
“Sial!”
Umpatan itu lolos dari bibir Ocean bersamaan dengan tangannya yang membanting kemudi, menekan gas semakin dalam, hingga membuat mobilnya memelesat menyalip dua mobil besar sekaligus. Penampilan Ocean terlihat amat kacau; rambut berantakan, kemeja kusut, dan wajah kuyu seolah tidak tidur berhari-hari.
Perjalanan selama 22 jam di pesawat, tanpa tidur dan makan, sama sekali tidak membuatnya merasa perlu untuk beristirahat sejenak—ah, bahkan kata istirahat saat ini terasa begitu asing di telinga Ocean. Pikirannya sedang penuh, perasaannya keruh sekali.
Noah di samping Ocean hanya bisa memejamkan mata, mengeratkan cengkeraman pada pegangan mobil sembari merapalkan doa keselamatan saat Ocean semakin menggila. Mobil meliuk ke kanan-kiri dengan cara yang paling sembrono hingga beberapa pengemudi menekan klakson dan menyumpah-nyumpah. Meskipun ingin menangis, Noah menekan keinginan itu atau akan mendapat semprotan dari bosnya.
“Bagaimana perkembangannya, Noah?”
Gila. Saat sedang ugal-ugalan seperti itu, Ocean masih berpikir untuk bertanya pada Noah. Masalahnya, bagaimanalah Noah bisa menjawab, sementara nyawanya sebentar lagi seperti akan tercerabut dari tempatnya?
“I-itu ....” Tangan Noah gemetar. Dia mencoba membuka mata, hanya untuk cepat-cepat menutupnya kembali saat pemandangan yang mirip jalan kematian itu menyambut penglihatannya. “Me-media masih menggila, Pak.”
Tangan kiri Ocean terangkat untuk menyugar rambutnya, mengesah kasar. Sudah dia duga situasinya tidak akan bisa dia kendalikan dengan mudah.
Pagi tadi, di kamar hotel tempatnya menginap di Boston, Ocean mendapat telepon dari Noah—tepatnya Noah akhirnya berhasil menghubungi Ocean setelah empat puluh panggilannya yang lain tidak bersambut. Masih dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, suaranya masih parau karena baru bangun tidur, Ocean terhenyak mendengar penjelasan Noah.
Media sedang gempar. Nama Selena, Ocean, dan Agatha muncul di mana-mana, menjadi topik panas perbincangan semua orang. Perselingkuhan. Saat Agatha mencium Ocean, pertandingan basket itu sedang disiarkan secara langsung ke berbagai belahan dunia. Tidak sulit rasanya mengenali mereka, terlebih Agatha adalah arsitek terkemuka yang pamornya setara selebritas.
Rumor panas tentang perselingkuhan Ocean dan Agatha menyeruak cepat dalam sekejap mata. Stasiun televisi, perusahaan surat kabar, dan sosial media berlomba menyiarkan berita paling faktual tentang hal itu, beberapa ditambah dengan rumor-rumor tidak berdasar. Tidak hanya itu, berita tentang skandal Selena di masa lalu turut mencuat, media jelas tidak ingin melewatkan kesempatan emas itu, meraup keuntungan sebanyak yang bisa mereka dapatkan.
Yang menjadi masalah, saham La Sky Land merosot karena berita itu. Meskipun tim humas sudah memberikan statement penyangkalan sesuai instruksi Ocean, hal itu tidak serta-merta mendinginkan situasi. Setelah ini, bisa dipastikan Ocean akan sulit bernapas, banyak sekali hal yang harus dia lakukan untuk memulihkan keadaan.
Dan ada satu lagi yang mendominasi kepala Ocean. Sejak menerima kabar itu dari Noah, dia sama sekali tidak bisa menghubungi Selena. Tidak terhitung berapa kali Ocean mendesis frustrasi ketika suara operator yang menjawab sambungan teleponnya.
__ADS_1
Dua puluh menit bak di neraka, Noah akhirnya bisa mengembuskan napas lega saat mobil Ocean merapat di halaman rumahnya. Tanpa menunggu lagi, Ocean berlari ke dalam rumah, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru.
“Selena? Selena!” Ocean memeriksa satu per satu ruangan dengan gerakan tangkas, tidak mengambil jeda untuk bernapas. Namun, seberapa keras pun dia berseru memanggil, Selena tidak menyahut. Dia sedang tidak berada di sana.
Noah baru ingin turun ketika Ocean sudah kembali naik ke mobil, bergegas menekan gas dalam-dalam. Mobil Ocean memelesat di jalanan kompleks yang lenggang, untuk kemudian bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya yang tidak terlalu padat. Mata Noah sekali lagi terpejam erat, dalam hati bersumpah akan membawa ibunya liburan jika dia selamat hari ini.
