
“Sebelah situ masih kotor, Ocean. Wah, padahal kau selalu berteriak marah kalau aku yang melakukannya.” Selena menunjuk area lantai yang masih tertinggal debu tipis, santai memakan kacang kulit sembari berbaring di sofa.
Hari Minggu. Jadwal Ocean memasak dan membersihkan rumah. Sore tadi mereka pulang dari Labuan Bajo. Beristirahat sebentar, Ocean akhirnya melakukan tugasnya setelah Selena mengomel panjang, berbicara tentang tanggung jawab dan kehormatan sebagai pria.
Dan kini, dengan vacuum cleaner yang berada di tangannya, Ocean menggerakkan benda itu ke area yang ditunjuk Selena tanpa banyak bicara.
“Kenapa kau tidak bersemangat sekali? Apa tenagamu sudah habis setelah seharian jalan-jalan dengan Agatha kemarin?” Selena mendengus pelan. “Pokoknya aku ingin sop buntut dan ayam goreng sebagai menu makan malam. Itu artinya, dua jam lagi semuanya harus sudah siap.” Selena kembali memakan kacangnya, berusaha mengusir jauh-jauh wajah Agatha yang tiba-tiba terbayang di benaknya.
“Dengan bertingkah begini, sepertinya kau tidak memperhitungkan apa yang akan aku lakukan padamu enam hari ke depan, Selena.”
Ucapan tenang Ocean berhasil membuat Selena tersentak. Sial, mau balas dendam saja dibalas dengan ancaman yang lebih kejam.
Bel rumah yang berbunyi membuat makian Selena yang telah sampai di ujung lidah menjadi tertelan begitu saja. Meninggalkan vacuum cleaner di samping sofa, Ocean melangkah untuk melihat siapa yang berkunjung ke rumah mereka.
Dan mata Ocean melebar sedetik setelah membuka pintu, mendapati seorang wanita paruh baya dengan dress panjangnya, menenteng tas mewah. “Ibu? Ada ada kemari?”
Ibu? Seperti baru saja tersambar petir, Selena bergegas merapikan penampilannya yang berantakan. Ibu mertuanya bisa jantungan kalau melihat posisi Selena tadi; satu kaki naik ke atas sandaran sofa dan rambut yang awut-awutan. Apalagi jika Adira mengetahui dia yang bermalas-malasan, sementara putranya sibuk bebersih rumah, bisa-bisa Selena ditendang dari rumah itu sekarang juga.
Di depan pintu, Adira dengan wajah masamnya mendengus pelan. “Kenapa lagi. Ayahmu membuatku kesal karena sikap keras kepalanya.” Adira mendesis. “Menyingkir dari pintu, Ocean.”
Ocean terkesiap, sepertinya dia tahu tujuan Adira datang ke rumahnya. “Tunggu dulu—”
Perkataan Ocean terpotong karena Adira sudah mendorongnya, membuat jalan masuk menjadi lebih lebar. Selena sudah memasang senyum terbaiknya, bersiap menyambut ibu mertuanya.
“Selena!” Adira memeluk Selena dengan hangat, mengusap rambutnya yang tergerai.
“Apa ini, kenapa Ibu semakin cantik begini? Wah, aku benar-benar minder sekarang.” Selena tertawa, balas mengusap punggung Adira.
“Kau manis sekali ....” Adira bertingkah berlebihan dengan pura-pura menyeka ujung matanya. “Malam ini ayo kita bersenang-senang, Selena. Ibu akan menginap di sini.”
“M-menginap?!” Tanpa bisa ditahan, Selena spontan berseru. Dalam sekejap wajah hangatnya digantikan raut kaget yang kentara.
Adira justru tertawa karena reaksi menantunya. “Sudah kuduga kau akan antusias sekali, Selena.”
__ADS_1
Tunggu, sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini. Dibandingkan dengan ibu Ocean yang sesuka hati membelokkan maksud ekspresi seseorang, ada masalah yang jauh lebih mendesak dari itu. Menginap? Selena menoleh ke arah Ocean dengan sorot campur aduk, memintanya untuk segera menyelamatkan situasi.
Demi Tuhan, kamar di rumah itu hanya ada dua. Semuanya akan berantakan dengan kehadiran ibu Ocean. Apalagi kalau Adira menyadari mereka tidur terpisah, rumah tangga yang sudah menyedihkan ini mungkin akan berubah tingkat menjadi tragedi.
“Jangan bersikap kekanakan begini, Ibu. Kalian bukan lagi pasangan remaja labil yang melarikan diri tiap kali bertengkar. Bicarakan masalah kalian dengan kepala dingin, bertingkah layaknya orang dewasa.” Ocean akhirnya buka suara. “Ayo, biar kuantar pulang.”
“Tidak mau.” Adira mengempaskan tubuhnya ke sofa dengan bibir mengerucut. “Aku muak sekali melihat wajah menyebalkan ayahmu, Ocean. Pokoknya Ibu akan menginap di sini.”
Ocean menyugar rambutnya sedikit frustrasi. “Ibu, tolong jangan begini.”
“Apanya yang begini? Istrimu saja tidak keberatan. Bukan begitu, Selena?”
