Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
SPECIAL CHAPTER| KENCAN DI PANTI JOMPO


__ADS_3

“Senang bertemu denganmu, Ocean Arkananta. Kau tahu, kehidupanku di rumah sedikit terasa seperti neraka karenamu.”


Nada sarkas itu dibarengi dengan senyuman lebar. Seseorang duduk di seberang Ocean, melintangkan tangannya di punggung sofa panjang. Posisi duduknya amat santai, dan wajahnya terlihat menyebalkan.


“Ocean yang brilian, Ocean yang dewasa, Ocean yang sempurna .... Mamaku adalah penggemar beratmu, menganggap kau adalah dewa. Baginya, aku hanya seonggok sampah jika dibandingkan denganmu. Dan bertemu denganmu sekarang, aku jadi tahu tipe mamaku adalah pria seperti kanebo kering.” Senyum lebar masih terpatri di wajah orang itu. “Tapi aku yakin kau juga setuju kalau aku lebih unggul dalam hal ini.” Orang itu mencium pipi wanita di samping kanannya, sorakan heboh menyusul setelahnya.


“Senang bertemu denganmu juga, Oscar Mandala. Sampaikan salamku pada mamamu, bilang aku setuju dengannya. Setelah melihatmu, aku jadi tahu apa itu sampah sesungguhnya,” balas Ocean tidak mau kalah, seringaian menyebalkannya juga ikut unjuk gigi.


Tawa Oscar mengisi ruangan itu. “Ayo berteman, Ocean. Aku suka dengan gayamu. Tapi sebelum itu, mari kita tentukan siapa yang lebih populer di sini.” Oscar beralih mencium pipi wanita di samping kirinya. Ia menatap berkeliling sebentar, sebelum berseru, “Siapa lagi gadis cantik yang mau kucium?”


Tangan-tangan teracung, seiring seruan-seruan bersemangat dan beberapa wanita yang menghambur ke pelukan Oscar. Pria itu mencium pipi para wanita satu per satu, tawanya yang terdengar khas semakin santer terdengar.


“Aduh, lihat itu. Dia terlihat murahan sekali.” Seorang wanita yang duduk di samping Ocean mengernyit tidak suka melihat Oscar dan para wanitanya. “Ocean jauh lebih berkelas. Tampan, berkharisma, dan menggoda. Persis seperti suamiku dulu.” Wanita itu menatap memuja pada Ocean, diamini oleh semua wanita yang sedang mengelilingi Ocean.


Panti jompo. Di sanalah Ocean dan Oscar berada, tepatnya di ruang santai. Kedua pria itu duduk berhadapan di sofa panjang yang hanya dibatasi meja persegi kecil. Di sekeliling mereka, para nenek bergelayut di lengan mereka, terbagi menjadi dua kubu, “berkelas” dan “murahan”.


“Hei, gadis manis yang ada di pojokan. Iya ... iya, yang mirip Anne Hathaway.” Tatapan Oscar terarah pada seorang nenek yang sejak tadi duduk di samping pintu, mengangguk ketika nenek itu menunjuk dirinya sendiri seolah memastikan Oscar memang sedang berbicara dengannya. “Kenapa sendirian di situ? Kemari, ayo kita bersenang-senang dan merasakan kehangatan seorang Oscar Mandala!”


Gemuruh sorakan kembali terdengar. Oscar memeluk para nenek semakin erat dengan wajah seolah dia seorang raja.


Terpaut beberapa meter dari tempat itu, Selena mengernyit geli menatap Oscar dan tingkah anehnya. “Berapa kali pun aku melihat Oscar, dia tidak terlihat waras sama sekali. Kau yakin ingin meneruskan hubunganmu dengannya, Amara?” Selena menoleh ke arah samping.


Alih-alih tersinggung dengan ucapan Selena, merasa kekasihnya dihina, Amara malah tertawa kecil tanpa melepaskan tatapannya dari Oscar. “Kenapa? Bukankah dia terlihat sangat manis?”


Selena memutar kedua matanya, menghela napas panjang. “Dasar bodoh. Sepertinya kau perlu memeriksa matamu.” Selena berlalu sembari membawa kue yang baru mereka buat.


Tiba di ruang santai itu, melihat para nenek yang sedang mencoba menyuapi Ocean dengan makanan ringan dan bergelayut di lengannya, Selena berdecak. “Kenapa Nenek menyentuh suamiku seperti itu? Dia jadi ternodai.”

__ADS_1


“Apa maksudmu suamimu? Semua pria tampan adalah milik kita bersama.” Nenek yang menyuapi Ocean memelotot pada Selena, disusul omelan nenek-nenek yang lain.


Diserang beramai-ramai seperti itu, Selena merasa terpojok. Ia tidak bisa balas berteriak karena yang sedang dihadapinya kini adalah para nenek renta. “Jangan begitu. Ayo cepat lepaskan. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Ocean.”


Selena mencoba menarik tangan Ocean. Baru menyentuh jemarinya, tangan Selena sudah lebih dulu mendapat pukulan dari nenek yang duduk di samping Ocean.


“Jangan macam-macam. Kau bisa menyentuhnya sesuka hatimu selama ini. Berbagi itu hal yang baik.”


“Siapa bilang? Selama ini aku juga tidak bisa menyentuhnya sesuka hatiku.” Selena memajukan bibir bawahnya sebagai respon ucapan salah satu nenek. Ia lantas menatap Ocean untuk meminta pembelaan, hanya untuk menemukan pria itu tersenyum tanpa dosa, berucap, “Mau bagaimana lagi,” dengan santainya.


