Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 22| MISI PENYELAMATAN


__ADS_3

“Oh, kau pulang lebih awal, Ocean.”


Ocean tidak sempat mengembuskan napas lega melihat Selena baik-baik saja. Dia segera melangkah ke arah Selena yang berdiri dengan membawa penampan berisi dua gelas minuman, terpaut lima meter di depannya.


Tanpa mengatakan apa pun, Ocean mengambil alih penampan, meletakkannya di meja. Dan sebelum Selena kembali mengeluarkan suara, Ocean sudah lebih dulu meraih tangannya, menyembunyikan Selena di belakang punggungnya.


“Pak David Tan, ada perlu apa kemari?” Ocean bertanya dingin pada David Tan yang duduk di ruang tamu bersama dengan seorang pria yang tampak seperti pengawal.


“Ah, Pak David—” Selena menyembulkan kepalanya di balik punggung Ocean, hendak melangkah ke sampingnya. Namun pria itu malah semakin mempererat genggaman tangannya, seolah memberi kode agar Selena tetap berada di belakang punggungnya. “Eh, Pak David hanya memberikan semangat padaku, Ocean, tentang rumor yang beredar sekarang ....”


“Benar, Pak Ocean. Saya penggemar berat Selena.” David Tan menimpali dengan suara tenang, tersenyum. “Rumor itu pasti menyulitkan Selena. Saya hanya ingin memastikan bahwa Selena baik-baik saja.”


Ocean masih memasang tampang dingin, jelas tidak percaya secuil pun pada omong kosong David. Dia tahu pria tambun itu tengah berusaha melakukan sesuatu terhadap Selena, menjadikannya sebagai kambing hitam dalam kasus Olivia.


Pimpinan redaktur yang tadi Ocean lihat di restoran, jelas salah satu pion David untuk semakin memojokkan Selena dengan menerbitkan berita yang sudah mereka rencanakan. Posisi Selena saat ini terlihat lemah, masyarakat masih menyerangnya, karena polisi pun masih berusaha mengumpulkan bukti. David memanfaatkan kesempatan ini untuk cuci tangan, melimpahkan segalanya pada Selena dengan menggiring opini masyarakat.


“Terima kasih telah menaruh perhatian yang besar terhadap istri saya, Pak. Tapi saya bisa pastikan bahwa Selena akan baik-baik saja. Tidak akan saya biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.” Ocean berucap dengan penuh penekanan pada kalimat terakhirnya, menunjukkan bahwa dia tidak main-main. Tidak akan ada yang bisa menyentuh Selena.


Di belakang Ocean, Selena menunduk, mengusap pipinya yang terasa panas.


“Saya jadi merasa tenang mendengarnya, Pak.” Senyum David semakin lebar, dia bisa mengontrol gestur tubuhnya untuk tetap terlihat tenang. “Ah, Selena, boleh saya pinjam naskah filmmu sebentar? Saya hanya ingin memastikan sekali lagi bahwa produk saya ditempatkan pada situasi yang tepat dan mendapat dialog yang kuat.”


Alis Ocean terangkat bersamaan dengan munculnya kerutan tipis di dahinya. Sedetik, dia menyeringai. Sepertinya naskah Selena adalah tujuan utama kedatangan David ke rumahnya. Ada sesuatu di naskah itu.


“Seben—” Gerakan Selena yang hendak membalikkan badan, mengambil naskah di kamarnya terhenti ketika Ocean tidak melepaskan genggaman tangannya. “Ocean?”


Belum sempat Ocean menyuruh Selena untuk diam di tempat, ponsel di saku jasnya bergetar. Tanpa melepaskan pandangan dari David, Ocean mengangkat telepon, langsung tersambung dengan seseorang di seberang sana.

__ADS_1


“Pak, ada masalah. Ternyata kepala kepolisian tempat kita melaporkan secara anonim masih kerabat David Tan. Mereka tidak akan bergerak untuk memeriksa David Tan.” Suara Noah terdengar gusar.


Ocean memejamkan matanya sembari mengembuskan napas samar. Urusan ini menjadi rumit sekali, David selalu bisa menemukan celah untuk lolos. Dan soal kemeja berlumuran darah itu, Ocean yakin David telah membakarnya hingga tak bersisa setelah mendapat informasi dari kepala kepolisian. Bekas cakaran di tangan pun tidak lagi berarti tanpa kemeja itu.


Tapi setidaknya dengan panggilan anonim yang dilakukan Noah, David tidak tahu siapa yang melapor kepada polisi.


“Dan ada kabar baik, Pak. Olivia sudah menunjukkan respon terhadap rangsangan. Diperkirakan sebentar lagi dia akan bangun dari koma.”


