
“Sedikit ke kiri—aduh, terlalu ke kiri. Miring jadinya!”
Ocean menghela napas pelan sembari sedikit menoleh ke arah Selena di belakangnya. “Kau tidak berpikir ini berlebihan? Satu foto pernikahan saja sudah cukup. Ruang tamunya jadi terlihat ramai.”
Bibir Selena bergerak-gerak lincah. Ocean tahu wanita itu sedang memakinya meskipun tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Tangan kanan Selena kemudian terangkat, menunjuk foto pernikahan yang tengah coba Ocean pasang di dinding sesuai instruksinya.
“Studionya mengirimkan dua. Kau mau membuang yang satunya?” Selena memelotot, melipat tangannya. “Jangan mencoba berdalih, Ocean. Pasang baik-baik agar terlihat bagus.”
Mengembuskan napas, Ocean kembali menggerakkan tangannya mengikuti instruksi Selena. Sebenarnya satu foto pernikahan sudah dipasang di ruang keluarga, namun Selena bersikeras memasang satu foto lagi. Dia terlihat amat bersemangat hari ini.
“Nah, sekarang sudah pas!” Senyum semringah tercetak jelas di wajah Selena yang terlihat berseri, matanya berpendar-pendar puas dengan hasil kerja Ocean.
Ocean turun dari kursi, menempatkan dirinya berdiri di samping Selena. Tatapannya tertuju pada foto berukuran cukup besar yang menampilkan dirinya dan Selena dengan balutan baju pengantin.
“Apa ini? Bukankah ini namanya pembohongan publik? Kenapa hidungmu tinggi sekali di foto itu? Padahal aslinya tidak begitu.” Selena menatap bergantian foto Ocean dan Ocean di sampingnya, membandingkan keduanya.
“Jangan bicara sembarangan. Hidungku memang seperti itu. Bukankah seharusnya kau mencemaskan raut wajahmu yang seperti ingin ingin menikam fotografernya, Selena? Apa-apaan wajah seperti serial killer itu.” Ocean menimpali santai.
Desisan pelan Selena menyusul setelahnya. Ia melirik sinis pada Ocean. “Itu karena menyebalkan sekali harus menggandeng lenganmu. Saat itu aku benar-benar berniat menikammu dengan garpu jika kau mengoceh tentang posisiku yang berada di telapak kakimu lagi.”
Tatapan Ocean beralih ke arah Selena, terkekeh. “Sejak saat itu aku mulai senang melihat wajah kesalmu, sehingga ingin terus mengganggumu.”
“Sudah kuduga kau memang Medusa.” Selena mendengus, namun kemudian tangannya terangkat. Dengan gerakan halus, dia melingkarkan tangannya ke lengan Ocean tanpa melepaskan tatapannya dari foto. “Apa seperti ini?” Selena memperbaiki posisi tangannya, mencoba semirip mungkin dengan posenya di foto.
Mengerti apa yang sedang dilakukan Selena, Ocean juga menegakkan punggungnya, bertingkah seolah sedang mereka adegan. “Kau ingat pernah membisikkan sesuatu padaku sebelum blitz kamera menyorot?”
“Aku mengatakan sesuatu?”
“Katanya kau akan membenciku seumur hidupmu.” Ocean menoleh sekilas, tersenyum tipis. “Tampaknya itu sudah tidak berlaku lagi sekarang.”
Sial. Pandai sekali Ocean membuat Selena salah tingkah.
“Coba kemarikan tanganmu.” Secepat mungkin Selena mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia merogoh sesuatu di kantong celananya bertepatan dengan Ocean yang mengulurkan tangan kirinya.
Menyentuh jemari Ocean, Selena menyelipkan cincin pernikahan mereka ke jari manis pria itu, lantas ke jari manisnya sendiri.
“Sudah lama kita tidak memakainya.” Selena mengangkat wajah, sedikit tersipu, untuk sedetik setelahnya menatap tajam Ocean. “Jangan coba-coba melepasnya.”
“Rasanya tidak nyaman.” Ocean memutar cincinnya. “Ah, aku belum mengatakan padamu. Lusa aku akan pergi ke Boston ... bersama Agatha.”
__ADS_1
Hening. Selena mengerjap dengan tempo lambat.
