Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 45| PEMENANG


__ADS_3

Ketukan heels kembali terdengar, mengaburkan lenggang. Selena mundur selangkah dengan ekspresi yang tidak banyak berubah.


“Bukankah ini bisa disebut sebagai sebuah mahakarya? Siapa yang bisa menyangka Ocean Arkananta yang sempurna itu bisa jatuh cinta pada wanita yang pernah kau anggap bodoh sepertiku. Bukankah itu artinya aku melakukan semuanya dengan sangat baik?” Selena terkekeh, bersedekap dengan angkuh.


Ocean masih bergeming di tempatnya berdiri, menatap lurus pada Selena. Tidak bisa dipungkiri, dia seperti dihantam batuan keras tepat di kepalanya.


Tawa Selena lenyap dalam sekejap bersamaan dengan sorot bercanda yang tidak tertinggal jejaknya. Iris cokelat terang yang biasanya memancar hangat, kini mengirimkan dingin yang membekukan. Selena telah sempurna asing.


“Ini pertunjukan puncaknya, Ocean. Aku sudah menantikannya sejak lama.” Tidak ada seringaian, tidak ada tawa mencemooh, Selena seolah tengah membangkitkan sisi dirinya yang telah dia kubur selama ini. “Saat kau mulai membangun mimpi dengan aku yang menjadi bagian terpentingnya, saat kau percaya sekali bahwa aku akan berjalan di sisimu, maka akan kubuat kau merasakan apa itu putus asa. Saat kau mempertaruhkan segalanya untuk perasaanmu, maka aku akan mencampakkanmu seperti barang tidak berguna. Mimpiku sesederhana itu ....”


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Ocean. Dia masih setia mendengarkan segala ucapan Selena, membiarkannya mengeluarkan semua yang ingin dia lepaskan.


“Sudah kubilang, bukan, jika pernikahan ini tidak memiliki harapan? Tidak akan pernah ada happy ending untuk kisah yang sejak awal tidak seharusnya ada. Kau sudah kalah, aku pun bukan pemenang sesungguhnya.” Sekelebat sorot terluka menghiasi mata Selena, keangkuhan yang sejak tadi pekat di wajahnya, tampak sedikit memudar. “Kirimkan surat cerai padaku segera. Aku sudah muak dengan pernikahan bodoh ini.”


Genap di ujung kalimatnya, Selena membalikkan badan. Tidak ada lagi yang ingin dia lakukan di sana, pun merasa cukup melimpahkan segala ucapan. Saatnya dia pergi, jauh, dan tidak akan pernah lagi pulang ke rumah Ocean.


Baru lima langkah, Selena menghentikan gerakan kakinya ketika suara parau Ocean terdengar di belakang sana.


“Kenapa kau sudah mau pergi, Selena? Aku belum mengucapkan selamat padamu.”


Selena memejamkan matanya, tidak ingin berbalik untuk menatap wajah Ocean.


“Untuk kerja kerasmu selama ini, bukankah setidaknya aku perlu bertepuk tangan?”


Derap langkah pelan membuat Selena mencengkeram ujung dress-nya.


Ocean berdiri beberapa langkah di belakang Selena, sengaja mengambil jarak. Sejenak, dia menyapukan pandangannya pada rambut Selena yang tergerai indah, sebelum berucap dengan nada pelan, “Kau melakukannya dengan baik. Pembalasan itu ... kurasa kau telah mencapai mimpimu.”


Waktu bagai berhenti saat hening menjadi satu-satunya pijakan bagi Ocean dan Selena untuk bertahan di tempatnya masing-masing.


“Sebenarnya dimulai sejak kapan ...?” Suara yang sarat akan kegetiran itu seakan menjadi komando kembali berdetaknya waktu. “Aku bahkan tidak yakin kapan tepatnya aku selalu merasa khawatir saat kau tidak berada di jangkauan mataku, menantikan waktu-waktu yang akan kuhabiskan bersamamu, lalu kita berdebat kecil tentang menu makan malam. Kapan dimulainya? Saat kita ke Labuan Bajo? Saat kau terjerat kasus Olivia? Atau bahkan mungkin saat kita berada di Alaska? Kau bisa membantuku menebaknya, Selena?”

