Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 20| COUNT THE STARS


__ADS_3

Pukul dua siang.


Para kuli tinta yang sudah berkerumun di depan sebuah kantor polisi dalam sekejap kembali riuh, blitz berkilatan tanpa jeda, mereka merangsek ke pintu masuk yang telah dijaga oleh beberapa petugas. Orang yang ditunggu mereka telah terlihat menuruni anak tangga di dalam sana, kacamata hitam masih setia bertengger di pangkal hidungnya.


Selena dengan didampingi Ocean sampai di pintu masuk kantor polisi setelah memberikan keterangan selama kurang lebih tiga jam. Pernah memiliki hubungan buruk dengan korban dan minimnya CCTV di lokasi kejadian membuat proses pemberian keterangan itu terasa seperti interogasi.


Selena sudah berusaha melakukan yang terbaik, memberikan keterangan tanpa ada satu hal pun yang dia sembunyikan. Hanya saja, tadi pagi, sebuah akun anonim menyulut api dalam sekam. Dia mengungkit-ungkit tentang hubungan Selena dan Olivia yang sempat memburuk, persoalan cinta segitiga yang melibatkan Felix.


Dengan blak-blakan si anonim menulis bahwa mungkin saja permusuhan Selena dan Olivia belum selesai, mereka hanya berdamai di layar kaca. Karena suatu masalah yang tidak diketahui orang lain, Selena akhirnya melakukan tindakan kriminal terhadap Olivia, lantas bertingkah seolah dia menjadi saksi pertama.


“Bagaimana tanggapan Anda terhadap rumor yang sedang berkembang sekarang, Selena?”


“Apa benar masih ada masalah yang belum terselesaikan antara Anda dan Olivia?”


“Tolong ceritakan sedikit bagaimana Anda bisa menjadi saksi pertama kasus ini. Apa benar semua kejadian yang menimpa Olivia Daisy semua telah direncanakan oleh Anda?”


Para wartawan berkerumun menghalangi jalan Selena, merangsek layaknya orang kelaparan. Ocean dan beberapa petugas harus mengerahkan tenaga agar para wartawan itu tidak bisa menyentuh Selena. Baik Selena maupun Ocean tetap bungkam, terus berusaha mencapai mobil yang masih terpaut beberapa meter.


Ceplas!


Selena tersentak kaget saat sebuah telur mentah melayang mengenai kepalanya, membuat kotor rambutnya. Bau amis segera menguar, bersamaan dengan Selena yang menoleh gentar ke arah sekumpulan wanita di pinggir tempat parkir. Sejenak, pertanyaan para wartawan terhenti, dengan cekatan mereka mengarahkan kameranya pada para wanita yang sepertinya adalah penggemar Olivia Daisy. Pertunjukan hari ini terasa semakin menarik bagi mereka.


“Dasar, Ja-lang! Teganya kau membuat Olivia kami menjadi seperti itu! Kau pantas mati!”


“Pasti mudah sekali baginya memanipulasi segalanya. Uang ayahnya hebat sekali!”


Para wanita itu berseru-seru, memaki, dan mengucapkan sumpah serapah pada Selena. Mereka segera merogoh kantong plastik, bersiap melempari Selena dengan telur lagi.


Selena spontan memejamkan matanya saat beberapa buah telur melayang ke arahnya.


Ceplas! Ceplas!

__ADS_1


Bersamaan dengan bunyi telur pecah itu, mata Selena spontan terbuka saat merasakan rengkuhan tangan seseorang. Dan detik itu juga Selena tertegun.


Ocean memeluknya, menjadi tameng saat telur-telur itu siap menghantamnya.


Para penggemar Olivia berteriak semakin nyaring saat target mereka selamat. Mereka semakin beringas melempar telur dengan kesal, meski hanya mengenai punggung dan rambut Ocean.


Wajah Ocean masih tampak tenang, seolah lemparan telur-telur itu tidak berarti apa-apa baginya. Tangannya bergerak mengusap rambut Selena yang terkena pecahan telur, membersihkannya. Tersenyum lembut.


“Tetap berjalan, Selena. Aku berjanji tidak akan ada yang bisa menyakitimu.” Ocean mengangguk sekali, menyakinkan Selena untuk segera masuk ke dalam mobil.


Selena ikut mengangguk, mulai melangkahkan kakinya.


Di bawah lemparan telur yang menghujani Ocean dan suasana yang semakin memanas di sekitarnya, entah mengapa Selena merasakan ketenangan luar biasa, tahu jika dia memiliki perisai paling kuat. Tidak ada lagi yang bisa menyentuhnya.


