
Ocean tidak tahu sudah berapa lama suasana hening yang canggung membelenggunya dan Selena semenjak ucapan itu lolos dari bibir Selena. Mata mereka beradu, seolah waktu membekukan segalanya. Dari jarak sedekat ini, Ocean bisa melihat iris cokelat terang milik Selena yang bergetar, seakan kekhawatiran yang teramat besar sedang memenuhi kepalanya.
Namun, Ocean sama sekali tidak berniat mengalihkan pandangannya. Iris cekelat Selena membuatnya ingin menyelam di sana, mencari sisi tersembunyi yang tidak pernah Selena tunjukkan pada siapa pun, termasuk Felix. Entah apa yang terjadi, belakangan ini, Selena terus mengusiknya.
Dalam sepersekian detik yang menghancurkan momen itu, mata Selena mengerjap cepat, memutus tatapannya dengan Ocean. Dia terlihat berusaha keras untuk mengendalikan napasnya agar tidak terdengar tersengal.
“A-akhirnya satu masalah mengganggu terselesaikan juga.” Selena bergerak-gerak canggung, merapalkan doa agar detak jantungnya yang menggila tidak sampai di telinga Ocean.
Seiring mengaburnya lenggang di antara mereka, Ocean kembali memusatkan tatapannya pada bintang di atas sana, tersenyum samar. “Kau anggap itu kenangan buruk?”
Kepala Selena spontan berpaling ke arah Ocean, alisnya berkerut. “Kau berharap aku mengingatnya sebagai memori indah?”
Suara tawa pelan Ocean terdengar setelahnya. “Kuharap suatu saat nanti, kau bisa tersenyum saat mengingat kenangan itu lagi, Selena.”
Tersenyum. Hingga beberapa waktu yang lalu, Selena tidak berpikir dia akan bisa tersenyum saat mengingat kenangan pahit itu. Dia mengira akan membenci Ocean seumur hidupnya. Namun sekarang, semuanya keluar dari alur cerita yang telah dia tetapkan. Sudut bibir Selena bisa tertarik ke atas saat mengenang kejadian itu, merasa telah berhasil berdamai.
Dan Ocean ... Selena mencuri pandang ke arahnya, menemukan pria itu yang tengah menyapukan pandangannya ke langit malam dengan damai. Selena jadi bertanya-tanya bagaimana bisa lukisan penuh robekan Ocean yang telah dia pasang baik-baik di pikirannya, kini berubah menjadi lukisan berbingkai permata yang membuatnya ingin menatapnya selama mungkin.
Takdir terasa begitu bercanda dan Selena merasa hatinya terlalu mudah memaafkan—
Deg!
Selena terkesiap saat Ocean tiba-tiba meliriknya, lamunannya seketika mengabur. Tertangkap basah tengah memperhatikan Ocean seperti itu, buru-buru Selena mengalihkan tatapannya dengan degup jantung yang semakin tidak keruan.
“Li-lima puluh enam.” Selena berucap gugup, pura-pura menatap satu bintang.
“Lima puluh sembilan,” koreksi Ocean, tersenyum kecil karena tingkah Selena.
Merutuk dalam hati, Selena memejamkan matanya seolah sedang mengenang kejadian buruk. Jelas tidak ada satu pun yang muncul di benaknya selain wajah Ocean. Hal itu membuat Selena frustrasi hingga cepat-cepat kembali membuka matanya.
__ADS_1
Dan Selena tersentak kaget tepat setelah matanya terbuka. Umpatan yang hendak lolos dari bibirnya ia telan bulat-bulat saat Ocean terang-terangan menatapnya sembari sedikit memiringkan badan.
“Apa? Kenapa?” Selena semakin gugup.
Ocean tidak langsung menjawab, seakan sedang menikmati kegugupan Selena. “Ayo kita berbagi rahasia, Selena,” katanya kemudian.
Lenggang. Derik serangga terdengar samar dari kejauhan. Butuh beberapa saat bagi Selena untuk mencerna perkataan Ocean. Berbagi apa?
“Kenapa aku harus berbagi rahasia denganmu? Memangnya aku kurang kerjaan?” Selena mendengus.
“Anggap saja ini untuk membuat komunikasi kita semakin baik. Rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Tentu aku juga akan mengatakan rahasiaku.”
Oke, itu tawaran yang cukup menarik. Mungkin saja Selena bisa merasa selangkah di depan Agatha jika mengetahui rahasia paling tersembunyi Ocean.
Melirik Ocean sekilas, kerutan kecil muncul di antara kedua alis Selena. “Rahasia, ya?” Selena terlihat berpikir keras, lantas menjentikkan tangannya dan memelankan suaranya. “Kau ingat saat kuliah dulu ada turnamen tenis dan kau mewakili sektor ganda campuran jurusan kita? Pasangan mainmu, Aurora ... eh, pernah menjerit-jerit histeris saat akan memakai seragam tenisnya sebelum bertanding, bukan? Sebenarnya ... aku yang mencabik-cabik seragamnya dan meletakkan boneka Voodoo di lokernya.”
