Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 9| MANIAK


__ADS_3

Langit tak bersaput awan, bulan sabit menggantung bersama jutaan titik bintang yang berpendar-pendar. Dalam keremangan, pemandangan alam di Hillside yang berteman dengan sunyi terasa begitu menenangkan.


Pukul delapan lebih sedikit Ocean sampai di vila dengan kantong belanjaan di kedua tangannya. Selena menunggu di vila, bilang ingin berendam air hangat sembari menikmati ketenangan yang tidak dia dapatkan di kota mereka.


“Selena, kau sudah bisa memasak sekarang.” Ocean berseru setelah meletakkan belanjaan di dapur, mengeluarkan sayuran dan buah-buahan, lantas ditata dalam wadah. Terakhir memasukkannya ke lemari pendingin.


Lima menit Ocean menata belanjaan, tidak terdengar sahutan dari Selena. Ia mengernyit sebelum melangkah menuju lantai dua, letak kamarnya dan kamar Selena berada.


“Selena?” Ocean kembali berseru di depan pintu kamar Selena. “Kau ketiduran?”


Hanya sunyi yang menjadi jawaban untuk pertanyaan Ocean. Tidak terdengar suara apa pun dari dalam kamar Selena, hingga Ocean mengetuknya beberapa kali.


“Kau baik-baik saja, Selena?” Hati Ocean tiba-tiba diliputi kekhawatiran yang teramat, merasakan keganjilan di vila itu. “Kalau tidak ada jawaban dalam tiga detik, aku akan masuk.”


Ocean menghitung waktu dalam hati. Di penghujung hitungan ketiganya, Ocean mendorong pintu kamar Selena, menemukan ruangan itu lenggang. Koper Selena masih tergeletak di samping tempat tidur, tanda dia belum membereskan barang-barangnya.


Dengan gerakan pelan, Ocean melangkah menuju pintu kamar mandi di kamar Selena yang tertutup. Dan saat itulah, samar-samar dia mendengar suara gerungan dari dalam. Buru-buru Ocean mendorong pintu kamar mandi, hingga terdengar suara debuman keras.


Mata Ocean melebar sempurna saat menemukan Selena yang terduduk di pojok ruangan, memakai jubah mandi. Yang membuat Ocean terkejut luar biasa adalah tubuh Selena yang diikat, beserta kaki dan tangannya, mulutnya disumpal dengan kain.


“Selena!” Ocean baru hendak melangkah mendekat untuk melepaskan Selena, ketika gerungan Selena semakin santer terdengar. Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, seolah menyuruh Ocean menyingkir.


Belum sempurna Ocean menoleh ke belakang, sebuah balok kayu sudah diayunkan dengan cepat ke arahnya. Ocean langsung menggerakkan badannya menyamping untuk menghindari sabetan. Sayang, dia kalah cepat. Balok kayu menghantam bahu kanannya, seketika membuat Ocean tersungkur di lantai.


“Hah ... orang lemah ini suamimu, Selena? Aku jelas lebih baik dari dia.”


Suara berat seorang pria bergema di ruangan. Selena meraung, menggerak-gerakkan badannya hendak menolong Ocean. Namun ikatan yang membelenggu tubuhnya tidak kendur barang sedikit, Selena tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


“Maka dari itu, ayo kita pergi dari sini, Selena. Pergi ke tempat yang jauh. Hanya kita berdua. Aku bersumpah akan membuatmu bahagia selamanya.”


Pria itu melangkah mendekat ke arah Selena. Badannya yang tinggi seolah menguarkan ancaman pada setiap langkahnya. Balok kayu masih berada di genggamannya. Tatapannya terlihat sayu, namun sarat akan obsesi yang begitu menggebu.


“Mau ke mana kau? Aku belum mati.” Ocean telah bangkit berdiri, menggerakkan bahu kanannya yang terasa nyeri, juga memutar kepalanya pelan, seolah dia sedang melakukan pemanasan. “Aku peringatkan kau, Maniak. Jika kau berani menyentuh Selena lagi, tidak ada ampun untukmu.”


Sorot mata Ocean berubah tajam dan dingin. Tangannya perlahan mengepal. Dia telah siap sekarang, tidak akan lengah karena pukulan dari belakang.


“Kau mau bersikap sok keren, ya? Dasar keparat berengsek. Beraninya kau merebut Selena dariku, padahal aku yang lebih dulu menyukainya, mengorbankan semua yang aku punya untuknya.” Gigi si Maniak bergemeletuk, balas menatap Ocean dengan sorot ingin membunuh.


“Kau jelek, sih, makanya Selena tidak mau.” Ocean menyeringai menyebalkan. Selena yang melihatnya seolah ingin menangis, khawatir Ocean akan dihabisi pria itu.


“Tutup mulutmu, Sialan!”