...****...


“Cokelat hangat.”


Selena menempatkan telapak tangannya pada mug, merasakan hangat yang menjalar. “Aku belum sempat mengatakannya padamu tadi.” Selena menoleh, menatap Ocean di sampingnya. “Terima kasih karena telah bertingkah sok keren, Ocean.”


Ocean tertawa, menaruh mug kopinya. “Aku sebenarnya ingin membawamu pergi dari sini, Selena. Mungkin menyusul orang tuamu yang sedang dalam perjalanan bisnis ke London. Wartawan di luar rumah pasti sangat mengganggumu. Tapi berhubung polisi masih harus mengecek alibimu dan hasil pemeriksaan TKP, sementara kita harus tetap di sini.”


Helaan napas Selena terdengar. Dia menyesap cokelatnya. “Aku tidak masalah. Mungkin kau yang lebih repot dari aku. Hari ini pekerjaanmu pasti jadi berantakan.”


“Kau sekarang sedang mengkhawatirkanku?” Ocean tersenyum miring menyebalkan.


“Karena suamiku telah mengkhawatirkanku, sebagai istri yang baik, aku juga harus melakukannya, bukan?”


Sekali lagi Ocean tertawa hingga matanya menyipit. Dia pandangi Selena yang menyapukan tatapannya pada langit malam, lantas berucap, “Kau pernah menghitung bintang, Selena?”


Selena menoleh, mengerutkan keningnya, sebelum menggeleng. “Mana bisa, Ocean. Di sini bahkan tidak tampak satu bintang pun, tertutup awan dan polusi.”

__ADS_1


“Kalau begitu, kau mau suatu hari pergi lagi bersamaku ke tempat dengan langit yang tak tersaput awan, sehingga bisa melihat lautan bintang?”


“Yang seperti di Alaska?”


Ocean mengangguk. “Mungkin yang lebih hebat lagi.”


“Kenapa aku harus ikut bersamamu?” Selena mengangkat satu alisnya.


“Karena kita akan berlomba menghitung bintang.”


Hening turut membawa raut wajah Selena yang bingung. Ocean kurang kerjaan atau apa, sehingga mau menghitung bintang?


“Bagaimana caranya menghitung bintang yang sebanyak itu?” Selena akhirnya bertanya, penasaran juga dengan jalan pikiran Ocean.


Ocean tersenyum tipis, mengembuskan napas samar. “Tinggal menghitung saja, Selena. Tapi dalam lomba itu, setiap kali kau menghitung satu bintang, kau juga harus melepaskan perasaan yang menghambatmu untuk tertawa lepas. Marah, benci, sedih, takut ... kau harus melepaskannya bersama dengan kenangan buruk di baliknya. Berdamai dengan semua itu.”


Gerakan Selena yang hendak mengambil mug terhenti. Dia sepenuhnya menatap pada Ocean dengan perasaan tak terartikan.


“Kertas yang sekarang kau sembunyikan itu, boleh kau ikutsertakan juga dalam lomba, Selena. Semoga sebelum pagi tiba, perasaan yang mengganggumu telah habis.”


Kali ini Selena benar-benar tertegun, tangannya yang tersembunyi di samping badan bergerak meremas kertas putih yang tadi dia dapatkan saat akan masuk ke dalam rumah. Isinya makian, sumpah serapah agar Selena mengakar di neraka karena dianggap dalang utama kemalangan yang menimpa Olivia.


Dan Ocean tahu ....


“Aku masuk dulu kalau begitu. Jangan tidur terlalu malam.” Ocean beranjak berdiri, memberikan ruang untuk Selena menunjukkan perasaannya pada hamparan langit malam dan bulan sabit yang menggantung.


Tepat setelah Ocean menutup pintu, isakan pelan Selena bergabung dengan udara malam yang terasa dingin. Badannya bergetar. Dia tergugu dalam perasaan lelah luar biasa.


Meskipun mencoba bertingkah seolah baik-baik saja, nyatanya Selena tetap tersungkur oleh komentar kebencian dan kata-kata yang menjatuhkannya. Berapa pun lamanya Selena menjadi seorang aktris, dia tidak akan pernah terbiasa oleh hal itu.


Ocean menatap Selena dari kejauhan, menghela napas panjang. Daripada sisi rapuhnya, Ocean merasa tingkah bodoh Selena jauh lebih baik.

__ADS_1


...****...


__ADS_2