Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 31| OCEAN DALAM GEMERLAP MALAM


__ADS_3

Selena menggeliat pelan seiring mimpinya yang mulai mengabur, membawa matanya terbuka perlahan. Dinding abu-abu gelap menjadi objek pertama yang tertangkap penglihatannya. Butuh tiga detik hingga Selena ingat jika dia tengah tidur di kamar Ocean.


Ah, Ocean! Selena menggerakkan kepalanya ke samping kiri. Kedua sudut bibirnya spontan tertarik ke atas saat mendapati Ocean yang masih terlelap di sofa. Selimut tipis masih membalut tubuhnya.


Mata terpejam rileks, wajah damai, dan rambut berantakan. Senyum Selena semakin terkembang. Menatap Ocean yang tertidur entah mengapa selalu terasa menyenangkan. Selena seolah bisa merasakan pria itu tengah bermimpi indah.


“Pada akhirnya tetap dia yang tidur di sofa.” Selena terkekeh pelan, mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping, menghadap Ocean. “Bisakah aku melihatmu seperti ini setiap pagi, Ocean?” Hanya sedetik sebelum Selena menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menyadari betapa menggelikan perkataannya. “Aku pasti sudah gila.”


Pergerakan kecil pada kelopak mata Ocean membuat Selena buru-buru membalikkan badannya ke arah berlawanan, memejamkan matanya erat. Hampir saja dia ketahuan untuk yang kedua kalinya.


Suara selimut yang disibak, lantas diikuti langkah pelan, membuat jantung Selena berpacu. Padahal tidak melakukan apa pun, namun Selena merasa seperti baru saja membuat kesalahan dan sedang bersembunyi.


“Apa ini? Apa ada orang yang tidur dengan mata seperti itu? Akting tidurmu buruk sekali, Selena.”


Sial! Selena ingin mengantukkan kepalanya ke dinding, dia terlalu erat memejamkan mata. Merasa tidak ada jalan keluar, Selena membuka matanya sembari mendengus. Dia beranjak duduk, menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.


Setiap kali berhubungan dengan Ocean, apa pun yang dilakukan Selena menjadi sangat memalukan.


“Kau sedang mencoba menghindari tugasmu?” Ocean membuka tirai, membiarkan cahaya matahari menyiram lembut ruangan itu.


Selena memaki Ocean pelan. Di otaknya pasti hanya ada makan dan membersihkan rumah jika menyangkut Selena. “Aku benar-benar sedang malas bertengkar. Suasana hatiku sudah buruk sejak kemarin. Sebaiknya kau diam saja daripada aku menendangmu lagi.”


Ocean tertawa, membalikkan badan menatap Selena. “Karena kemarin aku sudah menuruti kemauanmu, memasak sop buntut dan ayam goreng, pagi ini haruskah kita sarapan omelete dan avocado toast?”


Selena memelotot, spontan hendak berseru protes. Namun kemudian, dia menelan bulat-bulat kata-kata yang sudah dirangkainya. Percuma, Ocean tidak akan melunak. Dia memang berniat balas dendam.


“Dan kau tidak perlu membuat makan malam untukku. Malam ini aku akan makan malam bersama temanku. Kau bisa ikut bersamaku kalau mau.”


Kombinasi Ocean dengan rambut berantakan dan cahaya pagi benar-benar berbahaya. Mati-matian Selena memaksa matanya untuk berpaling dari sosok bersinar di depannya. Tidak, belum saatnya Ocean mengetahui perasaannya.


“Tidak. Aku sibuk. Lagipula memangnya aku bawahanmu? Kau menggajiku? Kenapa aku harus ikut denganmu ke mana-mana?”

__ADS_1


Ocean tersenyum tipis, bersedekap. “Aku memang menggajimu, Selena. Dengan Vila dan kapal pesiar, kalau kau lupa.”


Ah, sialan!


...****...


