
Perselingkuhan terencana. Pernikahan bisnis. Pasangan palsu. Topik pembicaraan semua orang pada skandal Selena-Felix-Agatha-Ocean menjadi mengerucut pada hal-hal itu. Setelah foto Selena dan Felix yang tersebar ke media, menunjukkan betapa intens interaksi keduanya ketika keluar dari apartemen, keadaan yang sudah panas ini seperti disemprot dengan bensin, semakin membara.
Bisa dipastikan foto itu adalah hasil jepretan saat Selena menginap di apartemen Felix setelah bertengkar dengan Ocean beberapa waktu yang lalu. Ocean pun sudah membayar mahal agar pimpinan redaksi bungkam dan menghapus foto itu. Nyatanya rubah tetaplah rubah. Mereka memanfaatkan peluang sekecil apa pun, meraup keuntungan sebanyak mungkin. Bagi para penari di atas luka itu, penderitaan dan nyawa seseorang bukankah sesuatu yang begitu berarti. Asal berita mereka menjadi konsumsi utama publik, berdiri selangkah di depan media lain, mereka akan melakukan apa pun, termasuk sesuatu yang menjijikkan sekalipun.
Terhitung enam kali dalam satu menit terakhir, Selena menghela napas berat. Banyak ketakutan yang menyelimuti pikirannya. Tentang kariernya, tentang Felix, tentang keluarganya, dan ... tentang Ocean.
Selama ini, nama Ocean selalu bersih, begitu pun dengan nama La Sky Land. Dia membangun reputasi yang memukau. Namanya selalu ada saat kesuksesan La Sky Land dibicarakan, menjadi pemimpin brilian yang telah menorehkan kesuksesan perusahaannya di titik tertinggi sejak didirikan. Dengan adanya berita skandal ini, mungkin saja pandangan semua orang terhadap Ocean tidak lagi sama, kerja kerasnya mungkin akan ternoda. Seandainya sejak awal Ocean tidak menikah dengannya ....
“Sudah kubilang aku akan memperbaiki semuanya. Jangan berpikir macam-macam.” Ocean menyerahkan obat dan air putih pada Selena, seolah bisa membaca pikirannya saat ini. “Aku sudah menghubungi CEO perusahaanmu, mendiskusikan jalan keluar terbaik untuk masalah ini. Aku janji, situasi sekarang adalah yang terburuk, Selena, tidak akan bisa lebih buruk lagi. Kau hanya perlu beristirahat, jangan terlalu keras memikirkannya.”
Menatap lekat wajah Ocean, Selena mencoba menyimpan ketenangan yang terpancar di mata kelam itu. “Bagaimana denganmu? Pasti perusahaan sedang kacau, bukan?”
“Bukan masalah yang besar. Sebagai perusahaan hotel, penurunan harga saham saat ini tidak bisa dibandingkan dengan saat pandemi di puncak kekuatannya. Aku pernah mengalami yang lebih buruk, Selena.”
Selena tahu, kata-kata Ocean itu hanya untuk menghiburnya. Semua karyawan La Sky Land pasti sedang panas dingin sekarang. “Ocean ... kau tidak perlu memaksakan diri dalam pernikahan ini.”
Kedua alis Ocean berkerut samar. “Kenapa kau berpikir begitu?”
Selena memainkan jemarinya, menunduk. “Aku bukannya ingin mendramatisir keadaan yang sudah kacau ini, tapi jika posisiku tidak menguntungkanmu, kau selalu bisa meninggalkanku, Ocean. Hubunganmu dan Agatha memang hanya kesalahpahaman, tapi aku dan Felix ....” Selena tiba-tiba merasakan sesak yang menyeruak di rongga dadanya, belum siap membicarakan tentang Felix yang entah bagaimana keadaannya sekarang. “Lagi pula, aku yakin perasaanmu belum sedalam itu.”
“Menyelamatkan diriku sendiri dan reputasiku, ya?” Ocean bertingkah seperti sedang berpikir serius. “Bukan ide yang buruk, mungkin aku harus mempertimbangkannya .... Kenapa menatapku begitu?”
Tatapan Selena pada Ocean menajam. “Ini bukan saatnya bercanda. Aku serius dengan ucapanku!”
Ocean tertawa kecil—tawa pertamanya hari ini. “Saat kita menghitung bintang dan kau ketiduran, sebenarnya aku baru membawamu ke dalam vila saat subuh, Selena. Tanganku sudah dingin sekali karena terlalu lama di luar, sampai-sampai aku takut kau terbangun saat aku membawamu masuk.” Tatapan Ocean mendadak melembut. “Kau tahu apa yang aku lakukan selama itu?”
__ADS_1
Pertanyaan retoris. Selena masih menantikan Ocean melanjutkan perkataannya.
“Aku menghitung bintang. Tapi karena masalah dalam hidupku tidak banyak, maka aku memikirkan perasaan lain pada setiap hitungan.” Kedua sudut bibir Ocean tertarik ke atas. “Aku menaruh setiap momen bersamamu pada bintang-bintang itu, menyimpannya di sana.”
Selena terhenyak oleh setiap kata yang diucapkan Ocean. Suara yang biasanya terdengar sedalam palung itu, kini seperti debur ombak yang mengalunkan melodi menawan. Selena tidak bisa melepaskan pandangannya. Kekhawatiran dan ketakutan yang sejak tadi memenuhi kepalanya, tiba-tiba lenyap begitu saja, digantikan oleh Ocean dan tatapan tulusnya.
