Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 39| SINAR BINTANG


__ADS_3

Desing kendaraan yang berlalu-lalang menjadi latar belakang yang mengiringi langkah Ocean. Awan gelap menutupi langit malam, menyembunyikan gemerlap bintang dan sinar rembulan. Tidak ada udara segar, hanya asap kendaraan yang menyambut indra penciuman.


Beberapa kali Ocean membenarkan posisi Selena di punggungnya, melangkah membelah angin malam yang berembus pelan. Selena di punggung Ocean semakin menenggelamkan wajahnya di bahu Ocean, menyembunyikan dirinya yang kacau.


“Setiap kali aku payah begini, selalu kau yang melihatnya.” Selena bergumam, menyeka air mata di sudut matanya.


Sudut bibir Ocean terangkat, membentuk senyuman tipis. “Karena aku menyukainya.”


Perkataan Ocean berhasil membuat Selena mengangkat wajahnya.


“Aku suka saat melihatmu berhenti berpura-pura, Selena. Kau tidak perlu memasang wajah ceria, bersikap seolah baik-baik saja sepanjang waktu. Menunjukkan sisi lemahmu bukan berarti kau kalah. Terkadang hanya dengan menangis, meraung sebanyak mungkin, seseorang baru bisa melanjutkan hidup.”


Selena terhenyak oleh kata-kata yang diucapkan Ocean dengan begitu santai itu. Berhenti berpura-pura. Selama ini, sudah berapa banyak topeng yang dipakai Selena? Tersenyum di depan kamera saat berbagai komentar negatif dilayangkan langsung ke arahnya. Terbahak saat beberapa orang yang mengaku sebagai teman, menyindirnya sebagai aktris buruk dengan nada bercanda. Pun saat semua orang mencemoohnya, mengungkit segala kekurangannya, Selena masih bisa tertawa di depan orang lain. Dia harus terlihat baik-baik saja.


Seumur hidup Selena dipenuhi dengan kebohongan, kepura-puraan. Di dalam dunianya, air mata artinya kalah. Memohon berarti hina. Sehingga selama ini, Selena sebisa mungkin menyembunyikan air matanya di depan orang lain, untuk kemudian menangis seorang diri, luruh di lantai kamarnya. Dia tidak ingin memohon untuk diselamatkan. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan semua orang.


Dan saat ini, Ocean mendobrak segala stigma yang telah Selena tanam di benaknya. Dia orang pertama yang mengatakan bahwa orang lemah tidak dilihat dari seberapa banyak air mata yang terlihat oleh orang lain.


“Mau makan ice cream?”


Lamunan Selena mengabur karena pertanyaan Ocean. Ia menggeleng pelan sebelum pandangannya jatuh pada segerombolan perempuan di pinggir jalan. Mereka berbisik satu sama lain, lantas tersenyum lebar sembari terus menatapnya dan Ocean.


“Turunkan aku di sini, Ocean. Semua orang melihat kita.” Selena berbisik, cepat-cepat memalingkan wajah dari para perempuan itu.


“Kenapa memangnya? Kita bukannya sedang menjalin hubungan rahasia atau terjerat perselingkuhan. Sepertinya kau juga harus belajar agar tidak peduli dengan pandangan orang lain.”


Selena memejamkan matanya, kembali menenggelamkan wajahnya ke bahu Ocean. Hangat. Sebelumnya Selena tidak menyadari ini, tapi sekarang dia bisa merasakannya dengan jelas. Aroma musk yang sudah memudar dari kemeja putih Ocean, mengalirkan perasaan tenang yang dengan anehnya membuat Selena merasa lebih baik.


Entah sejak kapan Ocean menjadi satu-satunya hal yang dibutuhkan Selena untuk menyembuhkan lukanya.


“Aku pernah berjanji akan membawamu ke suatu tempat.” Ocean menoleh ke arah Selena. “Kalau aku membawamu ke sana malam ini, kau keberatan, Selena?”


...****...

__ADS_1


“Kita di mana, Ocean?” Selena memandang berkeliling, kerutan samar muncul di dahinya.


Mobil Ocean baru saja berhenti di depan sebuah vila bergaya klasik, setelah melaju selama tiga jam penuh. Yang menarik, vila itu terletak pada sebuah lahan super luas yang di sepanjang jalan masuknya berhiaskan pohon-pohon rimbun dan bambu-bambu menjulang tinggi. Beberapa burung hantu terlihat bertengger di dahan-dahan pohon, terlihat dari cahaya lampu yang menerangi jalan.


Selena merasa mereka seperti tengah masuk ke dalam hutan, jauh dari permukiman penduduk, menuju sebuah istana yang terletak di jantung hutan. Di sana memancarkan aura menenangkan sekaligus horor secara bersamaan. Suhu udara pun jauh lebih dingin daripada pusat kota, Selena mengeluhkan tentang pakaiannya yang tidak cukup tebal.


“Vila mendiang kakekku.” Ocean menimpali singkat. “Tunggu di sini sebentar.”


Terlihat Ocean yang berjalan cepat ke dalam vila. Selena mengalihkan pandangannya pada air mancur taman yang terlihat menawan, juga berbagai jenis bunga yang terawat di sana. Sepertinya vila ini memiliki pengurus meskipun tidak ditinggali siapa pun.


Ocean keluar dari vila tak lama kemudian, dengan sebuah kain lebar di tangannya. “Kemari, Selena.”


Selena menurut, mengikuti Ocean yang melangkah menuju taman. Meskipun penasaran, Selena memilih untuk tidak bertanya. Dia ingin melihat apa yang akan Ocean lakukan.


