
“... harus pulang dulu. Mama yang akan menjaga Selena.”
Kelopak mata Selena bergerak-gerak pelan seiring suara Lilian yang semakin jelas menyapa pendengarannya. Bau obat-obatan tercium pekat bersamaan dengan monitor pasien yang berbunyi dengan tempo teratur. Kesadaran mulai menguasai Selena, membawanya membuka matanya perlahan. Ia sedikit mengernyit saat cahaya lampu ruangan terlalu kuat berhadapan dengan pupil matanya yang masih goyah.
“Selena! Kau sudah sadar?” Lilian yang menyadari Selena membuka matanya, bergegas mendekat dan langsung menggenggam tangan putrinya lembut. “Terima kasih, Tuhan. Sungguh terima kasih.” Lilian menciumi tangan Selena ketika putrinya itu mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaannya.
“Syukurlah, Sayang. Ibu khawatir sekali ....” Adira mengecup puncak kepala Selena, lantas mengusapnya.
Pandangan Selena berpindah ke sebelah kanan, mendapati Ocean yang berdiri menatapnya dengan ekspresi yang baru pertama kali Selena lihat. Dia masih memakai seragam basketnya. Kondisi Ocean tampak kacau.
“Kau baik-baik saja?” Selena bertanya melalui gerakan bibir yang lemah.
“Dasar bodoh.” Ocean balas bergumam, menyugar rambut berantakannya. Dia merasa lega, marah, kesal ... entahlah, ada begitu banyak emosi yang bersarang di kepalanya, menggumpal menjadi satu hingga membuatnya gila.
“Biar Mama panggilkan dokter.” Lilian memberi kode kepada Adira untuk ikut bersamanya, memberi ruang kepada Ocean dan Selena agar bisa bicara berdua.
Pintu ditutup, membawa keheningan di dalam ruangan bernuansa putih itu. Selena baru menyadari bahwa hari telah beranjak malam, entah sudah berapa lama dia tidak sadarkan diri.
Selena baru ingin bergerak ketika merasakan sakit luar biasa di punggung dan bahu kanannya. Ocean melangkah mendekat, memastikan Selena tetap diam di tempatnya.
“Kau belum boleh banyak bergerak.” Ocean akhirnya merobek keheningan, duduk di samping Selena. “Fraktur tulang bahu. Dokter bilang beruntung kau sempat menghindar dengan ‘cukup baik’ sehingga hanya bahu dan punggung kananmu yang tertimpa. Kau bisa dalam masalah serius jika bagian kepala ikut terbentur dan tertimpa ring.”
Selena menghela napas panjang. Sepertinya selama beberapa hari ke depan dia akan dirawat di rumah sakit tanpa bisa melakukan apa pun, padahal syutingnya sudah akan dimulai lagi.
“Yang kaulakukan tadi ... itu tindakan bodoh, Selena. Bodoh sekali.”
Ucapan Ocean berhasil membuat Selena menurunkan pandangannya, sedikit membuang muka. Selena memang tidak mengharapkan ucapan terima kasih atau semacamnya, tapi jika dia dimarahi karena telah menyelamatkan hidup seseorang, bukankah itu keterlaluan?
“Kenapa hanya kau yang boleh melakukannya, sementara aku tidak? Kau bahkan manusia biasa sepertiku, tidak bisa terbang, tidak bisa menghilang ... lalu apa masalahnya, Ocean?” Selena mencoba menaikkan nada suaranya, namun yang terjadi suaranya malah seperti tercekik. Memalukan sekali, padahal suasana sedang sangat serius.
Lenggang sejenak, Ocean menatap Selena dalam diam.
“Karena kau akan terluka ... seperti ini ....”
Selena terhenyak oleh kata-kata yang diucapkan selirih angin itu. Melalui ucapan singkat itu, Ocean seolah ingin menyampaikan betapa dia frustrasi karena keadaan Selena, namun tidak bisa berbuat apa pun karena itu di luar kendalinya.
