Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 8| RENCANA PEMBALASAN


__ADS_3

Langit-langit ruangan terlihat begitu menarik bagi Selena yang tengah telentang, memikirkan banyak hal. Di sana, putih sejauh mata memandang, Selena seolah bisa memproyeksikan apa pun yang terlintas di pikirannya, seperti tengah menonton film.


Kali ini giliran adegan masa kuliah yang tergambar di langit-langit ruangan. Tepatnya ketika Selena menyatakan cinta pada Ocean. Ia seakan masih bisa merasakan degup jantung yang menggila, telapak tangan yang dingin, serta kegugupan yang coba ia sembunyikan dengan senyuman angkuh.


“Kau tahu apa yang paling tidak aku sukai? Orang bodoh yang bangga menujukkan bahwa dia memang bodoh dengan tingkah konyolnya. Sayangnya, kau termasuk dalam daftar teratas jenis orang yang tidak kusukai, Selena.”


Helaan napas berat dan panjang mengisi ruangan yang terasa hampa itu. Selena berkedip dalam tempo lambat, dadanya bergemuruh.


Belum genap lima hari dia resmi menikah dengan Ocean, hidup Selena sudah jungkir balik. Rasa benci yang teramat itu perlahan mengabur. Tak terhitung sudah berapa kali Selena memaki diri sendiri, mengantukkan kepalanya ke dinding, saat menyadari dirinya terlalu lemah untuk membiarkan luka masa lalu itu tetap basah.


Dengan gerakan pelan, Selena bangkit berdiri, berjalan menuju salah satu laci meja. Sebuah surat berstampel hati menjadi pusat atensi Selena setelahnya. Ragu, dia mengambil surat itu, mulai membukanya.


Kata demi kata yang terangkai di sana masih tetap sama seperti saat Selena membacanya lima tahun lalu. Selena seolah dikembalikan pada euforia saat dia menulisnya, merangkai mimpi indah yang hanya berdasar pada angan. Tak pernah Selena duga jika di hari esok, mimpinya akan dilenyapkan begitu saja oleh ucapan Ocean.


Kini, setiap kata seperti mengalunkan melodi pahit, menawarkan luka. Tidak, Selena tidak akan semudah itu memaafkan Ocean. Dia akan membalas luka masa lalu itu. Hanya ada satu cara agar Ocean bisa merasakan patah hati seperti yang Selena rasakan dulu: membuat Ocean jatuh cinta dengannya, lantas mencampakkannya seperti barang tak berguna.


“Selena.”


Suara Ocean di luar pintu kamar membuat Selena menoleh, cepat-cepat mengembalikan surat itu ke tempatnya, lantas berderap membuka pintu.


“Sesuai perjanjian.” Ocean mengulurkan map tebal pada Selena. “Vila dan kapal pesiar dengan kepemilikan atas namamu. Besok kita berangkat bulan madu. Kapal pesiar belum bisa digunakan. Aku perlu mengurus lisensi dan sertifikasi, pun melakukan pemeriksaan teknis sebelum digunakan. Tapi vila ... kita bisa tinggal di sana selama beberapa hari.”


Mata Selena membulat mendengar penjelasan Ocean. Vila dan kapal pesiar ... Ocean benar-benar membelikannya? Orang gila macam apa—


“Persiapkan barang-barangmu mulai sekarang, Selena.”


Setelah Ocean pergi, Selena luruh di depan pintu. Map dokumen kepemilikan kapal pesiar dan vila terjatuh dari tangannya.


Tidak, tidak. Selena harus membalas dendam dulu, tapi kenapa dia tidak bisa menepis pesona seorang Ocean Arkananta? Felix .... Selena harus segera bertemu dengan Felix agar pikirannya kembali jernih!

__ADS_1


...****...


“Wah, aku lelah sekali ....” Selena mengempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Perjalanan selama 22 jam penuh, sudah termasuk transit, benar-benar menguras tenaganya. Ocean menyusul beberapa saat setelahnya sembari menarik koper besar.


Mereka telah sampai di Alaska, tepatnya di Kota Anchorage, langsung menuju vila yang Ocean beli. Dia sengaja memilih vila yang telah dilengkapi dengan perabotan dan fasilitas yang sudah layak untuk ditinggali selama beberapa hari.


Ketika Ocean membuka tirai jendela, pemandangan menakjubkan langsung menyambut mata. Teluk Cook dan Pegunungan Chugach yang terlihat dari kejauhan, ditambah langit jingga berhiaskan arak awan yang bergerak pelan, matahari bersiap tidur, membuat Ocean betah berlama-lama menatapnya. Udara segar mengalir masuk, menerpa wajah ketika jendela dibuka. Untunglah mereka datang saat musim panas, udara tidak membekukan tulang, mengingat Alaska termasuk negara bagian yang memiliki suhu dingin ekstrem.


“Ah, kau lapar, Ocean?”


Pertanyaan itu membuat Ocean membalikkan badan dengan kening mengernyit dalam. “Apa kau membuat kekacauan yang belum aku ketahui, Selena?”