“Kemari saja, Selena. Kau tidak diharapkan di sana. Kau belum mendapat pelukan dan ciuman hangat dariku, bukan?” Oscar menyeletuk ringan, tertawa lebar saat mendapatkan pelototan Selena dan tatapan tajam Ocean.


Di ambang pintu ruangan itu, Noah yang membawa satu kardus air mineral menampilkan wajah memelas saat menatap orang-orang di tempat itu. “Kenapa para nenek hanya mengerumuni Pak Ocean dan Pak Oscar? Saya juga laki-laki. Tolong lihat saya juga.”


...****...


Sebagai balasan, Ocean menempatkan telunjuknya di bibir, meminta Selena memelankan suaranya. Dia berjalan sambil mengedarkan pandangan ke sekitar, memastikan para nenek sedang tidak melihatnya. Ocean membawa Selena menyelinap menuju pintu belakang panti jompo, keluar dari tempat itu.


Sawah dengan padi yang menguning menjadi pemandangan sore mereka. Ocean membawa Selena duduk di bangku panjang panti, menikmati langit jingga dan matahari yang hendak kembali ke peraduan.


“Bagaimana kau bisa lolos dari para nenek?” Selena tertarik bertanya saat melihat Ocean mengembuskan napas panjang setelah mereka berhasil keluar dengan “selamat”.


“Aku bilang ingin ke toilet. Di sana aku bahkan hampir tidak bisa bergerak.”


Selena tertawa lepas, bisa merasakan bagaimana tertekannya Ocean. Sepertinya hanya Oscar yang bisa bertahan di sana, mungkin malah menikmati keadaan sambil memakan semua hal yang disuapkan para nenek ke mulutnya.


Mereka datang ke panti jompo ini karena Amara. Wanita itu rutin mengunjungi panti setelah pulang dari luar negeri, untuk memberikan bantuan, memasak, dan mengobrol bersama para orang lanjut usia di sana. Merasa tergugah melihat tindakan baik Amara itu, Selena menawarkan diri untuk ikut, tentu dengan membawa Ocean—dan Noah—bersamanya.

__ADS_1


Tidak ada kamera wartawan yang mengabadikan, meskipun hal itu bisa mendongkrak nama Selena dan Amara sebagai aktris dengan hati bak malaikat. Mereka ke sana murni karena ingin membantu. Dan mengobrol bersama para kakek dan nenek—meskipun sempat agak menyebalkan—jelas menyenangkan. Selena banyak mendengarkan cerita tentang kehidupan mereka. Mata tua yang berpendar ketika tiba pada kisah masa muda, membuat Selena seperti ikut bertualang bersama mereka.


“Kau bisa melakukannya sekarang.”


Lamunan Selena terputus karena suara Ocean. Ia menoleh dengan alis berkerut. “Apanya?”


“Tadi kau kesal sekali, bilang tidak bisa menyentuhku sesukamu, sekarang kau bisa melakukannya, Selena.” Ocean tersenyum menyebalkan.


“Sudah kubilang jangan menggodaku. Aku gugup saat kau mengatakan hal yang tidak-tidak.” Selena membuang muka, menyembunyikan pipinya yang mulai memerah.


Giliran Ocean yang tertawa. Ia lantas meraih tangan Selena perlahan, menggenggamnya lembut. “Aku yang akan melakukannya kalau begitu.” Ocean kembali menyapukan pandangannya pada hamparan sawah. “Saat berbicara dengan para orang tua di dalam, aku banyak berpikir tentang bagaimana aku akan menghabiskan masa tuaku. Apakah tinggal di panti jompo, atau menghabiskan waktuku di rumah kecil dengan bertumpuk buku.”


Selena menoleh, sejenak melupakan panas yang menyergap wajahnya.


“Tapi kemudian, aku menemukan jawabannya.” Ocean berpaling dari hamparan sawah, menatap Selena. "Bukan ‘di mana’, tapi ‘dengan siapa’. Padi yang menguning itu juga tahu mereka akan dipanen sebentar lagi, tapi mungkin mereka sama sekali tidak keberatan. Kurasa alasannya karena seumur hidup, mereka telah menghabiskan waktu bersama padi-padi lain, bersama sesuatu yang disebut ‘keluarga’."


Kata-kata itu, tatapan itu, dan matahari senja yang memacarkan sinar lembut ... benar-benar membuat Ocean semakin berbahaya. Selena memaku di tempat.


“Kalau kau tidak keberatan, eh ... kau tahu, keluarga yang bukan hanya ada kita berdua—”


Ucapan Ocean yang terdengar canggung itu terpotong saat Selena berseru tertahan sembari menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan.


“Kenapa kau seperti itu? Maksudku, tadi ada seorang kakek yang pemikirannya cocok sekali denganku, bisa menjadi teman mengobrol yang menyenangkan. Aku berpikir untuk mengajaknya tinggal bersama kita.”


Bagai baru saja dihantamkan ke tebing terjal, Selena semakin syok. Matanya mengerjap beberapa kali untuk mencerna ucapan Ocean.


Reaksi Selena ini membuat Ocean terkekeh pelan, santai melipat tangan di depan dada. “Aku hanya bercanda, Selena.” Dalam waktu yang amat singkat, mendadak tatapan Ocean berubah, membawa banyak arti yang harus Selena terjemahkan baik-baik. “Mau berkencan denganku malam ini?”

__ADS_1


...— T H E E N D —...


__ADS_2