Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
BAB 49| TEMPAT PULANG


__ADS_3

“Kenapa wajahmu yang memerah padahal aku yang sakit?”


Ucapan yang disertai dengan seringaian menyebalkan itu membuat Selena mendesis sebal, lantas sedikit menekan kompres air hangat ke kening Ocean, membuat pria itu tertawa. Selena membuang muka sejenak, mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Jantungnya masih berdegup kencang, pipinya terasa terbakar. Udara dingin di sana sama sekali tidak membantunya meredakan gerah yang membelenggunya.


“Sudah kubilang jangan banyak bicara. Kau demam, harus banyak beristirahat.” Selena mengamati wajah Ocean yang masih pucat, menghela napas. “Sebenarnya kapan terakhir kali kau tidur? Kalau lelah kenapa memaksakan diri ke sini? Dasar bodoh.”


Ocean memejamkan matanya, membenarkan posisi tidurnya. “Karena aku ingin melihatmu. Enam hari belakangan terasa lama sekali. Rasanya aku meninggalkan sebagian hidupku di sini.”


Selena menggigit pipi dalamnya. Rupanya dia masih belum terbiasa dengan perubahan sikap Ocean terhadapnya. Wajahnya semakin terasa panas dan darahnya berdesir. Sepertinya akan butuh waktu lama bagi Selena untuk “berteman” dengan situasi baru ini.


“Coba katakan dengan jujur, Ocean. Kau sebenarnya tidak sesuci itu, bukan? Kelihatannya kau berpengalaman sekali soal wanita.” Selena menatap menyelidik.


Meskipun menyebalkan, entah sadar atau tidak, ucapan dan tindakan Ocean selama ini bisa menjadi senjata mematikan untuk membuat para wanita yang lemah hati bertekuk lutut. Dia terlihat alami sekali saat melakukannya. Menjadi perisai yang hebat, pelepas sedih yang sempurna, pun penenang yang hangat. Selena sama sekali tidak heran bagaimana Agatha bisa begitu “jatuh” pada Ocean. Dari sisi mana pun, dia terlihat amat memesona.


Kelopak mata Ocean terbuka perlahan, sebelum ia beranjak duduk dengan tatapan lurus terarah pada Selena. “Kau ingin aku menjawab apa, Selena? Kau yang pertama buatku? Mendengarnya saja sudah terasa konyol, bukan?”


Baiklah, Selena menarik kembali ucapannya. Ternyata sikap menyebalkan Ocean menutupi semua hal baik yang ada pada dirinya.


“Maksudku bukan begitu ....”


“Kau yang pertama.”

__ADS_1


Kata yang hendak keluar dari bibir Selena lenyap seketika. Kerutan sebal di wajahnya juga memudar perlahan. Tiga kata Ocean itu seakan lebih dari cukup untuk membuat Selena mematung di tempatnya.


“Sejak SMA aku sudah dipersiapkan menjadi penerus Ayah karena kedua kakakku tidak tertarik dengan bisnis. Ada banyak sekali hal yang harus aku pelajari dan persiapkan sejak saat itu. Menjadi pemimpin perusahaan tidak pernah mudah, Selena. Ada ribuan nasib karyawan yang bertumpu pada kedua tanganku, bahkan mungkin jauh lebih banyak dari itu. La Sky Land bekerja sama dengan banyak pihak. Peruntungan mereka saling berkelindan, dan aku menjadi salah satu penentu apakah hari ini mereka akan makan atau tidak, uang sekolah anak-anak mereka akan terbayarkan atau tidak.”


Pandangan Ocean menerawang, seolah sedang memanggil memori tentang bagaimana kehidupannya selama ini.


“Tapi karena aku sudah memilih untuk menanggung semua beban berat itu, aku mencoba melakukan segalanya sebaik mungkin, memastikan bahwa langkah yang aku ambil tidak menjadi salah satu alasan bagi ribuan orang itu untuk kehilangan harapan. Oleh karenanya, waktuku banyak tersita untuk pekerjaan. Aku sama sekali tidak memiliki waktu untuk berkencan. Itu jawabanku.”


Ocean tersenyum tipis ketika mendapati Selena masih belum bergerak sedikit pun. Sepertinya dia sedang mencerna baik-baik ucapan Ocean, memastikan semuanya masuk akal.


“Bisa dibilang, kehidupan pada awal pernikahan adalah masa-masa paling berat untukku. Aku harus hidup dengan orang baru, belum lagi tingkah kekanakan dan cerobohmu. Aku menahan diri terlalu banyak agar tidak melemparmu keluar dari rumahku.”


