
Di dunia ini, ada banyak hal yang Ocean benci. Ketidakteraturan, tindakan dan ucapan bodoh, dan ketidakberdayaan. Ocean paling membenci poin ketiga, di mana dia tidak bisa mengendalikan situasi dan menempatkannya pada bibir jurang. Dia tidak bisa berlari menjauh, tidak bisa menggerakkan kakinya selangkah pun karena akan terperosok ke jurang gelap itu. Ocean pernah mengalaminya saat dipaksa menikahi Selena. Yang bisa Ocean lakukan setelah masuk ke dalam jurang, hanyalah membuat obor agar tidak terlalu gelap di sana. Dia mencoba menciptakan kehidupan baru di mana ada Selena di dalamnya.
Dan kini, sekali lagi Ocean ditempatkan pada situasi paling tidak dia sukai itu. Selena telah menyeretnya menuju titik di mana Ocean tidak tahu apa yang harus dia lakukan atau bagaimana cara menghadapinya. Ocean bukan bocah ingusan yang hanya mengerti ucapan gamblang. Dia paham maksud Selena. Hanya saja, semuanya terkesan tidak pada tempatnya.
Tidak ada yang bisa Ocean lakukan selain berdiri diam membiarkan lenggang menjadi syair paling menyebalkan di antara mereka. Angin yang datang dari balkon menerpa wajah dengan lembut, memainkan anak rambut. Waktu merangkak, mengaburkan pikiran akan kenyataan yang sedang membelenggu mereka.
“Maaf aku bicara sembarangan, Ocean.” Akhirnya Selena yang memecah lenggang, menundukkan kepalanya seolah baru saja membuat kesalahan fatal. “Kau bisa menurunkanku di sini.”
Ocean bergeming sesaat, sebelum akhirnya dia menurunkan Selena dengan hati-hati.
“Aku pasti sedang kehilangan akal. Anggap saja aku tidak pernah berkata begitu.” Napas Selena terdengar tidak teratur, dia juga menggerakkan matanya berkeliling dengan cepat, menghindari menatap Ocean. “Bisa tolong buatkan aku teh?”
“Selena ....”
“Aku akan menunggu di balkon.” Selena bergegas melangkah menuju balkon, meninggalkan Ocean yang menatap punggungnya yang semakin menjauh.
Ada begitu banyak ketakutan yang menyelimuti Selena sekarang. Memori tentang masa kuliahnya berebut memenuhi kepala. Selena baru saja hilang kendali atas dirinya. Bukankah penolakan Ocean masih terasa menyakitkan hingga sekarang? Bukankah tidak ada harapan baginya dan Ocean untuk menjalani hubungan yang selayaknya? Dan bagaimana dengan Felix? Pria itu terlalu berharga untuk merasakan patah hati jika Selena bertindak serampangan. Selena sungguh baru saja bertingkah bodoh dan melewati batas.
Rasa bersalah yang teramat terhadap Felix mendorong Selena untuk meraih ponselnya. Sambungan telepon segera mendera telinga. Jemari Selena bergerak-gerak gelisah di meja.
Lima kali nada sambungan, Felix baru mengangkat telepon, suaranya terdengar berbeda kali ini.
“Kau sudah pulang, Felix?” Mengabaikan nada dingin Felix sebelumnya, Selena mencoba untuk bertingkah normal.
“Ya, aku pulang kemarin. Kenapa?”
“Kau ... sudah dengar berita kalau aku mengalami kecelakaan? Kau tidak berniat menjengukku?”
Hening di seberang sana untuk beberapa saat, hingga kemudian Felix menghela napas panjang. “Apa kau sebegitu parahnya? Baiklah, aku akan menjengukmu nanti.”
Jelas ada yang salah di sini. Semarah apa pun Felix, dia tidak pernah berkata ketus dan dingin kepada Selena. Pria itu memiliki sikap yang begitu Selena sukai.
__ADS_1
“Apa aku melakukan kesalahan?”
“Kau bisa berbuat kesalahan macam apa memang? Jangan berlebihan. Aku akan ke sana setelah bertemu dengan teman-temanku."
Sambungan diputus sepihak, Felix bahkan tidak merasa perlu mendengarkan respon Selena. Sebenarnya, mengingat bagaimana Selena telah mengkhianati Felix, dia tidak berhak mengharapkan respon yang baik dari pria itu. Rasa bersalah terasa mencekiknya sekarang. Selena jadi bertanya-tanya apa selama ini dia sudah menjadi kekasih yang baik untuk Felix. Saat Felix dalam kondisi terpuruk, apakah Selena ada di sana untuk setidaknya memberinya semangat? Saat Felix sedang bahagia, apakah Selena ada di sisinya untuk tertawa bersama?