Mulai hari ini, Selena menempatkan senyum lebar Adira sebagai nomor kedua sesuatu yang ingin dia hapus dari hidupnya, tentunya setelah wajah Ocean. Akan aneh sekali dan terkesan tidak berperasaan jika Selena menggeleng, dia akan dicap sebagai menantu tidak tahu diri.
Seakan ada tali kuat yang menarik kepalanya, berat sekali Selena mengangguk dengan senyum kaku yang terpatri di wajah. Mungkin sudah saatnya Selena mengucapkan selamat tinggal pada hidupnya.
Ocean memejamkan matanya. Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan.
“Ibu bisa mandi dulu kalau ingin menginap di sini. Akhir-akhir ini Selena agak sensitif dengan kebersihan.”
Setelah mendengus singkat, Adira berderap menuju kamar mandi, menghindari berdebat dengan putranya. Bisa gawat kalau Ocean berubah pikiran. Adira jelas tidak mau menginap di hotel.
Bersamaan dengan pintu kamar mandi yang tertutup, Ocean langsung bergerak, berlari menuju kamar Selena. Ada banyak hal yang harus mereka lakukan.
“Bergegas, Selena. Pindahkan semua barang-barangmu ke kamarku.”
Dengan raut seperti ingin menangis, Selena menyusul Ocean. Mereka dikejar waktu, harus bergerak cepat sebelum Adira keluar dari kamar mandi. Selena meraup tumpukan baju, Ocean memasukkan makeup beserta alatnya ke dalam tas, lantas membantu membawa baju.
Mereka berlarian menuju lantai dua, di mana kamar Ocean berada, dengan segunung baju di tangan. Untuk pertama kalinya Selena mengeluhkan tentang hobinya berbelanja, banyak sekali pakaian yang harus mereka pindahkan.
Ketiga kalinya mereka membawa tumpukan pakaian dan barang, napas Selena sudah tersengal. Dia kembali mengeluhkan tentang rasa malas yang membelenggunya untuk melakukan olahraga. Dia benar-benar merasakan efeknya sekarang.
“Ocean—”
__ADS_1
Bruk!
Di anak tangga kelima, kaki Selena tersandung kain baju yang terjulur. Dia terjatuh dengan posisi tengkurap, merosot dengan kaki membentur anak tangga berkali-kali hingga tersungkur di lantai. Pakaian yang dibawa Selena berhamburan ke mana-mana.
“Astaga!” Ocean meletakkan tas besar berisi koleksi sepatu Selena, bergegas memeriksa kondisinya. “Tahan teriakanmu, Selena. Ibu bisa mendengar.”
Selena benar-benar ingin menampar Ocean sekarang, sifat keparatnya memang sudah tidak tertolong lagi. Namun tak pelak, Selena membekap mulutnya dengan telapak tangan, menahan sakit. Lututnya memar, dengan lecet di beberapa sisi.
Dan yang terjadi selanjutnya, Selena hampir kelepasan berteriak saat Ocean mengangkat tubuhnya dalam sekali gerakan. Selena merasakan jantungnya ikut tersebar bersama pakaiannya. Dia menahan napas seiring kaki Ocean yang terayun melangkah.
Ocean menurunkannya di sofa, sekilas memeriksa kaki Selena, lantas berucap, “Diam di situ. Aku akan membereskan sisa barang yang tersisa.”
Kembali sibuk, Ocean naik-turun tangga dengan berbagai macam barang di tangannya. Gerakkannya tangkas dan efektif. Namun Selena tidak tertarik untuk melihatnya. Dinding putih di depannya yang mengilat terkena cahaya lampu seolah mengunci matanya.
“Kepalamu terbentur juga?”
Pertanyaan itu membawa Selena kembali ke “dunia nyata”, tidak tertinggal jejak semangat di wajahnya.
Ocean menurunkan badannya hingga berlutut di depan Selena, mulai membuka kotak obat. “Tahan sebentar.” Ocean mulai membersihkan luka dengan menggunakan alkohol.
Selena mengernyit, berpegangan pada bahu sofa saat merasakan perih di lututnya.
“Jangan bergerak-gerak, Selena, aku sulit membersihkannya.”
Emosi Selena yang sejak awal memang tipis, jadi terpancing. “Kau yang menekannya terlalu keras. Kau pikir kulitku setebal badak?”
Ocean menghela napas, kesabarannya sedang seluas lautan sekarang, tidak tertarik untuk menanggapi ucapan konyol Selena. Dia meletakkan alkohol dan tisu, lantas beralih mengoleskan salep antiseptik. Terakhir, menutupnya dengan plaster luka.
“Aduh, bagaimana ini. Sepertinya aku tidak bisa berjalan.” Selena menatap plaster luka yang tertempel di kedua lututnya, mengesah berlebihan. “Lalu soal ibumu ... eh, maksudku k-kamar .... Bagaimana aku akan tidur malam ini, Ocean?”
Sejenak, Ocean menghentikan aktivitasnya membereskan obat luka, mengangkat wajah. Mendapati Selena yang tampak canggung, Ocean menyeringai samar.
“Bagaimana apanya, Selena? Malam ini, tentu kau harus tidur di kamarku.”
__ADS_1
...****...