“Kau apa?” Selena memelotot. “Lalu kenapa kau bisa melakukan banyak hal untukku kalau begitu?”


“Kau mau mati?!” Selena memotong cepat, mendesis marah. Anak kucing? Terlantar? Omong kosong macam apa ini?


Tawa Ocean terdengar setelahnya. Ia benar-benar menyukai sensasi saat menggoda Selena, melihat wajah kesalnya. Hiburan bagi kehidupannya yang terasa repetitif dan menjemukkan ternyata sesederhana ini.


“Ah, ada satu hal lagi yang membuatku penasaran.” Selena tiba-tiba merasa gugup. Memanggil memori buruk memang tidak pernah mudah. “Bahkan setelah aku mencampakkanmu ... eh, kau tahu, tentang balas dendam itu ... kenapa kau malah melakukan sejauh ini, Ocean? Untuk ukuran orang sepertimu, aku yakin kau bisa mendapatkan wanita mana pun yang kau mau, wanita paling sempurna sekalipun. Lagi pula, bukankah pernikahan bisnis ini terasa seperti omong kosong buatmu?”


Ocean terdiam sejenak, sebelum tatapannya terarah ke jendela yang menampilkan pucuk-pucuk pohon cemara. “Mata tidak pernah berbohong, Selena. Setelah menikah, aku mengenalmu lebih banyak dari caramu menatap. Marah, menahan diri, bahagia, kesal, berbohong, menyembunyikan kesedihan ... dan menyukai sesuatu. Aku tahu semuanya dari sorot matamu.”

__ADS_1


Selena sedikit terperanjat, mendadak gugup. Sebuah kesadaran tiba-tiba mendarat di kepalanya. Jangan bilang Ocean ....


Seolah tahu apa yang sedang Selena pikirkan, Ocean tersenyum kecil. “Saat kau datang untuk mencampakkanku, aku tahu kau tidak sungguh-sungguh melakukannya. Sorot terluka itu ... kau menahannya dengan baik. Sepertinya aktingmu berkembang cukup banyak.”


Diam-diam Selena mengembuskan napas lega, ternyata Ocean tidak tahu—


“Dan aku juga tahu kapan kau menyukaiku lagi. Ah, atau aku bisa menyebut bahwa kau selalu menyukaiku?” Ocean menumpu kepalanya dengan tangan. “Meskipun kau berusaha keras untuk menyembunyikannya dengan bertingkah seolah membenciku, sejak awal aku tahu .... Mau kudeskripsikan bagaimana caramu melihatku? Pupil matamu akan melebar—”


“Argh, tutup mulutmu!” Selena setengah melompat untuk menutup mulut Ocean dengan telapak tangannya. Kenapa ada banyak sekali hal memalukan yang Ocean ketahui tentangnya? Selena benar-benar akan mati tanpa harga diri jika mendengar penjelasan Ocean. Pria itu entah kenapa terlalu tajam menganalisis semua hal.


Tersenyum tipis, Ocean menggenggam tangan Selena yang masih berada di wajahnya, lantas menurunkannya. “Dengarkan aku baik-baik, Selena. Aku sama sekali tidak berencana menjadikanmu pilihan. Tidak akan ada wanita lain sebagai opsi lainnya. Dan lupakan soal kesempurnaan sebagai penentu keberhasilan hubungan. Aku sungguh tidak butuh seseorang yang sempurna untuk berjalan di sampingku. Aku menyukaimu karena kau Selena Jasmine. Pada setiap pertanyaan tentang bagaimana aku akan menghabiskan sisa hidupku, jawabannya akan selalu kau, Selena.”


Kesungguhan pada setiap jengkal wajah Ocean, keteguhan di manik kelamnya membuat Selena seperti diserang dari segala arah. Oleh kata-kata dari suara Ocean yang dalam, Selena tahu, dia tidak akan bisa melarikan diri lagi. Dia telah sempurna terperangkap dalam lautan kelam itu.


“Mau memelukku sebentar?” Ocean bertanya pelan.


Tanpa menunggu lagi, Selena menghambur memeluk Ocean. Aroma musk yang memudar, hangat yang menjalar, dan sapuan lembut tangan Ocean di rambutnya ... benar, ini dia. Di sini, Selena tidak perlu mencemaskan segala hal, Ocean akan selalu merengkuhnya dengan hangat—seperti yang biasa dia lakukan. Di tempat ini, Selena bisa tertawa dan menangis sebanyak yang dia mau, tanpa perlu merasa khawatir akan terlihat lemah di mata orang lain.


Dan di tempat ini pula, Selena akhirnya tahu apa itu tempat untuk pulang.


“Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Selena.”

__ADS_1


...****...


__ADS_2