Sampai di tengah taman di mana rerumputan dipangkas rapi, Ocean menggelar kain itu di sana. Ia tersenyum tipis menatap Selena sebelum menurunkan badannya ke kain itu, berbaring di atasnya.


“Aku pernah bilang ingin menghitung bintang bersamamu, bukan? Ayo kita lakukan sekarang.” Ocean menepuk tempat kosong di sampingnya, menyuruh Selena untuk menempatkan diri di sana.


Mengerjapkan matanya sejenak, Selena akhirnya meniru Ocean, berbaring di sampingnya. Saat pandangannya tertuju ke langit malam tak bersaput awan, Selena tertegun. Lautan bintang menyambutnya, dengan rembulan yang menggantung seolah menjadi ‘raja’ para bintang.


Selena tidak bisa melepaskan tatapannya dari pemandangan mengesankan di atas sana. “Ini hebat sekali ....”


Ocean tersenyum, membenarkan posisi tidurnya. “Ayo kita mulai, Selena. Peraturannya masih sama; tiap kali menghitung satu bintang, kau juga harus berdamai dengan kenangan buruk, perasaan tidak perlu yang mengganggumu.”


Kepala Selena tertoleh, mendapati wajah damai Ocean yang malam ini terasa amat menenangkan. Satu anggukan kecil Selena membuat senyum Ocean semakin lebar, sebelum akhirnya dia mengalihkan pandangan pada jutaan titik indah di langit.


“Satu.” Ocean berucap pelan, menatap satu titik bintang, lantas memejamkan matanya. Dia sedang memanggil memori buruk, menjelajahi setiap detik momen itu, seolah saat ini dia sedang berada di sana.


Sepuluh detik, Ocean membuka matanya, mengembuskan napas panjang. Satu beban di hatinya telah luruh, Ocean telah berdamai dengan memori itu.


Wajah Ocean yang terlihat “bercahaya” itu membuat Selena mencoba melakukan hal serupa. Dia memfokuskan tatapan pada satu bintang, berbisik, “Satu,” lantas matanya menutup perlahan.


Yang pertama kali muncul di benaknya adalah wajah Felix saat terakhir kali Selena melihatnya. Raut kekecewaan, putus asa, dan terluka pria itu kini jelas dilihat Selena—sesuatu yang luput dia perhatikan tadi. Perasaan bersalah kembali menghunjam Selena, lebih pekat daripada sebelumnya, hingga membuat sebutir air mata turun dari sudut matanya.

__ADS_1


Namun kemudian, memori saat dia dan Felix tertawa bersama dengan sorot hangat tiba-tiba menyeruak. Suara tawa itu, raut wajah itu ... Selena bisa mengingatnya dengan jelas. Tidak ada kebencian, tidak ada lara. Hanya ada kebahagiaan di sana.


Selena tertegun. Benar, setiap orang bisa memilih. Membenci atau berdamai. Kenangan buruk juga bagian dari perjalanan mereka, namun malam ini, Selena akan memilih untuk mengingat hal-hal indah tentang Felix. Dia akan menempatkan Felix di sudut benaknya, dengan sampul wajahnya yang tersenyum cerah.


Mata Selena terbuka perlahan. Ajaib, suasana hatinya juga menjadi jauh lebih baik. Dia menoleh pada Ocean, tersenyum lebar saat melihat pria itu tengah memejamkan matanya.


Baiklah. Selena kembali mencari satu bintang lain, berucap lebih keras dari sebelumnya. “Dua.” Dan kenangan buruk lain kembali menyeruak di kepala Selena.


Saat Selena tenggelam dalam pikirannya, Ocean mencuri pandang ke arahnya, lantas senyum tersungging di wajahnya. Selena terlihat serius sekali, dan hal itu membuat Ocean merasa lega.


“Lima puluh dela—kau sudah selesai?” Tatapan Selena bersirobok dengan Ocean saat dia menoleh sebentar.


“Kelihatannya masalah di hidupmu banyak sekali, Selena. Aku bahkan tidak mencapai sepuluh.”


Selena mendengus—menandakan dia sudah baik-baik saja sekarang. “Aku bahkan menghitung kenangan tertempel ulat bulu.”


Derai tawa Ocean terdengar setelahnya. Rambutnya bergerak-gerak tertiup angin malam. Bersamaan dengan matanya yang sedikit menyipit, muncul lesung pipi kecil di bagian pipi kirinya—sesuatu yang baru Selena lihat pertama kali karena selama ini Ocean jarang tertawa lepas seperti sekarang.


Entah karena sinar bintang atau karena suasana damai di tempat itu, tawa Ocean menarik keluar sesuatu yang tersimpan erat dalam ruang khusus di hati Selena.


“Ada satu hal lagi yang ingin aku lepaskan.” Selena menatap Ocean, diam-diam menelan saliva. “Meskipun kau sudah tahu, aku akan mengatakannya.”


Ocean sepenuhnya menoleh ke arah Selena.


“Huruf pertama surat-surat yang kutulis untukmu ... membentuk sebuah kata yang sebenarnya ingin aku simpan seorang diri.” Selena menggigit bibirnya, suaranya sedikit bergetar.


Ocean terdiam, tahu muara pembicaraan ini.


Mengais keberanian yang tersisa, menatap Ocean semakin lekat dan dalam, Selena berbisik, “Daisuki, Ocean.”


Tidak ada yang bisa Ocean lakukan selain bergeming di tempatnya. Dia sama sekali tidak memperkirakan kejutan macam ini.


Tujuh surat. Tujuh huruf pertama. Daisuki. Aku sangat menyukaimu.

__ADS_1


...****...


__ADS_2