
“Akhir-akhir ini kau kelihatan ceria sekali, Selena. Apa terjadi sesuatu yang bagus?” Felix menopang dagunya, menatap Selena yang duduk di sebelahnya.
“Eh? Aku ceria?” Selena menunjuk diri sendiri dengan raut bingung.
Memang, seminggu terakhir, setelah menghadiri pesta pernikahan teman Ocean, suasana hati Selena menjadi sangat bagus. Tidak ada lagi gumaman sebal karena harus memasak dan membersihkan rumah pagi-pagi sekali, pun saat mengantar makan siang ke perusahaan Ocean dan memasak lagi sore harinya. Selena mulai menikmatinya, bersemangat mempelajari resep-resep baru, apalagi saat kotak makan siang yang dibawakan untuk Ocean selalu kembali tanpa sisa.
“Ceria apanya, Felix.” Selena mengibaskan tangannya. “Lihat, kuku yang aku rawat mati-matian, jadi seperti ini. Membersihkan rumah, memasak ... Ocean akan marah-marah jika aku tidak melakukannya dengan benar. Dia seperti iblis paling menyebalkan.”
Berbanding terbalik dengan ucapannya, wajah Selena terlihat berseri saat membicarakan tentang kegiatan sehari-harinya dan Ocean. Hal itu membuat Felix melipat bibirnya, bertanya ragu, “Kau ... eh, kau sudah tidak ada rasa pada pria itu, bukan?”
Pertanyaan Felix membuat Selena terkesiap sejenak, untuk kemudian menjawab sembari tertawa, “Apa yang kau bicarakan? Tentu saja tidak. Mana mungkin aku kembali menyukai Ocean yang sok pintar, penyiksa orang lain, dan berengsek itu. Ah, aku jadi kesal kalau mengingat perlakukan dia padaku.”
Felix mengembuskan napas lega, mengusap rambut Selena. “Syukurlah. Aku sempat khawatir perasaanmu akan kembali mengingat bagaimana dulu kau begitu menyukainya, Selena.”
Selena tertawa kering sebagai tanggapan. Dia baru ingin mengambil tisu ketika sudut matanya menangkap jarum jam di dinding. Selena tersentak, buru-buru mengambil tasnya, dan bergegas hendak keluar dari apartemen Felix.
“Hei, ada apa, Selena?” seru Felix bingung.
“Sebentar lagi Ocean akan pulang kerja, aku harus memasak untuknya. Nanti malam aku juga ada undangan pesta ulang tahun Amara. Aku pergi dulu, Felix. Sampai jumpa!”
Suara pintu yang berdebum tertutup meninggalkan keheningan di apartemen mewah itu. Felix termangu di tempatnya duduk, tatapannya masih terarah ke pintu, namun pikirannya sudah menerawang jauh. Rasa tidak nyaman mulai menyelimuti hatinya.
Dia takut ... amat takut kehilangan Selena.
...****...
“Hei, kau benar-benar akan datang, ‘kan, Ocean?”
__ADS_1
Ponsel menempel di telinga Selena. Dia masih berada di dalam mobil, keriuhan di luar sana tidak terlalu mengganggunya.
“Pekerjaanku sudah hampir selesai, Selena. Aku akan segera menyusulmu.”
Suara Ocean di seberang sana terdengar diselingi oleh suara kertas dibalik. Sepertinya Ocean masih sibuk dengan berkas-berkasnya.
“Baiklah. Aku akan masuk dulu kalau begitu.”
Sambungan telepon terputus bersamaan dengan tangan Selena yang menggeser pintu mobil. Seperti ada komando tanpa suara, kilat cahaya dari kamera wartawan berebut memotret, mengambil gambar sebanyak mungkin. Selena melemparkan senyum anggun nan ramah sebagai balasannya, melambaikan tangan hangat.
“Anda datang sendirian, Selena? Di mana suami Anda?” Salah satu wartawan muda bertanya, mengeraskan suaranya untuk mengalahkan keriuhan.
“Ocean masih ada pekerjaan di kantor. Sebentar lagi akan tiba di sini.” Selena menjawabnya dengan senyuman yang masih terpatri jelas di wajah.
“Kami dengar kalian menikah karena perjodohan, bagaimana sikap suami Anda setelah menikah? Apa Anda bahagia?” Giliran wartawan yang terlihat senior, paruh baya, mengulurkan alat perekam suara ke depan Selena. Semua wartawan menunggu jawaban Selena dengan antusias.
