
Dinding putih seolah menjadi objek paling menarik di mata Selena seiring tubuhnya yang minim bergerak setengah jam belakangan. Kakinya terbungkus selimut, dua bantal di belakang punggung menjadi sandarannya. Dalam posisi duduk seperti ini, Selena seperti patung yang hanya mengerjapkan matanya setengah menit sekali. Ekspresinya kuyu, kepalanya penuh dengan berbagai pemikiran.
Suara pintu terbuka memecah lenggang di sana. Ocean dengan setelan jasnya menghela napas melihat kondisi Selena yang tampak payah itu.
“Kenapa obatnya belum juga diminum?” Ocean menggerakkan telapak tangannya ke kening Selena, memeriksa suhu tubuhnya. “Masih pusing?”
Selena masih bergeming; tidak menoleh atau mengalihkan pandangannya dari dinding putih. Wajahnya sama sekali tidak meninggalkan jejak semangat barang secuil pun.
“Jangan pedulikan aku, Ocean. Fokus saja pada meeting-mu.” Akhirnya Selena mengeluarkan suaranya, pelan dan hampir tanpa nada.
Tangan Ocean meraih tablet obat yang diberikan dokter beberapa saat yang lalu, juga gelas berisi air putih. “Aku akan pergi meeting lagi jika kau sudah meminum obat.”
Obat dan minuman yang disodorkan di depannya membuat Selena mengembuskan napas pelan, meraihnya. Baiklah, dia akan menurut. Yang Selena inginkan saat ini hanyalah Ocean segera enyah dari sana.
“Kulihat sejak tadi kau berusaha keras untuk tidak menatapku, Selena.” Ocean mengambil alih gelas, meletakkannya di meja.
Bahkan kini Selena tidak punya tenaga untuk mengeluhkan kepekaan Ocean, meskipun hanya dalam hati. Selena hanya belum siap menatap wajah Ocean, lantas ketakutan akan perasaan itu mulai membayang semakin pekat. Dengan kata lain, Selena masih belum siap menghadapi perasaannya sendiri.
“Perasaanmu saja.” Selena sedikit membuang muka.
Lenggang sejenak. Ocean menatap lekat Selena. “Karena permainan air atau Agatha yang datang ke pantai?”
Selena spontan menoleh ke arah Ocean, mengangkat wajah.
“Ah ... karena Agatha rupanya. Ada sesuatu yang kalian bicarakan saat aku pergi.”
Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. Selena baru ingin menyangkal, mengatakan apa saja asal Ocean tidak berhasil menerka apa yang terjadi, ketika pintu kamarnya berdebum terbuka. Wajah khawatir seseorang di depan sana menjadi pusat atensi Ocean dan Selena.
__ADS_1
“Felix. Pria itu yang menjadi pembicaraan kalian.” Ocean bersedekap, menyimpulkan, lantas melirik Selena. “Baiklah, nikmati waktu kalian. Sepertinya kau tidak butuh aku lagi, Selena.”
Genap ujung kalimat Ocean, Felix tergopoh mendekat setelah sebelumnya mencoba menganalisis keadaan di ruangan itu. Dia sempat berpapasan dengan Ocean yang melangkah menuju pintu, namun tidak berniat untuk menyapanya.
“Kudengar kau sakit, Selena. Aduh, wajahmu pucat sekali. Sudah minum obat? Biar aku ambilkan.” Felix terlihat gusar dan khawatir sekali. Dia bergegas mengambil obat dan air putih di meja.
Tanpa Felix sadari, sejak tadi Selena hanya menatap pada satu titik. Punggung yang mulai menjauh itu seolah menjadi objek paling memikat di mata Selena, membawanya berbisik, terkalahkan gemerisik kemasan obat yang dibuka oleh Felix.
“Bukan Felix, Bodoh. Masalahnya adalah kau. Selalu kau.”
...****...
Embusan angin yang cukup kencang membuat Selena merapatkan kardigan yang membalut tubuhnya. Debur ombak kembali mengalunkan irama yang membuat hati terasa damai, sama seperti saat berada di Pantai Pink. Bedanya, kali ini pasir putih yang ada di pinggir pantai, bukan merah muda.
Kondisi Selena sudah jauh lebih baik setelah mencoba membujuk diri sendiri agar tidak tenggelam dalam perasaan yang baru dia sadari. Sejak awal, bukan sakit fisik yang membuatnya kehilangan rona di wajahnya.
Selena menoleh saat Felix mengusap bahunya pelan, menyalurkan hangat.
Selena menggeleng sebagai tanggapan, mengalihkan pandangan pada Ocean dan Agatha yang berjalan di depan mereka, mengobrol ringan.