“Aku tidak menyesal,” ucap Selena tanpa ragu. “Seseorang butuh bersikap keren setidaknya sekali seumur hidup. Setelah ini mungkin aku akan dijadikan sebagai ikon istri sempurna. Apa sudah ada berita yang keluar?”
Benar-benar membuat gila. Ocean menatap tidak percaya pada Selena. Sedetik, dia bangkit berdiri, merasa tidak ada gunanya berbicara dengan wanita itu. Hanya omong kosong yang tercipta.
“Hei, kau mau ke mana, Ocean? Ambilkan aku air dulu, tenggorokanku kering! Hei—”
__ADS_1
Pintu berdebum tertutup. Ocean sempurna mengabaikan Selena, hilang ditelan pintu.
“Dasar tidak berperasaan!”
...****...
“Apa-apaan rasa bosan yang mencekik ini.” Selena menghela napas berat. Dia pikir, setelah kembali ke rumah keadaan akan jauh berbeda. Tidak ada bau obat-obatan menyengat, makanan hambar, atau dinding putih dan larangan yang menyiksa. Nyatanya sama saja, Selena tidak diperbolehkan melakukan apa pun. Seharian dia hanya tiduran atau menonton film. Tambahkan sling arm yang membungkus lengannya, pergerakan Selena jadi begitu terbatas.
Baru kali ini Selena merasa rindu bersih-bersih rumah dan memasak.
“Aku harus melakukan sesuatu—ah!” Selena menyentuh rambutnya yang tidak selembut biasanya, menyeringai. “Ocean, bantu aku mencuci rambutku.”
Ocean muncul dari dapur dengan wajah datar, terlihat tidak berminat dengan permintaan Selena. “Aku akan memanggil seseorang yang bisa membantumu.”
“Tidak mau. Kenapa harus orang lain yang melakukannya kalau aku punya suami? Ayo bantu aku. Ya?”
Melemparkan lirikan tajam sejenak, Ocean akhirnya melangkah menuju kamar mandi sembari mengembuskan napas berkali-kali. Selena mengepalkan tangannya senang, mengekor Ocean. Saat-saat ‘menyiksa’ Ocean pasti akan terasa menyenangkan sekali.
Selena masuk ke dalam bathtup yang kering, membiarkan kepalanya bersandar pada pinggiran bathtup hingga rambutnya menjuntai. Ocean menurunkan shower, mulai membasahi rambut Selena dengan hati-hati.
“Aku mau shampo rasa rosemary.” Selena menunjuk botol shampo kesukaannya, tersenyum menyebalkan pada Ocean seolah dia petugas creambath.
Tanpa banyak bicara, Ocean mengambil shampo, menuangkan ke telapak tangan sebelum mengoleskannya ke rambut Selena. Busa mulai tercipta seiring Ocean yang mengusap lembut rambut Selena. Gerakannya kaku dan canggung. Selena mengulum senyum melihat wajah serius Ocean seolah dia sedang mengerjakan sesuatu yang penting.
“Tidak.”
“Tidak?”
Ocean menyeringai tipis. “Kenapa juga kau meminta pria untuk membantumu mencuci rambut, jika tanganmu baik-baik saja, Selena? Kau berniat menggodaku?”
Selena terlonjak, melebarkan matanya. Menggoda? Bagaimana bisa membantu mencuci rambut bisa didefinisikan menjadi menggoda?
“Itu bukan menggoda, tapi memang kau harus melakukan peranmu sebagai seorang suami. Aku bahkan merawatmu saat sakit, membuatkanmu makanan setiap hari. Kalau dipikir-pikir kenapa aku yang banyak berperan dalam rumah tangga ini, heh? Kau juga harus melakukan peranmu. Enak saja!”
Tangan Ocean bergerak untuk membilas rambut Selena, hati-hati mengatur air agar tidak mengenai mata. “Aku sedang melakukannya.”
