
“Hai.”
Senyum Selena merekah saat menyambut kedatangan seorang pria bertubuh jangkung. Matanya yang berpendar terlihat serasi dengan wajah berserinya. Dari sudut mana pun, semua orang pasti bisa menyimpulkan bahwa Selena sedang dalam suasana hati yang amat baik.
“Kau terlihat semakin tampan, Felix. Aku senang melihatnya.”
Felix tertawa, menarik kursi di depan Selena. “Sebentar lagi penampilan perdanaku di Paris Fashion Week. Tentu aku harus mempersiapkan segalanya sebaik mungkin, bukan?”
Felix baik-baik saja. Itu lebih dari cukup.
“Haruskah aku meminta tanda tanganmu sekarang sebelum kau menjadi idola semua orang setelah ini?” Selena bergurau, meja itu dipenuhi tawa.
Berbincang ringan seperti ini, bercanda, Selena seperti dikembalikan pada momen-momen menyenangkan yang dia habiskan bersama Felix dua tahun belakangan ini. Felix yang mudah tertawa, Felix yang memancarkan aura positif, dan Felix yang menatapnya dengan hangat. Felix yang itu ternyata belum pergi.
Memutar telunjuknya di permukaan gelas, Selena diam-diam mengambil napas, sebelum kembali memusatkan tatapannya pada Felix di seberang kursinya. “Kau tahu, pertemuan terakhir kita tidak cukup baik dan aku sepenuhnya tahu di posisi mana aku bersalah. Padahal kau selalu baik padaku, padahal kau tidak melakukan kesalahan apa pun ... tapi aku berbuat seenaknya. Itu yang selalu muncul di kepalaku saat memikirkanmu.”
Meja itu lenggang sejenak saat Selena mengambil jeda untuk merenungkan perasaannya.
“Permintaan maafku mungkin terdengar omong kosong bagimu, tapi aku benar-benar ingin berteman baik denganmu, Felix. Aku ingin menempatkanmu sebagai sesuatu yang indah dan aku kagumi. Aku ingin mengingat semua kenangan baik bersamamu dengan cara dan perasaan yang sama. Biarpun tidak bisa memaafkanku, bisakah kau setidaknya membiarkanku melakukannya?”
Tatapan Felix bergeming pada tempat yang sama. Manik cokelat terang Selena selalu bisa menyihirnya. Namun sekarang, Felix tahu dia tidak bisa lagi tinggal di sana. Rumah untuknya pulang sejak awal sudah ditempati orang lain.
Seulas senyum tipis terbit di wajah Felix sebelum dia menegakkan punggungnya. “Aku tidak tahu apa yang sedang kaubicarakan, Selena. Kenapa pula kau meminta maaf untuk apa yang seharusnya terjadi. Ocean ... bukankah nama itu sebenarnya tidak pernah hilang dari setiap masa depan yang kaurangkai? Kalau membicarakan siapa yang bersalah di sini, tentu kesalahanku lebih besar karena mengkhianatimu. Kalian bahkan tidak melakukan apa pun selama kau menjalin hubungan denganku ....”
Felix meremas tangannya di bawah meja. Mencoba bersikap dewasa, melepaskan perasaan yang selama ini coba dia lindungi sebaik mungkin, ternyata tidak semudah yang dia bayangkan.
“Satu-satunya kesalahanmu adalah memilih Ocean daripada aku. Memangnya apa hebatnya berengsek itu selain wajah, kekayaan, dan tingkah yang keren—sial, kenapa dia sempurna sekali.” Felix pura-pura berdecak kesal sekaligus mengubah suasana di antara yang terasa membebani menjadi lebih santai.
Ucapan dan ekspresi Felix itu berhasil membuat Selena tertawa. Dan Felix selalu merasa senang mendengar suara tawa itu.
“Katakan padanya kalau aku ingin menantangnya minum lagi. Kali ini kupastikan si Tuan Sempurna itu akan menangis seperti bocah ingusan karena kalah dariku!”
Selena mengangguk, masih tergelak.
“Dan terima kasih karena pernah mencoba begitu keras untuk untuk mencintaiku, Selena. Aku benar-benar menghargainya.”
...****...
“Terima kasih sudah meluangkan waktumu, Agatha.”
__ADS_1
Wajah muram Agatha menjadi pemandangan pertama yang menyambut Ocean. Senyum menawan dan hangat yang khas dengan citranya tak tertinggal jejaknya. Sebagai gantinya, sorot mata dingin yang menghiasi wajah cantiknya. Untuk pertama kalinya, Ocean bertatap muka dengan versi Agatha yang lain.
