
“Wah, hidungku rasanya tidak enak. Keterlaluan, kau terlalu keras menyipratkan air, Ocean.” Selena menggosok pelan hidungnya yang terasa tersumbat. Mereka telah beranjak dari air, melangkah ke pasir merah muda yang lembut dan kering.
Pluk.
Ocean memakaikan jasnya ke bahu Selena, berjalan di sampingnya. “Tapi kau kelihatan senang sekali, Selena. Masa kecilmu sepertinya sangat suram, kurang hiburan.”
Selena melirik sinis Ocean, mencibir, “Lihat siapa yang bicara. Bukannya kau yang seperti bocah yang baru pertama kali ke pantai? Kau bahkan tertawa lebih keras dari siapa pun.”
“Aku begitu? Itu karena kau yang—oh?”
Pusat atensi Selena segera beralih ke depan, menemukan Agatha dengan dress panjang bermotif bunga berjalan ke arah mereka sembari senyum tipis. Ah, tentu saja dia ikut ke Labuan Bajo mengingat Agatha adalah arsitek utama pembangunan hotel baru La Sky Land.
“Hai, aku tidak mengganggu kalian, bukan?” Agatha bertanya, bergurau.
Tentu Selena akan berpikir Agatha bukan hanya menganggu momennya bersama Ocean, melainkan juga merusak suasana hatinya yang sudah sangat baik ini. Namun sepertinya Ocean tidak berpikir demikian, karena dia tertawa kecil sebagai tanggapan.
“Sayangnya aku dan Selena akan segera kembali ke hotel. Kau mau jalan-jalan di sini?”
“Aku ingin menemuimu, Ocean.”
Diam-diam Selena mendengus mendengar ucapan blak-blakan Agatha. Bahkan saat ada Selena, Agatha tidak segan mengucapkan sesuatu yang mungkin menyinggung "istri Ocean". Selena jadi merasa seperti manusia transparan di sana.
“Ah, karena meeting dengan kontraktor, ya? Tenang saja aku tidak akan terlambat, Agatha.” Ocean tertawa kecil.
Lihat itu, ekspresi kentara Agatha mengatakan kalau dia ke sana bukan karena ingin “mengingatkan” Ocean bahwa meeting akan dimulai sebentar lagi. Dia jelas ke sana karena ingin bersenang-senang dengan Ocean, dilihat dari pakaian yang dia kenakan. Entah Ocean bodoh atau kurang peka. Dalam sekali lihat saja Selena sudah bisa membaca maksud—
“Achoo!” Analisis yang sedang ia lakukan menjadi kabur seketika saat Selena spontan menggerakan kepalanya ke samping, bersin. Dia sepertinya terlalu lama bermain air.
__ADS_1
Mata Selena terbelalak saat punggung tangan Ocean menempel di keningnya, untuk kemudian helaan napas terdengar.
“Kau bisa terserang flu. Tunggu di sini, biar kubelikan handuk dan minuman hangat.” Ocean segera berjalan cepat, meninggalkan Selena yang mematung, setelah memberikan isyarat singkat kepada Agatha bahwa dia akan pergi sebentar.
“Mau duduk di sana, Selena?”
Pertanyaan Agatha membawa Selena kembali ke “dunia nyata”. Ia mengangguk, berjalan sedikit di belakang Agatha, lantas duduk di batang pohon tumbang yang dekat dengan bukit hijau di belakangnya.
Selena merapatkan jas Ocean yang membalut tubuh bagian atasnya. Pandangannya menyapu biru laut yang tidak pernah membosankan itu. Ombak seperti berkejaran, matahari semakin terik.
“Itu dibeli di Milan.” Agatha membalas tatapan bingung Selena dengan menunjuk jas Ocean yang tengah dikenakannya. “Salah satu klien Ocean menggelar pesta pernikahan di Milan tahun lalu. Ocean memintaku untuk menemaninya datang ke pesta itu. Sebelum ke sana, kami berbelanja pakaian di salah satu butik. Aku yang memilihkan jas itu.”
Sial. Selena jadi ingin melemparkan jas itu ke laut, berharap dicabik-cabik ikan paus. Tiba-tiba dia muak sekali dengan warna abu-abu yang melekat di jas itu, atau aroma parfum Ocean yang tercium dari sana. Tapi Selena tidak bisa berbuat apa-apa saat ini, hanya bisa mencoba bertingkah senormal mungkin.
“Aku dan Ocean sudah bersahabat sejak kami menempuh magister, Selena. Kami banyak menemukan kesamaan lewat hobi, cara berpikir, dan pandangan tentang masa depan. Dalam waktu singkat, kami merasa cocok satu sama lain.” Senyum lembut muncul di wajah Agatha seiring tatapannya yang terarah ke hamparan langit tak berawan, seolah dia sedang memutar memori kebersamaannya bersama Ocean.
Yang menjadi pertanyaan Selena, siapa yang bertanya? Selena jelas tidak ingin mendengar dongeng tentang kedekatan Ocean dengan Agatha.
