ocean mengangkat Selena sebentar untuk mengubah posisi tidurnya menjadi berbaring di sofa.
Saat hendak melepaskan lengannya dari kepala Selena, geliat Selena membuat gerakan Ocean terhenti, mencoba untuk tidak membangunkannya. Dua detik, Selena malah mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping menghadap Ocean. Yang membuat Ocean menghela napas lebih panjang dari sebelumnya, tangan Selena bergerak melingkar di lengannya seolah lengan Ocean adalah bantal.
Ocean memejamkan matanya. Sepertinya mustahil melepaskan tangannya dari kepala Selena dengan posisi seperti ini, tanpa membangunkannya.
Lima menit. Semuanya berjalan normal. Ocean masih membungkuk, tidak merasakan masalah berarti.
Sepuluh menit. Ocean merasa pegal di pinggangnya.
Lima belas menit. Ocean menyerah. Dia ikut berbaring di samping Selena dengan lengan yang masih dalam posisi sama. Dia juga lelah. Sebagian besar pekerjaan—memasak dan membersihkan rumah—Ocean yang melakukannya. Matanya terpejam, untuk sesaat setelahnya menyusul Selena menyelami mimpi.
...****...
Uap teh mengepul menguarkan aroma yang khas, menerpa wajah Selena yang tatapannya berpusat pada satu objek yang terpaut hampir sembilan meter darinya. Seketika, wajahnya kembali memerah. Bukan karena uap panas teh, melainkan karena pikirannya yang terlempar pada kejadian memalukan beberapa saat yang lalu.
“Bangun, Selena.” Begitu kata Ocean, terdengar lembut menelusup telinga Selena hingga membuatnya terjaga dari mimpi. Saat membuka mata, hal pertama yang Selena temukan adalah Ocean yang berbaring terlalu dekat dengannya. Dua detik, wajah Selena terasa panas saat menyadari dia tertidur di lengan Ocean.
Ternyata Selena salah, bukan hanya posisi tidurnya dan Ocean yang membuatnya berharap lantai merekah untuk menenggelamkannya. Saat Ocean memberi kode Selena untuk melihat apa yang ada di belakangnya, Selena benar-benar seperti disambar petir. Orang tuanya dan orang tua Ocean berdiri sambil mengulum senyum melihat “kemesraan” mereka.
Kini Selena tahu, mereka tidak perlu lagi berakting mesra. Karena hal itu sudah datang sendiri tanpa direncanakan.
__ADS_1
“Dia terlihat hebat, ya?”
Suara Adira mengaburkan lamunan Selena. Dia menoleh, mendapati Adira yang bergabung dengannya di ruang makan.
“Saat kecil, Ocean tampak normal seperti anak yang lain. Bermain, merengek, marah jika tidak mendapatkan apa yang dia mau ... tapi saat pertengahan sekolah dasar, dia jadi banyak berubah.” Adira menghela napas, ikut menatap pusat atensi Selena yang sedang mengobrol serius dengan Galang dan Robin di ruang tamu. “Sejujurnya aku lebih menyukai Ocean yang ‘normal’, Selena.”
Kalimat terakhir Adira membuat Selena ikut merasakan kerinduan yang dalam. Rindu seorang ibu terhadap anaknya.
“Aku bukannya bilang jadi seseorang yang brilian dan pekerja keras itu buruk, tapi dia berlari terlalu jauh. Aku merasa sulit sekali menggapainya.” Pandangan Adira menerawang jauh, memanggil memori masa kecil Ocean. “Ah, menyebalkan sekali. Sepertinya gen ayahnya terlalu menguasainya. Pebisnis ulung, insting bisnis tajam ... aku benar-benar muak mendengarnya.”
Selena tertawa saat melihat Adira yang menggembungkan pipinya. Ibu Ocean benar-benar menggemaskan.
“Bukan hanya itu, Ibu. Dia benar-benar menyebalkan, tukang memerintah. ‘Selena, masih ada potongan kertas di lantai’, ‘Selena, masih ada debu di jendela’, ‘Selena, cuci piringnya, aku muak sekali melihatnya’ ... rasanya aku ingin melakban mulutnya atau melemparkannya ke Sungai Musi.” Selena bersungut-sungut, membara menceritakan kekesalannya.
