Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 35| PENDUKUNG NOMOR SATU


__ADS_3

“Kau di mana, Ocean? Cepat kemari! Aku bisa mati konyol sebentar lagi.”


Suara Selena di seberang sana terdengar begitu tertekan dan putus asa. Ocean seolah bisa melihat raut memelas yang dibumbui dengan muak luar biasa. Menghadapi ibu-ibu yang terlalu bersemangat memang selalu sulit.


Siang tadi, Adira dan Lilian datang untuk menjemput Selena. Karena kesalahpahaman sialan saat Adira menginap tempo hari, kini betulan mendatangkan petaka bagi Selena. Adira tidak main-main atas segala ucapan yang keluar dari bibirnya. Sekarang, mereka benar-benar sedang berbelanja perlengkapan bayi meskipun mulut Selena sudah berbusa mengatakan bahwa dia sama sekali tidak hamil. Kedua wanita itu tidak peduli, bilang perlengkapan ini pasti akan dibutuhkan sebentar lagi. Mereka bersemangat keliling toko bayi, mengambil apa pun yang mereka rasa menggemaskan.


Dan ya, Selena tidak memiliki jalan keluar selain menunggu Ocean menyelamatkannya.


“Aku tidak bisa ke sana sekarang, Selena. Sebentar lagi aku ada pertandingan basket.” Tangan Ocean sibuk mengikat tali sepatunya.


“Pertandingan apa? Kau gila? Aku tidak mau mati sendirian, Ocean. Kumohon cepat ke sini ….”


Mendengar suara Selena yang seperti hilang harapan untuk diselamatkan dari jurang neraka itu sukses membuat Ocean tersenyum tipis. “Baiklah, aku akan menyuruh Noah untuk menjemputmu. Bilang pada mereka kalau aku membutuhkanmu untuk mendukungku.”


“Yes! Suruh Noah sampai di sini kurang dari sepuluh menit.”


“Ap—”


“Kututup teleponnya!”


Sambungan terputus. Ocean menggelengkan kepalanya pelan sebelum jemarinya lincah mengetik di layar ponsel, menyuruh Noah untuk menjemput Selena.


“Wah, apa ini. Ternyata kau bisa tersenyum macam remaja yang sedang merasakan cinta monyet, Ocean?” Austin menyampirkan lengannya di bahu Ocean sembari menggerakkan kedua alisnya naik-turun untuk menggodanya.


“Jangan bicara omong kosong dan singkirkan tanganmu, Austin.” Ocean membalas tajam.


“Berhenti menggodanya, Austin, nanti wajah cassanova kita ini semakin memerah.” Temannya yang lain, Xavier—yang pernah mengundang Ocean dan Selena di pesta pernikahannya—tertawa puas, kesempatan untuk mengolok-olok Ocean akhirnya datang juga.


“Cukup main-mainnya, Anak-Anak.” Agatha muncul dari pintu locker room, sejenak menyelamatkan Ocean dari pembicaraan bodoh teman-temannya. “Segera keluar. Pertandingan akan dimulai lima menit lagi.”


Dengan baju sport-nya, Agatha menepuk tangannya, memberi kode agar para pemain yang belum selesai bersiap-siap untuk bergegas.


Pertandingan basket ini rutin dilakukan setiap enam bulan sekali. Awalnya hanya untuk menyalurkan hobi para ‘pewaris takhta perusahaan’ yang lelah berkutat dengan berkas-berkas menyebalkan yang harus mereka pelajari sebelum duduk di singgasana. Namun, seiring berjalannya waktu, pertandingan ini sama mahalnya dengan harga diri. Label winner atau loser akan melekat dalam diri mereka enam bulan ke depan.


Dan Agatha selalu menjadi orang yang mengurus segala keperluan. Menyewa lapangan, menyiapkan seragam, menyediakan minuman dan makanan, bahkan menyiapkan handuk kualitas tinggi ... dengan senang hati Agatha melakukannya. Dia terlihat menikmati saat mondar-mandir mengurus ini dan itu.


“Aku tidak akan heran jika tahun depan kau diangkat menjadi asisten pelatih di Warriors, Agatha.” Austin mengacungkan jempolnya. “Manusia yang setipe dengan Ocean memang bisa diandalkan di mana-mana.”

__ADS_1


Delapan pemain di locker room, melangkah keluar setelah bersorak untuk menambah semangat.


“Tunggu sebentar, Ocean.” Agatha menyentuh bahu Ocean hingga membuatnya menoleh, berhenti berjalan sejenak. “Coba berikan tangan kananmu.”


Alis Ocean terangkat tinggi sebelum dia sedikit mengangkat tangan kanannya, setengah ragu.


Agatha tersenyum lebar, mengambil sesuatu di saku celananya. Sebuah wristband. Dengan gerakan lembut Agatha memasangkan benda itu di pergelangan tangan Ocean, lantas tersenyum lebih lebar lagi. Wristband abu-abu yang sengaja dia pesan khusus itu, dengan inisial ‘OC’ di bagian depannya, terlihat pas sekali di tangan Ocean.


“Semoga sesuai dengan seleramu.”


Menatap sejurus wristband di tangannya, Ocean mengangguk. “Terima kasih, Agatha. Aku akan menggunakannya dengan baik.”


Dan kepala Agatha perlahan menunduk. Dia tidak ingin Ocean melihatnya tersipu sekarang.


...****...


“Wah, sudah dimulai pertandingannya!” Selena mempercepat langkahnya, melewati orang-orang di tribun penonton, lantas memosisikan diri di depan salah satu kursi dengan diikuti Noah di sampingnya. “Oh, itu Ocean, Noah!”


