
Derap langkah terburu-buru dari dalam sana terdengar semakin jelas setelah Ocean menekan bel. Tiga detik, Selena muncul dengan wajah semringah dan mata yang berpendar-pendar.
“Ocean—” Perkataan Selena terhenti saat tatapannya tertuju pada kemeja bagian lengan atas Ocean yang sobek dan terdapat bekas darah yang mengering, menampakkan perban yang membalut lengannya. “Apa yang terjadi dengan lenganmu?”
Buru-buru Selena melangkah mendekat, memeriksa lengan Ocean yang terluka.
“Bukan apa-apa, hanya tergores sedikit. Tadi sudah diobati oleh dokter.”
Sebenarnya bukan hanya tergores seperti ucapan Ocean, melainkan terluka cukup dalam sehingga membutuhkan beberapa jahitan. Pria yang hendak menyuntikkan cairan ke selang selang infus Olivia berhasil menyabetkan belatinya pada Ocean, meskipun melenceng dari tujuan awalnya yang hendak menusukkannya ke punggung Ocean.
Berkat gestur dan teriakan Olivia, Ocean cepat bergerak menghindar, hingga belati itu mengenai lengan atasnya, menorehkan luka dalam di sana. Saat pria itu terhuyung karena serangannya tidak telak mengenai sasaran, Ocean sudah lebih dulu membekuknya dengan memelintir lengannya ke belakang dan mendorongnya hingga membuat pria itu tersungkur ke lantai.
Dokter dan para perawat datang tak lama kemudian. Pria itu berhasil diamankan dan sekarang sudah ditangani oleh polisi. Selangkah lagi, David Tan tidak akan lolos dari berbagai dakwaan yang akan menjeratnya.
“Apa kau mengejar David Tan?” Selena bertanya, masih menunjukkan sorot khawatir akan keadaan Ocean.
Tentu Selena tahu siapa dalang dalam kasus Olivia setelah mengetahui apa yang tersembunyi di naskah film. Sekarang dia tahu kenapa Ocean begitu dingin terhadap David.
Ocean mengangguk sekali, wajahnya kali ini tampak lelah. “Olivia sudah sadar dari koma. Tadi David Tan mengirim orang untuk membunuhnya. Syukurlah, Olivia baik-baik sekarang.”
“Kenapa kau bertindak sejauh ini, Ocean? Kau bahkan tidak kenal dengan Olivia.” Kedua alis Selena terangkat, kerutan tipis muncul di dahinya.
Untuk sesaat, Ocean terdiam, sebelum akhirnya tangannya terangkat untuk menyugar rambutnya. “Entahlah, Selena. Aku hanya tidak bisa mengabaikan petunjuk yang sudah berada di depan mataku.”
“Kau pikir kau pahlawan, ya? Superman saja bukan, tapi selalu bertingkah sok berani dan berakhir terluka.” Selena mendecih, kembali teringat tragedi di Alaska.
Ocean tertawa kecil. “Kuanggap kau sedang mengkhawatirkanku.”
Getar ponsel Ocean menghentikan Selena yang hendak kembali mengomel. Ocean memberi kode agar Selena menahan sejenak omelannya melalui gerakan tangan, tersenyum menyebalkan.
__ADS_1
Diam-diam Selena memperhatikan Ocean ketika pria itu terlihat serius menerima telepon, berbicara dengan seseorang di seberang sana. Selena menghela napas pelan saat menyadari dunia yang begitu tidak adil. Lihat, bahkan dalam penampilan kacau dan wajah lelah seperti sekarang, Ocean tetap tampak mengesankan. Bukan hanya dari segi penampilan saja, melainkan pula otak briliannya yang telah membawa perusahaannya ke titik tertinggi sejak didirikan.
Transformasi dari The Perfect Cassanova menjadi Mr. Perfect yang mengagumkan. Tidak ada yang tidak bisa Ocean lakukan. Memimpin perusahaan, bela diri, memecahkan kasus kriminal—
“Selena, aku harus pergi.”
Ucapan Ocean bukan hanya mengaburkan lamunan Selena, melainkan juga membuatnya buru-buru merutuki diri sendiri karena tidak bisa mengontrol pikirannya.
“Oh? Kau mau ke mana?”
“Polisi meneleponku, katanya Olivia baru mau memberikan keterangan jika aku berada di sampingnya.” Ocean mengusap tengkuknya dengan canggung.
Ekspresi Selena berubah menjadi tidak bersahabat. Dalam sekejap dia merasa kesal sekali. “Dia sudah gila, ya? Kenapa harus kau yang datang? Memangnya dia tidak bisa bicara, sehingga kau perlu menerjemahkan kata-katanya?”
“Olivia mungkin masih belum bisa—”
“Kau ini diam-diam perayu andal, ya? Agatha, Olivia, siapa lagi target selanjutnya, Ocean?” Selena melipat tangan di depan dada, membuang muka.