“Apa urusan pekerjaan?” Selena memainkan jemarinya, mencoba menutupi rasa tidak sukanya. Bagaimanapun hubungannya dan Ocean saat ini, dia masih merasa tidak berhak mengatur-ngatur hidup Ocean.
“Tidak. Sepupu Agatha akan menikah, aku diundang. Agatha sekalian ingin merayakan ulang tahunnya di sana.” Ocean berucap hati-hati, lantas cepat-cepat melanjutkan, “Kau bisa ikut bersamaku kalau mau.”
“Lusa, ya? Sayang sekali aku sudah kembali mulai syuting. Baiklah kalau begitu, selamat bersenang-senang di sana.” Selena pura-pura membenarkan rambutnya, bertingkah seakan tidak terlalu peduli.
Seulas senyum terbit di wajah Ocean. Dia bersedekap seraya menatap lurus ke wajah Selena “Kau mau aku tidak pergi? Akan kulakukan jika kau keberatan.”
“Jangan bicara omong kosong. Kau pikir aku wanita macam apa? Hubungan kita juga belum sedekat itu, jadi kenapa aku harus keberatan?”
“Haruskah kita membuat kesepakatan kalau begitu?”
Selena melirik Ocean sekilas. “Apa?”
Ocean masih terlihat sangat santai, sorot matanya tenang. “Cincin ini ... aku tidak akan melepaskannya jika tidak mendesak, sebagai gantinya ...,” Ocean sengaja menggantung kalimatnya, tersenyum, “saat aku kembali dari Boston nanti, ayo mengobrol semalaman, Selena. Membicarakan apa pun yang terlintas di kepala. Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu.”
...****...
Musik yang diputar keras menyelimuti arena, tim cheerleaders dengan seragam hijau sedang “beratraksi” di tengah lapangan. Lampu sorot berkedip-kedip, menyorot ke sana kemari mengikuti tempo musik. Keriuhan penonton di tribun jauh berbeda dibandingkan saat pertandingan berlangsung. Halftime—waktu para pemain beristirahat. Pertandingan basket dihentikan sejenak.
Di samping Ocean, Agatha tampak begitu menikmati suasana di sana sembari meminum sodanya. Mereka telah sampai di Boston siang tadi. Sementara pesta pernikahan sepupu Agatha baru akan dilangsungkan besok, malam ini Ocean dan Agatha menyempatkan untuk menonton pertandingan basket, terlebih tim favorit Ocean sedang bertanding di sana.
“Bukan masalah besar. Masih ada banyak waktu.” Ocean menyahut singkat, meminum cola-nya.
“Meskipun membuat berdebar-debar, ini menyenangkan sekali. Kita harus sering-sering menonton pertandingan bersa—oh, kau memakai cincin pernikahanmu, Ocean?” Agatha melirik cincin yang tersemat di jari manis Ocean, air mukanya perlahan berubah. Antuasiasmenya menguap.
“Ah, ini? Aku punya kesepakatan dengan Selena.”
Samar. Samar sekali. Namun, Agatha bisa melihat senyum di wajah Ocean yang terlihat begitu tulus. Dan sorot mata yang hangat itu .... Agatha meneguk saliva demi melihatnya.
“Oh, begitu rupanya ....” Agatha memilih untuk tidak berkomentar lebih jauh. Meskipun ada yang mengganjal di pangkal lidahnya, dia memilih untuk menelannya bulat-bulat. Tidak, dia sama sekali tidak ingin mendengar hal buruk saat menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama Ocean.
“Lihat pemuda tampan nan tinggi itu, Ethan.”
Suara seorang pria usia tujuh puluhan di samping Ocean dengan aksen Italia kental, dibarengi dengan tangannya yang menunjuk ke lapangan, membuat Ocean spontan mengikuti arah yang ditunjuknya—meskipun pria itu bukan sedang berbicara dengannya. Mata Ocean menangkap seorang pemain berseragam hijau yang tengah menggendong seorang anak kecil.
“Di usia 19 tahun, dia sudah punya anak.” Suara pria itu kembali terdengar. “Usia 25, putranya sudah sebesar itu. Kalau dibandingkan dengannya, kau terlihat payah sekali. Wajahmu ternyata tidak berguna.” Pria itu mendengus masam.
