
“Ada apa dengan suaramu, Felix?”
Ponsel terjepit di antara bahu dan telinga, sementara tangan Selena sibuk membuka jaket tebal yang membalut badannya. Ia merasa gerah di dalam mobil.
“Pacarku yang sangat cantik, Selena Jasmine! Aku rindu sekali denganmu .... Kau bisa datang ke sini? Aku ingin melihatmu, sampai rasanya aku jadi gila sekarang.”
Suara parau setengah menceracau itu membawa Selena mengumpat sembari mukul stir mobil. Di matanya seolah ada kobaran api yang siap melahap kewarasannya. Satu masalah yang lain telah datang.
“Ada apa dengan para pria bodoh ini! Kalian pikir aku tempat penampungan orang mabuk?! Sial, aku benar-benar akan menjadi pasien sakit jiwa.” Napas Selena menderu, ia mengacak rambutnya frustrasi. “Tunggu di sana. Aku akan segera menjemputmu!”
Memutus sambungan telepon sepihak, Selena melemparkan ponselnya sembarangan. Ia menyempatkan diri untuk memaki beberapa kali, meluapkan kekesalan yang semakin menjadi-jadi.
“Pasang sabuk pengamanmu, Ocean—sial, dia sudah tidur lagi.”
Selena berdecak sebelum ia mencondongkan badannya ke arah Ocean untuk meraih sabuk pengaman. Bau alkohol tercium pekat saat jaraknya dan Ocean semakin terkikis, membuat Selena mengerutkan hidung.
“Setelah membuat kekacauan, bisa-bisanya kau tidur dengan nyaman seperti ini. Kau pikir aku supirmu, heh?”
Klik.
Memastikan sabuk pengaman Ocean sudah terpasang sempurna, Selena menginjak gas. Mobil bergerak pelan keluar dari kelab malam sebelum memasuki jalanan lenggang tengah malam. Tangan Selena lincah menggerakkan kemudi, menyalip mobil-mobil besar. Sesekali Selena menoleh ke arah Ocean, memeriksa posisi tidurnya tetap nyaman.
Tiga puluh menit yang terasa melelahkan, Selena sampai di kelab malam tempat dia dan Felix sering meluapkan stres. Bangunan kokoh lima lantai yang terasa hidup itu membuat Selena menghela napas panjang. Lelah sekali harus kembali berurusan dengan musik berisik itu.
Tepat saat Selena keluar dari mobil, dia sedikit tersentak saat mendapati Ocean yang telah bangun dari tidurnya, ikut keluar.
“Kau mau ke mana? Tunggu saja di mobil. Aku hanya akan menjemput Felix sebentar.”
“Aku akan masuk bersamamu.” Ocean memijat tengkuknya pelan, melemaskan lehernya. Penampilannya berantakan dan wajahnya terlihat kuyu. Suaranya terdengar serak.
“Jangan membuatku repot dan tunggu di mobil, Ocean. Kau bahkan belum sepenuhnya bisa berjalan dengan benar!”
“Aku bisa mengurus diriku sendiri, Selena.”
Benar-benar membuat gila. Selena hampir berteriak menyumpah saat melihat wajah menyebalkan Ocean. Perdebatan bodoh ini tidak akan ada ujungnya, Ocean akan tetap melakukan apa yang dia mau.
Tidak menemukan pilihan yang lebih baik, Selena membiarkan Ocean berjalan di belakangnya. Mereka melangkah cepat melewati meja-meja dan kerumunan orang yang tengah bersenang-senang. Kabar baiknya, Selena tidak perlu berkeliling mencari Felix, pria itu terlihat di salah satu meja, tengah meneguk minumannya.
“Selena, kau di sini!” Begitu kata Felix saat melihat Selena di sampingnya, tertawa senang. Wajahnya terlihat semringah, dia beranjak berdiri untuk memeluk kekasihnya.
Hanya sedetik, tawa Felix tersumpal saat menemukan Ocean di belakang Selena. Pandangan mereka beradu, membawa ketegangan familiar yang selalu tercipta di antara keduanya.
Pelukan terlepas saat Selena sedikit mendorong Felix. Dia sedikit terganggu dengan aroma kuat alkohol yang menguar. “Lusa kau harus ke Paris, kenapa sekarang malah minum-minum seenaknya seperti ini? Ayo, biar kuantar pulang.”
