
Keriuhan dan kesibukan segera menyambut Ocean begitu dia sampai di lokasi syuting Selena. Beberapa mobil polisi terparkir di depan sebuah gedung yang disulap menjadi seperti sebuah sekolah. Sirine mobil ambulans terdengar dari kejauhan. Para wartawan telah berkumpul; memotret dan mewawancarai beberapa orang di sana.
Ocean berjalan cepat melewati kerumunan, wajahnya terlihat kalut. Mengabaikan gerombolan kecil wartawan yang melemparkan pertanyaan beruntun dengan blitz menyilaukan mata, Ocean berjalan lurus ke dalam gedung, menyapukan pandangan pada kesibukan di sana.
Di sebuah toilet dalam gedung itu, garis polisi melintang dengan petugas yang berjaga di depannya. Suara isakan wanita terdengar lirih. Wajah-wajah di sana menampilkan ekspresi yang sama: pias dan menggelayut kesedihan.
Melewati beberapa orang mondar-mandir dengan ponsel yang tertempel di telinga, Ocean akhirnya melihat Liam di ambang pintu sebuah ruangan. Dia berlari kecil ke arah ruangan itu, membuat Liam buru-buru menyingkir.
Ocean menghela napas samar kala matanya menemukan Selena yang terduduk di pojok ruangan dengan penampilan berantakan. Kepalanya tenggelam dalam lipatan tangan yang bertumpu pada kaki yang ditekuk.
Tiga wanita yang duduk di samping Selena segera beranjak berdiri ketika melihat Ocean, memberikan ruang untuknya.
"Selena ...."
Kepala Selena langsung terangkat saat suara lembut Ocean menelusup telinganya. Mata dan hidungnya yang memerah jadi terlihat jelas.
"Ocean ...." Manik Selena beradu dengan kelam dalam mata Ocean sebelum dia bangkit berdiri, menghambur dalam pelukan Ocean. “Syukurlah kau datang ....”
Dapat Ocean rasakan ketakutan yang teramat dalam suara Selena yang bergetar. Dia mengusap lembut rambut Selena, mencoba memberikan rasa nyaman. “Kau akan baik-baik saja, Selena. Jangan khawatir.”
Selena menenggelamkan wajahnya di dada Ocean. Perasaanya menjadi sedikit lebih baik. Kehadiran Ocean seolah menawarkan perlindungan, membuat semua hal terasa akan menjadi baik-baik saja ketika ada dia.
“Kau tidak terluka, bukan?” Ocean melepaskan pelukannya sejenak, memeriksa kondisi fisik Selena, lantas menghela napas lega. “Polisi akan segera menemukan pelakunya. Kau tidak perlu merasa takut atau gelisah.”
Selena mengangguk pelan, berusaha menenangkan diri. Meksipun begitu, dia tidak akan bisa mengenyahkan peristiwa mengerikan yang terhampar tepat di depan matanya.
Darah yang mengucur membentuk genangan di lantai, menguarkan bau khas yang terlalu mengganggu indra penciuman, dan wajah pucat pasi yang tergolek tidak berdaya. Semua itu Selena saksikan dengan mata telanjang, berteman derik serangga dan langit malam yang kelam.
__ADS_1
Satu jam berlalu sejak Selena menyaksikan kejadian mengerikan itu, tapi setiap kali menatap ke lantai, dia seolah bisa melihatnya lagi dengan jelas.
Namanya Olivia Daisy, korban bermandikan darah yang Selena lihat. Saat itu jadwal istirahat Selena masih berlangsung. Dengan mata yang hanya terbuka setengah karena baru saja tidur sekitar satu jam, Selena tersaruk-saruk melangkah ke toilet, kandung kemihnya terasa penuh.
Masih jelas di ingatan Selena bagaimana lorong penghubung ruang istirahatnya dengan toilet sangat sunyi, para staf dan aktor lain sedang syuting di gedung bagian depan. Begitu membuka pintu toilet, melihat objek mengerikan tepat di depan matanya, Selena spontan berteriak, tersungkur di lantai dengan kengerian yang tak terelakkan. Kondisi Olivia benar-benar mengenaskan.
Para staf datang tak lama kemudian, segera menghubungi ambulans dan polisi. Saat tenaga medis datang, memeriksa keadaan Olivia, setitik keajaiban itu masih ada. Olivia masih hidup, hanya saja kondisinya sangat memprihatinkan setelah mengalami tusukan benda tajam di perut dan pukulan benda tumpul di tengkuk. Menurut kabar terbaru, Olivia kini dalam keadaan koma.
“Apa polisi sudah meminta keteranganmu?” tanya Ocean.
“Polisi setuju memberikan waktu karena melihatku yang masih terguncang.” Selena menyeka air matanya, sesenggukan.
“Jangan memaksakan diri. Kau mau pulang sekarang?”
