Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 12| SERANGAN DI PESTA PERNIKAHAN


__ADS_3

Suara hak sepatu Selena yang beradu dengan lantai berkualitas, turut serta membawa atensi semua orang yang dilewatinya. Dengan postur tubuh proporsional yang dibalut celana high waisted dan crop top, pun dengan kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya, Selena seperti layaknya seorang model yang berjalan di atas catwalk.


Setelah dipersilakan oleh resepsionis di lobi, Selena menaiki lift khusus yang akan membawanya menuju lantai di mana ruangan Ocean berada. Seorang pria yang Selena ketahui bernama Noah, sekretaris Ocean, menyapanya sebentar, sebelum menghubungi Ocean melalui interkom.


“Pak Ocean ada di dalam, Nyonya. Silakan masuk.” Begitu kata Noah setelah suara singkat bosnya terdengar, memberi izin Selena untuk masuk ke ruangannya.


Menggumamkan terima kasih singkat, Selena mendorong pintu yang terlihat kokoh di depannya. Hal pertama yang menyambutnya adalah ruangan super luas dengan berbagai buku dan dokumen yang berjajar rapi di rak-rak tinggi. Ada dua buah sofa dan meja untuk menerima tamu, dan sang pemilik ruangan terlihat angkuh di kursi kebesarannya, membolak-balikkan berkas yang menumpuk di meja.


“Ada apa, Selena?” Ocean bertanya tanpa merasa perlu mengangkat wajah. Dia sepertinya sedang sibuk sekali.


“Aku membawakan bekal makan siang.” Selena meletakkan kotak bekal di meja, matanya masih setia menjelajah setiap jengkal ruangan.


Berkat jawaban Selena, Ocean akhirnya mengalihkan perhatiannya, mengerutkan kening. “Apa kau kerasukan sesuatu selama di Alaska?”


Makian yang sudah sampai di ujung lidah, Selena menelannya bulat-bulat. Tidak, dia harus menahan diri. “Apa maksudmu, Ocean? Aku hanya berusaha menjadi istri yang baik.”


Sejak mendarat di Alaska, Ocean sudah merasa ada perbedaan pada sikap Selena terhadapnya. Setelah pulang bulan madu kemarin, perbedaan itu semakin kentara, Ocean jadi merasa ada sesuatu yang salah di sini.


“Aku memasak banyak menu hari ini. Omelete, nasi goreng, salad buah, dan puding. Selama di Alaska, aku sudah banyak belajar resep baru.”


Ocean bergeming di tempatnya, pandangannya seperti sedang menganalisis Selena. “Apa yang sedang kau rencanakan, Selena?”


Sial. Otak Ocean terlalu tajam untuk dibodohi. Baru memulai saja Selena seperti sudah ditodong pistol, sekali saja melakukan kesalahan, tak pelak peluru akan menembus kepalanya.


“Jangan mengada-ada, Ocean.” Selena mulai membuka satu per satu kotak bekal, menatanya di meja. “Sudah waktunya makan siang, bukan?”


Ocean bangkit dari duduknya, melangkah mendekat. Makanan yang disajikan oleh Selena kali ini terlihat lebih baik dari masakan sebelumnya, meski bentuknya tetap masih menyedihkan.


“Baiklah, karena sudah mengantarkan makanan, aku pergi sekarang. Ada meeting proyek film baru sebentar lagi.” Selena meraih tasnya, melambaikan tangannya singkat, lalu berjalan keluar ruangan.


“Nanti malam persiapkan dirimu. Ada undangan pesta pernikahan.”


Setelah mengacungkan jempol sekilas, Selena hilang ditelan pintu. Noah datang tak lama setelahnya, hendak menanyakan menu makan siang Ocean ketika matanya menangkap berbagai jenis makanan di meja.


“Wah, banyak sekali makanannya, Pak. Saya boleh mencobanya juga?”

__ADS_1


Tepat saat itu, kening Ocean mengernyit dalam setelah mencoba omelete rasa antah-berantah. Proporsi rasa asin, gurih, dan pedas terasa jomplang. Masakan Selena masih tetap sama, menjadi bencana mengerikan untuk lidah.


“Jangan berani sentuh makanannya, Noah. Aku akan menghabiskannya. Kau pergi beli makan siangmu sendiri.”


...****...


“Astaga, apa kau Aphrodite? Bagaimana bisa ada wanita secantik ini.” Selena menunjuk sosok dirinya di dalam cermin besar, terpukau karena penampilannya sendiri.


“Berhenti bermonolog dan cepat keluar, Selena. Kita sudah terlambat.”


Suara Ocean di luar kamar membuat Selena mendecih sembari bersungut-sungut. Ocean pandai sekali membuat suasana hati Selena anjlok ke dasar jurang. Dua kali menarik napas panjang, Selena kembali mematut diri di depan cermin, membenarkan sekilas tatanan rambut dan dress selututnya.


“Jangan berlagak dulu, Ocean. Sebentar lagi aku akan membuat rahangmu menggelinding,” gumam Selena penuh percaya diri.


Dia sudah mempersiapkan penampilan yang wah, sejak siang tadi. Pakaian, makeup, sepatu, tas ... semuanya sudah Selena pikirkan matang-matang untuk membuat Ocean terkesima padanya.


Selena menyibak rambutnya pelan, melangkah untuk membuka pintu. Dia seperti bisa mendengar musik lembut yang mengiringi langkahnya, kelopak bunga mulai bertaburan. Persis seperti salah satu adegan yang pernah dilakoninya. Selena benar-benar tidak sabar melihat ekspresi Ocean.


Tepat setelah pintu terbuka, gerakan Selena yang ingin menyibak rambut, bergaya, terhenti. Bukan ... bukan rahang Ocean yang menggelinding, tapi rahangnya.