Air muka Ocean berubah, wajahnya menegang. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia langsung memutuskan sambungan telepon. Dilihatnya David dan pengawalnya bergantian, sebelum Ocean berucap, “Maaf, Pak David. Sepertinya saya dan Selena harus segera pergi ke suatu tempat. Jika Anda tidak keberatan, kita bisa mengobrol lagi lain kali.”


Keramahan yang setia menghiasi wajah David lenyap perlahan. Namun kemudian, dia menampilkan senyum kaku, mengangguk. “Baiklah. Pasti akan menyenangkan mengobrol dengan kalian di lain waktu. Saya permisi.”


Setelah pintu tertutup, Ocean segera menoleh ke arah Selena, berseru, “Segera ambil naskahmu, Selena. Aku akan membawamu ke apartemen Felix.”


...****...


Ocean menatap lekat Selena, situasi di sekitar mereka semakin terasa menegangkan. “Dengarkan baik-baik, Selena. Jangan membukakan pintu untuk siapa pun, berdiamlah di dalam sana bersama Felix, dan jaga naskah itu baik-baik. Kau harus tetap di sini sampai aku menjemputmu.”


Setelah memastikan Selena masuk ke dalam apartemen Felix, Ocean segera berlari kembali menuju mobilnya. Waktunya semakin sempit sekarang. Dia harus segera tiba di rumah sakit.


Dua puluh menit diliputi kekalutan, memecahkan rekornya sendiri dalam hal kecepatan berkendara, Ocean memarkirkan mobilnya sembarangan di depan rumah sakit. Dia segera berlari ke meja perawat, menanyakan nomor ruang perawatan Olivia.


Tidak mengambil napas setelah perawat menyebutkan nomornya, Ocean seperti orang kesetanan, menyibak orang-orang yang berlalu-lalang, berlari secepat yang dia bisa.


Ocean mendengus keras saat menemukan seorang polisi yang bertugas untuk menjaga di luar ruang perawatan Olivia sudah terkapar di lantai, pingsan. Dia sudah menduga bahwa David juga akan bergerak cepat.


Dengan sekali gerakan kasar, Ocean membuka pintu kamar Olivia, membuat suara debuman pintu terdengar keras. Dan Ocean mengepalkan tangannya erat saat menemukan seorang pria berpakaian layaknya dokter hendak menyuntikkan sesuatu ke selang infus Olivia. Pria itu kaget melihat kedatangan Ocean, sama sekali tidak diperkirakannya.

__ADS_1


Tanpa menunggu lagi Ocean melompat melayangkan tendangan ke arah tangan pria itu yang memegang suntikan, hingga membuat benda tajam itu jatuh ke lantai. Tidak memberikan jeda dalam serangannya, Ocean mengarahkan kepalan tinjunya ke pipi pria itu, membuatnya terhuyung menabrak nakas, membuat barang-barang di atasnya jatuh berkelontangan ke lantai.


Saat sekali lagi Ocean ingin mengayunkan tinjunya, pria itu telah menghindar seraya mencabut belati yang terselip di celananya.


“Ah, sial. Lagi-lagi aku harus berurusan dengan pisau.” Ocean memasang kuda-kuda, bersiap menerima serangan.


Pria itu telah mengacungkan belatinya dengan posisi siaga. Sedetik, dia telah melompat sembari mengarahkan belatinya ke wajah Ocean, mendesis.


Seolah sudah menunggu serangan pria itu, Ocean tidak menghindar. Sebaliknya, dia menepis tangan yang menghunuskan belati. Saat pria itu terdorong ke belakang, Ocean merangsek sembari melompat dengan mengarahkan lutut kanannya ke wajah pria itu.


Bug!


Darah segar keluar dari hidung pria itu. Kepalanya terasa begitu pening, sebelum sedetik setelahnya dia ambuk ke lantai. Tubuhnya terkulai, belati terlepas dari tangannya.


Ocean berhasil mengamankan situasi.


Ocean baru ingin merehatkan badannya sejenak, ketika ekor matanya menangkap Olivia yang telah membuka matanya. Buru-buru dia mendekat, memastikan Olivia sudah benar-benar sadar, sebelum kemudian menekan nurse call button.


Kali ini Ocean benar-benar bisa mengembuskan napas lega. Kesaksian Olivia sebagai korban menjadi senjata paling ampuh untuk memenjarakan David Tan. Selena akan selamanya terbebas dari kasus ini.


“Tunggu sebentar, Olivia. Dokter akan segera datang.” Ocean tersenyum lembut, mencoba mengontrol napasnya yang tersengal.


Saat Ocean hendak kembali menekan nurse call button, tiba-tiba mata Olivia membola, tangannya seolah hendak meraih Ocean. Dan sedetik setelahnya, Olivia sudah berteriak ketika belati terayun ke arah Ocean.


Sret!


...****...

__ADS_1


__ADS_2