Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 14| TENTANG LUKA DAN MENUNGGU


__ADS_3

Lenguhan pelan Selena menjadi pengiring ketika pintu kamarnya dibuka oleh Ocean, memberikan jalan agar Felix bisa masuk. Selena di punggung Felix terlihat bergerak-gerak pelan, seperti kurang nyaman dengan posisinya saat ini.


Ocean hanya bisa berdiri di ambang pintu, menyaksikan Felix dengan hati-hati menidurkan Selena di tempat tidur, menyelimutinya hingga ke perut. Ocean membuang muka kala Felix mengusap rambut Selena dengan sayang beberapa kali, lantas mendaratkan kecupan singkat di keningnya.


“Kudengar kau menyelamatkan Selena dari percobaan penculikan di Alaska, ya? Terima kasih karena telah menjaga Selena, Ocean.” Felix memecah keheningan, menatap Ocean yang terpaut beberapa meter darinya.


“Tidak perlu berterima kasih. Kalaupun itu orang lain, bukan Selena, aku tetap akan melakukan hal yang sama.” Ocean menimpali datar. “Bukankah supirmu sudah menunggu, Felix?”


Felix kembali memusatkan perhatiannya pada Selena yang terlelap. Wajah damai Selena yang hanyut dalam mimpi, kali ini malah menaburkan luka di hati Felix saat pikirannya kembali ke kelab malam beberapa saat yang lalu. Selena menghampirinya dengan kondisi yang kacau. Maskara luntur, rambut berantakan, dan kesedihan yang menggelayut di wajahnya.


Belum sempat Felix bertanya apa yang terjadi, tanpa aba-aba, Selena menenggak bir dari botolnya langsung, menghabiskan setengahnya dalam sekali minum. Felix mencoba menghentikannya, namun Selena benar-benar kehilangan kendali, menjauhkan tangan Felix yang hendak merebut botol minuman.


Beradu dengan musik kelab malam yang memekakkan telinga, Selena menghabiskan empat botol bir sebelum akhirnya tumbang, mabuk berat. Selama itu, dia terus menceracau tentang Ocean, memakinya sebagai keparat berengsek tanpa hati.


Setiap umpatan yang keluar dari bibir Selena terdengar seperti lagu perpisahan bagi Felix. Tak terhitung berapa kali dia merasakan sesak yang membelenggu, separuh nyawanya seperti melayang pergi. Tanpa perlu bertanya, tanpa perlu ada jawaban, Felix tahu, hati Selena bukan lagi miliknya.


Mencoba mengusir jauh kejadian pahit yang belum lama berlalu, Felix sekali lagi membenarkan selimut Selena, berucap pelan, “Aku akan pergi sekarang.”


Felix baru membalikkan badan, hendak melangkah pergi, ketika gerakannya terhenti. Dia menoleh demi menemukan jemari Selena bergerak lemah meraih tangannya. Ocean di depan sana juga ikut memusatkan atensi tanpa bisa mempertahankan raut datar yang seolah menjadi ciri khasnya selama ini.


“Jangan pergi ....” Selena berucap pelan—lebih terdengar seperti menceracau, matanya masih terpejam.

__ADS_1


Seolah sedang membodohi diri sendiri, senyum Felix mengembang mendengar ucapan Selena. Dia menatap Ocean seolah meminta persetujuan agar bisa tinggal di sana malam ini. Ocean menghela napas samar, mengangguk pelan, lantas menutup pintu kamar.


Buru-buru Felix meletakkan ponselnya di meja, melepas jaketnya, hingga dia tidak sadar bahwa Selena kembali menceracau lebih lirih dari embusan angin, terkalahkan oleh deru mesin pendingin ruangan.


“... Ocean.”


...****...


Kepala Selena terasa begitu berat saat dia membuka mata. Perutnya bergejolak, rasa mual menyeruak hingga ke kerongkongan. Selena memegangi kepalanya saat beranjak duduk di tempat tidur, mencoba melemaskan kepalanya dengan gerakan ringan, hingga ia tersentak kaget saat menemukan Felix yang tidur di sebelahnya.