Pemandangan seperti itu cepat atau lambat akan sering Selena lihat, sehingga dia harus mulai membiasakan diri. Memangnya kenapa kalau dia sadar akan perasaannya kepada Ocean? Selena jelas tidak mau terjebak dalam kubangan yang sama, dengan bodohnya mengakui semuanya, lantas berakhir menyedihkan seperti dulu lagi. Tidak ada yang bisa dia lakukan, apalagi masih ada Felix yang setia berada di sampingnya. Selena akan menjadi orang yang jahat jika mencampakkan Felix begitu saja.
“Wah, di sini sunset-nya indah sekali .... Lihat itu, Selena.”
Langit jingga tampak begitu menawan, berhiaskan arak awan kelabu dan bola matahari yang perlahan tertelan garis horison. Sinar keemasan terpantul pada biru air laut dan ombak yang bergulung. Satu-dua perahu berlayar lambat, layar putihnya terkembang.
Di atas jembatan yang membentang di tengah laut seperti ini, pemandangan spektakuler matahari tenggelam terasa jauh lebih indah. Selena seperti dilemparkan ke dunia lain. Hanya ada keindahan dan keindahan.
__ADS_1
Pantai Waecicu memang seindah yang dibicarakan orang-orang. Kalau tadi pagi Selena menyeret Ocean untuk melihat Pantai Pink yang harus menyebrangi lautan, di pantai ini mereka cukup melakukan perjalanan darat sebentar, dekat dengan hotel tempat mereka menginap. Pemandangan di sana tidak kalah cantik. Bukit-bukit menjulang berpadu dengan jernih air dan ombak yang tenang, benar-benar memanjakan mata.
Ocean juga menghentikan langkahnya, menatap matahari yang sebentar lagi akan benar-benar tertidur.
“Oh, lihat, Ocean. Murmuration.” Agatha dengan gerakan halus melingkarkan tangannya pada lengan Ocean, menunjuk ratusan burung camar yang terbang membentuk formasi di atas sana. Meliuk, berubah bentuk ... benar-benar mahakarya alam yang memesona.
Selena menggigit pipi dalamnya, menahan kesal. Setelah memanggil Felix untuk datang ke Labuan Bajo tanpa sepengetahuannya, kini Agatha terang-terangan memulai aksinya. Dia tidak boleh terpancing, dia tidak boleh—
“Tempat ini cocok sekali untuk berbulan madu, Felix.” Meniru gerakan Agatha, Selena juga menggandeng lengan Felix. Memangnya hanya mereka yang boleh bermesraan. “Kita akan ke sini setelah menikah nanti, bukan?”
Felix terkesiap dengan tingkah tiba-tiba Selena, juga perkataannya. “Menikah?”
“Tentu saja kita harus menikah suatu hari nanti. Kau berencana menceraikan aku, ‘kan, Ocean?”
Senjata makan tuan. Selena jadi gugup karena pertanyaannya sendiri, apalagi setelah mendapati alis Ocean yang sedikit terangkat ketika menatapnya. Bilang tidak, Bodoh. Kau tidak boleh menceraikanku semudah ini.
“Kurasa kita bisa membicarakan masalah personal di tempat yang lebih baik, Selena. Pantai jelas bukan tempat yang cocok untuk membicarakannya.”
Apa-apaan jawaban ambigu itu. Maksudnya kalau di tempat yang cocok, dia tidak akan segan menandatangani surat perceraian? Selena mengumpat tanpa suara. Bagaimanapun kondisinya, Ocean tetap saja menyebalkan.
“Ah, benar juga. Kalian sudah lama berpacaran, ya? Aduh, aku iri sekali. Pasti rasanya menyenangkan bisa menemukan potongan hati satu sama lain.” Agatha menampilkan raut seolah begitu antusias dengan hubungan Selena dan Felix. “Bagaimana menurutmu, Ocean? Bukankah Selena dan Felix terlihat seperti pasangan serasi?”
Yang Selena pelajari sejak menikah dengan Ocean adalah jangan terlalu banyak berharap. Pria itu benar-benar tidak bisa ditebak ingin melakukan atau berbicara apa. Kadang bisa kejam seperti Daendels, tapi di lain waktu bak pahlawan yang bisa melindungi segala hal.
Selena jadi tidak berekspektasi lebih terhadap jawaban Ocean. Tapi karena pria itu membenci hal-hal bodoh yang tidak menguntungkannya, paling-paling dia akan mengangkat bahu tidak peduli atau mengangguk masa bodoh agar Agatha cepat diam.
“Entahlah, Agatha. Tapi kurasa Selena keberatan dengan ucapanmu.”
__ADS_1
Selena tersedak angin, terbatuk beberapa kali sebelum akhirnya memelotot tajam pada Ocean yang menyeringai menyebalkan. Untuk yang kedua kalinya, Ocean berusaha mengadu domba Selena dan Felix. Entah apa tujuannya.
...****...