Selena melipat bibirnya, menahan diri untuk tidak memaki. “Aku hanya mencoba menjalankan peranku. Kalau kau lapar aku bisa membuatkanmu mie instan atau telur goreng.”


Ternyata mencoba bersikap baik dan pengertian tidak semudah yang dibayangkan Selena. Melihat ekspresi menyebalkan Ocean, rasanya susah sekali untuk menahan emosi.


“Vila ini tidak menyediakan bahan makanan?”


“Agen real estat bukan pelayan, Selena. Mereka hanya menyediakan properti, aku meminta ditambahkan perabotan dan fasilitas layak untuk ditinggali beberapa hari. Selebihnya, termasuk bahan makanan, camilan, maupun wine, penghuninya yang harus menyiapkan sendiri.” Ocean menjelaskan dengan nada seolah Selena adalah bocah sepuluh tahun yang tidak tahu apa pun soal bisnis.


Kesal? Oh, jelas. Namun Selena hanya bisa menampilkan senyum yang dipaksakan seraya menganggukkan kepalanya.


“Ah, aku belum bilang padamu. Besok atau lusa Agatha kemungkinan akan mampir ke sini, jika—”


“Agatha? Dia akan datang ke sini?” Selena memotong perkataan Ocean, spontan berdiri dengan mata melebar tidak percaya. Bahkan ketika waktunya bulan madu, Agatha tetap berusaha mengikuti Ocean? Ternyata dia lebih gila dari perkiraan Selena.


“Kenapa? Kau ada masalah?” Ocean bersedekap, bertanya santai.


“Bukan begitu ... tapi ada urusan apa dia sampai ikut datang ke sini?”

__ADS_1


Tawa Ocean menjadi respon pertama pertanyaan Selena, untuk kemudian dia berucap, “Apa maksudmu ‘ikut’, Selena? Kedua orang tua Agatha tinggal di Alaska. Aku bisa menemukan vila ini juga berkat dia. Kebetulan Agatha sedang liburan ke sini, jadi sekalian ingin mampir.”


Tidak bisa dipercaya. Apa-apaan takdir menyebalkan ini. Dan ‘kebetulan liburan’? Anak ayam juga pasti akan tertawa mendengarnya.


“Hei, Ocean, tidakkah kau merasa ada sesuatu dengan Agatha?” Selena menggerak-gerakkan tangannya, seperti ingin menjelaskan lebih lanjut, tapi dia segera mengurungkan niatnya.


“Sesuatu? Seperti apa misalnya?” Nada suara Ocean masih tetap tenang.


Selena melangkah mendekat, melirik Ocean beberapa kali, sebelum berucap, “Kau tidak berpikir jika dia ... menyukaimu? Jangan salah paham, aku hanya khawatir Agatha akan patah hati karena ... kau tahu, ‘kan, kita sudah menikah.” Selena menjadi gugup karena kata-katanya sendiri.


“Ya, dia menyukaiku.”


Jawaban kelewat santai Ocean berhasil membuat Selena membulatkan matanya seketika, berseru, “Apa?”


“Dan aku juga tahu Agatha bukannya ‘kebetulan’ liburan ke sini.”


Ini sebenarnya Selena yang gila atau Ocean tidak waras? Bagaimana bisa seseorang bisa sesantai Ocean ketika membicarakan masalah yang serius? Oh, baiklah, mungkin hanya Selena yang menganggap hal itu serius.


“T-terus, kau bagaimana? Kau menyukainya juga?” Jantung Selena seakan berhenti berdetak ketika dia menunggu jawaban Ocean. Ia berusaha membaca air muka pria itu, namun jangankan bisa mengetahui apa yang Ocean pikirkan, dia bahkan tidak bisa menerjemahkan isi hatinya sendiri sekarang.


Ocean terlihat seperti sedang berpikir, alisnya berkerut. “Kenapa aku harus memberi tahumu? Kau akan bertingkah seperti istri yang cemburu buta kalau aku bilang aku menyukai Agatha juga?”


Selena spontan melangkah mundur sekali, mati-matian berusaha memperbaiki ekspresi wajahnya yang mungkin terlihat aneh sekarang. “Kau mengatakan omong kosong lagi. A-aku tidak sepeduli itu untuk mengetahui siapa yang kau sukai dan tidak. Bahkan kalau suatu saat nanti kau berencana menikahi kuda nil, aku akan menjadi orang pertama yang tidak ambil pusing.”


Kali ini, Ocean benar-benar tertawa karena ucapan Selena, hingga matanya menyipit. “Baiklah, kalau aku akhirnya memutuskan untuk menikahi kuda nil, kau orang pertama yang aku undang, Selena.” Ocean mengulum senyum, menurunkan tangannya yang terlipat di depan dada. “Aku akan mandi dulu, setelah itu pergi ke minimarket. Malam ini kau bisa memasak sebanyak dan sebebas yang kau mau.”


Dan Ocean berlalu dari ruang tamu dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya, tanpa pernah memperkirakan bahwa kejadian mengerikan akan terjadi beberapa saat lagi.


...****...

__ADS_1


__ADS_2