“Kau melakukan ini karena merasa bersalah denganku, bukan?” Selena sedikit mendongak, mencoba menatap wajah Ocean. “Tapi baiklah. Tolong beri pijatan pelan. Aku agak pusing belakangan ini—”
“Selesai.” Ocean bergegas membungkus rambut Selena dengan handuk, mengulum senyum. “Kau bisa keluar dari sana.”
Selena mencibir, melirik sinis Ocean. “Berhubung kau sedang melakukan peran sebagai suami yang baik, ayo antar aku ke balkon. Aku ingin menikmati angin sore sambil meminum teh di sana.”
__ADS_1
Kernyitan muncul di antara kedua alis Ocean. “Kau tidak tahu jalan ke balkon sehingga perlu diantar?”
Dasar tidak peka! Selena mendesis kesal. “Kurasa kakiku ada sedikit masalah karena kecelakaan itu.”
“Kulihat kakimu baik-baik saja tadi.”
Sialan memang. Mood Selena amblas ke dasar jurang. Ia memutar mata sebelum bangkit berdiri di bathtub. Namun sebelum keluar dari sana, Selena terkesiap saat Ocean menurunkan badan di depannya.
“Cepat naik.”
Senyum Selena merekah. Dia mengepalkan tangan senang sebelum naik ke punggung Ocean. Tangan kirinya berpegangan di leher Ocean ketika pria itu bangkit berdiri, menempatkan kedua tangannya di kaki Selena untuk menahan berat tubuhnya.
Kesempatan untuk balas menyiksa Ocean seperti ini tidak akan pernah Selena sia-siakan.
“Haruskah kita jalan-jalan keliling kompleks?” Selena bertanya.
“Simpan ide itu untukmu sendiri.”
Ocean mendorong pintu kamar mandi, melangkah keluar menuju tangga lantai dua. Ia menaiki satu per satu anak tangga, sesekali membenarkan posisi Selena di punggungnya.
“Kenapa kau melakukannya, Selena?” Ocean memecah lenggang di antara mereka.
“Melakukan apa? Menyelamatkanmu?”
Ocean tidak mengangguk atau menggeleng, namun Selena tahu dia sedang menanyakan hal itu.
Pandangan Selena menerawang jauh, ia sedikit memainkan jemarinya sebelum menjawab lirih, “Karena kau sudah banyak terluka.”
Ujung kalimat Selena kembali membawa keheningan di antara mereka. Selena dan Ocean tenggelam dalam pikiran masing-masing. Saat ini, ada begitu banyak hal yang bertengger di kepala mereka.
“Kau sudah melakukan banyak hal untukku, Ocean. Tidak jarang kau terluka karenanya. Aku juga ingin melakukan sesuatu untukmu. Bukan karena aku ingin kau menganggapku berguna, tapi karena aku tidak suka melihatmu terluka.” Suara Selena terdengar begitu dalam dan tanpa keraguan, seolah ucapan itu benar-benar datang dari hatinya.
Hampir mencapai anak tangga terakhir, Ocean menghentikan langkahnya. Terdiam selama beberapa saat tanpa sepatah kata pun. Tatapannya terarah ke depan, di mana pemandangan langit berhiaskan arak awan tersaji melalui pintu balkon yang terbuka.
“Maka jangan lakukan apa pun, Selena. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, tidak perlu melakukan sesuatu untukku. Bukankah kau sudah memiliki mimpimu sendiri? Kehidupan bahagia sesungguhnya, bukan hubungan palsu seperti ini. Aku jelas bukan bagian dari mimpimu. Tidak seharusnya kau melakukan sejauh ini.”
“Kau ada di sana.” Selena berucap pelan, lebih seperti bergumam.
Ocean terhenyak. Hening kali ini terasa begitu ganjil.
Selena menggigit bibir bawahnya, sebelum berucap lebih keras dari sebelumnya, “Kubilang kau ada di dalam mimpiku. Kau selalu ada di sana ....”
__ADS_1
...****...