Tatapan Selena menerawang ke kerumunan wartawan, menuju kamera-kamera yang teracung, seolah tengah melihat Ocean di antara kerumunan itu. Apa yang dikatakan Selena bukan hanya bualan untuk menyelamatkan muka, melainkan benar-benar dari hatinya.
Liam datang untuk membuka jalan bagi Selena sebelum para kuli tinta semakin beringas melemparkan pertanyaan lain. Sembari tersenyum sopan, Selena melangkah menuju hotel tempat dilangsungkan pesta ulang tahun salah satu teman baiknya yang juga berprofesi sebagai seorang aktris, Amara Oriana.
Selena mencoba menikmati pesta, mengobrol bersama teman yang lain, namun dia tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa tatapannya lebih banyak tertuju ke pintu masuk. Ocean tidak kunjung datang.
Satu jam berlalu dan Ocean masih tidak kelihatan batang hidungnya. Selena mencoba menghubunginya, hanya untuk mendengar nada sambungan panjang yang tak kunjung usai. Ocean tidak mengangkat telepon.
Dua jam lagi berlalu amat lambat. Teman-teman Selena mulai bertanya-tanya tentang keterlambatan Ocean. Selena menjawabnya dengan gelengan kepala lemah. Dia juga tidak tahu.
Hingga semua tamu undangan pergi dari pesta, hanya menyisakan Selena dan Amara, Ocean masih belum terlihat. Amara menepuk-nepuk pelan bahu Selena, mencoba menenangkan.
__ADS_1
Satu jam lagi yang terasa merangkak. Selena masih setia duduk di salah satu kursi. Para petugas kebersihan berlalu-lalang untuk membersihkan sisa pesta. Amara sedang mengurus sesuatu di ruangan lain.
Sebutir air mata Selena meluncur turun. Selama apa pun dia menunggu, Ocean tidak akan datang. Karena sejak awal, Selena tidak pernah penting dalam hidupnya.
...****...
Sebuah sedan hitam meluncur menuju parkiran sebuah hotel ternama, untuk kemudian decit ban yang beradu dengan lantai terdengar ngilu di telinga. Ocean buru-buru turun dari mobilnya, berlari kecil menuju tempat dilangsungkannya pesta ulang tahun Amara Oriana.
Di aula besar hotel, Ocean hanya menemukan ruangan yang temaram, lampu utama telah dimatikan. Jangankan pesta masih berlangsung, bahkan petugas kebersihan pun telah pergi. Pesta itu benar-benar telah selesai. Tidak ada lagi yang bisa Ocean lakukan di sana.
Mengambil ponsel di saku celana, untuk kesekian kalinya Ocean mencoba menghubungi Selena, dan sekali lagi hanya suara operator yang menyapa. Ocean mengacak rambutnya, mengesah keras, lantas kembali menuju mobilnya. Sedan itu meluncur cepat, bergabung dengan kendaraan lain yang merayap di jalan besar.
Dua puluh menit, Ocean sampai di rumahnya yang terlihat suram karena hanya lampu depan yang dinyalakan. Buru-buru dia melangkah masuk, memanggil nama Selena berkali-kali. Tidak ada jawaban. Pun di kamarnya dan seluruh penjuru rumah, Selena tidak ada. Dia belum pulang.
Ocean mengusap wajah, merasakan kekhawatiran yang teramat. Dengan penampilan yang kacau, Ocean membawa kakinya keluar rumah, mondar-mandir di halaman.
Udara yang terasa dingin bukan lagi menjadi masalah baginya. Berkali-kali Ocean menatap ke jalan di depan rumah, hanya untuk menemukan gelap sejauh mata memandang. Selena belum juga terlihat.
Hampir dua jam Ocean di sana, terdengar deru mobil dari kejauhan, untuk kemudian mobil berkelir merah merapat ke halaman rumahnya.
Belum sempat Ocean mendekat, Felix turun dari pintu mobil bagian belakang dengan Selena yang berada di punggungnya.
Kondisi Selena terlihat payah sekali. Matanya terpejam, bau alkohol menguar. Dia mabuk berat.
“Sel—”
Ocean baru hendak membantu Felix, ketika pria itu berucap dengan nada dingin, “Tidak perlu, Ocean. Aku sendiri yang akan membawa kekasihku ke dalam.”
__ADS_1
...****...