__ADS_1


Giliran Selena yang bergeming. Hanya rambutnya yang bergerak pelan tertiup angin dari jendela yang terbuka.


“Jika kau ingin menghancurkanku lewat cara ini, maka aku bisa bilang kau memilih jalan yang tepat. Kau yang akan menjadi pemenangnya. Pemenang tunggal.” Ocean tersenyum pahit, membuat wajahnya semakin sendu. “Tapi surat cerai? Sayangnya aku tidak bisa melakukannya. Meskipun sudah menang, kau tidak bisa bersenang-senang sendirian.”


Demi mendengar ucapan Ocean, Selena menoleh dengan mata melebar, melemparkan sorot tajam.


“Aku tidak bisa menceraikanmu. Tidak akan pernah. Kau boleh mengajukannya ke pengadilan, tapi bisa kupastikan, aku yang akan menang.”


Tangan Selena mengepal saat menemukan Ocean yang masih menatap lurus ke arahnya. “Benar-benar tidak masuk akal!” Selena mendesis. “Baiklah, lakukan apa pun yang kaumau. Mari kita tentukan pemenang di babak selanjutnya.”


Ujung kalimatnya membawa serta suara ketukan heels yang mengambang di langit-langit ruangan. Dengan langkah lebarnya, Selena berderap pergi dari sana. Namun baru empat langkah, dia menggigit bibirnya saat merasakan kakinya melemas. Tidak ada apa pun untuk menahan tubuhnya yang seperti ingin ambruk, sehingga Selena memejamkan matanya, memaksa diri untuk bertahan.


Sesak yang sejak tadi ditahannya semakin pekat terasa pada setiap ayunan kaki. Matanya memanas, kewarasannya seakan direnggut paksa oleh ribuan sembilu yang menghunjam tepat di jantungnya. Selena merasa seperti sedang berbaring di ranjang pesakitan, menunggu nyawanya akan tercerabut sebentar lagi.


Berhasil menyeret kakinya hingga mencapai pintu, begitu suara bip terdengar, menandakan pintu kembali tertutup, Selena luruh seketika, tergugu dalam kekalahan tak berujung. Sembari memukul dadanya yang menjadi muara seluruh rasa sakit, ia membekap mulutnya saat tetes air mata tidak berhenti turun, meluncur membasahi dress merahnya.


Hari ini, untuk pertama kalinya, Selena bisa berakting dengan sangat baik.


...****...


Tangan Selena bergerak untuk menyingkap tudung hoodie yang menutupi sebagian wajahnya, memperlihatkan kantong mata yang menghitam dan wajahnya yang pucat. Selena tahu, pembicaraan kali ini tidak membawa kabar baik untuknya.


Seseorang telah menunggu Selena di salah satu meja. Meskipun remang di setiap jengkal restoran yang terlihat sepi itu, karena hanya ada mereka berdua, Selena bisa melihat orang itu tersenyum menyambutnya.


“Selamat datang, Selena. Maaf membuatmu repot begini.”


Agatha. Wanita itu tampak cantik dengan balutan dress panjangnya. Berbeda dari Selena yang terlihat suram, wajah Agatha justru berseri. Keanggunan melekat dari cara dia menatap orang lain, pun gesturnya yang selalu terlihat tenang—benar, perangai yang mirip Ocean.


Menghela napas samar, Selena menempatkan diri di seberang kursi Agatha, menatapnya tanpa semangat.


“Kau mau memesan sesuatu?” Agatha bertanya ramah.

__ADS_1


Selena menggeleng kecil. Dia ke sana bukan karena ingin makan atau minum sesuatu.


“Baiklah, kelihatannya kau tidak ingin basa-basi, ya?” Agatha memperbaiki posisi duduknya. “Ayo kita bicarakan soal Ocean, Selena. Tapi sebelum itu, aku ingin meminta maaf padamu. Fotomu dan Felix yang tersebar di media ... aku yang melakukannya.”


Tidak mengejutkan—sama sekali. Sejak awal Selena sudah menduga Agatha yang melakukannya.


