
“Berhenti meneleponku, Ocean. Aku sedang bersih-bersih rumah dan memasak sebelum Tuan Daendels menendangku dari sini. Fokus saja pada meeting-mu, para wartawan itu sudah pergi.”
Suara yang terdengar kesal di seberang sana berhasil membuat sudut bibir Ocean tertarik ke atas. Ia mengangguk sekali, menggumamkan terima kasih pada petugas yang membukakan pintu untuknya. Dalam sekejap Ocean bergabung dengan riuh rendah orang-orang di lobi sebuah restoran mewah.
“Segera telepon aku jika kau merasa ada yang aneh, Selena.” Ocean membenarkan posisi ponsel di telinga. “Baiklah, aku tidak akan mengganggu lagi. Jaga dirimu baik-baik sampai aku pulang. Dan kita akan lihat apakah harapan tinggiku terhadap masakanmu akan berakhir menyedihkan atau tidak.”
Sambungan telepon terputus setelah terdengar gerutuan Selena. Ocean dapat membayangkan wajah kesal Selena, beradu dengan bibirnya yang lincah melepaskan makian.
Tiba di tengah lobi dengan banyak orang berlalu-lalang, langkah Ocean memelan. Kernyitan samar muncul di dahinya seiring tatapannya yang terarah pada seorang pria yang berjalan cepat di depan sana.
Badan tambun pria itu yang dibalut dengan setelan jas biru ketat, membuat pergerakannya terlihat tidak leluasa. Ocean menatap lekat pria itu, mengamati setiap jengkal wajahnya. Saat akhirnya posisi mereka sejajar, berpapasan, untuk kemudian pria itu berlalu begitu saja, sebuah gambaran samar tereka di kepala Ocean.
Langkah Ocean benar-benar terhenti. Dia membalikkan badan, menatap punggung pria itu yang semakin menjauh lantas ditelan pintu.
“Ada ada, Pak? Maaf, tapi kita sudah ditunggu di dalam.” Noah melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sebentar lagi meeting akan dimulai.
Ocean menghembuskan napas, merasa mungkin dia berlebihan, hanya karena melihat orang itu lagi. Dia baru dua kali melangkah hingga matanya melebar saat melihat seseorang di depan sana.
Pimpinan redaktur sebuah surat kabar terkemuka.
Sama seperti pria yang baru saja lewat itu, si pimpinan redaktur juga tampak tergesa-gesa. Dia berkali-kali menatap jam tangannya sembari berjalan cepat melewati beberapa orang di lobi restoran. Bahkan setelah petugas restoran membukakan pintu untuknya, pimpinan redaktur itu berlari-lari kecil menuju mobilnya.
Sekarang, gambaran samar itu menjelma menjadi bentuk yang hampir utuh. Ocean bisa merangkai benang merah dari segala yang dia lihat.
Pria tambun, pimpinan redaktur, dan bekas cakaran di tangan.
“Segera hubungi tim manajemen proyek film terbaru Selena, Noah. Minta daftar nama seluruh investor.” Tangan Ocean sudah sibuk mengetikkan sesuatu di layar ponselnya, wajahnya terlihat serius sekali.
Noah mengangguk singkat, bergerak cepat mencari informasi kontak tim manajemen proyek film terbaru Selena.
“Apa ada yang mau kausampaikan kepada keluargamu, Noah?”
__ADS_1
Kening Noah mengernyit dalam mendengar pertanyaan Ocean, aktivitas tangannya di layar ponsel terhenti. “Kenapa saya harus begitu, Pak?”
“Hari ini, sepertinya kau akan mati bersamaku.”
...****...
“Berhenti menarik jasku, Noah. Kau membuatku sulit berjalan.” Ocean berseru jengkel pada Noah yang gemetar sambil menarik jas belakangnya.
“Pak, kalau kita tertangkap bagaimana? Saya bahkan sudah jadi pencuri sekarang.” Noah menampilkan wajah memelas, seperti hampir menangis.
Lima belas menit lalu, Ocean memerintahkan Noah masuk ke dalam sebuah spa mewah, mendaftar sebagai tamu VIP. Misi Noah hanya satu: mencuri kunci mobil seorang tamu.
Dua jam lalu mereka mengetahui nama pria tambun itu dari daftar investor yang dikirim tim manajemen proyek film yang Selena jalani. David Tan, pemilik perusahaan minuman kemasan.
