
Namanya sinkhole, saat lapisan di bawah permukaan tanah runtuh dan membuat tanah di atasnya menjadi amblas. Apa pun yang ada di atas tanah ringkih itu akan masuk ke dalam lubang menganga. Sinkhole biasanya terjadi pada lokasi pertambangan atau pengeboran, namun saat ini Selena sungguh berharap lubang neraka itu terjadi di rumah Ocean, menenggelamkannya menuju inti bumi.
Rasanya lidah Selena menjadi kelu seiring tatapannya yang terarah ke wajah menyebalkan Ocean. Dia seperti tertangkap basah melakukan pencurian dan sebentar lagi akan diadili.
“Aku tidak tahu kau memiliki sisi manis seperti ini.”
Umpatan yang sudah sampai di ujung lidah, Selena telan bulat-bulat. Lihat, Ocean jelas tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk mengolok Selena.
“Lepaskan tanganku, Ocean.” Selena mendesis. Dia tidak bisa kabur ke mana-mana karena pergelangan tangannya masih dalam genggaman Ocean. Entahlah bagaimana kondisi wajahnya saat ini, mungkin terlihat seperti ingin meledak karena terlalu memerah.
Seringaian Ocean semakin lebar. Dia menikmati kegugupan yang tercermin dalam raut Selena. “Cara berterima kasih bukan seperti itu, Selena.”
“Lalu apa? Aku harus memberimu setumpuk uang sebagai bentuk terima kasih?” Selena mendengus, berusaha melepaskan tangannya.
Ocean tertawa kecil. “Uangku bahkan lebih banyak dari yang kaubayangkan. Bagaimana kalau surat terakhir?”
Kerutan samar muncul di kening Selena. “Suarat terakhir ap—” Mata Selena membola dengan ketidakpercayaan di wajahnya. “Jangan bilang kau ....”
Seringaian Ocean tampak semakin menyebalkan. “Surat cinta terakhirmu. Meskipun tahu huruf pertamanya, tapi aku tidak tahu isinya. Aku ingin lihat hal bodoh apa yang kautulis di sana.”
Sialan! Selena merasakan darahnya mendidih, kesabarannya telah mencapai batas paling riskan. “Kau pikir aku mau repot-repot menyimpan surat sialan itu? Aku pasti manusia paling bodoh di dunia kalau masih memilikinya.” Selena mendengus kasar. “Sekarang lepaskan tanganku!”
“Benarkah?” Salah satu alis Ocean menukik ke atas, ekspresi Selena meragukan sekali. Namun tak pelak dia melepaskan genggamannya dari tangan Selena. Cukup main-mainnya untuk hari ini. “Aku besok akan ke Labuan Bajo untuk memeriksa proyek pembangunan hotel. Kau mau ikut?”
“Kenapa aku harus ikut bersamamu? Memangnya aku kurang kerjaan?” Selena memutar kedua bola matanya sebelum berderap menjauh dari sana. Kesempatan kabur ini tidak akan dia lewatkan. Dia harus segera membakar surat cinta terakhir itu sebelum Ocean mengetahuinya.
“Selena ....”
Panggilan Ocean membuat Selena menghentikan langkahnya, menoleh.
“Sejak menikah, aku selalu menganggapmu penting. Tidak pernah sekali pun aku meremehkan posisimu, Selena.” Ocean tersenyum samar, memusatkan tatapannya pada Selena. “Itu jawabanku, kalau kau penasaran.”
__ADS_1
Dalam sekejap, Selena merasa oksigen direnggut paksa dari rumah Ocean, dia lupa cara bernapas.
...****...
“Wah, ini seperti dimensi lain.” Sejak tadi Selena tidak henti-hentinya berdecak kagum menatap keindahan memikat yang terhampar di depan matanya.
Pantai Pink, surga tersembunyi di Timur. Kaki Selena menginjak pasir lembut yang berwarna unik: merah muda. Ombak bergelung rendah, membentur karang dan menyapu pasir berwarna menakjubkan itu, beriringan dengan desau angin yang terdengar cukup kencang. Selena menikmati setiap embusan angin yang menerpa wajahnya, merasakan kesejukan yang menenangkan.
Ocean berjalan di belakang Selena, dengan pakaian formal yang sama sekali tidak cocok dengan pantai. Dia menggulung kemejanya hingga mencapai siku, pun melepaskan sepatu hitam mengilapnya. Tangannya menenteng jas yang dilepas.
“Apa di sini ada penyewaan baju renang, Ocean? Aku tidak bisa jika hanya bermain-main air di tepi pantai.” Selena menoleh, bertanya dengan wajah yang cerah, menunjukkan antusiasme pada tempat itu.
“Nikmati saja apa yang ada. Kita tidak punya cukup waktu untuk berlama-lama di sini. Sebentar lagi aku harus bekerja.” Ocean bersedekap, menyapukan tatapannya pada hamparan air biru yang berkilauan ditimpa cahaya matahari yang mulai meninggi.
Selena mencibir, lincah sekali memaki Ocean tanpa suara. “Biar kutebak. Ibumu memberimu nama Ocean pasti karena berharap agar kau terseret ombak laut. Makhluk menyebalkan sepertimu memang cocok sekali digulung ombak.”