Tepat di ujung kalimatnya, pria itu berlari menuju Ocean sembari mengacungkan balok kayu. Dalam sekali gerakan cepat, balok kayu terayun ke arah kepala Ocean. Kali ini Ocean bergeser selangkah ke samping kiri, badannya meliuk menghindari sabetan balok. Berhasil, balok kayu mengenai udara kosong.


Sebelum si Maniak kembali mengayunkan balok kayu, Ocean sudah bergerak lebih cepat. Dia mengarahkan tinjunya ke arah pipi kanan si Maniak.


Tepat sasaran. Si Maniak terhuyung ke samping. Belum usai sampai di situ, Ocean memutar badan, mengangkat lutut, lantas tumit kakinya menendang tepat pada ulu hati lawannya. Tendangan Ocean membuat si Maniak langsung terlempar sebelum akhirnya tumbang ke lantai, merasakan sakit luar biasa di sekitar perutnya, terbatuk-batuk.


Ocean menyeringai. Dwi chagi—salah satu teknik tendangan dalam taekwondo—tidak pernah mengecewakan.


“Begitu saja, heh?” Ocean mencemooh. Latihan berbagai bela diri sejak kecil ternyata berguna juga.


“Aku belum kalah!” Si Maniak dengan sisa tenaganya mencoba bangkit berdiri. Napasnya menderu. Dia tertatih-tatih berlari kecil menuju Ocean sembari mengangkat tinjunya.


Ocean lebih rileks menerima serangan itu, merasa tidak perlu mengkhawatirkan serangan yang hampir tanpa tenaga itu. Namun Ocean keliru, dia terlalu menggampangkan perkelahian ini. Tinju si Maniak yang mengarah ke wajah Ocean hanyalah strategi untuk mengecoh. Ketika tinjunya sudah mendekati wajah Ocean, tangannya yang lain mengambil sesuatu di balik jaketnya. Sebuah pisau.

__ADS_1


Ocean yang baru saja menghindari tinju si Maniak dengan mudah, sama sekali tidak memperkirakan sebuah pisau menyusul untuk mengincar wajahnya.


Sret!


Selena berseru tertahan melihat darah yang mengalir dari pipi Ocean. Gerakan Ocean yang terhenti sesaat karena terkejut dengan serangan pisau, memberikan kesempatan bagi si Maniak untuk meninju pipinya. Ocean terhuyung ke samping. Dan saat si Maniak hendak menyabetkan pisau ke perutnya, Ocean menepis lengan pria itu, membuat pisau berkelontangan ke lantai.


Dengan lengan si Maniak yang sudah dia kuasai, Ocean segera memutar tubuh sembari menarik lengan pria itu dari belakang, lantas sedikit membungkukkan badan. Dalam sekali gerakan cepat, si Maniak terbanting dengan keras ke lantai. Sama seperti dwi chagi-nya taekwondo, seoi nage dalam judo juga efektif untuk melumpuhkan lawan jika dilakukan dengan benar.


Si Maniak pingsan seketika. Ocean telah memenangkan perkelahian.


Dengan gerakan kasar, Ocean mengusap darah yang mengalir di pipinya. Nyeri di bahu kanannya semakin terasa. Dengan sedikit tertatih, Ocean mendekati Selena yang sudah menangis. Matanya memerah dan badannya bergetar.


“Maaf karena aku terlambat, Selena. Kau pasti takut sekali.” Ocean melepaskan kain yang tersumpal penuh di mulut Selena, lantas beralih melepaskan tali yang membelenggunya.


Isakan Selena semakin santer terdengar, jelas dia amat terguncang. Penampilannya kacau sekali. Pelipisnya sedikit memar, rambutnya yang basah terlihat sangat berantakan, dan jubah mandinya yang kotor.


Tangan Selena perlahan menggapai pipi Ocean yang terluka, masih mengeluarkan darah. Ia mencoba berbicara meski tenggorokannya terasa tercekat. “Pasti sakit sekali ....”


“Bukan apa-apa.” Ocean mengusap rambut Selena sembari merapikan helai rambut yang melintang di wajahnya. “Kau sudah baik-baik sekarang.”


Ocean beranjak berdiri, melangkah cepat untuk mengambil selimut di tempat tidur, lantas memasangkannya di bahu Selena yang hanya memakai jubah mandi. Meskipun bahunya nyeri luar biasa, Ocean berusaha untuk membantu Selena berdiri, menuntunnya keluar dari kamar.


“Aku telepon polisi sebentar.”


Ocean baru ingin mengambil ponselnya yang tergeletak di meja dapur, ketika suara parau Selena menelusup telinganya.


“Terima kasih, Ocean. Sungguh terima kasih .... Untuk pertama kalinya aku bersyukur menikah denganmu.”

__ADS_1


Tawa renyah Ocean menyusul setelahnya, menjadi irama merdu yang mengaburkan ketegangan di dalam vila itu.


...****...


__ADS_2