Bising musik atraktif mengambang di langit-langit ruangan, membawa puluhan orang melompat-lompat, menari dengan membara seolah besok tidak ada kehidupan lagi. Bau minuman tercium pekat, beradu dengan lampu sorot yang berpendar-pendar. Berkali-kali Ocean menghela napas pelan. Berapa kali pun datang ke sana, dia tidak pernah menyukai tempat itu.


“Wajahmu suram sekali, Ocean. Jangan begitu, ayo kita bersenang-senang di sini dan hidup seperti di surga.” Teman Ocean, Austin, berbisik sembari mengerling. Berbanding terbalik dengan Ocean, dia sangat menikmati waktu di sana. “Ayo bersulang.” Austin mengangkat gelasnya ke arah Ocean, tertawa lebar.


“Aku harus menyetir.” Ocean mengalihkan pandangannya, tidak tertarik untuk menyambut gelas Austin.


“Kau bisa minum sesukamu, Ocean. Aku bisa memanggil supir.” Agatha di samping Ocean tersenyum lembut, mengangguk meyakinkan.


“Ayolah, Ocean. Ini hari spesialku, setidaknya aku ingin bersenang-senang dengan teman baikku.” Austin mengambil gelas dua gelas, menyerahkan salah satunya pada Ocean. “Kau harus belajar menikmati hidup, bukan hanya bekerja keras seolah besok akan kiamat. Lihat pria di sebelah sana. Namanya Oscar, pemimpin perusahaan besar sepertimu. Tapi dia menikmati hidup, bersenang-senang lebih dari siapa pun.”


Ocean mengalihkan tatapannya pada pria yang ditunjuk Austin. Kondisinya benar-benar kacau, mabuk berat, namun dia bertingkah seolah tidak memiliki beban hidup, bersenda gurau dengan dua wanita sembari menenteng botol minuman. Tanpa perlu bertanya, Ocean yakin pria bernama Oscar itu tipe pembuat masalah yang tidak peduli bahkan jika perusahaannya hancur saat ini juga.


Helaan napas Ocean terdengar, sebelum akhirnya dia menyesap whiskey-nya. Rasa yang tajam segera menyambut lidahnya, membuat Ocean sedikit mengernyit karena dia memang kurang menyukai minuman beralkohol.


“Hei, lihat wanita di sana, Ocean. Gila, apa dia dewi yang turun ke bumi?” Mata Austin berpendar-pendar saat menatap wanita berbalut off shoulder dress merah yang sedang berlenggak-lenggok di tengah kerumunan orang menari. “Aku harus mendapatkannya malam ini.”


Tanpa menunggu lagi, Austin berderap menuju dance floor. Dengan gerakan luwes dan halus, dia mendekati wanita itu.


“Omong-omong sebentar lagi hari ulang tahunku, Ocean.” Agatha berbisik, tertawa kecil.


Ocean menoleh. “Ah, benar juga. Kau mau kado apa, Agatha?”


Agatha meletakkan gelas minumannya, lantas bertopang dagu. “Aku ingin pergi ke Boston bersamamu. Akan kukatakan apa yang aku inginkan di sana.” Tatapan Agatha melembut, menatap lurus pada manik kelam Ocean. “Hei, saat itu tim favoritmu, Lakers, juga akan bertanding di sana. Aku sudah memesan dua tiket. Jadi, kau akan datang ke sana bersamaku, bukan?”


Tangan Ocean menggerakkan gelas minumannya pelan, membuat cairan di dalamnya bergerak halus mengikuti arah gerakannya. Sebelum menikah dengan Selena, Agatha menjadi teman yang sempurna untuk menghadiri acara-acara formal maupun sekadar bertemu dengan teman seperti saat ini. Dia wanita yang menyenangkan dan pandai memosisikan diri dalam situasi apa pun. Dari segi penilaian personal Ocean, Agatha hampir tanpa cacat; cerdas, dewasa, dan berpikiran matang. Mereka benar-benar menjadi teman yang cocok satu sama lain.