“Kau juga merasakannya, Selena? Aku bahkan pernah menyita semua bukunya karena dia tidak berhenti bertanya tentang bisnis dan ekonomi saat kelas 5 SD.”
Dalam sekejap, Selena dan Adira menjadi menantu-mertua yang klop. Mereka banyak membicarakan tentang keburukan Ocean, tertawa, terlihat seru sekali.
Akhir-akhir ini dia banyak tersenyum.
...****...
Hampir pukul sepuluh malam, rumah Ocean terasa sepi saat para tamu kembali ke rumah masing-masing. Selena dengan gerakan loyo membersihkan meja makan, matanya hanya terbuka setengah.
“Bukankah ini namanya kerja rodi? Sepertinya kau titisan Daendels, Ocean.” Selena berucap memelas, muak sekali rasanya seharian hanya menatap alat kebersihan dan papan penggorengan.
“Berhenti mengeluh dan selesaikan tugasmu, Selena.” Ocean berseru galak, tangannya sibuk membilas piring yang bertumpuk.
Malang sekali hidup Selena. Hari-harinya hanya dipenuhi dengan omelan Ocean, memasak, bersih-bersih. Siklus tiada henti yang terasa mencekiknya. Di mana shopping, manicure, dan liburan? Selena merasa seperti hidup di zaman penjajahan.
__ADS_1
“Dia sudah gila. Aku lebih gila lagi karena pernah menyukainya.” Selena bergumam, tangannya masih mengelap meja meski asal-asalan. “Balas dendam? Aku pasti sudah mati konyol sebelum bisa melakukannya.”
Ocean baru selesai membilas semua piring saat ponselnya berbunyi. Nama yang tertera di layar ponsel membuat Ocean buru-buru mengangkatnya.
“Ya, Agatha. Apa ada masalah di sana?”
Agatha? Mata Selena membeliak seketika, lenyap sudah rasa kantuknya. Dia segera menoleh, menanti apa yang sedang terjadi.
“Ah, kebetulan masakan hari ini ada yang tersisa. Mau aku bawakan?” Ocean menjepit ponsel dengan bahu dan telinganya, tangannya sibuk mengelap piring.
Mau aku bawakan? Selena berdecak sebal, melirik sinis Ocean. Dari nada suaranya saja sudah terlihat perbedaan mencolok saat Ocean berbicara dengan Selena dan Agatha. Seandainya pembunuhan dilegalkan, sudah pasti Ocean akan menjadi korban pertama Selena.
Setelah dua-tiga kalimat lagi, Ocean memutus sambungan telepon. Dia bergegas mengambil kotak makan, memasukkan beberapa makanan yang tersisa ke dalamnya.
“Kau mau ke rumah sakit sekarang?” Selena mencoba mengendalikan suaranya agar terdengar normal, melangkah mendekat.
“Katanya Agatha bosan dengan makanan rumah sakit, sejak siang dia belum makan apa pun.” Ocean masih sibuk menuangkan sup ke dalam kotak makan.
“Lalu kenapa harus kau yang repot? Memangnya temannya hanya kau saja?” Selena berucap sewot, lupakan soal “bersikap normal”, Agatha benar-benar memancing emosinya.
Salah satu alis Ocean terangkat, gerakan tangannya terhenti. “Lalu aku tidak boleh menemuinya sekarang?”
Selena terkesiap. Benar juga, kenapa dia bersikap berlebihan begini? Dia berdeham, mencoba menutupi salah tingkahnya. “S-siapa yang tidak memperbolehkanmu? Pergi saja sekarang, tidak usah pulang kalau perlu. Kau akan sangat membantuku jika melakukan itu.”
Ocean tertawa kecil, menyusun kotak makan dalam paper bag, lantas mengambil kunci mobilnya. “Baiklah, jaga dirimu baik-baik, Selena. Aku pergi sebentar.”
Punggung Ocean yang semakin menjauh membuat Selena bergerak-gerak gelisah. Hingga saat Ocean hampir mencapai pintu, Selena menggigit bibir, meneguk saliva, sebelum berucap dengan suara bergetar.
“Jangan pergi .... Jangan menemui Agatha, Ocean.”
__ADS_1
...****...