“Aku benar-benar merasa bersalah karena itu. Namun, seperti yang aku pernah bilang padamu, aku akan melakukan segalanya untuk Ocean. Aku tidak bisa membiarkannya terjun ke jurang sendirian, menderita sendirian.” Air muka Agatha berubah. Dia sepertinya menyesali tindakan bodohnya di Boston, sehingga rumor perselingkuhan itu menyeruak hebat. “Dan kau pasti sudah tahu jika aku belum memberikan pernyataan apa pun terkait masalah itu.”


Jantung Selena berdetak dua kali lebih kencang. Dia tahu—oh, sungguh dia tahu pembicaraan ini akan berakhir di mana.


“Aku bisa saja menampik kabar itu, seperti yang Ocean lakukan. Statement kedua pihak sangat dibutuhkan untuk mengubah opini masyarakat. Sekarang, mereka pasti sedang bertanya-tanya apa benar hubunganku dan Ocean hanya sebatas teman baik? Lantas kenapa aku belum juga angkat bicara jika memang tidak ada yang ingin ditutupi?” Nada suara Agatha benar-benar stabil dan tidak menunjukkan emosi, layaknya seorang yang pandai mengendalikan situasi. “Sebenarnya, kalau boleh jujur, aku ingin mengaku bahwa kami berselingkuh, Selena. Siapa tahu, aku bisa benar-benar memiliki Ocean dengan cara itu.”


Lenggang sejenak. Suasana di restoran itu semakin terasa mencekam bagi Selena yang memainkan jemarinya di bawah meja dengan gugup.


“Tapi kali ini ....” Tatapan Agatha tiba-tiba menjadi serius. “Aku ingin menyerahkan langkahku padamu, tergantung pilihan mana yang akan kauambil.”


Tidak ada jalan keluar. Selena sungguh terjebak dalam permainan Agatha.


“Aku bukannya tidak tahu bahwa kalian sudah saling menggenggam tangan, melihat satu sama lain dengan perasaan yang sama. Setiap malam aku bahkan memikirkan tentang itu, tentang bagaimana kau bisa merengkuh Ocean yang seperti bintang paling jauh untukku bisa gapai. Aku terlalu jemawa, merasa lebih baik darimu, tanpa tahu jika perasaan seseorang tidak hanya berkompromi dengan kesempurnaan. Sejujurnya, pemenangnya adalah kau, Selena. Aku hanya pecundang yang mencoba menggapai bintang dengan cara yang paling licik.”


Agatha menurunkan pandangannya. Selena tahu ekspresi itu tidak dibuat-buat. Semua kata yang meluncur dari bibir Agatha berasal dari hatinya.


“Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa melihat Ocean bersama orang lain, tidak kau atau wanita lain. Jika aku tidak bisa berdiri di sisinya, maka tidak boleh ada seorang pun yang melakukannya.”


Keteguhan memenuhi mata Agatha, melenyapkan sendu yang hampir menguasainya.


“Kau tahu, bukan, jika aku mengakui berita itu, Ocean akan kesulitan menghadapi semuanya. Meskipun kemampuan bisnis dan manajemennya mengagumkan, opsi tentang kehancuran perusahaan itu tetap ada. Belum lagi tentang bagaimana orang lain akan memandang Ocean setelah itu. Bukankah selama ini Ocean sudah melakukan banyak hal untukmu, bahkan melebihi batas seharusnya, Selena? Tidakkah kau berpikir ini saatnya kau yang berkorban untuknya? Aku berjanji akan menampik berita perselingkuhan itu, mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di Boston, tapi kau juga harus melakukan sesuatu.”


Dalam waktu yang amat singkat sebelum Agatha melanjutkan perkataannya, kenangan bersama Ocean berebut memenuhi kepala Selena. Namun kali ini, kenangan itu memproyeksikan kesakitan, menebar luka pada setiap embusan napas. Perpisahan yang selama ini terbayang tiap kali Selena melihat masa depannya dengan Ocean, kini hanya berjarak selangkah lagi. Malam ini, ucapan selamat tinggal semakin terasa di ujung lidah Selena.


“Tinggalkan Ocean, Selena. Biarkan dia hidup tanpa ada kau di sisinya.”

__ADS_1


...****...


__ADS_2