
“Makan malam macam apa di tempat seperti ini? Aku benar-benar akan membunuhmu jika kau berbuat macam-macam di sana, Ocean.” Selena memasangkan topi hitam ke kepalanya, pun melilitkan syal tebal ke leher.
Memastikan penampilannya sudah cukup tertutup untuk dikenali, Selena melangkah keluar dari mobil. Bangunan dengan neon light yang memancarkan cahaya berwarna amethyst elegan segera menyambut Selena. Banyak orang berlalu-lalang di luar bangunan; wanita berpakaian modis dan terbuka, sementara para pria kebanyakan mengenakan kaus berlengan pendek atau setelan jas. Menurut informasi dari Noah, memperhitungkan tentang kelab malam favorit Austin, kemungkinan besar Ocean ada di sana.
Tiba di pintu masuk, dua orang penjaga membukakan pintu untuk Selena sembari sedikit menurunkan kepala dengan sopan. Suara musik menelusup telinga Selena seiring kakinya yang melangkah menuruni tangga, lantas melewati lorong panjang. Di ujung lorong, ingar bingar dunia malam yang dipenuhi dengan kesenangan terhampar di depan matanya.
Tanpa menunggu lagi, Selena mengedarkan pandangannya sembari melangkah cepat melewati orang-orang yang tengah berpesta. Tidak menemukan Ocean di lantai satu, Selena bergegas menaiki tangga, menuju ke lantai dua.
Sembari semakin menarik topinya ke bawah untuk menutupi wajahnya, Selena gesit melangkah melewati meja-meja yang penuh dengan botol minuman dan riuh rendah pengunjung. Ia mengesah frustrasi saat tidak menemukan Ocean—
Selena memelotot tajam saat ekor matanya menangkap seorang pria yang familiar di salah satu sofa, berada di tengah-tengah para wanita berpakaian minim yang masing-masing memegang gelas minuman.
Mata Ocean terpejam, sepertinya mabuk berat, namun dia menjadi pusat perhatian para wanita itu. Mereka memperhatikan wajah Ocean lekat-lekat, berbisik satu sama lain, lantas tertawa lebar. Satu-dua para wanita itu bahkan menyentuh lengan Ocean, tertawa lebih lebar lagi. Dan gigi Selena bergemeletuk saat melihat Agatha yang menyandarkan kepalanya ke bahu Ocean. Dia sepertinya juga mabuk berat.
Tangan Selena terkepal erat bersamaan dengan kakinya yang melangkah cepat ke meja itu.
Tawa para wanita itu lenyap perlahan begitu Selena berdiri di depan mereka. Wajahnya masih tertutup topi dan syal, namun aura kelamnya membuat suasana di meja itu menjadi berubah.
“Kau ... siapa?” Wanita yang memakai off shoulder dress merah yang duduk di samping Ocean mengernyit menatap Selena yang berpenampilan aneh.
“Enyah dari sini.” Selena berucap tajam, setengah mendesis.
“Apa? Kau pasti sudah gila—”
“Beraninya kau menyentuhnya, Sialan!” Selena berteriak, melompat ke depan Ocean, lantas mendorong wanita yang memakai dress merah itu ke samping hingga membuat para wanita di sampingnya ikut terdorong.
Mengambil kesempatan selagi para wanita itu sedikit menjauh dari Ocean sembari berseru-seru memaki, Selena mendorong pelipis Agatha dengan jari telunjuknya, membuat wanita itu terhuyung jatuh ke sofa. Satu masalah telah diselesaikan. Selanjutnya Selena merentangkan tangannya di depan Ocean, seolah menjadi tameng agar para wanita itu tidak bisa menjangkaunya.
“Wanita gila ini, kau mau macam-macam dengan kami?!” Wanita berbalut dress merah itu membentak, mendesis marah.
“Aku memang gila, terus kenapa? Kau mau ke rumah sakit jiwa bersamaku?” Selena menantang, tidak gentar sedikit pun.
“Si sialan ini. Menyingkir dari Ocean! Dia milikku malam ini.” Wanita itu memberikan sorot mengancam pada Selena
__ADS_1
“’Milikku’ pantatmu. Siapa yang kau bilang milikmu, heh? Mau kurobek mulutmu sekarang juga?” Suara Selena tidak kalah keras, lidahnya sudah lihai soal kata-kata kasar. Dia balas menatap seolah akan menghabisi wanita itu malam ini.
“Kau!” Kemarahan yang memuncak jelas tergambar di wajah wanita itu. “Bawa Ocean padaku.”
Tepat di ujung kalimat wanita itu, lima teman wanitanya yang juga sejak tadi duduk di sofa yang sama, bergegas melangkah ke arah Selena. Mengumpat pelan, Selena memutar otaknya, dia tidak bisa membuat masalah semakin berlarut-larut.