Ocean kehilangan kata-kata. Dia yang biasanya bisa menampilkan raut setenang Sungai Amazon, kini terlihat terkejut karena ucapan Selena. Ocean masih ingat betul bagaimana gemparnya saat itu. Seragam tenis Aurora dirobek-robek dengan tragis, dan ada boneka Voodoo dengan banyak jarum tertancap di sekujur tubuh boneka itu. Semua orang menganggap Aurora mengalami teror serius hingga membuat perempuan itu terguncang selama beberapa hari. Ocean dan Aurora batal mengikuti turnamen. Selama sebulan penuh Aurora didampingi dua bodyguard ke mana pun dia pergi.
“Aku tahu itu keterlaluan, aku juga tidak menyangka akan jadi seserius itu.” Selena mengusap pipinya salah tingkah. “Itu karena dia menyebalkan. Dia bilang ke teman-temannya kalau kau tidak sesuci kelihatannya. Katanya kau menggodanya dan mengajaknya tidur. Bagaimana aku bisa ... me-membiarkannya ... begi—baiklah aku salah, aku bersalah padanya.” Selena mengembuskan napas, lama-lama tidak kuat juga dihujani tatapan tajam Ocean.
Crazy princess ... ternyata memang bukan bualan semata. Julukan itu tepat disematkan kepada Selena. Ocean menyugar rambutnya, mengesah pelan. “Masa lalu, ya? Baiklah, aku juga akan mengatakan sesuatu tentang itu.”
Selena merasa begitu antusias.
“Surat-surat yang kauberikan padaku ... aku masih menyimpannya hingga sekarang.”
Hening. Selena mematung. Terkejut, bingung, senang ... entahlah, semuanya berkecamuk dalam dirinya.
“Kenapa kau menyimpannya? Bukankah kau membencinya?”
__ADS_1
Ocean terlihat seperti sedang berpikir, sebelum akhirnya seringaian terbit di wajahnya. “Mungkin karena aku menyukai sensasi menggelikan saat membacanya? ‘Kau seperti gemerisik angin di lembah’, ‘Aku ingin hidup dalam kelam matamu’—”
“Tutup mulutmu, Ocean!” Selena berseru memotong perkataan Ocean sembari memelotot, kegugupan semakin kentara di wajahnya yang telah memerah. Surat sialan itu ... Selena bersumpah akan membakarnya begitu menemukannya. Saat menulis kata-kata menggelikan itu, pikirannya pasti sedang tidak waras.
Demi melihat Selena yang seperti kepiting rebus, Ocean tertawa lepas—sekali lagi. Rasanya selalu menyenangkan menghabiskan waktu bersama Selena.
...****...
Cahaya lembut matahari menelusup melewati tirai yang tidak tertutup sempurna. Kelopak mata Selena bergerak-gerak tidak nyaman ketika sinar itu mengenai wajahnya, mengaburkan mimpinya. Tidak bisa lagi kembali terlelap karena matahari yang beranjak naik, mata Selena bergerak terbuka.
Belum genap kesadarannya kembali, sedetik setelah membuka mata, Selena terkesiap. Dadanya bergemuruh hebat, matanya melebar seiring otaknya yang mulai mencerna secara rasional pemandangan yang tersaji tepat di depannya.
Ocean sedang tidur .... Bukan, bukan tidur di sofa seperti yang sering dia lakukan, melainkan di samping Selena. Benar-benar di samping Selena. Satu ranjang yang sama. Berbagi selimut yang sama. Posisi tidur Ocean menyamping menghadap Selena, sehingga wajah mereka benar-benar berhadapan.
Selena memutar otaknya cepat, mengais memori tentang apa yang terjadi semalam. Tiga detik, Selena mengaduh tanpa suara. Sejauh yang diingat Selena, dia ketiduran di taman karena terlalu banyak menghitung bintang, tepatnya saat memejamkan mata untuk mengingat kenangan buruk. Itu berarti ... Ocean yang membawanya kemari? Wah, tidak bisa dipercaya!
Yang menjadi pertanyaan, bagaimana bisa Ocean tidur di—
“Di sini dingin sekali, Selena. Aku tidak bisa tidur di sofa.”
Selena tersentak saat suara serak nan pelan Ocean menelusup telinganya. Mata Ocean masih terpejam, seakan dia bisa melihat Selena tengah memperhatikannya lewat mata batin.
Tidak ada satu pun kata yang keluar dari bibir Selena, situasi ini masih membuatnya tercengang dan terkesan tidak masuk akal.
Mata Ocean terbuka perlahan, langsung beradu dengan manik cokelat terang milik Selena. Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat mengalihkan pandangan, meskipun sekarang Selena merasa jantungnya memompa darah terlalu beringas. Menatap mata Ocean yang kelam itu, Selena merasa seperti tengah tenggelam di sana. Dingin dan gelap. Selena terperangkap, namun tidak ingin keluar dari sana.
“Kau pernah berkata jika pernikahan ini tidak memiliki harapan, bukan?” Suara serak Ocean memecah lenggang. Dia masih berada di posisinya, tidak bergeser semili pun, sebelum kembali berucap pelan, “Maka ayo kita ciptakan, Selena. Aku ingin mencobanya.”
Dan Selena bersumpah, darahnya tidak pernah berdesir secepat ini.
__ADS_1
...****...