Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 18| BELENGGU MASA LALU


__ADS_3

“Kau mencegahku menemui Agatha karena ingin aku melakukan ini?”


“Ah, simpan omelanmu dan ikuti saja naskahnya! Aku besok sudah harus mulai syuting.” Selena berdecak, menunjuk-nunjuk kertas putih yang dipegang Ocean.


Ocean yang berdiri berhadapan dengan Selena menghela napas, mulai membaca sekilas deretan dialog di sana. “Ini cerita tentang apa?”


Selena mengusap tengkuk dengan canggung, menjawab lirih, “Cinta sepihak.”


“Hei, apa kau sedang menceritakan kisahmu sendiri?”


Sialan. ‘Keparat’ memang sepertinya menjadi nama tengah Ocean. Lihat tawa menyebalkan itu. Sepertinya ‘pernah menolak cinta Selena’ menjadi prestasi yang membanggakan bagi Ocean.


Sudah terlanjur berenang di dalam air, Selena mencoba minum sekalian. Latihan akting ini sebenarnya hanya menjadi kedok Selena karena tidak tahu apa lagi yang bisa menjadi alasan masuk akal tindakannya mencegah Ocean pergi menemui Agatha.


Proyek film terbaru Selena tentang ‘patah hati cinta pertama’ cocok sekali dengan Ocean. Mungkin setelah berlatih dengannya, mengingat insiden buruk masa lalu, Selena bisa lebih menghayati perannya, lantas kemampuan aktingnya bisa meningkat.


“Baiklah, ayo kita mulai.”


Selena menarik napas panjang. Ketika berdiri berhadapan dengan Ocean seperti ini, dia seperti dikembalikan pada kejadian enam tahun lalu. Lorong kampus yang tidak seramai biasanya, seruan tertahan empat-lima mahasiswi yang kebetulan melihat mereka, dan tatapan Ocean yang seakan menghunjam jantungnya. Meskipun sudah berlalu lama, semua itu kini terasa semakin pekat, seolah Selena berada di sana.


“Tujuh tahun lebih aku menyimpannya, Andrea.” Selena memulai prolog aktingnya. Dibanding terlihat gugup selayaknya seorang gadis yang ingin menyatakan cinta, wajahnya terlihat sendu. “Kau mungkin tidak tahu berapa kali aku bersimpuh memohon agar langit membuatmu berbalik menatapku, atau seberapa lama aku puas hanya dengan menatap punggungmu. Tapi sungguh ... jika perasaanku terbalaskan hari ini, aku akan selalu menjadi manusia paling bahagia di muka bumi.”


Deru pendingin ruangan menjadi satu-satunya hal yang mengaburkan keheningan. Ocean tertegun kala melihat sekelebat luka dalam mata Selena.


“Giliranmu, Ocean.”


Penolakan. Andrea akan menolak pernyataan cinta Savana. Dan hal itu membuat Ocean merasa berat melakukannya. Sama seperti Selena, Ocean juga merasa dilemparkan ke masa lalu, saat dia dan Selena berdiri berhadapan seperti ini.


“Aku menunggu.”


Ocean menyapukan pandangannya ke wajah Selena. Baiklah, dia akan melakukan akting sesuai keinginan Selena. Ocean mulai menghela napas berat, masuk dalam cerita.


“Kau gadis paling manis yang pernah aku temui, Savana.” Ocean dalam ‘Andrea’ tersenyum getir, wajahnya menggelayut sendu. “Tapi kurasa ini bukan saatnya. Perjalananmu masih jauh, kau tidak bisa terus menunggu ....”

__ADS_1


Untuk sesaat, dialog yang baru diucapkannya membuat Ocean merasakan sesuatu yang berbeda. Rangkaian kalimat itu terasa dalam.


“Setelah ini, lepaskan aku, Savana. Kau berhak terbang tinggi. Kau berhak menggapai bintang sebanyak yang kau mau. Sungguh, besok lusa jika kau datang kembali padaku, senyum kemenanganmu akan menjadi trofi paling hebat bagiku.”


Ocean luruh dalam kesadaran yang membuatnya seperti dihantamkan ke bebatuan terjal. Dia menatap Selena, mendapati tangannya yang terkepal dan hidung yang memerah, tanda menahan tangis.


Lewat dialog singkat itu Ocean menyadari ada perbedaan mencolok antara dirinya dan Andrea. Meski sama-sama menolak cinta, Andrea tidak pernah menghancurkan hidup seseorang.


Kini, Ocean tahu, kejadian itu bukan hanya mimpi buruk bagi Selena, melainkan torehan luka yang mungkin membutuhkan waktu lama untuk menyembuhkannya.


“Cukup sampai di sini, aku sudah mengantuk.” Selena masih menunduk, tidak kuasa menatap Ocean. Dalam sekali gerakan, dia membalikkan badan, melangkah menjauh.