Setelah menikah dengan Ocean, Selena terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, dengan perasaan tak sampainya yang menyedihkan. Ocean telah merebut semua atensi Selena, membuatnya abai akan posisinya sebagai kekasih Felix.
Dilihat dari kacamata siapa pun, Selena benar-benar terlihat seperti pacar yang tidak tahu diri.
“Wajahmu pucat. Bukankah lebih baik kau masuk sekarang?” Ocean meletakkan teh di meja, duduk di kursi.
Selena melemparkan pandangannya pada hamparan langit, wajahnya tampak sendu. “Kira-kira berapa lama lagi pernikahan ini akan bertahan, Ocean?”
Pandangan Ocean ikut menerawang. “Kau sudah muak, Selena?”
“Tidak ada harapan dalam pernikahan ini, bukan?”
“Kalau begitu, ayo kita berpisah, Ocean.”
...****...
Pukul delapan malam, Felix datang. Dia menemui Selena di kamarnya dengan raut datar, seolah tidak merasa prihatin dengan kondisi Selena. Felix seperti orang yang berbeda, dia bahkan tidak menatap Selena dengan benar.
“Bagaimana dengan pemotretanmu, Felix?”
“Tidak ada masalah berarti.” Felix menatap dinding, tampak acuh tak acuh dengan pertanyaan Selena.
Selena memainkan jemarinya, tenggorokannya tiba-tiba terasa tercekat. “Kau ... kau bisa menunggu sebentar lagi?”
Pertanyaan Selena berhasil membuat Felix menoleh sepenuhnya, terlihat terkejut.
__ADS_1
“Meskipun sepertinya akan sulit, aku ... aku akan mencoba mencari cara untuk lepas dari pernikahan ini. Kita bisa melanjutkan hubungan seperti biasanya setelah semuanya selesai, Felix.”
Selena memperingatkan diri sendiri agar pertahanannya tidak runtuh saat membicarakan perpisahannya dengan Ocean. Sebesar apa pun perasaan Selena terhadap Ocean, dia sama sekali tidak boleh melupakan keberadaan Felix dalam hidupnya. Pria itu yang menjadi penyembuh saat Selena terpuruk akan patah hatinya. Felix yang mengulurkan tangan untuk menghapus air mata Selena saat dia menangis. Felix juga yang selalu ada saat Selena membutuhkan rumah. Mana mungkin Selena tega menyakiti pria sebaik itu demi keegoisannya akan dongeng omong kosong bersama Ocean?
“Kita benar-benar akan seperti dulu lagi setelah ini.” Selena meraih tangan Felix, mencoba meyakinkannya.
Sejenak, Felix menyapukan pandangannya pada wajah Selena. Mata yang masih terlihat sedikit sembab, puncak hidung yang memerah, dan tatapan yang goyah. Felix tersenyum getir, tahu seberapa keras Selena mencoba untuk menyelamatkan hubungan mereka.
“Kalian benar-benar akan berpisah?”
“Ya, aku akan mengusahakannya. Kau bisa menunggu sebentar lagi, bukan?” Selena menggenggam tangan Felix lebih erat.
“Baiklah.” Felix mengangguk, mengusap rambut Selena. “Aku akan pulang dulu kalau begitu. Jangan terlalu banyak berpikir, Selena. Kau perlu istirahat yang cukup.”
Felix bangkit berdiri. Setelah mengucapkan ‘selamat malam’ kepada Selena, dia melangkah keluar kamar, menemukan Ocean yang duduk di sofa panjang di luar kamar Selena dengan tablet di tangannya.
Langkah Felix terhenti, dia menatap Ocean lekat-lekat. Dua detik, Ocean mengangkat wajah. Tatapan mereka beradu. Namun kali ini, tidak ada api yang terpercik di antara mereka. Malam ini, pemenang telah ditentukan.
“Bisa ke sini sebentar, Selena?” seru Felix tanpa melepaskan tatapannya dari Ocean.
Selena berderap keluar, memelankan langkahnya saat melihat Ocean di depan mereka. “Ada apa?”
“Peluk aku.”
Jemari Selena meremas ujung bajunya, mencuri pandang ke arah Ocean. Merasa tidak memiliki alasan untuk menolak permintaan Felix, tangan Selena bergerak canggung untuk memeluknya.
Felix masih meringkus Ocean melalui tatapannya seiring tangannya yang bergerak untuk membalas pelukan Selena. Namun Ocean tahu betul, itu bukan tatapan pemenang. Tidak ada keangkuhan dalam mata Felix.
Ocean terhenyak seiring kesadaran yang mulai utuh dilihatnya. Pria itu bukan sedang merayakan kemenangannya, pun bukan sedang mengumumkan perang.
Felix sedang mengucapkan salam perpisahannya.
__ADS_1
...****...