Ocean tertawa—dia sepertinya memang jadi sering tertawa saat bersama Selena. “Aku memiliki sertifikat berenang dan diving yang hampir setara profesional, Selena. Ombak rendah di sini tidak akan mungkin bisa menenggelamkanku.”
“Hei—” Ocean kehilangan kata-kata saat melihat Selena sudah meluncur, berenang dengan menggunakan dress selututnya.
Selena menggerakkan kakinya naik-turun dengan luwes. Jernih air membuat terumbu karang terlihat jelas, ikan-ikan kecil berenang dengan damai. Di dalam air seperti ini, Selena seperti menumpahkan perasaan yang membelenggunya beberapa hari terakhir, bersamaan dengan matanya yang menjelajahi keindahan bawah laut.
“Bahaya, Selena. Cepat naik.” Meskipun Selena berenang tidak terlalu jauh, masih dekat dengan tepian pantai, tetap saja tanpa peralatan renang yang memadai, riskan terhadap bahaya.
Selena menyembulkan kepalanya dari dalam air, mengambil napas sembari menatap sebal Ocean. “Kau ini cerewet sekali.”
Berdecak kasar, Selena berenang kembali ke arah Ocean yang masih berdiri di tepi pantai dengan gaya sok kerennya. Menenteng jas, menggulung kemeja, bertelanjang kaki ... Ocean sepertinya merasa dia sedang syuting iklan.
“Aduh, kakiku agak kram. Tolong, Ocean.” Masih berada di dalam air, dekat dengan tepi pantai, Selena mengulurkan tangannya pada Ocean dengan wajah mengernyit seperti sedang menahan sakit.
Ocean menoleh sekilas, menampilkan wajah seolah lelah dengan dunia, sebelum akhirnya berjalan ke arah Selena. “Sudah kubilang kau perlu—”
__ADS_1
Tepat setelah tangan Ocean menyentuh tangan Selena, hendak membantunya berdiri, Selena langsung menarik tangannya hingga membuat Ocean terhuyung masuk ke dalam air. Dalam sekejap, tubuh dan bajunya basah kuyup, Ocean terduduk di samping Selena dengan mata memelotot horor.
“Kau!”
Seolah tengah berhadapan dengan aligator yang akan mencabiknya, Selena bergegas kembali meluncur ke dalam air, berusaha kabur.
“Kembali, Selena!” Ocean mengejar, meraih kaki Selena hingga membuat wanita itu berteriak histeris sembari menggerak-gerakkan kakinya.
Berhasil. Selena berhasil meloloskan diri. Sebagai gantinya, dengan cepat tangannya menyipratkan air ke wajah Ocean, membuat pandangannya menjadi buram.
“Kau benar-benar!”
Melihat raut kesal Ocean, Selena tertawa lepas, semakin gencar menyipratkan air. “Kau tidak akan bisa mengalahkanku, Ocean!”
“Begitu, ya? Baiklah, mari kita lihat!”
Teriakan histeris Selena semakin santer terdengar saat Ocean menyibak cipratan air, berlari hendak menangkapnya. Selena segera balik badan, berusaha untuk kabur, namun Ocean sudah terlebih dahulu menangkap pergelangan tangannya. Dalam sekali gerakan cepat, Ocean menarik tangan Selena hingga membuatnya jatuh ke dalam air dalam posisi terduduk.
Selena berteriak semakin kencang, membuat pekak telinga, saat Ocean menempatkan lengannya di lehernya, mencegahnya kabur. Kini giliran Ocean yang menyipratkan air ke wajah Selena, tertawa lebar.
“Kau mau main-main denganku rupanya!” Selena menyikut perut Ocean hingga membuatnya mengaduh. Saat lengan Ocean di lehernya mengendur, Selena bergegas melepaskan diri, cekatan menyipratkan air lebih kencang. Semringah sekali wajahnya. “Wah, kau lemah sekali, Ocean.”
Ocean tertawa, mencoba melindungi wajahnya. “Jangan menangis setelah ini, Selena.” Ocean tidak mau kalah, balas menepuk air dengan kuat hingga mengenai Selena.
Derai tawa yang beradu dengan kecipak air dan ombak yang bergelung, menghadirkan pemandangan indah yang membuat hati menghangat. Ocean dan Selena terlihat begitu menikmati momen itu, layaknya anak-anak yang melepaskan setumpuk beban di pundaknya. Tidak ada kekhawatiran atau ketakutan, mereka tenggelam dalam perasaan bahagia seolah waktu tengah berhenti.
Yang tidak mereka sadari, sejak sepuluh menit lalu, Agatha berdiri menyaksikan pemandangan yang membuat hatinya ngilu. Tawa lebar Ocean bersama Selena seolah terlihat seperti mimpi buruk baginya.
Setelah mendengus pelan, Agatha meraih ponselnya, mencari satu nama di daftar kontaknya. Sambungan telepon menelusup telinga, seiring tatapan Agatha yang tidak lepas dari pemandangan di depannya.
Hari ini, Agatha bertekad untuk mengumumkan perang.
__ADS_1
...****...