
Salju. Putih mendominasi setiap pusat tatapan. Selena merapatkan mentel tebalnya ketika kesiur angin menerpa wajah, kantong belanjaan di tangannya bergemerisik pelan. Jejak langkahnya tercetak jelas di hamparan salju, untuk tak lama setelahnya butiran-butiran salju dari langit perlahan menutupnya kembali. Malam hampir tiba, corn chowder sepertinya akan cocok sekali sebagai menu makan malam, membuat hangat tubuhnya yang terasa akan membeku.
Sudah sebulan lamanya Selena pergi. Belum bisa dikatakan bahwa dia telah sembuh, namun juga tidak bisa dipungkiri jika Selena sudah merasa sedikit lebih baik. Ocean masih menjadi objek yang mendominasi kepalanya. Seberapa keras pun Selena mencoba mengenyahkannya, menyibukkan diri dengan berbagai hal, Ocean selalu datang. Merasa percuma mengusir Ocean dari pikirannya, Selena akhirnya memilih untuk membiarkannya.
Agatha benar-benar memenuhi janjinya. Setelah Selena pergi, pernyataan penyangkalan terhadap berita yang beredar, segera menjadi topik paling dibicarakan. Hal itu memberikan dampak yang besar, membersihkan nama Ocean.
Sayangnya hal itu tidak berlaku bagi Selena dan Felix. Foto di apartemen itu tidak bisa dibantah. Agensi Selena memberikan pernyataan bahwa tindakan Selena dan Felix saat itu memang tidak dewasa. Mereka terjebak perasaan sesaat ketika mengingat masa lalu. Namun agensi juga memberi penekanan bahwa hubungan itu hanya berlangsung sekejap mata sebelum akhirnya Selena dan Felix menyadari kesalahan mereka dan memutuskan hubungan secara baik-baik.
Putus secara baik- baik .... Selena ingat dia tersenyum masam ketika membacanya. Meskipun begitu, dia memberanikan diri untuk menghubungi Felix untuk pertama kalinya setelah kejadian di teater. Pria itu menjawab dengan nada yang baik, menunjukkan keadaannya tidak separah yang Selena bayangkan.
“Jangan khawatir atau merasa bersalah, aku baik-baik saja. Aku memang sudah berencana untuk lebih fokus membangun karier di Paris. Sebulan yang lalu aku mendapat tawaran untuk tampil di runway.” Begitu kata Felix, seolah menyadari perasaan Selena. Meskipun tidak sepenuhnya bisa menyingkirkan kekhawatiran dan rasa bersalah, itu berita yang bagus. Untuk pertama kalinya setelah ketegangan yang terjadi di antara mereka, Felix dan Selena bisa mengobrol santai layaknya teman.
Mengenai kariernya sendiri, Selena yakin jalannya tidak akan mudah setelah ini. Dia sudah dikeluarkan dari proyek film terbarunya, tapi tidak apa. Selena sudah banyak melalui rintangan dalam perjalanannya sebagai aktris. Dia tidak akan menyerah akan mimpinya semudah itu.
Sampai di teras vila, Selena membersihkan salju di mantelnya sejenak, sebelum mendorong pintu kokoh di depannya. Dalam keremangan di ruang tamu vila, Selena hendak melangkah ke arah dapur ketika ia mendengar kesibukan kecil dari arah sana. Tubuh Selena menegang, tangannya spontan mencengkeram kantong belanjaannya.
Bayangan tentang penggemar fanatik yang pernah menyerangnya di tempat yang sama, membuat Selena hati-hati meletakkan kantong belanja di kursi, lantas bergegas mengambil stik golf. Meneguk saliva, mempererat pegangannya pada stik golf, Selena mengendap-endap menuju dapur, menajamkan pandangannya.
Semakin dekat dengan area dapur, semakin cepat pula detak jantung Selena. Dia akan mengayunkan stik yang dipegangnya ke arah kepala orang itu. Tidak peduli jika dia sekarat atau mati sekali—
Deg!
__ADS_1
Gerakan mengendap-endap Selena sempurna berhenti saat dia melihat punggung seseorang yang ada di dapur. Kemeja putih dengan lengan yang digulung, postur tinggi, rambut hitam yang sedikit berantakan. Seseorang itu terlihat sibuk memasak, tangannya cekatan membalik sesuatu di papan penggorengan.
Seolah menyadari keberadaan Selena yang tidak lagi bersembunyi di balik dinding, orang itu membalikkan badan. Mata mereka beradu.
Sedetik.
Dua detik.
Seulas senyum terbit di wajahnya yang tampak tenang. “Kau sudah pulang.”
Hening. Selena mematung, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Semakin ia menatap pria di depan sana, semakin pekat pula keinginan Selena untuk melarikan diri. Namun, kakinya tidak mau beranjak dari sana. Matanya tidak mau berpindah ke arah lain. Saat ini Selena sempurna tersihir oleh dunia yang dia ciptakan sendiri.
