Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 16| PENYANGKALAN


__ADS_3

“Cemburu? Dia pasti sudah gila!” Selena mendesis, melayangkan tatapan kesal pada Ocean yang tengah membeli es krim di sebuah kedai. “Lihat itu, memangnya dia artis? Kenapa banyak sekali yang memperhatikannya—ah ....”


Selena termenung untuk beberapa saat, matanya mengerjap dalam tempo lambat kala memperhatikan Ocean di depan sana. Kemeja yang digulung hingga siku, rambut yang sedikit berantakan, dan postur menjulang yang membuatnya tampak mencolok di sana. Tentu semua tatapan akan tertuju padanya. Bahkan sejak kuliah, sependek ingatan Selena, Ocean terlalu mendominasi. Dia seperti menguarkan aura khas yang membuat semua orang betah menatapnya.


Hal itu juga yang menjadi salah satu alasan Selena menyukainya dulu. Tunggu .... Selena tertawa hambar karena pikirannya sendiri, berkali-kali mengantukkan kepalanya ke kaca mobil.


“Enyahlah kau, Ocean. Minggat sana, jangan berputar-putar di kepalaku!”


Suara pintu mobil yang dibuka membuat tingkah bodoh Selena terhenti. Dia langsung berpura-pura mengamati keriuhan jalanan.


“Apa lagi sekarang? Kau sedang adu kekuatan dengan kaca mobil?” Ocean menghela napas, menyerahkan es krim berbentuk cone kepada Selena.


Selena membalasnya dengan dengusan kasar. “Kenapa memangnya? Kau pikir aku akan kalah jika adu kekuatan dengan kaca mobilmu?”


“Makeup-mu menempel semua dia sana. Aku baru saja mencuci mobil ini.”


Memang sialan. Selena hampir menghancurkan cone es krim sebelum akhirnya bisa mengendalikan diri. Dia membuang muka, memakan es krimnya sambil mencibir tanpa suara.


“Dengan kau memakan es krim itu, aku anggap kita sudah sepakat berbaikan.” Ocean menoleh, tersenyum menyebalkan.


“Kalau begitu aku akan memuntahkan es krimnya di sini.” Selena mendengus.


“Nanti malam keluargamu dan keluargaku akan makan malam di rumah kita, Selena. Kau mau menunjukkan kepada mereka bahwa pernikahan ini menyedihkan?”


Rumah kita. Selena mengusap kening seolah ada keringat di sana, salah tingkah. Oh, tidak, tidak. Mana boleh dia merasa senang karena kata-kata bodoh itu. Dalam hati Selena merapalkan kalimat ‘Felix yang paling tampan. Felix yang paling baik. Aku hanya suka Felix’ berulang-ulang, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa dia tidak mungkin kembali terjerembab pada pesona sialan Ocean.


“Kuanggap diammu sebagai tanda setuju.” Ocean tersenyum miring. "Sebagai bentuk permintaan maaf, aku juga akan membantumu menyiapkan keperluan makan malam. Memasak, membersihkan rumah."


Ah, Selena hampir saja melupakan tugas rumah tangga itu. Selama di apartemen Felix, dia benar-benar hidup bagai ratu. Felix sudah menyediakan segalanya untuknya, pun soal bebersih rumah, sudah ada orang yang bertugas melakukannya. Memang Ocean saja yang seperti raja iblis. Dengan dalih penghematan biaya dia menyiksa Selena sedemikian rupa.

__ADS_1


“Aku khawatir kau juga mungkin akan menggunakan keahlian aktingmu, Selena. Kita mungkin harus melakukan beberapa adegan mesra—”


“Uhuk!” Selena tersedak es krim yang sedang dimakannya, terbatuk-batuk.


Ocean segera memberinya air mineral, yang langsung disambar Selena. Tenggorokannya terasa sakit. Selena meneguk air itu sembari sesekali melirik Ocean yang juga tampaknya kurang nyaman dengan pembicaraan ini.


“Sebelum itu, haruskah kita memilih panggilan masing-masing? Seperti misalnya honey? Atau dar—”


Selena menyemburkan air yang tengah diminumnya, tidak kuasa mendengar ucapan Ocean tentang nama panggilan. Sedetik, mata Selena melebar. Dia meneguk saliva susah payah.


“O-Ocean ...?”


Yang dipanggil kini memejamkan matanya. Rambut, wajah, dan bajunya basah, terkena semburan air.


Selena segera mengedarkan pandangan. Sepertinya dia harus segera kabur sebelum mati konyol di dalam mobil.


...****...


Selena menggerutu sebagai balasannya, menggerak-gerakkan pel dengan kasar. “Kau tidak mau mendaftar jadi presiden saja, Ocean? Mungkin kau baru puas jika bisa menyuruh-nyuruh seluruh rakyat. Dasar tukang memerintah!”