“Aku tidak punya banyak waktu, Ocean. Cepat katakan apa yang ingin kaukatakan.” Agatha memosisikan diri di seberang kursi Ocean, namun matanya menatap ke arah lain. Terlihat jelas bahwa dia menghindari bertubrukan dengan mata Ocean.
Ocean tahu, ini tidak akan mudah bagi dirinya, pun Agatha. Namun bagaimanapun akhir yang akan tercipta, dia harus melakukannya, membicarakan dengan Agatha agar tidak lagi terjadi kesalahpahaman di masa depan.
“Dari sekian banyak orang yang kukenal, kau salah satu yang bisa membuatku merasa nyaman, Agatha. Aku suka dengan pembawaan dan pemikiranmu yang sejalan denganku. Kau teman mengobrol yang menyenangkan, pun partner kerja yang sempurna. Tidak pernah ada yang salah dalam dirimu.” Ocean memberikan prolog pembicaraannya.
Meskipun samar, Ocean bisa melihat ekspresi Agatha berubah. Dia seperti sedang menahan tangis dan napasnya mulai tidak beraturan.
“Hanya saja, aku bukan pria yang seharusnya berdiri di sampingmu untuk berbagi perasaan, Agatha. Kau berhak mendapatkan seseorang yang menerimamu tanpa melihat apakah kau menyenangkan atau tidak, apa kau sempurna atau tidak. Kau sungguh tidak perlu menungguku lagi ....”
Tangan Agatha mengepal erat. Dia tidak ingin mendengar kata-kata itu, dia masih ingin menunggu Ocean tidak peduli selama apa pun waktu yang dibutuhkan. Ocean adalah hidupnya, mimpinya, dan harapannya. Mana boleh Agatha melepaskannya semudah ini. Dia masih bisa melakukan sesuatu ....
“Kenapa ....” Suara Agatha terdengar parau. “Kenapa kau memilihnya, Ocean? Meskipun sudah tahu jawabannya, aku ingin mendengar langsung darimu.”
Ocean terdiam sejenak. Agatha jelas tidak mengharapkan jawaban apa pun. Sejatinya penghiburan diri untuknya sudah tidak ada lagi.
“Karena aku menemukan perbedaan. Ada dunia baru yang Selena bawa dalam hidupku,” jawab Ocean kemudian.
“Aku—aku juga bisa melakukannya, Ocean. Kau mau aku bertingkah ceroboh dan seenaknya? Atau kau mau aku menjadi aktris?”
“Aku bisa melakukan apa pun, menjadi apa pun yang kau inginkan. Jadi jangan memintaku untuk melepaskanmu. Aku tidak tahu harus bagaimana jika kehilangan harapan itu.”
Tangis Agatha pecah, bahunya bergetar. Untuk ukuran seorang wanita tangguh sepertinya, Agatha terisak dengan cara yang paling memilukan, seolah baru saja kehilangan dunianya.
“Kita masih bisa—”
“Tidak. Cukup sampai di sini pembicaraannya. Aku tidak mau dengar lagi.” Agatha bangkit berdiri, berderap cepat menuju pintu masuk ruangan.
Ocean segera mengejar, menarik tangan Agatha. “Dengarkan aku sebentar—”
Sedetik. Ocean membeku saat Agatha tiba-tiba memeluknya erat tepat setelah tangannya menyentuh pergelangan tangan wanita itu. Agatha menangis semakin hebat, seakan sedang meluruhkan seluruh rasa sakitnya di dada Ocean. Namun siapa pun yang melihatnya pasti tahu, Agatha sedang melafalkan ucapan selamat tinggalnya. Pada cinta, pada harapan, dan pada mimpinya yang resmi lenyap siang ini.
“Kau keparat berengsek. Aku membencimu ....”
...****...
“Apa-apaan perasaan menyebalkan ini? Dia pasti menganggapku seonggok patung tidak berguna. Apa benar dia menyukaiku? Seharusnya dia menikahi berkas sialan itu saja kalau begitu.” Selena berdecak sebal sembari memandang Ocean yang sibuk dengan berkas-berkasnya yang bertumpuk, sementara dia di meja makan menikmati secangkir cokelat hangat.