Ocean melihat David di tempat kejadian malam itu. Wajah cemasnya mungkin tidak kentara, karena semua orang di sana menunjukkan ekspresi yang kurang lebih sama. Apalagi dia investor film, tidak ada yang mencurigai keberadaannya di lokasi syuting. Tapi ada satu hal yang membuat Ocean tiga-empat kali meliriknya: David tidak berhenti menggesekkan kuku jempol dan telunjuk kanannya satu sama lain secara terus menerus. Dan saat berpapasan dengannya di lobi hotel tadi, Ocean melihat bekas cakaran di pergelangan tangan kirinya yang tidak tertutup jas dengan baik.
Setelah menunda meeting, Ocean dan Noah menunggu di luar perusahaan David selama lebih dari satu jam, hingga akhirnya mobil David terlihat keluar dari perusahaan, menuju sebuah tempat spa mewah.
“Pak CCTV-nya ....” Noah semakin gentar menatap kamera pengawas yang dipasang di basemen tempat parkir.
“Maka kita harus membuat kamera pengawasnya mati saat beraksi.” Ocean berjalan semakin cepat, menuju ruang panel listrik.
Tanpa menunggu lagi, Ocean mengayunkan balok kayu yang dia dapatkan di sudut basemen ke arah tombol pemutus daya utama.
Brak!
Percikan api muncul bersamaan dengan aliran listrik di spa yang terputus. Gelap gulita sepanjang mata memandang.
“Nyalakan lampu senter ponselmu, Noah. Kita hanya punya waktu sebentar sebelum teknisi selesai memperbaikinya.” Ocean berjalan cepat kembali ke arah mobil David.
“Aksi Bapak ini, ‘kan, juga terekam CCTV tadi ....”
__ADS_1
“Tidak lebih buruk dibandingkan saat terekam menggeledah mobil orang lain, bukan?” Ocean tersenyum miring. Dia bahkan masih terlihat tenang.
Mereka tidak perlu merasa khawatir saat beberapa petugas spa berlarian menuju ruang panel listrik. Kunci mobil David yang ada di tangan Ocean membuat mereka terlihat seperti pemilik asli mobil.
“Kenakan ini.” Ocean menyerahkan sarung tangan latex pada Noah. “Cari dengan baik di setiap jengkal mobil. Laporkan padaku jika ada yang terlihat mencurigakan.”
Ocean sudah beraksi, menelusuri bagian kemudi sembari mengarahkan lampu senter ponselnya. Setiap jengkal tidak terlewatkan oleh Ocean, demi menemukan petunjuk kecil seperti setitik darah.
Enam menit menyisir, bahkan hingga menyingkap karpet mobil dan menekuri setruk belanja di laci, hasilnya nihil. Mobil itu bersih.
“Pisau yang dia gunakan pasti sudah dibuang ke laut untuk melenyapkan bukti.” Ocean mengembuskan napas kasar, menyugar rambutnya. “Bagaimana dengan bagasi, Noah?”
“Bersih, Pak—eh!”
Buru-buru Ocean mendekat saat melihat wajah terkejut Noah. Tidak ada apa pun di bagasi itu, namun ada bercak darah di dinding sampingnya.
“Pak, ternyata masih ada ruang di bawah bagasi.” Noah sudah menarik lantai bagasi, menampakkan ruang sempit di bawahnya.
Dan mata Ocean berkilat-kilat melihat sesuatu yang ada di dalam bagasi itu. Kemeja putih yang berlumuran darah di bagian lengannya. Tidak salah lagi. Ini bukti yang paling kuat.
“Segera hubungi polisi secara anonim, Noah. Bilang bahwa David Tan memiliki bekas cakaran baru di lengan kirinya dan bercak darah di mobilnya.” Ocean tersenyum puas, menutup kembali bagasi mobil. “Cabut kartu memori dashcam dan kembalikan kunci mobil ke tempatnya. Misi kita telah selesai.”
...****...
Ocean kembali ke rumah dengan perasaan lega luar biasa. Setelah ini Selena akan benar-benar dilepaskan dari kasus ini. Nama baiknya pun akan kembali.
Tangan Ocean bergerak untuk menekan rangkaian nomor pada digital lock door, pintu terbuka setelah terdengar bunyi singkat.
Ocean baru akan memanggil Selena ketika pemandangan pertama yang menyambut matanya berhasil membuat Ocean terpaku dengan mata melebar. Dadanya tiba-tiba bergemuruh hebat.
David Tan ada di rumahnya.
__ADS_1
...****...