Ocean tertawa kecil, kembali melanjutkan aktivitasnya mengelap kaca jendela. Wajah kesal Selena benar-benar menjadi hiburan tersendiri baginya. Dan lihat itu, saat Selena menunjukkan kekesalannya dengan mengentak-entakkan kaki, berakhir dengan dia yang berseru kesakitan karena kakinya membentur meja, Ocean tertawa renyah sembari menggelengkan kepalanya prihatin.


Apa Ocean bersyukur karena Selena kembali ke rumahnya? Tentu saja. Janji pernikahan yang diucapkannya setengah hati membuat Ocean merasa bertanggung jawab terhadap hidup Selena. Menerima segala kekurangan, saling melindungi, saling menghormati, saling merawat, saling mendukung ... Ocean mencoba untuk melakukannya, sebagai bayaran karena ‘saling mencintai’ tidak bisa mereka lakukan.


Posisi Selena sebagai ‘tawanan’ Galang agar Robin tidak berbuat macam-macam terhadap perusahaan, atau mencoba merangkai skenario busuk ketika keuangan perusahaannya sudah membaik, juga membawa rasa bersalah dalam hati Ocean. Ikatan suci yang seharusnya dilakukan sepenuh hati, menjadi ternoda karena keserakahan ayahnya. Selena mungkin sudah punya mimpinya sendiri bersama Felix, merangkai masa depan bersama. Tapi semuanya menjadi hancur karena pernikahan bisnis ini.


“Kau ternyata sependek ini, ya?”


Selena berjenggit kaget saat suara Ocean terdengar dari belakangnya. Gerakan tangannya yang sedang membersihkan rak buku bagian atas terhenti. Dia balik badan, menemukan Ocean yang berdiri dengan jarak terlampau dekat dengannya.

__ADS_1


Selena berdeham, mundur selangkah dengan gugup. “K-kau minta dipukul?”


“Berikan padaku, Selena. Biar aku yang melakukannya. Kasihan sekali aku melihatnya, lehermu seperti akan patah.”


Belum sempat pikiran Selena ke mana-mana, Ocean sudah menghantamkannya ke batuan terjal. Selena mendengus, melemparkan lap sembarangan, lantas melangkah pergi. Namun saat itu juga, dia merasakan wajahnya memanas seolah pendingan ruangan tidak bekerja.


“Ah, sial. Cuaca hari ini kenapa panas sekali? Haha .... Dia juga kenapa dekat-dekat, jadi makin engap, ‘kan.” Selena bergerak-gerak canggung di sofa, sesekali mencuri pandang pada Ocean yang sibuk mengelap rak buku.


Ternyata bukan itu saja yang membuat “udara semakin panas”. Saat sedang mencampur tepung sebagai adonan basah ayam goreng, Selena sekali lagi tersentak saat Ocean merapikan anak rambutnya yang melintang di wajah, membenarkan ikatan rambutnya yang berantakan.


“Diam dulu, Selena.” Begitu kata Ocean ketika Selena hendak melarikan diri.


Demi Tuhan, saat itu Selena membeku seperti orang bodoh. Gerakan lembut Ocean membuat jantungnya seperti berceceran di lantai. Jangan tanya soal wajah Selena, jelas sudah seperti kepiting rebus, tomat busuk, atau apalah itu. Bahkan kali ini, Selena tidak mampu merapalkan kalimat ‘Felix yang paling tampan. Felix yang paling baik. Aku hanya suka Felix’, meskipun hanya dalam hati. Dia seperti stuck di suatu tempat yang tidak memiliki pintu keluar.


Hari ini, Ocean benar-benar berbahaya.


...****...


Lilian dan Adira saling tatap kala bel pintu rumah Ocean tidak kunjung bersambut, tidak ada seorang pun yang keluar untuk membukakan pintu. Dua besan “sejenis” itu, mencoba menghubungi anak mereka masing-masing, hanya untuk mendengar nada sambungan panjang tak berkesudahan.


Makan malam yang diadakan hari ini terancam gagal jika ternyata Ocean dan Selena sedang tidak ada di rumah.


Lima menit tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka, Adira menekan rangkaian nomor pada digital lock door, pintu terbuka seketika setelah terdengar bunyi singkat.


Adira dan Lilian, diikuti suami mereka, Galang dan Robin melangkah memasuki rumah yang temaram, karena hanya satu-dua lampu yang dinyalakan.


Sampai di ruang santai, Adira mengangkat tangan, memberi kode tiga orang lainnya untuk memelankan suara dan langkah kaki mereka.


Lihatlah, di sofa panjang ruang santai, Ocean dan Selena terlelap dengan apron yang masih menempel menutupi baju mereka, kelelahan.

__ADS_1


Yang membuat Adira dan Lilian mengulum senyum seketika adalah posisi tidur mereka. Selena tampak nyaman tidur di lengan Ocean yang terjulur, dan Ocean melingkarkan lengannya yang bebas ke pinggang Selena.


...****...


__ADS_2