Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 48| LANGKAH PALING BERANI


__ADS_3

“Aku membuat sup jamur dan daging panggang.” Ocean melangkah menuju kitchen counter, mengambil hasil masakannya. Dengan cekatan dia menatanya di meja makan, bersama satu piring dan gelas. Terakhir, Ocean menarik satu kursi untuk Selena, sebelum meraih jasnya yang tersampir sofa panjang.


Selena masih bergeming di tempatnya, hanya mengamati Ocean dengan ekspresi yang tidak banyak berubah.


“Aku sudah membersihkan seluruh ruangan. Kau bisa bersantai besok pagi.” Ocean tersenyum tipis saat kembali berhadapan dengan Selena. Sejenak, ia menyapukan pandangannya pada setiap jengkal wajah di depannya, menyimpannya sebagai potret yang akan dia ingat seminggu ke depan. “Aku pergi sekarang. Sampai jumpa minggu depan, Selena. Jaga dirimu baik-baik.”


Hening dalam ruangan itu terasa begitu mencekik setelah tidak lagi terdengar derap langkah Ocean. Kehampaan menyelimuti Selena, kembali melemparkannya ke dunia antah-berantah di mana kepedihan ada pada setiap jengkal tanah, pada setiap jejak langkah.


Mengusap wajahnya yang terasa pias, pandangan Selena tertuju pada meja makan di mana terdapat sajian masakan Ocean. Dia melangkah mendekat perlahan, duduk di kursi yang sebelumnya telah ditarik Ocean untuknya. Aroma sup jamur yang menggoda segera menyambut indra penciumannya. Selena meraih sendok, mengambil sedikit. Rasa gurih dan earthy dari krim sup terasa lembut menyapa lidah.


“Enak—” Tenggorokan Selena mendadak tercekat, sebelum isakan pelan yang mengalunkan melodi menyakitkan menyusul kemudian. Bahu Selena bergetar oleh sesak yang menghimpit dadanya. Kehadiran Ocean benar-benar menjadi sebuah mimpi buruk. Interaksi singkat itu terasa meluluh-lantakkan pertahanan Selena.


Selama ini Ocean telah melakukan banyak hal untuknya, terlalu banyak, sampai-sampai Selena khawatir dia akan terluka lebih parah lagi, lebih menyakitkan lagi. Bukan, ini bukan lagi tentang Agatha, bukan juga soal harga dirinya. Sejak awal, pernikahan itu memang tidak seharusnya ada. Bersama Selena, Ocean hanya akan terperosok dalam jurang tak berdasar.


Selena yang payah, Selena si pembuat masalah, Selena yang menyedihkan ... Ocean sama sekali tidak boleh terseret ke dalam dunianya yang gulita. Ada perbedaan yang terlalu besar di antara mereka, terpisahkan oleh jurang yang luas dan terjal.


Sejak awal, nama Selena dan Ocean tidak pernah pantas bersanding dalam satu baris yang sama.


...****...


“Tidurmu nyenyak?”


Begitulah pertanyaan yang Selena dapatkan saat menginjakkan kaki di dapur untuk mengambil minum di hari Sabtu selanjutnya. Dengan apron yang tergantung di leher, Ocean tersenyum menyambut Selena. Tangannya sibuk menggerakkan spatula. Aroma yang menggugah selera menyelimuti ruangan.

__ADS_1


Rupanya Ocean tidak berniat menyerah—tepatnya belum. Dengan raut jengah yang kentara, Selena mendengus pelan, sebelum berjalan menuju lemari pendingin, mengambil air putih dari sana.


Saat ini, hanya ada satu kata yang berputar-putar di kepala Selena: gila!


Perjalanan udara untuk sampai di Bandara Anchorage paling cepat memakan waktu 20 jam, rata-rata 21-24 jam. Belum lagi perjalanan darat menuju vila. Itu artinya Ocean hanya punya waktu dua hari; Sabtu dan Minggu untuk bolak-balik dari kotanya menuju Anchorage, karena hari Senin sudah harus bekerja di kantor. Di vila dia hanya memiliki waktu sebentar, hanya cukup untuk bersih-bersih dan memasak, sebelum melakukan penerbangan pulang.


Bayangkan selelah apa dia. Waktu istirahatnya hanya ada di dalam pesawat, dan Selena yakin, hari-hari kerjanya sedang super sibuk mengingat pembangunan hotel di Labuan Bajo sudah memasuki tahap akhir. Sekuat apa pun stamina Ocean, dia pasti akan tumbang. Tanpa perlu Selena repot-repot melakukan sesuatu, Ocean akan menyerah dengan sendirinya.


“Maaf aku mengganti jadwalku menjadi Sabtu. Aku akan terlambat masuk kerja jika melakukannya di hari Minggu. Kau tahu, perbedaan waktu antara di sini dan di sana.” Ocean santai mengaduk pasta, menaburkan parsley. Tidak ada kecanggungan sedikit pun dalam nada suaranya, seolah mereka sedang dalam suasana baik-baik saja.