Menyebalkan sekali rasanya. Selena pikir, dengan adanya latihan akting ini, dia akan mulai terbiasa menghadapi masa lalu, hingga suatu hari ketika mengenangnya lagi, Selena bisa tertawa karena pernah melakukan hal bodoh itu. Nyatanya luka tetaplah luka. Tiap kali datang seperti kaset lama, dadanya tetap sesak, mengingat dirinya yang menyedihkan. Tidak ada yang berubah, insiden itu tetap terasa seperti momok menakutkan.


Selena baru menyentuh gagang pintu kamarnya saat suara parau Ocean membuat air mata yang ditahannya luruh seketika.


“Atas nama masa lalu itu ... aku sungguh minta maaf, Selena.”


...****...


Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Selena. Pantulan dirinya di depan cermin dengan seorang staf yang sibuk membubuhkan foundation di wajahnya, tidak lagi menarik perhatiannya. Kepala Selena seperti dijejali rangkaian perjalanan hidupnya setelah pernyataan cintanya yang tak berbalas.


Masih basah di ingatan Selena ketika dia melangkah melewati lorong sepi kampus. Saat itu dia berada di tahun terakhir kuliahnya. Mungkin bagi Ocean, penolakannya hanya angin lalu, tapi bagi Selena, harga dirinya ikut direnggut.


Tekanan batin yang Selena rasakan, tidak sebanding dengan perasaan sesak luar biasa ketika dia melihat Ocean. Selena tahu, dia tidak bisa lagi berada di satu tempat yang sama dengan pria itu. Hal ini membawa Selena pada satu keputusan: keluar dari dunia perkuliahan.


Sejak lama Selena sudah menyukai dunia akting. Meskipun ditentang oleh ayahnya, Selena mulai mantap menekuni bidang itu, menyibukkan diri agar Ocean tidak memiliki kesempatan memasuki pikirannya. Sayangnya, seberapa keras pun Selena berusaha, Ocean tetap datang. Selena benar-benar tidak bisa mengenyahkan Ocean dari pikirannya.


Felix datang seperti oasis di tengah gersangnya hidup Selena. Melalui Felix, Selena menyulam mimpi baru. Namun sekali lagi, Selena harus menemui rintangan sulit. Profesi Felix sebagai model dipandang rendah oleh Robin, hubungan mereka tidak direstui.


“Kulitmu sekarang lebih bagus, ya, Selena. Apa karena kau pengantin baru?” Staf makeup bertanya dengan nada menggoda, tertawa.


Lamunan Selena tertahan sejenak. Dia tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin. “Karena aku banyak bergerak akhir-akhir ini, Kak.” Tentu saja maksudnya karena sibuk membersihkan rumah atau terancam ditendang dari rumah Ocean jika tidak melakukannya.

__ADS_1


“Kalau aku jadi kau, memiliki suami mengesankan seperti itu, aku akan terus menggenggam tangannya. Kau tidak takut dia hilang atau dicuri orang, Selena?” Si staf tertawa lebih lebar, bergurau.


“Akan lebih baik jika dia diculik alien sekalian. Atau kau mau menampungnya di rumahmu, Kak?”


Ruang makeup itu dipenuhi gelak tawa si staf.


...****...


“Undur jadwal meeting dengan tim perencanaan hingga kita selesai bernegosiasi dengan Carlo Property, Noah. Siapkan juga laporan keuangan trimester kedua, ada hal yang harus aku analisis ulang.” Ocean berbicara datar melalui sambungan telepon, matanya masih tertuju pada deretan angka di layar laptopnya.


Ocean menutup telepon setelah merasa tidak ada lagi yang bisa dia perintahkan kepada sekretarisnya. Sejenak, Ocean melirik jam yang tergantung di dinding, menghela napas pelan.


Sore tadi, Selena sudah memberitahunya bahwa kemungkinan dia akan pulang dini hari atau bahkan tidak pulang hingga besok siang. Syuting perdananya sepertinya akan mengambil beberapa adegan sekaligus, membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya.


Ocean pun sepertinya akan tidur terlambat hari ini. Ada beberapa hal yang harus dia periksa sebelum pembangunan hotel baru akan resmi dilaksanakan. Ditemani secangkir kopi panas, Ocean sibuk memeriksa beberapa berkas tahap awal pembangunan, memastikan tidak ada kesalahan.


Pukul dua dini hari, Ocean masih sibuk menganalisis desain baru yang dikirimkan Agatha, ketika ponselnya bergetar.


Kening Ocean mengernyit melihat nama yang tertera di layar. Selena.


Segera Ocean menggeser tombol hijau di layar ponsel, membuatnya langsung tersambung dengan Selena.


“Ada apa, Selena?”


Tidak terdengar suara apa pun dari seberang sana.


Ocean memeriksa ponselnya, memastikan jaringannya baik-baik saja. “Selena?”


Isakan pelan Selena terdengar setelahnya. Ocean melebarkan mata dengan jantung bertalu. Sesuatu yang buruk pasti sedang terjadi.


Dan suara parau Selena membuat Ocean terkesiap, berlarian mengambil kunci mobilnya.


“Aku takut sekali, Ocean ....”

__ADS_1


...****...


__ADS_2