Mata Selena mengerjap dalam tempo lambat, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Sekeras apa pun Selena mencoba, yang tertangkap di pikirannya hanya sampai pada saat dia menenggak bir dari botolnya langsung, dengan Felix yang menatapnya heran.


Entah karena efek mabuk yang masih tersisa, atau memang suasana hatinya sedang buruk, Selena jadi kesal sekali saat menyadari bahwa Ocean mengizinkan Felix tidur di rumah mereka. Pria itu ternyata benar-benar menganggap Selena tidak penting, bahkan mungkin pengganggu dalam hidupnya.


Melihat wajah tanpa dosa Ocean, gumpalan kemarahan yang sempat reda, tak pelak kini kembali membesar. Tidak butuh waktu lama, Selena yakin emosinya akan meluap jika terus dihadapkan pada wajah menyebalkan Ocean.


Tanpa merasa perlu menyapa, Selena melengos melewati Ocean, mengambil air di lemari pendingin.


“Aku minta maaf karena terlambat mengabarimu, Selena.” Ocean menatap cangkir kopinya, merobek keheningan.


Tidak ada jawaban. Hanya terdengar gemercik air yang dituang ke dalam gelas.

__ADS_1


Ocean menoleh, menghela napas. “Kita sudah sepakat untuk saling menyampaikan keluhan, ketidaksukaan akan sesuatu, daripada marah seperti ini. Kau—”


“Maka dari itu kenapa kau berjanji jika tidak bisa menepatinya, Ocean!” Selena menyergah cepat, emosinya yang susah payah diredamnya akhirnya tersulut juga.


“Agatha—”


Mendengar nama itu disebut Ocean, Selena mengentakkan gelas ke meja. Tatapannya berubah nyalang dan sarat akan kemarahan yang menggebu. "Kalau sebegitu sukanya dengan Agatha, kenapa kau tidak menikah saja dengannya? Kenapa malah aku yang diseret dalam pernikahan bodoh ini?” Napas Selena menderu ketika dia mengambil jeda sejenak. “Aku ... aku bahkan sudah mengumumkan ke kerumunan wartawan, menunggu seperti orang bodoh di pesta ulang tahun yang telah usai. Kau memang keparat ....”


Selena mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Bukan ... ini sungguh bukan soal pandangan orang-orang terhadap dirinya yang terlihat menyedihkan atau hanya bermulut besar, tapi tentang harapan yang Selena taruh pada Ocean.


Padahal dia sudah menunggu. Padahal dia sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Padahal dia sudah berharap akan menikmati sesuatu yang menyenangkan bersama. Nyatanya, Selena hanya menemui harapan kosong. Seberapa lama pun Selena menunggu, Ocean akan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berharga.


Emosi yang meluap membawa kaki Selena berderap cepat meninggalkan dapur. Sampai di pintu, langkah Selena terhenti saat melihat Felix di sana, berdiri diam menyaksikan drama yang terjadi.


“Felix ... ayo kita pergi dari sini. Aku tidak mau di sini lagi.” Selena memegang lengan Felix dengan ekspresi penuh harap. Matanya memerah menahan tangis.


Bukannya merasa senang, Felix justru merasa jantungnya seperti ditikam ribuan sembilu. Raut penuh kekecewaan di wajah Selena yang terlihat sendu, mengirimkan luka pada setiap embusan napas Felix.


Sama seperti Selena, sejatinya mimpi Felix juga mulai memudar. Dia juga sedang menunggu. Selena-nya telah pergi, dan entah butuh berapa lama hingga dia akan kembali seperti dulu.


Mata Felix beradu dengan manik kelam milik Ocean ketika dia mengalihkan pandangannya dari Selena. Seperti ada benang merah yang memercikkan api di antara mereka, Felix menarik Selena ke dalam pelukannya, berbisik, “Aku akan membawamu pergi dari sini, Selena. Ayo kita ke tempat yang lebih indah.”

__ADS_1


Dan Ocean hanya bisa menatap kepergian Selena dan Felix dengan posisi yang masih sama. Dia tidak punya kuasa untuk menghentikan Selena keluar dari rumahnya.


...****...


__ADS_2