“Akting cemburumu cukup bagus, Selena. Bukan begitu, Felix?”
Selena tersentak mendengar nama Felix diucapkan Ocean. Sial, bahkan dia sekarang lupa jika masih berada di apartemen Felix. Dengan gerakan kaku, Selena menoleh, mendapati Felix yang berdiri di belakangnya dengan rahang mengeras.
Suasana di depan pintu apartemen itu menjadi terasa aneh. Selena mengusap pipinya salah tingkah, mengumpat pada Ocean yang sepertinya sengaja sekali memancing kekesalan Felix. Selena yakin dia akan mendapat masalah sebentar lagi.
“Selena akan tetap di apartemenku malam ini. Terlalu berbahaya membawanya ke rumahmu.” Felix berucap dingin, menunjukkan dengan jelas isyarat peperangan dengan Ocean.
Atmosfer ketegangan selalu menjadi teman menyebalkan bagi Selena saat Ocean bersitatap dengan Felix. Mereka seperti dua spesies berbeda yang tidak akan pernah rukun, hanya bisa saling menunjukkan taring. Dan hal itu berhasil sekali membangunkan kekesalan Selena menuju parameter tinggi.
“Aku tidak keberatan—”
__ADS_1
“Aku yang keberatan!” Selena memotong perkataan Ocean dengan cepat, membawa atensi kedua pria itu ke arahnya. Dengan nada menggebu-gebu, Selena berucap tajam, “Dengar, Felix. Ini bukan saatnya kita mementingkan ego. Kau sudah dalam penawaran kerja sama brand dan sebentar lagi akan menjalani pemotretan di Paris, bukan? Kita tidak bisa membuat masalah jika aku tertangkap kamera berada di apartemenmu. Aku juga perlu membersihkan namaku dari kasus Olivia. Setelah semuanya membaik, aku janji akan lebih sering menghabiskan waktu bersamamu. Kau bisa memahami situasinya, ‘kan?”
Felix bergeming, tidak terlihat seperti memahami apa yang dikatakan Selena. Dia malah membuang muka, melipat tangan di depan dadanya dengan raut kesal.
“Jangan membuatku semakin marah, Felix! Jawab kau paham atau tidak?!” Selena membentak, dengan cepat tangannya bergerak mencengkeram kerah Felix sembari memelotot horor.
“Apa yang sedang kaulakukan, Selena?” Felix mencoba melepaskan tangan Selena dari kerah kemejanya, namun wanita itu malah semakin mendesis, mengeratkan cengkeramannya.
“Hei, jangan—”
Perkataan Ocean terhenti saat Selena menyentak kerah Felix dengan kasar, membuatnya sedikit terhuyung ke belakang. Belum sempat Ocean bergerak selangkah pun, Selena sudah lebih dulu beralih meraih kerah kemejanya.
Dengan tatapan seolah hendak melemparkan Ocean dari gedung tiga puluh lantai ini, Selena berteriak, “Suasana hatiku sedang tidak bagus dan kau malah memperkeruh suasana? Beraninya kau mencari masalah denganku. Keparat sepertimu memang seharusnya aku habisi sejak dulu!”
Ocean menahan napas ketika cengkeraman Selena semakin kuat. Dapat Ocean lihat dengan jelas api membara di kedua mata Selena. Emosi yang terpendam sejak insiden Olivia dimulai, sepertinya meluap sekarang.
“Lepaskan, Selena, nanti banyak orang—akh!” Felix yang hendak melerai, malah sekali lagi mendapat serangan mendadak dari Selena. Rambutnya ditarik kuat-kuat, membuat Felix meringis kesakitan.
Posisi Selena benar-benar terlihat mendominasi sekarang. Tangan kanannya masih mencengkeram kerah kemeja Ocean, dan tangan kirinya menjambak rambut Felix. Kabar buruknya, Selena tidak terlihat seperti akan segera menyudahi tindakan gilanya.
“Rasanya muak sekali melihat kalian berdua selalu melemparkan tatapan tajam seolah sedang baradu pedang. Kekanakan sekali!”
“Kau sepertinya akan menjadi model kebotakan, Felix—heuk.” Ocean terbatuk saat Selena semakin kuat menekan lehernya, memelotot tajam.
“Diam kau, Ocean. Kelihatannya kau yang akan terjun bebas—akh! Dia yang mulai, Selena!” Felix berseru tidak terima saat Selena semakin menarik rambutnya, membuat tubuh Felix semakin meliuk ke belakang.
“Kalian tidak mau diam? Baiklah, akan aku habisi kalian hari ini!”
Dan kekacauan di depan apartemen Felix masih berlangsung sepuluh menit lagi, hingga akhirnya seorang satpam lari lintang pukang untuk menghentikan kegilaan Selena.
__ADS_1
...****...