
“Tentu saja dia bukan tandinganmu, Ocean. Aku masih ingat bagaimana kau mengalahkan mantan kekasihku dengan aikido-mu. Menekan saraf, menjungkirbalikkannya. Itu hebat sekali ....”
Suara ceria Agatha mulai jelas terdengar seiring langkah Selena yang semakin dekat dengan kamar Ocean. Mereka sedang mengobrol seru, tawa renyah Agatha seolah menggantung di langit-langit ruangan sebagai respon celetukan Ocean.
Mengintip sejenak dari pintu kamar dengan semangkuk bubur di tangannya, Selena menyeringai kala tatapannya jatuh pada Agatha yang duduk di pinggir tempar tidur. Kotak obat masih berada di pangkuannya, tanda dia telah selesai mengganti plaster luka Ocean.
Tahu kenapa singa ditakuti oleh hewan lain? Singa bahkan tidak lebih besar dari gajah, pun tidak secepat cheetah, namun ia mendapat julukan sebagai ‘raja hutan’. Salah satu rahasianya karena singa memiliki suara mengaum yang menakjubkan. Suaranya menggema di hutan, menelusup pepohonan rapat, hingga akhirnya sampai ke telinga hewan-hewan lain, membuat para hewan itu gentar. Belajar dari si raja hutan, hari ini Selena akan menunjukkan taringnya, siap menundukkan lawan di bawah kakinya.
Dengan langkah pasti, Selena melangkah mendekat, tersenyum penuh percaya diri, sebelum berseru, “Aduh ... suamiku pasti lapar sekali, ya?”
Kamar seluas enam kali enam meter itu kehilangan suara yang mengisinya. Tawa Ocean dan Agatha tersumpal. Suasana di ruangan itu menjadi aneh.
“Ayo, biar kusuapi. Kau harus makan yang banyak supaya cepat pulih.” Selena menyendok penuh bubur, mengarahkannya ke depan Ocean.
Sebagai reaksi atas tingkah Selena itu, Ocean melemparkan tatapan ‘apa kau sedang mabuk?’ dengan keterperangahan yang kental, bertanya-tanya tentang apa yang sedang merasuki Selena.
“Jangan malu-malu, Ocean. Bersikap seperti biasanya saja, Agatha juga pasti akan mengerti. Bukankah begitu, Agatha?” Pandangan Selena beralih ke Agatha. Sorot matanya memancarkan kemenangan telak yang membekuk Agatha dalam ketidakberdayaan.
Agatha tersenyum kaku, mengangguk pelan.
Ocean tertawa kering sebelum akhirnya terpaksa membuka mulut karena Selena tidak terlihat seperti akan menurunkan tangannya. Hal pertama yang terasa setelah bubur menyentuh indra perasanya adalah rasa asin yang dengan cepat menyeruak hingga ke kerongkongan. Tak pelak, hal itu membuat Ocean terbatuk, merasa seperti sedang berkumur dengan air garam.
“Ya ampun, pelan-pelan makannya.” Selena menyeka bubur di sudut bibir Ocean, bertingkah seolah dia adalah istri paling perhatian di dunia. “Bagaimana ini ... gara-gara aku bulan madu yang seharusnya menjadi momen terbaik, malah jadi seperti ini. Padahal ... padahal kau bermimpi ingin segera menjadi seorang ayah.”
Kali ini Ocean benar-benar tersedak bubur, tenggorokannya terasa perih. Buru-buru Selena menyerahkan segelas air, menepuk-nepuk pelan punggung Ocean.
“Kau sudah gila, Selena?” Ocean berbisik di sela batuknya.
“Kalian ... eh, kalian berencana segera punya momongan, ya?” Agatha bertanya dengan nada suara yang berbeda. Tidak ada lagi keceriaan di wajahnya—sesuai keinginan Selena.
“Tentu saja, Agatha. Kalau sudah siap kenapa harus ditunda, bukan? La Sky Land juga membutuhkan penerus.” Selena tersenyum simpul, semakin merasa di atas angin. “Aku dan Ocean bisa melakukan bulan madu lagi kapan pun, sih, ke tempat yang tidak akan bisa dijangkau ‘pengganggu’.”
Akhir kalimat Selena membawa Ocean melirik Agatha, mencoba membaca raut wajahnya. Tanpa perlu penjelasan pun Ocean tahu jika ‘pengganggu’ yang disebutkan Selena bukan penggemar fanatiknya, melainkan Agatha.
__ADS_1
“Ah, dan juga, aku ingin meminta maaf, Agatha. Kudengar kau sedang liburan, ya, di sini? Tapi gara-gara ada masalah ini, kau jadi repot-repot menjenguk suamiku. Padahal cuaca sedang bagus, cocok sekali untuk kau pergi ke suatu tempat yang indah.”
Agatha tidak bodoh—tentu saja. Dia tahu maksud ucapan Selena tentang cuaca bagus dan liburan adalah ‘segera enyah dari sini’ yang diisyaratkan dengan kalimat yang lebih halus.
Merasa akan kelihatan bodoh dan tidak tahu diri jika tetap di sana, Agatha memutuskan untuk bangkit berdiri, meraih tasnya. “Benar, Selena, cuaca hari ini indah sekali. Karena sudah memastikan kondisi Ocean tidak terlalu buruk, mungkin aku akan mengajak mamaku jalan-jalan ke Chugach State Park. Aku pamit sekarang.”