Air muka Ocean semakin keruh, kekhawatiran menggelayut di matanya yang menajam menatap jalanan.
Kurang dari setengah jam, mobil Ocean berhenti agak jauh dari gerbang sebuah rumah mewah. Para wartawan berkerumun di sana, dengan kamera yang menggantung di leher. Untuk pertama kalinya hari ini, Ocean mengembuskan napas lega. Selena jelas berada di rumah orang tuanya.
Ocean mengambil ponselnya, menghubungi sebuah nomor. Langsung tersambung di dering ketiga.
"Ocean." Suara di seberang sana lebih dulu membuka pembicaraan. Pelan dan menyiaratkan dia sedang tidak dalam suasana hati yang bagus.
“Mama ... maaf baru menghubungi. Apa Selena ada di sana?”
“Kalau boleh, apa saya bisa menemuinya sebentar?”
Lenggang sekali lagi, kali ini lebih lama dari sebelumnya. “Baiklah, petugas keamanan akan membuka jalan untukmu.”
Lima menit, beberapa petugas keamanan menyibak kerumunan wartawan, berseru menyuruh mereka menyingkir. Jalan masuk telah tercipta. Ocean segera menggerakkan kemudi menuju kediaman keluarga Athaya, bersamaan dengan blitz kamera yang beringas mengambil gambarnya. Ikan besar telah muncul. Beberapa dari mereka bahkan nekat merangsek, mencoba menghentikan mobil Ocean. Namun, petugas keamanan bergerak cepat, menarik mereka menjauh.
Berhasil lolos dari kuli tinta kelaparan itu, Ocean bergegas masuk ke dalam rumah. Lilian sudah menunggu di ruang tamu, menunjuk kamar Selena di lantai dua, lantas mengangguk sekali, mengizinkan Ocean untuk menemui Selena.
Menggumamkan terima kasih singkat, Ocean berlarian menaiki anak tangga. Ia berhenti di depan pintu kamar Selena yang tertutup. Dengan langkah pelan, Ocean mendekat, mengetuk pintu kamar Selena dua kali.
__ADS_1
“Kau di dalam, Selena?” Ocean bertanya hati-hati.
Hening. Tidak ada jawaban apa pun. Meskipun begitu, Ocean tahu Selena ada di dalam sana.
“Baiklah, kalau kau tidak mau menemuiku.” Ocean menarik napasnya pelan. “Aku minta maaf karena dengan adanya berita ini, kau menjadi bulan-bulanan media. Dan aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak salah paham ....”
Pintu masih bergeming.
“Mungkin ini terdengar seperti bualan, tapi aku ingin kau menjadi orang pertama yang selamat dari masalah ini. Pada dasarnya kau tidak melakukan kesalahan apa pun.” Ocean menyapukan pandangannya pada pintu yang berdiri kokoh di depannya, seolah Selena sedang berdiri tepat di hadapannya. “Aku akan memperbaiki semuanya, Selena, mengembalikan semua pada tempatnya. Aku tidak bisa bilang kau tidak perlu khawatir, tapi kuharap kau percaya padaku.”
Ocean balik badan, hendak turun untuk pergi dari sana, ketika suara pintu dibuka membuat langkahnya terhenti seketika. Dia menoleh sejenak, menemukan Selena yang berdiri di ambang pintu dengan kepala tertunduk. Tidak perlu melihatnya secara saksama, Ocean tahu mata Selena sembab.
Tanpa menunggu lagi, Ocean melangkah cepat ke arah Selena, langsung mengurungnya dalam rengkuhan. Dan secara ajaib, beban yang mengungkung Ocean seakan luruh separuh. Kewarasannya perlahan kembali.
“Kau akan baik-baik saja.” Ocean berbisik, mengusap lembut rambut Selena.
“Aku tahu.” Suara Selena terdengar parau, sisa menangis. Dia membalas pelukan Ocean, merasakan hangat yang menjalar di tangannya yang dingin.
Sejenak, Ocean melepaskan pelukan, menghela napas saat mendapati wajah Selena yang terlihat kacau. Dia lantas menelusupkan anak rambut Selena yang melintang di wajah, tersenyum tipis. “Kau bisa tetap di sini sementara waktu. Aku akan menjemputmu saat situasinya membaik.”
Genap di ujung kalimat Ocean, derap langkah kaki terburu-buru bergema di rumah besar itu. Noah muncul di tangga dengan raut panik dan tergopoh.
“Pak, ada berita terbaru!” Wajah Noah terlihat pias, tanda dia membawa kabar buruk. “Foto Nyonya Selena dan Model Felix Hadwin yang keluar dari apartemen tersebar di media. Mereka ... eh, mereka sepertinya membuat berita tentang perselingkuhan—”
Ucapan Noah tidak selesai, karena Selena sudah ambruk ke lantai.
__ADS_1
...****...