__ADS_1
“Astaga, kau mulai lagi, Nonno? Seharian ini kau bahkan sudah mengomel lebih dari jumlah aku mengunyah makanan. Apa sebaiknya aku memakan omelanmu saja daripada mengeluarkan uang untuk membayar makanan?” Pria yang dipanggil ‘Ethan’ itu berdecak, lantas menghela napas panjang.
“Cucu begundal ini, kau mau—”
Seruan pria tua itu terhenti saat seruan dan sorakan penonton bergema. Ocean memusatkan tatapannya pada jumbotron—layar besar yang menggantung di atas lapangan. Di sana, terpampang seorang pria yang sedang mencium kekasihnya.
Rupanya sesi penampilan cheerleaders telah usai, digantikan dengan kiss cam—segmen hiburan untuk mencium orang yang tersorot kamera bersama, biasanya dua orang.
“Wah, akhirnya aku bisa merasakan euforianya secara langsung.” Agatha bertepuk tangan antusias. Dia memang tipe wanita yang menyukai hal-hal romantis.
Ocean justru merasa agak terganggu dengan segmen ini, sehingga dia memilih untuk mengambil ponselnya, mengetikkan pesan untuk Selena.
Kuharap kau sudah bangun.
Perbedaan waktu. Di tempat Selena sekarang, matahari baru akan beranjak naik.
Tidak sampai semenit, datang pesan balasan. Kedua sudut bibir Ocean tertarik ke atas saat membacanya.
Karena Tuan Daendels yang baik hati itu, aku jadi terbiasa bangun sebelum burung berkicau. Menyebalkan sekali.
Meskipun tidak melihatnya, Ocean yakin Selena sedang tidak menampilkan raut jengkel.
Perlu kubelikan buku resep yang baru dari sini? Siapa tahu ada variasi bencana setelah ini.
Kalau sekarang, Ocean baru yakin Selena tengah memakinya.
“Ocean ... Ocean!”
Suara Agatha yang terdengar canggung itu membuat Ocean mengangkat kepala, mengalihkan pandangannya dari ponsel meskipun pesan balasan Selena sudah tiba. Ia baru akan bertanya pada Agatha, ketika wanita itu menunjuk jumbotron.
Seperti tiba-tiba ada bongkahan es yang sedang menyelimutinya, Ocean membeku. Lihatlah layar super besar yang menggantung di depan sana. Layar itu menampilkan wajahnya dan Agatha dengan begitu jelas. Kali ini, merekalah yang menjadi objek sorakan penonton. Meskipun sebenarnya dilakukan secara sukarela, dalam sesi kiss cam ini, sorakan penontonlah yang membuat orang yang terpampang di layar menjadi terbebani. Mereka seperti sedang didesak untuk melakukan apa yang semua orang mau.
Dan ketika Ocean hendak menggeleng untuk membuat kemera berpindah, saat itulah Agatha mengambil tindakan paling berani—untuk pertama kalinya. Dengan gerakan cepat, dia mencium pipi Ocean hingga membuat sorakan penonton semakin riuh, tepuk tangan semakin bergemuruh. Tidak perlu ditanya bagaimana Agatha sekarang. Pipinya memerah, degup jantungnya menggila, namun Agatha tahu, sesuatu yang melesak di dadanya sekarang adalah perasaan bahagia yang meluap-luap.
Selubung kebahagiaan itu telah menutup mata Agatha, membuatnya sama sekali tidak menyadari bahwa kini rahang Ocean mengeras, sorot matanya berubah dingin. Meskipun kamera sudah berlalu, menyorot penonton lain, Ocean tidak serta-merta memaklumi apa yang baru saja terjadi.
Terbawa suasana, terbawa perasaan yang telah dipendamnya sekian lama, Agatha memutuskan melangkah lebih jauh lagi. Ocean sudah berdiri di depannya sekarang. Hanya butuh selangkah lagi dia akan bisa merengkuhnya.
Mendekatkan kembali wajahnya ke arah Ocean, Agatha berbisik dengan jantung yang masih bertalu, mengalunkan melodi yang terdengar merdu menelusup telinganya. “Aku menyukaimu, Ocean. Sangat menyukaimu.”
__ADS_1
Saat itu, sejatinya Agatha bukan hanya sedang menyuarakan hatinya, melainkan juga menciptakan mimpi buruk yang menggilas habis mimpi-mimpi Selena hanya dalam semalam.
...****...