Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 7| INTERUPSI SELENA


__ADS_3

“Wah, kelihatannya enak sekali.” Agatha berkomentar ceria, menatap hidangan yang tersaji di meja makan.


Selena menyusul duduk di seberang Agatha dengan wajah tertekuk, melirik sinis Agatha yang tampak bersemangat duduk di samping Ocean. Kalau dipikir-pikir lagi, bukankah Agatha termasuk golongan wanita tidak tahu malu? Mana ada rekan kerja yang datang pagi-pagi sekali ke rumah pengantin baru, lantas haha-hihi mengganggu momen kebersamaan si pengantin. Eh—Selena memukul kepalanya sendiri, mengusir jauh-jauh pikiran melencengnya.


“Ah, biar aku ambilkan, Ocean.” Dengan cekatan Agatha mengambil nasi beserta lauk ke piring Ocean, lantas menyodorkannya di depan Ocean seraya tersenyum manis.


Bibir Selena sudah komat-kamit mencibir tanpa suara saat melihatnya. Jika ada orang asing yang melihat mereka sekarang, tak pelak dia akan berpikir bahwa Agatha-lah pasangan Ocean dan Selena hanya pengganggu yang kehadirannya tidak diharapkan. Dia seperti tembok yang tengah menyaksikan kemesraan dua orang itu.


“Mau aku ambilkan juga, Selena?” tawar Agatha dengan ramah.


Selena menggeleng, tersenyum dipaksakan. “Tanganku baik-baik saja, Agatha. Tidak lumpuh atau semacamnya. Bahkan mungkin aku bisa melemparkan rumah ini ke Palung Mariana dengan kedua tanganku sekarang juga.”


Ocean spontan tersenyum kecil mendengar penuturan Selena. Ia bisa melihat dengan jelas ketidaksukaan Selena terhadap Agatha. Sebenarnya itu bukan hal yang baru. Di mata siapa pun, Agatha terlihat terlalu mencolok, mendominasi, bahkan terkadang mengintimidasi meski dia tidak melakukan apa pun. Untuk aktris sekelas Selena pun, yang terkenal memiliki paras rupawan, Agatha masih terlihat superior.


“Apa senyum-senyum? Kau mau kulempar ke Palung Mariana juga?” Hanya melalui gerakan bibir, tanpa suara, Selena memelotot pada Ocean ketika melihatnya tersenyum menyebalkan.


“Wah ... kau tidak pernah mengecewakan soal memasak, Ocean. Ini lezat sekali.” Mata Agatha berbinar saat rasa sup ayam yang kaya akan rasa menyentuh lidahnya.


“Aku khawatir kau tidak bisa meminta resep gratis lagi, Agatha. Sepertinya aku akan mulai mematok harga untuk resep-resep rahasiaku.”


Meja makan itu dipenuhi dengan tawa Ocean dan Agatha setelahnya. Selena hanya memutar kedua bola matanya. Apa-apaan itu, sejak kapan Ocean yang sok keren bisa bercanda?


“Ah, ya. Soal rancangan yang kemarin, aku mengubah beberapa, Ocean. Aku memasukkan beberapa sistem pemisahan air untuk meminimalkan risiko terjadinya kebocoran dan banjir.”


“Apa perubahan ini akan memengaruhi jadwal dan biaya proyek secara signifikan?”


Selena mengernyit kala menyimak pembicaraan Ocean dan Agatha. Tiga detik mengamati wajah Agatha lekat-lekat, Selena menjentikkan jari. Ia ingat sekarang.


Agatha Juliana, arsitek terkenal yang tahun lalu bertanggung jawab atas pembangunan museum nasional. Lulusan kampus ternama dengan sederet prestasi mengagumkan sebagai arsitek muda. Wajah Agatha sudah berlalu-lalang di televisi. Pamornya di masyarakat hampir setara dengan artis ternama.

__ADS_1


“Selena? Selena ....”


Suara Ocean yang menelusup telinganya membuat lamunan Selena menjadi buyar. Ia mengerjap beberapa kali sebelum berucap pelan, “Apa?”


“Aku dan Agatha akan meeting sebentar.”


“Meeting? Di mana? Hanya kalian berdua?” Setelah bertanya secara beruntun, Selena baru sadar dengan apa yang dia katakan.


Selena baru hendak meluruskannya ketika Ocean sudah menjawab, “Di ruang kerjaku. Hanya berdua. Kau mau ikut, biar bisa jadi bertiga?”


Selena menjawabnya dengan tatapan sinis.


“Tinggalkan saja piring kotor di sini jika kau keberatan mencucinya. Setelah meeting aku yang akan mencucinya.”


Setelah menyesap air putih sebentar, Ocean dan Agatha berlalu dari ruang makan, berjalan berdampingan menuju ruang kerja Ocean.