“Kita terlambat, Selena. Kau tidak dengar? Kenapa malah berdiam diri di sana. Ayo cepat jalan.”


Selena menggelengkan kepalanya sembari mengerjapkan mata beberapa kali. Apa-apaan itu tadi? Dia terpesona dengan Ocean? Otaknya pasti sudah tidak waras.


“B-bagaimana penampilanku, Ocean?”


Ocean yang sudah berjalan keluar rumah, menoleh sekilas, seperti sedang memindai Selena. “Sama saja,” ucap Ocean singkat, kembali berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di halaman.


Di belakang Ocean, Selena merapalkan sumpah serapah. Ia baru memasuki mobil setelah mendengus keras, mencemooh selera Ocean yang rendah. Hingga tiba di gedung pernikahan pun, Selena masih kesal setengah mati. Sia-sia dia menghabiskan waktu untuk hal-hal yang ternyata tidak berguna.


“Ini bukan sedang syuting film horor. Jangan pasang wajah menyeramkan.” Ocean menempatkan tangannya ke samping, memberikan ruang untuk Selena bisa menggandeng lengannya.


Setelah memutar kedua bola matanya, Selena menempatkan tangannya melingkar ke lengan Ocean. Benar, di sana ada banyak kamera yang akan mengarah kepadanya, mengabadikan momen seorang aktris besar. Selena harus menampilkan versi terbaik hubungannya dengan Ocean di depan semua orang.


Dugaan Selena tepat sasaran, karena setelah dia menginjakkan kaki di gedung pernikahan, seluruh atensi menjadi miliknya. Para tamu undangan berbisik-bisik, satu-dua menatap terpesona, dan beberapa yang lain hanya meliriknya sekilas, kembali berbincang dengan temannya.

__ADS_1


“Ocean!” Sang pengantin pria tersenyum lebar, menghampiri Ocean, lantas menepuk bahunya. “Wah, kau semakin keren saja setelah menikah. Selamat datang, Selena. Senang sekali bertemu denganmu lagi. Aku penggemar beratmu.” Si pengantin memelankan suaranya pada kalimat terakhir, terkekeh.


Selena tertawa lebar menanggapinya. “Astaga, butuh beberapa saat bagiku untuk menyadari bahwa aku tidak sedang berbicara dengan Chris Evans. Kau mirip sekali dengannya. Aku hampir berpikir aktor kenamaan itu menjadi penggemarku.”


Seruan senang lolos dari bibir si pengantin pria. Dia terbahak. “Matamu jeli sekali, Selena. Bukankah garis rahangku yang membuatku mirip dengannya?”


Ocean memijat pangkal hidungnya, berpikir mengapa dia harus berada di tengah-tengah pembicaraan bodoh itu.


Belum sempat Ocean menyeret Selena menjauh dari sana, dua orang pria berjalan mendekat, ikut bergabung.


“Wah, lihat siapa yang datang. Setelah selama ini selalu bersama Agatha, hari ini kau tampak berbeda, Ocean,” ucap salah satu pria bertubuh jangkung. Tangannya terlihat santai memegang gelas berisi champagne.


“Tentu saja berbeda, Daniel. Ocean tampak lebih cocok dengan Selena, bukan?” Si pengantin pria berseru antusias.


Diam-diam Selena tersipu karena ucapan si pengantin.


“Ah, aku belum menyapa, ya? Selamat malam, Selena. Aku Daniel, teman SMA Ocean. Senang bertemu denganmu.” Daniel melemparkan senyum sopan pada Selena. “Another Blue, kemarin aku menontonnya. Kudengar film itu sukses besar, ya?”


“Eh, begitulah, Daniel.” Selena tersenyum malu. Membicarakan kesuksesan filmnya benar-benar membuat dadanya bergemuruh senang.


“Tim produksi film itu hebat sekali. Aku takjub dengan CGI dan efek suaranya. Akting para pemain yang di bawah standar jadi tertutup oleh bagaimana mereka membuat takjub penonton dengan suguhan efek yang luar biasa. Dengan biaya produksi yang fantastis, pantas saja film itu sukses besar.”


Senyum Selena lenyap seketika. Semua euforia kebanggaan yang memenuhi dadanya ikut lenyap, digantikan oleh sorot terluka yang disembunyikan dengan gerakan salah tingkah.


Suasana di sana menjadi sangat canggung dan tegang. Selena baru akan buka suara untuk mencairkan suasana ketika Ocean menurunkan tangannya yang melingkar di lengan pria itu. Sedetik, Selena membeku ketika Ocean menggenggam lembut jemarinya.


“Itu hanya pandangan subjektifmu, Daniel. Tidak semua orang akan berpikir seperti itu.”


Demi mendengar suara Ocean yang terkesan dingin itu, Selena merasakan kakinya melemas, seperti kehilangan tulang sebagai penopangnya. Dadanya bergemuruh hebat, semburat merah mulai muncul di pipinya.


“Terlebih, kau bukan kritikus film yang sudah menguasai teknik analisis film dengan baik. Rasanya terlalu terburu-buru untuk menyimpulkan kesuksesan suatu film jika hanya melihat satu-dua hal yang tampak mencolok. Kau juga mungkin tidak akan terima jika aku mengatakan perusahaanmu bisa sebesar ini hanya karena insting bisnis adikmu yang tajam, sementara kau sebagai CEO hanya menjadi pajangan, bukan?” Ocean menyeringai. Suaranya, tatapan matanya, pun gestur tubuhnya terlihat amat tenang.


Justru Daniel yang mengepalkan tangan dengan raut geram. Bukan hanya hari ini, sejak SMA Daniel tidak pernah sekalipun menang dari Ocean Arkananta.


...****...

__ADS_1


__ADS_2