__ADS_1


Dua tahun lalu, Agatha menyatakan perasaannya pada Ocean, bilang dia ingin lebih dari seorang teman. Seharusnya dengan melihat banyak kecocokan di antara mereka, tidak ada alasan bagi Ocean untuk menolaknya. Agatha akan menjadi pasangan yang sempurna untuknya. Sayangnya saat itu, Ocean hanya menganggap Agatha sebagai teman yang menyenangkan, dia juga masih baru memegang jabatan sebagai CEO sehingga dalam hidupnya hanya dipenuhi dengan kerja, kerja, dan kerja. Tidak perlu berpikir lama, Ocean menolak cinta Agatha.


Namun Agatha memiliki pengendalian diri yang mengagumkan. Penolakan itu tidak membuatnya bersikap canggung. Dia bersikap sama seperti biasanya, seolah tidak pernah ada yang terjadi antara dirinya dan Ocean. Pertemanan mereka berlanjut, Agatha masih menawarkan diri untuk menemani Ocean pada acara-acara tertentu.


“Entahlah, Agatha, aku tidak bisa berjanji. Akan kuperiksa jadwalku terlebih dahulu.” Ocean menjawab lebih aman, dia tentu harus memperhitungkan pekerjaannya terlebih dulu.


“Baiklah, aku akan menunggu kau mengabariku. Malam ini ....” Agatha menuangkan whiskey ke gelasnya, wajahnya terlihat semringah. “Ayo kita berlomba siapa yang lebih tahan minum, Ocean. Kau harus membelikanku makan malam mewah jika kalah.”


Ocean tersenyum tipis. Baiklah, malam ini dia akan minum sedikit lebih banyak. Ocean mengangkat gelasnya, sebelum rasa tajam whiskey kembali menyapa indra perasanya.


Ketika Agatha kembali menuangkan whiskey ke gelas Ocean yang telah kosong, di saat yang bersamaan, terpaut puluhan kilometer dari kelab malam itu, Selena mondar-mandir di depan rumah dengan perasaan tidak keruan. Tidak terhitung berapa kali dia melongokkan kepalanya ke jalan, berharap mobil Ocean akan terlihat. Berkali-kali juga Selena mengusap lengannya, memberikan sedikit hangat saat angin kencang menerpanya.


Satu jam yang seperti kedipan mata bagi Ocean yang tidak berhenti meminum whiskey—lupa jika dia berniat hanya minum sedikit, amat berlawanan dari yang dirasakan Selena. Waktu seperti merangkak, membawa kekhawatiran yang semakin pekat dirasakannya.


Dan saat Ocean merasa kepalanya pening bukan main, penglihatannya mengabur, Selena tengah melangkah cepat ke dalam rumah, menyambar ponsel. Buru-buru dia menghubungi nomor Ocean, gestur tubuhnya dengan jelas menunjukkan bahwa dia sedang gusar.


Nada sambungan panjang tidak kunjung bersambut. Selena tidak menyerah, kembali menghubungi nomor Ocean.


Keempat kalinya mencoba, Selena mengembuskan napas lega saat nada sambungan itu akhirnya berhenti, seseorang di seberang sana mengangkat telepon.


“Ocean, kau di mana? Kenapa belum pulang juga?” Selena menyambar cepat.


“Ini siapa? Ocean sedang tidak bisa menjawab telepon.”


Selena mematung. Suara wanita yang belum pernah didengarnya.


“Kau siapa? Di mana Ocean?” Tangan Selena mencengkeram pinggiran meja, berbagai bayangan buruk tiba-tiba berkelebat di pikirannya.


“Aku siapa? Bagaimana menjawabnya, ya? Aku ... teman bersenang-senang Ocean malam ini.”


Tanpa menunggu lagi, Selena memutus sambungan telepon, segera berlarian mengambil kunci mobil. Dalam hati Selena bersumpah akan mematahkan lengan wanita itu jika berani berbuat macam-macam pada Ocean.

__ADS_1


...****...


__ADS_2