__ADS_1
Felix bergeming, masih membungkus Ocean dalam tatapan tajamnya. “Kau tidak punya kerjaan lain sehingga terus mengikuti Selena, Ocean?”
Selena mengeluh, merasakan kesal bercampur frustrasi. “Jangan mulai, Felix. Aku dan Ocean ada urusan tadi—”
“Apa yang kauharapkan, Felix? Aku bekerja seperti orang gila dini hari begini?” Ocean menjawab kelewat santai, membalas tatapan tajam Felix dengan sorot dingin.
Ketegangan yang semakin pekat terasa membuat Selena mengepalkan tangannya, mati-matian tidak menyumpal mulut kedua pria itu dengan kaus kaki bekas.
“Maka dari itu, orang penting sepertimu bukankah seharusnya sudah tidur ditemani Moonlight Sonata atau lilin aromaterapi? Kenapa malah mengikuti pacar orang sembarangan?”
Lenggang sejenak, terasa mencekik Selena. Dia melirik Ocean hanya untuk menemukan raut tak beriaknya.
“Apa kau selalu begini? Memanggil Selena seenaknya tanpa memedulikan seberapa berbahaya dia keluar seorang diri tengah malam?”
Kepalan tangan Selena mengendur, dia menoleh ke arah Ocean dengan mata mengerjap lambat. Apa-apaan itu? Ocean sedang mengkhawatirkannya?
“Anak baik sepertimu pasti belum pernah bersenang-senang. Aku ragu kau bisa minum seteguk tanpa mabuk.” Felix menaikkan satu alisnya, mengibarkan bendera permusuhan.
Ocean melipat tangan di depan dada, menyeringai. “Mau buktikan?”
“Hei, hei, kalian belum sadar juga rupanya. Jangan macam-macam dan ayo pulang sekarang.” Selena buru-buru mencoba mengamankan situasi. Berada di tengah-tengah mereka benar-benar terasa seperti mimpi buruk, dan firasat Selena mengatakan dia akan kesulitan sebentar lagi.
Alih-alih mendengarkan perkataan Selena, Ocean dan Felix melangkah menuju meja di mana Felix minum tadi. Beberapa botol minuman berdiri, hampir semuanya kosong, menyisakan satu botol bir yang belum dibuka.
“Kau tunggu saja di sini, Selena.” Rahang Ocean mengeras, berjalan melewati Selena dan langsung memosisikan diri di depan Felix, mengambil gelas minuman.
Dan yang terjadi selanjutnya seperti perkiraan Selena. Dua pria yang tampak bodoh itu bersaing, menunjukkan siapa yang lebih kuat minum sembari saling menghujani dengan tatapan permusuhan. Pelayan hilir-mudik membawakan botol minuman baru, suasana di sekitar mereka semakin memanas.
Tidak ada yang bisa Selena lakukan selain duduk tanpa semangat sambil menyesap jus apelnya dan menghela napas berkali-kali. Malam ini, pada akhirnya Selena yang akan menanggung segala kesialan akibat perbuatan tidak dewasa itu.
...****...
“Tunggu di sini, Ocean. Jangan ke mana-mana. Kau dengar?” Selena menepuk lembut pipi Ocean, membuat pria itu mengerang pelan, tidurnya terganggu.
Menutup pintu mobil, Selena bergegas membantu Felix yang kondisinya menyedihkan untuk turun dari mobil. Pria itu menceracau, memaki Ocean dengan mata terpejam saat Selena memapahnya.
“Astaga ... kau ternyata lebih berat dari yang terlihat.” Selena berpegangan pada tembok saat limbung. Ia mengambil napas sejenak, membenarkan posisi lengan Felix di bahunya. “Saat bangun nanti, bersiaplah, aku akan membunuhmu, Felix.”
Terseok-seok dan hampir jatuh beberapa kali, Selena akhirnya bisa “membanting” Felix ke tempat tidur kamarnya, hingga membuat pria itu menggeliat pelan.
“Menyusahkan sekali.” Selena melepas sepatu sport Felix, lantas menyelimutinya.