“Sebentar.” Pria itu, Ocean, mencuci tangannya lantas mengelapnya hingga kering setelah mematikan kompor. Dia kemudian berjalan ke arah Selena, mengangkat kedua tangannya untuk menangkup lembut pipi Selena. “Kau kedinginan. Akan kunaikkan suhu ruangannya.”
“Sebenarnya—” Selena menemukan kembali suaranya, namun lehernya seperti tercekik, sehingga dia perlu berusaha keras mengendalikan suaranya. “Sebenarnya apa yang sedang kaulakukan di sini?”
Suara tajam Selena tidak serta merta membuat Ocean gentar. Dia malah menyeringai tipis, kembali berdiri di depan Selena. “Pasti akan terdengar seperti berdalih dan klise jika aku mengatakan karena ingin melihat aurora borealis atau sekadar ingin jalan-jalan di Tony Knowles Coastal Trail, bukan? Kau tahu betul kenapa aku di sini.”
Seringaian sialan itu—Selena menggigit pipi bagian dalamnya, mencoba mengendalikan diri. Semuanya sudah terlanjur berantakan. Baginya kini, kisahnya bersama Ocean telah tiba di halaman terakhir, dan surat cerai yang belum juga Ocean tanda tangani akan menjadi sampul yang sempurna untuk kisah menyedihkan mereka.
“Aku sudah memberimu waktu sebulan untuk menenangkan diri.” Ocean memecah lenggang, masih dengan suara tenangnya. “Sudah cukup main-mainnya, Selena. Kau tidak bisa selamanya melarikan diri.”
__ADS_1
Mendadak Selena menyesali keputusannya memilih tinggal di vila yang Ocean berikan, daripada berdiam diri di apartemen milik ayahnya di New York. Rindu sialan itu yang membuat Selena nekat datang ke sana, ingin memanggil memori kebersamaan mereka, tanpa pernah menduga Ocean akan menemukannya. Baiklah, Selena juga tahu pria menyebalkan itu akan bisa menemukannya di mana pun dia berada.
“Daripada mengatakan omong kosong dan membuatku muak, sebaiknya kau pergi, Ocean. Ah, atau aku yang harus pergi karena vila ini milikmu?”
“Vila ini milikmu sepenuhnya.” Ocean bersedekap, santai bersandar pada dinding. “Tidak perlu merasa tidak nyaman. Aku di sini hanya melakukan tugasku. Hari Minggu, jadwalku untuk membersihkan rumah dan memasak.”
Selena sedikit melebarkan matanya tidak percaya. Hal gila macam apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini? Saat situasi dengan memanas seperti ini, Ocean sempat-sempatnya membicarakan soal jadwal bodoh itu? Pandai sekali dia memancing kekesalan Selena.
“Seperti yang kaubilang tadi, ini bukan lagi rumahmu. Jadi kenapa kau repot-repot melakukannya?” Gigi Selena bergemeletuk seiring matanya yang menyorot tajam. “Dan sebaiknya kau cepat tanda tangani surat perceraian itu agar semua hal memuakkan ini cepat berakhir.”
“Sudah kubilang aku tidak mau bercerai denganmu.”
“Kenapa kau keras kepala sekali? Apa kau tidak punya harga diri? Aku sudah mencampakkanmu, tidak ada lagi yang tersisa di pernikahan ini. Jadi ayo berhenti di sini dan hidup layaknya kita tidak saling mengenal!” Napas Selena menderu, dia bahkan tidak sadar jika baru saja berteriak. Untuk sesaat, Selena dikuasai oleh emosinya.
Lenggang menyelimuti dapur, semakin mempertajam atmosfer ganjil di antara mereka. Tiga detik, Ocean menegakkan punggungnya. Tidak ada lagi gestur dan sorot santai, wajahnya terlihat serius sekarang.
Ia menatap lekat Selena, seolah sedang menyimpan baik-baik wajah itu dalam ingatannya, sebelum seulas senyum lembut menghiasi wajahnya.
“Kau boleh mencampakkanku sebanyak yang kau mau, mengambil semua kesempatan untuk membuatku terlihat seperti pria menyedihkan, Selena. Tapi aku akan tetap datang. Tidak peduli berapa kali pun kau menolakku, aku akan selalu datang. Lagi dan lagi. Aku benar-benar ingin mencoba yang terbaik di pernikahan ini, hingga saat nanti aku mengenang momen ini, aku akan tertawa ... dengan kau yang berada di sampingku.”
Sekelumit perasaan hendak menyerah itu semakin pekat dirasakan Selena, dan dia membenci hal itu. Dia membenci Ocean yang mudah sekali menggoyahkan tekadnya.
__ADS_1
...****...