Dan Selena menyeringai ketika mendapati botol minuman di meja. Buru-buru dia meraih botol itu dan membenturkannya ke meja. Bunyi pecahan botol terdengar nyaring, beradu dengan musik kelab malam.
Seruan ngeri para wanita itu menyusul kemudian. Mereka melangkah mundur saat Selena mengacungkan botol yang pecah separuh, menampilkan sisi-sisi tajam yang tampak berbahaya.
“Kemari, biar kubuat kalian bersenang-senang di rumah sakit.”
Tidak ada yang berani mendekat, mereka merapatkan badan satu sama lain, berseru tertahan.
“Selena?”
Suara parau dan pelan itu membuat Selena menoleh, lantas spontan mendesis jengkel pada Ocean. “Kenapa kau baru bangun sekarang, Bodoh! Kau hampir saja menjadi headline surat kabar besok pagi!”
“Aku minum terlalu banyak.” Ocean memegangi kepalanya yang terasa pening.
“Tenang saja, Ocean. Aku akan melindungimu dari para rubah kelaparan ini. Memangnya hanya kau saja yang bisa melindungi orang lain? Aku juga bisa.” Selena masih siaga, tidak melepaskan tatapannya pada para wanita di depannya.
Ocean terkekeh, membenarkan posisi duduknya. Meksipun kondisinya sudah membaik, malam ini Ocean akan membiarkan Selena untuk melindunginya.
...****...
“Aku benar-benar akan mematahkan leher mereka jika bertemu lagi!” Selena mendengus keras, sedikit tertatih menuruni tangga karena harus memapah Ocean.
Tempat itu masih terus hidup, bahkan semakin membara meskipun hari sudah terlampau larut. Orang-orang di sana seolah memiliki energi berlebih, menikmati musik yang diputar dengan menggerakkan badan dengan bebas.
Sampai di lantai pertama, mereka masuk ke lorong panjang, di mana suasana di sana jauh lebih baik. Musik keras itu tertinggal di belakang.
“Aku juga akan membunuhmu jika kau minum lagi, Ocean. Kau benar-benar payah dalam hal ini.”
__ADS_1
“Kau tidak akan menjadi janda hanya karena aku minum banyak, Selena. Aku tidak seburuk itu.”
Selena melirik sinis Ocean. Tidak buruk apanya. “Nah, lihat pria kacau di depan itu. Kondisimu saat ini tidak berbeda sepertinya—”
Huek!
Selena terkesiap, spontan menghentikan langkah saat pria yang baru saja dibicarakannya muntah di baju wanita berbalut pakaian kerja yang tengah memapahnya. Hanya sedetik, hingga Selena terperangah saat wanita itu mendorong kasar si pria hingga membuat kepalanya membentur dinding lorong, menimbulkan bunyi ngilu, lantas seruan marah menyusul kemudian.
“OSCAR SIALAN, AKAN KUBUNUH KAU! DASAR BOS TIDAK BERGUNA!”
Selena melongo karena suara keras wanita itu, juga tingkahnya. Drama macam apa yang sedang terjadi di sini?
“Wah, dia terlihat lebih gila darimu, Selena.” Ocean berbisik.
“Kau tidak akan muntah di bajuku, bukan?” Selena sedikit memundurkan badannya, khawatir nasibnya akan berakhir sama dengan wanita di depan itu.
“Daripada itu ....”
Selena terkesiap saat Ocean sedikit mendorongnya ke arah dinding. Punggung Selena terasa dingin saat menyentuh di dinding putih mengilat itu. Ia merasakan derap aneh di dadanya, mendapati Ocean yang berdiri terlalu dekat dengannya.
“A-apa yang kau lakukan, Ocean? Kau masih mabuk berat rupanya.”
Ocean tersenyum samar, sedikit menurunkan badannya hingga membuat Selena menahan napas. Sayangnya dia tidak bisa mundur lagi, punggungnya telah sempurna menempel di dinding.
Namun kemudian, Selena terhenyak saat tangan Ocean bergerak melepaskan topi hitam yang masih dikenakannya, lantas beralih untuk melepaskan syal yang menutupi sebagian wajahnya. Tidak ada yang bisa Selena lakukan selain mengerjapkan matanya bingung.
Menggenggam topi dan syal di tangan kanannya, Ocean mundur selangkah, menatap lurus pada mata Selena.
“Tidak perlu bersembunyi, Selena. Sama seperti yang kaulakukan tadi, aku juga akan melindungimu malam ini.”
Dan Selena tiba-tiba merasakan tulang penopang kakinya seakan lenyap begitu saja. Malam ini, dia telah kalah hanya karena senyum tipis yang tercetak di wajah Ocean.
...****...
__ADS_1