Satu masalah teratasi. Selena berderap keluar dari rumah, bersiap menemui mimpi buruk selanjutnya.
__ADS_1
Ocean masih dalam posisi yang sama seperti saat Selena meninggalkannya di mobil. Menghela napas panjang, Selena mulai menempatkan lengan Ocean di bahunya, menariknya untuk keluar dari mobil.
Tidak seperti saat mabuk di kelab malam mewah, di mana Ocean masih setengah sadar, kali ini Selena mati-matian menahan berat tubuhnya. Ia tersaruk-saruk melangkah, hampir berniat untuk membiarkannya tidur di teras. Dan gigi Selena bergemeletuk saat berhadapan dengan tangga panjang. Membayangkan harus menaiki satu per satu anak tangga untuk membawa Ocean ke kamarnya sungguh terlihat seperti omong kosong.
“Bisa mengurus dirimu sendiri katamu? Wah, aku benar-benar ingin menggilingnya sekarang.” Selena melirik kesal pada Ocean. “Ah sial, aku tidak bisa membuatnya tidur sekamar dengan Felix atau kepalaku yang akan pecah besok pagi.”
Setengah hati Selena memapah Ocean menaiki satu per satu anak tangga sambil berpegangan pada handrail. Bibir Selena lincah mengomel, meratapi betapa malang hidupnya.
Lima menit yang terasa seperti neraka akhirnya tiba di ujungnya. Selena mengembuskan napas saat tiba di kamar Ocean. Dengan sisa tenaga yang ada, Selena menyeret kakinya, melangkah menuju tempat tidur.
Bruk!
Saat hendak melemparkan Ocean ke tempat tidur, tangan Ocean yang masih berada di bahu Selena ikut mendorongnya, membuat wanita itu terjerembab jatuh di samping Ocean. Wajah Selena menghantam tempat tidur, hidungnya terasa sedikit nyeri.
“Kau benar-benar!”
Plak!
Ocean mengerang pelan saat punggungnya mendapat tamparan keras Selena. Dengan wajah bersungut-sungut, Selena menyentakkan lengan Ocean dari bahunya, bergegas bangkit berdiri.
Setelah mencoba mengendalikan napasnya yang tersengal, Selena melepaskan sepatu Ocean, memperbaiki posisi tidurnya, lantas menempatkan bantal di belakang kepalanya. Terakhir, Selena menyelimuti Ocean hingga mencapai dada.
“Tunggu ... terus aku harus tidur di mana?” Selena mengacak rambutnya frustrasi. Sejak ia menyadari perasaannya terhadap Ocean, dia tidak bisa lagi tidur di samping Felix. “Kalian benar-benar—”
Gerutuan Selena terhenti saat tatapannya jatuh pada Ocean yang tertidur. Selena memainkan jemarinya sejenak saat sebuah pemikiran muncul di benaknya.
Ia berdeham sekali sebelum akhirnya membungkukkan badannya ke arah Ocean, bertanya pelan, “O-Ocean, kau bisa mendengarku?”
Ocean melenguh samar.
Bagus. Selena mengepalkan tangannya, sebelum kembali bertanya, “A-aku tidak ada maksud apa-apa, hanya penasaran saja karena kau selalu datang saat Agatha memanggilmu. Kau ... eh, apa kau menyukai Agatha?”
Selena menatap tembok abu-abu gelap kamar Ocean, berdebar menantikan jawaban. Kalau berdasarkan adegan yang sering muncul di film dan drama, biasanya orang mabuk akan berkata jujur, bukan? Selena tidak sabar mendengar jawaban Ocean.
Lima detik lenggang, Selena menoleh, menemukan Ocean yang masih memejamkan matanya.
“Heh, kenapa kau tidak menja—akh!” Selena berseru kaget saat pergelangan tangannya tiba-tiba ditarik, membuatnya limbung sebelum jatuh ke tempat tidur, membentur lengan atas Ocean.
Belum sempat Selena melakukan apa pun, dia tersentak saat lengan Ocean bergerak untuk memeluknya. Jantung Selena menggila seiring aroma musk bercampur alkohol yang memenuhi indra penciumannya.
“Ocean—”
“Biarkan aku memelukmu sebentar ..., Selena.”
__ADS_1
...****...