__ADS_1
Beberapa hari belakangan memang Ocean sedang super sibuk. Ada proyek pembangunan hotel baru di Swiss, sekaligus langkah perdana La Sky Land menjajaki tanah Eropa. Ocean hampir tidak ada waktu untuk beristirahat, jam tidur dan makannya benar-benar berantakan. Dia harus memastikan proses perencanaan awal pembangunan berjalan dengan baik.
Untuk makan saja, Ocean hampir tidak sempat, apalagi untuk Selena. Mengobrol sepanjang malam? Selena mendecih saat mengingat perkataan Ocean tempo lalu.
Mendengus keras, Selena berderap dengan langkah lebar-lebar ke taman. Mungkin menikmati angin malam yang berembus cukup untuk membuat kekesalannya memudar.
Rumput taman yang setengah basah sisa hujan sore tadi menyambut Selena ketika dia menginjakkan kaki di sana. Di saat yang bersamaan, ia merapatkan kardigan. Ternyata udara malam kali ini jauh lebih dingin dari biasanya.
Selena baru ingin beranjak menuju kursi, ketika merasakan sebuah kain lebar disampirkan ke pundaknya, disusul sepasang tangan dari belakang yang melingkar di perutnya.
“Aku lelah sekali ....” Ocean menenggelamkan wajahnya di bahu Selena. Tubuhnya tampak lesu, seakan belum tidur berhari-hari.
“Wah, akhirnya kau berpaling dari pacarmu itu, ya? Kukira kau akan menikahinya.” Selena memutar matanya.
Ocean tertawa kecil, semakin merapatkan pelukannya. “Berkas-berkas itu tidak bisa marah-marah sepertimu. Nanti aku akan bosan kalau menikahinya.”
“Kaupikir aku tidak bosan? Sepanjang hari melihatmu bekerja tanpa henti, aku seperti akan gila, tahu.”
“Kau, ‘kan, memang sudah gila sejak dulu.” Ocean tertawa semakin lebar, rasanya satu beban besar luruh dari pundaknya saat menggoda Selena. “Baiklah, aku bercanda, Selena. Jangan pergi dulu. Tetap seperti ini sebentar lagi.”
Selena mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana setelah menendang tulang kering Ocean. Sebagai gantinya dia berbalik, hingga mereka berhadapan. “Lihat kantong mata ini. Lama-lama kau jadi mirip zombi.” Selena menyentuh wajah Ocean, mengusap kantong matanya yang sedikit menghitam karena kurang tidur.
Tangan Ocean bergerak untuk menggenggam tangan Selena di wajahnya, merasakan hangat dari sana. “Kau akan meninggalkanku kalau aku tidak tampan lagi?”
Satu alis Selena terangkat. “Apa kau baru saja mengakui kalau kau tampan?”
“Yah ... orang-orang sering menyebutku begitu sejak kecil. Dan setelah kulihat-lihat, mereka berkata apa adanya.”
Selena tertawa—pada akhirnya. Ia lantas memeluk Ocean sekaligus menyalurkan selimut yang membungkusnya. “Baiklah, Tuan Tampan. Sekarang biarkan aku menguasaimu sebentar sebelum kau kembali pada pacarmu.” Aroma pewangi pakaian yang lembut dari kaus Ocean, terasa menyegarkan di hidung Selena. Ia memejamkan matanya, menikmati ketenangan itu.
Ocean mengeratkan pelukannya, mencium lama rambut Selena. “Setiap orang punya kisahnya sendiri. Menulis halaman pertama pada setiap fase hidup selalu menjadi pengalaman yang menarik. Aku merasa terhormat bisa menulis namamu pada halaman pertama kisah tentang di mana aku akan menyerahkan hidupku, menjadi kata pembuka untuk fase ini, Selena.”
Ucapan lembut Ocean yang terdengar seperti alunan lagu paling merdu di telinga, membuat Selena mendongak. Mata sekelam lautan malam itu, kini memancar hangat, membawa Selena hanyut dalam perasaan paling menenangkan.
Selena telah menemukan lautannya. Dia tahu, berenang seumur hidup di lautan itu, tidak akan pernah cukup untuknya. Dia akan terus tinggal di sana, bahkan jika harus bertemu dengan ombak paling berbahaya sekalipun. Selena tidak akan pernah meninggalkan lautannya ....
Ketika pandangan mereka bertemu, dua sudut bibir Ocean tertarik ke atas dengan cara paling menawan, membalas tatapan penuh makna Selena.
“Kuharap tidak ada halaman terakhir pada kisah ini.”
__ADS_1
...****...