Mata Selena berpendar-pendar saat melihat Ocean sedang men-dribble bola dengan gesit, melakukan beberapa gerakan mengecoh lawan, untuk kemudian menyelinap di antara dua pemain lawan yang mati langkah. Dihadang dua orang lagi, Ocean mengoper bola ke Xavier di sisi kiri. Mempertahankan posisi di three-point line, Xavier mengembalikan bola kepada Ocean. Sebelum lawan berhasil menginterupsi atau melakukan persiapan blokade, Ocean dengan cekatan melakukan shooting sembari melompat kecil.


“KAU YANG PALING KEREN, OCEAN! SEPERTI DEWA BASKET!” Selena berteriak heboh sembari melompat dan bertepuk tangan.


“PAK OCEAN PALING LUAR BIASA!” Noah menyahut, ikut bertepuk tangan.


Teriakan mereka berdua bukan hanya merebut atensi para pemain di lapangan saja, bahkan para penonton ikut menoleh. Namun Selena dan Noah tidak peduli, mereka masih berteriak-teriak memuji Ocean setinggi langit.


“Istrimu memang luar biasa, Ocean.” Xavier berbisik, lantas melambaikan tangan ke arah Selena dengan ceria.


Berbanding terbalik dengan reaksi Xavier, Ocean melemparkan tatapan tajam, menyuruh Selena dan Noah untuk menutup mulut. Kata-kata mereka benar-benar norak dan memalukan.


“Hei, bukankah itu Daniel si berengsek bodoh, Noah?” Selena berbisik, menatap lekat-lekat pria jangkung yang sedang bertanding sebagai lawan Ocean. Dia masih ingat sekali bagaimana pria itu mencoba merendahkannya sebagai ‘aktris tempelan’ di pesta pernikahan Xavier.


“Itu memang Tuan Daniel, Nyonya. Dia selalu ingin menjadi rival Pak Ocean di mana pun. Saya juga kesal sekali kalau melihat tuan itu.” Noah ikut menatap sinis Daniel yang kini tengah mencoba menghalau dan merebut bola dari Ocean.


“KALAHKAH DIA, OCEAN! BUAT DIA MENANGIS!” Teriakan Selena semakin membara, dendamnya pada Daniel masih perlu dituntaskan.


Ocean melakukan crossover, gesit melewati Daniel, lantas melakukan dribble cepat. Pergerakannya tak terbendung, Ocean meluncur menuju ring seiring dua pemain lawan yang bersiap melakukan block. Sebelum mereka siap sepenuhnya, Ocean sudah melompat tinggi dengan bola terangkat di tangan kanannya. Ia menerjang lawan, mengarahkan bola ke ring sekuat tenaga.

__ADS_1


Peluit wasit sekali lagi terdengar bersama dengan gemuruh penonton. Itu poster dunk yang mengagumkan.


“Astaga, astaga, dia benar-benar seperti jelmaan Michael Tyson!” Selena bertepuk tangan semakin heboh.


“Michael Jordan, Nyonya.” Noah mengoreksi.


“Omong-omong, Noah. Toilet ada di mana?”


“Ah, toilet. Nyonya harus turun dari tribun, lalu ke pintu di samping lapangan. Mau saya antar?”


“Aku bukan anak kecil, Noah. Tidak usah.” Selena mengibaskan tangannya, mulai berjalan menuruni tribun.


“Hati-hati saat berjalan di samping lapangan, Nyonya. Jangan sampai terkena bola!” seru Noah, mencoba mengalahkan suara penonton.


Selena mengangkat tangannya tanda mengerti. Ia sampai di pinggir lapangan bersamaan dengan penonton yang kembali bersorak. Kali ini untuk Daniel yang baru saja melakukan slam dunk. Pria itu bahkan masih bergelantungan di ring, mengekpresikan kesenangannya dengan menggoyang-goyangkan ring. Yang Selena sadari, tatapan Daniel sejak tadi terarah pada Ocean, seolah ingin menunjukkan bahwa dia juga bisa melakukan sesuatu yang sama hebatnya.


Bertepatan dengan Daniel yang turun dari ring, pertandingan berlanjut. Ocean men-dribble bola dalam tempo lambat di garis belakang pertahanannya sembari memberi arahan pemain lain untuk bersiap di posisi masing-masing. Selena baru ingin memberi semangat lagi, mengingat jaraknya dan Ocean cukup dekat, saat ekor matanya menangkap sesuatu yang janggal.


Detak jantung Selena perlahan mulai tidak terasa lagi dan lidahnya terasa kelu luar biasa. Ketakutan mendalam menyeruak dalam diri Selena seiring kakinya yang dia paksa untuk melangkah secepat mungkin ke arah Ocean yang masih sibuk berkomunikasi dengan rekan setimnya.


Setiap langkah kaki Selena turut serta membawa ribuan permohonan yang tidak pernah dia lisankan. Jaraknya dan Ocean yang hanya selemparan baru tiba-tiba terasa begitu jauh.


Tidak boleh. Tidak boleh terjadi apa-apa dengan Ocean.


Jarak semakin terkikis, berkejaran dengan waktu. Tiba di belakang Ocean, tangan Selena terulur, mendorongnya sekuat tenaga untuk menjauh.


Belum sempurna Ocean menoleh ke belakang, bola di tangannya terlepas begitu saja saat sesuatu yang mengerikan tersaji di depan matanya.


“Ocean—”


Bruk!


Pyar!


Ring basket berbahan dasar besi itu telah menimpa Selena.


...****...

__ADS_1


__ADS_2