Di tempatnya duduk, Selena menggembungkan pipinya kesal melihat punggung mereka yang mulai menjauh lantas hilang ditelan pintu. Hanya berdua di ruangan tertutup? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Selena, membuatnya berkali-kali menggigit bibir bawahnya dengan gusar.


Dan belum genap tiga detik Selena menempelkan telinga, pintu ruangan kerja Ocean tiba-tiba terbuka. Selena terhuyung kehilangan tumpuan, badannya ambruk ke depan, mencium lantai.


“Kau sebenarnya sedang apa?” Ocean berdiri di depan Selena, sedikit tersentak, sebelum akhirnya menghela napas panjang.


Selena mengumpat dalam hati. Posisinya sekarang terlihat amat memalukan, seolah ketahuan sedang menguping. Buru-buru dia bangkit berdiri dengan wajah memerah bak kepiting rebus, mengedarkan padangannya ke segala arah.


“A-aduh ... cincinku tadi jatuh ....”


“Cincin? Kau dari tadi tidak memakai cincin, tuh.”


Sial! Sepertinya mata elang Ocean besok-besok bisa menjadi pengganti mikroskop, bisa-bisanya dia memperhatikan hal sekecil itu.

__ADS_1


“Aku baru mau memakainya. Ah, menyebalkan sekali padahal masih baru.” Selena kembali mengedarkan pandangannya ke lantai sembari melangkah menjauh dari ruang kerja Ocean. Kabur selagi punya kesempatan.


Namun sepuluh menit kemudian, saat kembali menatap pintu ruang kerja Ocean yang tertutup, rasa penasaran Selena sekali lagi membuncah. Dia bersedekap, memutar otak. Setengah menit, Selena menyeringai, mengangguk sekali sebelum melangkah dengan pasti ke arah ruang kerja Ocean, langsung membuka pintunya.


Yang Selena temukan pertama kali adalah Ocean dan Agatha yang duduk berdampingan dengan jarak dekat. Jari telunjuk Agatha sedang menunjuk sesuatu di layar tablet, mungkin rancangan bangunan hotel baru. Mereka kompak menatap Selena, menghentikan aktivitas sejenak.


“Apa lagi sekarang, Selena?” Ocean menampilan raut wajah seakan sudah menyerah dengan dunia.


“Ambilkan aku novel di rak atas. Tanganku tidak sampai.” Selena berucap ringan, seolah tidak merasa bersalah telah mengganggu meeting Ocean.


“Kau, ‘kan, bisa memakai kursi jika tidak sampai. Aku sedang sibuk.” Ocean mengerutkan alisnya, kesal dengan tingkah Selena.


“Mana bisa aku naik ke kursi. Kalau aku jatuh, kau mau tanggung jawab, Ocean? Sebentar lagi aku ada proyek film baru.” Selena tidak mau kalah.


Ocean berdecak, namun tak pelak dia beranjak berdiri, berucap singkat pada Agatha, sebelum akhirnya melangkah keluar disusul Selena yang mengekornya.


Belum lima menit Ocean kembali ke ruang kerjanya, melanjutkan meeting dengan Agatha, pintu kembali terbuka. Selena berdiri di ambang pintu sembari menenteng novel.


“Kompornya tidak mau menyala, Ocean. Aku ingin membakar marshmallow. Novel tanpa marshmallow bakar, seperti masakan tanpa garam.”


Ocean memejamkan matanya, lantas mengusap wajah. Hari ini Selena benar-benar menguji kesabarannya. Setelah melemparkan tatapan tajam pada Selena, Ocean kembali berderap keluar, mengajarkan tentang menekan knob kompor sebelum memutarnya.


“Dengar, Selena. Kalau kau mengganggu lagi, memintaku melakukan ini dan itu, aku tidak akan ragu untuk mengikatmu di pohon cemara belakang rumah. Diam di sini dan jangan membuat kekacauan. Kau mengerti?” Ocean berucap tajam sebelum berlalu dari dapur, kembali melakukan meeting yang tertunda berkali-kali akibat tingkah absurd Selena.


Sepeninggal Ocean, Selena berdecak sembari mencibir. Bayangan kedekatan Ocean dan Agatha berkelebatan di pikirannya. Entah karena apa, Selena tidak tenang dan merasa harus menginterupsi keduanya.


Sebuah ide muncul di benak Selena. Dia melangkah menuju panel listrik utama yang terletak di rumah bagian samping, lantas menarik ke bawah main circuit breaker. Dalam sekejap, listrik di rumah Ocean terputus. Lampu padam seketika.


Dan Selena buru-buru kabur saat seruan marah Ocean seakan bergema hingga ke jalanan di depan rumah.

__ADS_1


“Hidupkan kembali listriknya, Selena!”


...****...


__ADS_2