Mati-matian Selena menahan diri untuk tidak memutar kedua bola matanya saat melihat senyum Agatha yang semakin lebar. Dia masih mencoba menerka, kiranya pembicaraan ini akan bermuara di mana.
Dan jantung Selena berpacu saat Agatha sepenuhnya menoleh ke arahnya, dengan sorot mata yang baru kali ini Selena lihat. Sesuatu yang tidak ingin Selena dengar sepertinya sebentar lagi akan sampai di telinganya.
“Aku menyukai Ocean, Selena. Sangat menyukainya. Aku bahkan rela melakukan apa pun agar bisa bersama dengannya.”
Selena tiba-tiba kesulitan bernapas, merasakan sendi-sendinya kaku. Debur ombak yang biasanya terdengar seperti nyanyian merdu kini tidak mampu meredakan ketegangan dalam hati Selena. Dia masih mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.
“Sejak awal, aku tahu pernikahan kalian hanyalah sebatas kepentingan bisnis. Tidak ada cinta di dalamnya. Apalagi setelah aku tahu kabar itu ... kabar bahwa kau masih menjalin hubungan dengan Felix Hadwin ....”
__ADS_1
Selena merasakan jantungnya berceceran di pasir pantai saat nama Felix disebut. Kartu tersembunyinya telah diketahui Agatha entah bagaimana caranya. Dan Selena tidak bisa mengatakan apa-apa karena merasakan lidahnya kelu, tenggorokannya terasa tercekik.
“Maaf membuatmu terkejut, Selena. Beberapa hari yang lalu aku tidak sengaja mendengar pembicaraan pimpinan redaktur saat sedang wawancara di sebuah kantor surat kabar. Kudengar kau dan Felix tinggal bersama di apartemen ....” Ekspresi Agatha berubah canggung, merasa tidak enak karena kini wajah Selena menjadi pias.
Menimbang-nimbang sejenak, melirik Selena beberapa kali, Agatha akhirnya memberanikan diri untuk mengutarakan apa yang ada di benaknya. “Setelah ini, aku mungkin akan lebih terbuka soal perasaanku kepada Ocean, Selena. Aku akan menunjukkan seberapa besar aku menyukainya. Kau mungkin akan merasa tidak nyaman, tapi aku tidak memiliki pilihan lain ....”
Selena ingin kabur dari sana, berlari sejauh mungkin dari Agatha. Selena tahu, dia tidak berhak memikirkan ini karena dia sudah memiliki Felix. Namun saat bayangan kehilangan Ocean mulai berkelebatan di kepalanya, napas Selena menjadi tersengal. Buku-buku tangannya semakin memutih seiring cengkeramannya di batang kayu yang menguat. Ketakutan itu mulai menguasainya.
“Kau merasa pusing, Selena? Wajahmu pucat sekali ....”
Selena mendongak saat suara Ocean menelusup telinganya. Ocean telah berdiri di depannya dengan wajah yang terlihat khawatir, tangannya menenteng paper bag yang kemungkinan besar berisi handuk dan minuman hangat—seperti perkataannya tadi.
Untuk beberapa saat, Selena hanya mematung menatap Ocean, menyapukan pandangan pada wajah khawatirnya. Saat Selena mengerjapkan matanya, dia menyadari satu hal yang membuatnya seperti baru saja dihantamkan ke tebing terjal.
Perasaan itu tidak pernah hilang. Selama ini Selena telah salah mengartikan semuanya. Dulu, kini, dan nanti, hanya ada Ocean. Tidak pernah ada Felix atau orang lain. Selena hanya mengelabuhi diri sendiri, menyangkal untuk membuat hatinya terasa lebih baik. Sejatinya, Ocean tidak pernah pergi. Dia selalu berada di sana.
Daripada kekhawatiran karena Agatha telah mengetahui rahasianya, Selena jauh lebih terpukul saat menyadari perasaannya yang sesungguhnya. Dia takut bagaimana menghadapi Ocean setelah ini.
“A-aku merasa tidak enak badan, Ocean. Kalau kau masih mau di sini, aku akan kembali ke hotel sendiri.” Selena berucap dengan suara parau, memaksa kakinya untuk bangkit berdiri.
“Bagaimana aku bisa membiarkanmu pulang sendiri dengan kondisi seperti itu?” Ocean menghela napas, menoleh ke arah Agatha. “Kau mau ikut pulang bersama, Agatha?”
Agatha menggeleng, tersenyum lemah. “Duluan saja, Ocean. Aku masih ingin di sini.”
Setelah mengangguk singkat, Ocean balik badan, pergi dari pantai itu bersama Selena.
Dari tempatnya duduk sekarang, Agatha menatap punggung Ocean dengan Selena yang semakin menjauh, menghela napas panjang.
__ADS_1
“Maaf, Selena. Aku tidak bisa melepaskan Ocean. Kali ini, aku akan berjuang sekeras yang aku bisa agar tidak kehilangannya lagi.”
...****...