“Tidak.” Selena menjawab cepat, menggigit bibir. “Karena aku saksi pertama kasus ini, mungkin akan ada beberapa orang yang salah paham. Sehingga aku harus tetap di sini dengan polisi yang masih berjaga di luar. Semoga dengan ini, rumor itu tidak akan mencuat.”
“Itu ....” Raut wajah Selena terlihat ragu, sebelum melanjutkan perkataannya, “Aku dan Olivia sempat memiliki hubungan yang buruk. Tapi kami sudah berdamai, berteman, bahkan sekarang bekerja sama dalam proyek film ini. Aku hanya khawatir akan ada orang yang menggiring opini ....”
Ocean menghela napas berat, memahami situasi yang terjadi pada Selena. “Kau sudah mengambil langkah yang tepat, Selena. Sekarang, meskipun sulit sekali rasanya, cobalah untuk tidur. Kemungkinan kau akan melalui hari yang panjang setelah ini.” Sekali lagi Ocean mengusap rambut Selena, memancarkan sorot menyakinkan bahwa dunia Selena masih utuh.
“Kau akan di sini, Ocean?”
“Tentu saja. Kau mau tidur di lenganku lagi?” Ocean mengangkat satu alisnya, mencoba bergurau.
Berhasil. Senyum tipis terbit di bibir Selena. Dia lantas melangkah menuju sofa, duduk di sana. “Boleh aku pinjam bahumu sebentar?”
Ocean tersenyum, mengangguk, menempatkan diri di samping Selena. “Kau boleh meminjamnya semaumu. Khusus hari ini, aku akan memberikan diskon penuh. Tidak perlu membayar.”
__ADS_1
Selena sempat tersenyum kecil sebelum menyadarkan kepalanya di bahu Ocean. Matanya perlahan terpejam, mencoba melawan bayangan kelam yang memenuhi kepalanya. Meskipun membutuhkan waktu yang lama, Selena akhirnya benar-benar terlelap setelah merapalkan kalimat ‘Ocean sudah di sini, semuanya akan baik-baik saja’ berulang kali.
Tak lama setelah Selena terlelap, seseorang berlarian masuk ke dalam gedung, melewati orang-orang yang berlalu-lalang. Dia seperti orang kesetanan, mengedarkan pandangan untuk mencari Selena.
Felix.
Kurang dari semenit sejak kedatangannya ke gedung itu, Felix akhirnya menemukan ruangan tempat istirahat Selena. Sayangnya dia harus menelan kepahitan kala melihat kekasihnya itu tampak begitu nyaman tertidur di bahu Ocean.
Dalam sekejap tangan Felix terkepal, menyadari sesuatu.
Selena bahkan sama sekali tidak menghubunginya, Felix mendapatkan kabar tentang tragedi yang menimpa Olivia dengan melibatkan Selena sebagai saksi pertamanya dari orang lain. Lantas omong kosong apa ini? Ocean sudah berada di sana dan mengambil tindakan? Kini Felix tahu posisinya di mata Selena.
Dengan kemarahan yang menyeruak, Felix berderap ke arah Ocean yang menatapnya datar, berucap dingin, “Aku sudah di sini sekarang, Ocean. Biar aku yang mengurus Selena. Kau bisa pergi.”
Belum sempat Ocean membalas perkataannya, Felix sudah lebih dulu menempatkan diri di samping Selena, berseberangan dengan Ocean, lantas mengarahkan kepala Selena ke bahunya.
“Kubilang kau bisa pergi.” Felix menekankan setiap katanya, menghunuskan sorot permusuhan, menyiaratkan bahwa Selena adalah miliknya.
Keributan kecil antara Felix dan Ocean membuat Selena terjaga dari tidurnya. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali saat menemukan Felix di sampingnya, lantas berseru panik saat melihat Ocean beranjak berdiri, “Kau mau ke mana, Ocean?”
Ocean menatap bergantian pada Felix dan Selena, tersenyum tipis, sebelum berucap, “Aku akan menunggu di luar. Kau bisa memanggilku kapan saja.”
Hati Felix seakan luruh melihat kekhawatiran di wajah Selena saat melihat Ocean melangkah keluar ruangan. Dadanya bergemuruh karena kecemburuan dan rasa tak ingin kehilangan yang terasa mencekik. Mekipun perlahan menghilang, Felix masih bersimpuh pada harapan bahwa dia bisa membuat Selena kembali. Dia tidak bisa melepaskan Selena begitu saja.
“Maaf telah mengganggu tidurmu, Selena. Sekarang kau bisa dengan nyaman tidur di bahuku.” Felix memaksa dirinya untuk tersenyum, bertingkah seolah dia baik-baik saja.
Selena mengangguk pelan, mulai menyandarkan kepalanya di bahu Felix. Namun Selena tahu, bahwa dia tidak akan bisa tertidur lagi.
__ADS_1
...****...