“Memangnya siapa yang peduli kau datang atau tidak? Jangan bicara denganku!” Selena berucap ketus, melenggang cepat keluar dari dapur setelah mengentakkan gelas ke meja.


Tentu saja itu hanya omong kosong Selena semata, karena setelah masuk ke kamar, dia bergerak-gerak gusar. Enam hari belakangan terasa begitu merangkak. Dia tidak bisa bertemu Ocean, tidak bisa menatap wajahnya. Dalam waktu yang singkat ini, sebenarnya Selena ingin melihat Ocean lebih lama—tunggu! Selena memukul kepalanya sendiri.


Pintu bergeming meskipun Selena menudingnya dengan jari telunjuk dan memelotot, seolah dia tengah berbicara dengan Ocean.


Minggu depan? Jelas Ocean muncul lagi, bahkan hingga lebih dari sebulan kemudian, Ocean tetap datang, melakukan rutinitasnya dengan santai. Kalau diibaratkan kondisi kesehatan seseorang, bisa dikatakan Selena sudah sekarat, tinggal menunggu waktu mati. Bertemu Ocean secara rutin seperti ini berbahaya sekali. Berkali-kali Selena harus menebalkan pertahannya, memaki jantungnya yang mudah sekali berdebar jika berhadapan dengan pria itu. Tidak, di pertempuran kali ini Selena harus menang bagaimanapun caranya.


Dan soal jadwal Ocean hari ini ... sejak satu jam yang lalu Selena bergerak-gerak gelisah di ruang tamu. Tatapannya lebih sering tertuju pada halaman vila yang lenggang, tidak ada seorang pun yang terlihat.


Ocean biasanya sudah tiba pukul sembilan pagi, Selena diam-diam menunggunya di kamar sembari mengintip ke jendela untuk melihat kedatangannya. Namun kini sudah pukul sebelas siang, dan Ocean tidak menunjukkan tanda-tanda akan datang.


“Apa terjadi sesuatu? Penerbangannya mengalami keterlambatan? Dia baik-baik saja, ‘kan?” Selena melangkah mendekat ke pintu yang terbuka, mengusap wajahnya yang mulai pias. “Ah, sial. Aku tidak bisa menghubunginya.”

__ADS_1


Dia mondar-mandir dengan perasaan tidak keruan. Kekhawatiran yang semakin pekat dirasakannya, membuat Selena mengerang, hendak menyambar ponsel di meja, ketika ia terlonjak saat suara familiar yang datang dari pintu menelusup telinganya.


“Kau menungguku, Selena?”


Mati-matian Selena menahan diri untuk tidak mengembuskan napas lega. Ocean tidak terluka, itu kabar yang lebih baik dari apa pun. Dan ya, seringaian menyebalkan yang efektif memancing kekesalan—


Selena terhenyak saat akhirnya bisa menatap Ocean dengan benar. Wajah yang biasanya selalu segar itu kini terlihat amat lelah dan pucat. Dilihat dari setelan jasnya yang berantakan, Selena bisa menyimpulkan Ocean baru saja melakukan perjalanan bisnis. Tanpa merasa perlu pulang, beristirahat sejenak, dia memaksakan datang untuk melakukan omong kosong soal jadwal bebersih dan memasak. Ocean jelas tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja.


“Kau sudah makan? Mau kubuatkan omelete?” Tatapan Ocean tampak sayu, garis ketangguhan di wajahnya sedikit memudar.


Ocean tidak baik-baik saja. Dia melakukannya terlalu keras.


Dalam jeda yang amat singkat, Selena merasakan sesuatu yang bergemuruh di dadanya. Tembok panjang yang dia bangun sebagai tameng, runtuh karena selajur harapan yang mulai menguasainya. Selena ingin hidup, dia ingin menggenggam tangan Ocean.


“Baiklah, mari kita lihat apa masih ada telur.” Ocean melangkah melewati Selena yang bergeming.


Baru dua langkah Ocean bergerak, dia berhenti saat merasakan ujung jas belakangnya ditarik. Dengan gerakan pelan, Ocean menoleh, menemukan Selena yang menatap lekat ke arahnya, seolah hendak menyampaikan ribuan kata yang tidak pernah dia ucapkan selama ini.


“Duniaku lebih suram dari yang kaubayangkan, Ocean. Kau mungkin akan akan terluka lebih dalam lagi, kehilangan sesuatu yang berharga bagimu lebih banyak lagi. Meskipun begitu, apa aku boleh memaksa berdiri di sampingmu? Kurasa ... kurasa aku menyukaimu terlalu jauh.”


Ujung kalimat Selena membawa hening menyelimuti mereka. Bertepatan dengan gemerisik angin yang terdengar dari kejauhan, Ocean mengambil langkah paling berani seumur hidupnya, sebagai jawaban atas pertanyaan Selena.


Dia mencium Selena.

__ADS_1


...****...


__ADS_2