Sekelumit perasaan mendebarkan itu seolah masih belum cukup, karena sembari mengeja senyum di wajahnya, perkataan Ocean selanjutnya seperti melemparkan Selena ke dalam sebuah jaring wol yang membentang di antara tebing yang curam. Berbahaya, namun begitu hangat dan menyegarkan.
“Aku menyukaimu sebanyak itu, Selena.”
...****...
“Bagaimana dengan Agatha? Kau berhasil menghubungi pihaknya?” Telunjuk Ocean menekan pelipisnya, matanya sibuk menjelajahi perkembangan berita di layar tabletnya.
Jawaban Noah di seberang sana membuat Ocean menghela napas berat, mengusap wajahnya.
Sambungan telepon terputus, bersamaan dengan Ocean yang memijat pangkal hidungnya, kepalanya terasa pening.
Dalam penyelesaian masalahnya dengan Agatha, ada masalah yang cukup serius. Sejak skandal itu menyeruak ke permukaan, Agatha sama sekali tidak bisa dihubungi. Pihaknya belum mengeluarkan statement tentang apa yang terjadi di Boston. Agatha menghilang begitu saja, seperti ditelan bumi. Padahal untuk menjelaskan kesalahpahaman kepada publik, jika hanya ada pernyataan satu pihak saja, pengaruh yang ditimbulkan tidak akan terlalu besar.
Ocean baru akan mencoba sekali lagi menghubungi nomor Agatha ketika pintu rumahnya dibuka dari luar. Selena muncul setelahnya.
Sejenak, Ocean termangu melihat penampilan Selena saat ini. Dress merah selutut, heels tinggi berwarna senada, dan lipstik merah tebal yang membuatnya kelihatan lebih dewasa daripada biasanya. Tambahkan rambutnya yang tergerai indah. Tidak tertinggal jejak suram di wajah Selena. Dia seperti sosok baru yang amat berbeda dan asing.
Langkah Selena yang lebar-lebar itu, seperti tengah berjalan di catwalk, semakin mengikis jarak di antara mereka. Tinggal dua meter lagi dari Ocean, Selena berhenti. Tatapannya yang sarat akan ketangguhan seolah dia tengah memegang tombak kemenangan, menghadirkan kernyitan samar di kening Ocean.
__ADS_1
“Selena ....” Ocean memanggilnya pelan, tiba-tiba merasakan selarik janggal di hatinya. “Kau pulang .... Padahal kau bisa di rumah orang tuamu dulu sampai situasinya mereda.”
Seringaian tipis muncul di wajah Selena. “Sebenarnya aku juga ingin begitu, Ocean. Tapi aku tidak sabar ingin melihat wajahmu.”
Jantung Ocean berdegup lebih kencang. Bukan, itu jelas bukan Selena seperti yang ia kenal.
Selena maju selangkah, sehingga suara ketukan heels-nya memecah lenggang yang sejenak tercipta. “Aku ingin melihat wajah Ocean Arkananta yang kacau begini. Ocean yang tidak punya banyak pilihan dan tidak bisa tertawa meremehkan orang lain.”
Ocean merasakan otot-otot tubuhnya menegang.
“Aduh, kelihatannya kau terkejut sekali, Ocean.” Selena tertawa renyah, menikmati raut wajah Ocean. “Bagus, terus tampilkan wajah seperti itu hingga membuatku semakin puas melihatnya.”
Napas Ocean tiba-tiba memburu.
“Sayang sekali aku harus berhenti di sini karena situasi yang tidak terkendali. Padahal pertunjukannya sedang seru-serunya.” Selena berdecak, menampilkan raut kecewa. “Tapi tidak apa, karena ini pun menyenangkan.” Sekali lagi Selena tertawa—tawa yang seperti nyanyian selamat tinggal di telinga Ocean.
Tidak. Itu bukan Selena-nya ....
“Ocean Arkananta yang brilian pasti bisa langsung tahu apa yang terjadi saat ini. Pembalasan .... Gigi dibalas dengan gigi, mata dibalas dengan mata. Kau pasti pernah mendengar pepatah itu, bukan?” Selena tersenyum manis, mengedipkan matanya sekali. “Aku sudah bersumpah akan membalaskan luka masa lalu itu, membuatmu berada di posisiku saat itu.”
Lidah Ocean terasa kelu. Kepalanya dipenuhi dengan berbagai kesadaran yang ingin dia tepis jauh-jauh. Omong kosong macam apa ini?
“Bagaimana rasanya, Ocean? Bukankah kau ingin bersimpuh, memohon agar ini hanya mimpi buruk belaka? Bukankah kau ingin segera membuka matamu dari mimpi buruk ini agar bisa menghela napas lega?” Tatapan dan nada suara Selena menajam, menghunus Ocean menuju titik terendahnya. “Dicampakkan, dipermainkan perasaannya ... pasti tidak pernah tebersit hal semacam itu di pikiranmu. Seorang Ocean Arkananta yang sempurna akan diperlakukan bak raja oleh semua orang. Tapi hari ini, aktris gagal sepertiku yang akan melakukannya ....”
Sekali lagi, Selena mengikis jaraknya dengan Ocean. Tinggal setengah meter mereka berdiri berhadapan, Selena memajukan badannya, berbisik di samping telinga Ocean, “Sejak kuliah aku bukan hanya terkenal gila, aku punya julukan lain.” Seringaian kembali terbit di bibir Selena. “The Devil Princess ... iblis ini akan menghancurkan hidupmu tanpa ragu.”
__ADS_1
...****...