“Sampaikan salamku untuk mama dan papamu, Agatha. Kalau ada waktu aku akan mampir,” ucap Ocean hangat, sekaligus mencoba menghibur hati Agatha.
Senyum Agatha terkembang, meski tidak secerah biasanya. Ia mengangguk singkat, lantas keluar ruangan setelah melemparkan senyum sopan tanda pamit kepada Selena.
“Apa yang sebenarnya sedang kaulakukan, Selena?” Ocean berucap tajam sepeninggal Agatha dari kamarnya.
“Memangnya apa yang aku lakukan?” Selena mengedikkan bahu, sama sekali tidak merasa berdosa. “Kita, ‘kan, harus terlihat meyakinkan sebagai pasangan suami istri.”
Pandangan Selena beralih ke pintu kamar yang baru saja dilewati Agatha. Senyum lebar tercetak jelas di wajahnya. Hari ini, Selena telah memperoleh kemenangan pertamanya atas Agatha.
...****...
Kepala Selena celingukan ke kanan-kiri di depan pintu kamar yang tertutup, hanya untuk menemukan temaram pada hampir setiap jengkal ruangan. Vila itu menjadi tampak menakutkan di malam hari setelah adanya insiden penggemar fanatik.
Dari dalam kamar, terdengar lenguhan pelan Ocean, tanda dia terbangun dari tidurnya.
“Kenapa, Selena?” Suara Ocean terdengar serak, khas orang bangun tidur.
“Eh, itu ....”
Tiga detik, pintu kamar terbuka, menampilkan Ocean dengan baju tidur dan rambut berantakannya.
“Takut sendirian?” Salah satu alis Ocean terangkat, matanya belum terbuka sepenuhnya.
“Iya ....” Selena menjawab dengan suara selirih angin. Padahal Ocean sudah bertukar kamar dengannya, tahu jika Selena tidak akan bisa tidur dengan memori mengerikan di kamar itu. Tapi meskipun sudah mencoba sangat keras, ketakutan yang teramat membawa kaki Selena mendatangi Ocean.
Ocean membuka pintu lebih lebar. “Baiklah, aku akan tidur di sofa kamar. Kau bisa tidur di tempat tidur.”
__ADS_1
Entahlah apa memang sejak dulu Ocean sudah peka terhadap perasaan orang lain tanpa perlu penjelasan, yang pasti Selena amat bersyukur dengan hal itu. Dia juga tidak perlu khawatir tentang Ocean yang akan memandangnya rendah hanya karena memiliki rasa takut.
Ocean sudah bersiap mengambil satu bantal untuknya tidur di sofa, ketika Selena berucap, “Kau sudah mau tidur lagi? Mau aku tunjukkan sesuatu yang keren?”
Belum sempat Ocean menjawab, Selena sudah meraih selimut tebal, membawanya menuju balkon kamar. Setelah membuka pintu balkon, Selena menggelar selimut itu, lantas menaruh dua bantal di atasnya.
“Kau tidak mau ke sini?” Selena berseru setelah duduk di atas selimut, menepuk tempat kosong di samping kirinya.
Ocean tersenyum samar, melangkah mendekat, duduk di samping Selena.
Selena berbaring, pandangannya jatuh pada taburan bintang yang menjadi hiasan langit malam. “Lihat itu, Ocean. Bintang di sini indah sekali.”
Setelah menoleh sebentar, Ocean mengikuti apa yang dilakukan Selena, ikut berbaring. Tangannya dia lipat di belakang kepalanya, membuatnya lebih nyaman. “Coba kau tarik garis dari titik-titik bintang ini, Selena.”
Ocean menggerakkan tangannya dari titik bintang di sebelah kiri, menjadi lurus-menurun ke kanan melewati beberapa titik bintang, lantas membentuk persegi panjang, lurus lagi, bentuk tak beraturan, lurus lagi.
Kening Selena mengernyit, mencoba membayangkan ada garis lurus yang menghubungkan titik-titik yang ditunjuk Ocean. Setengah menit, mata Selena membeliak. Hei, dia bisa melihat bentuk seperti hewan dari garis khayalan itu.
“Bagaimana bisa?” Selena bertanya antusias.
Ocean tertawa, berucap, “Namanya Ursa Major. Salah satu rasi bintang terbesar. Banyak orang mengaitkannya dengan beruang, sesuai dengan mitologi Yunani.”
“Hei, kau bahkan tahu hal seperti itu?” Sekarang Selena tidak perlu meragukan lagi julukan ‘The Perfect Cassanova’, Ocean memang seperti makhluk asing yang mengetahui segalanya.
“Tentu saja.” Ocean menoleh, menyeringai tipis. “Aku bahkan tahu huruf pertama dari surat cinta terakhir yang tidak pernah kauberikan padaku.”
Senyum Selena lenyap seketika.
“I, bukan?”
Separuh nyawa Selena seperti tercerabut dari tubuhnya. Matanya melebar tidak percaya. Sekarang, hanya ada satu hal yang menjadi pusat dunia dalam kepala Selena: Ocean telah mengetahui rahasianya.
...****...
__ADS_1