
“Bagaimana? Masih belum mau?” Robin melepaskan jasnya. Wajah tuanya menampilkan raut khawatir.
Lilian menggeleng lemah, menerima tas kerja dan jas suaminya. “Apa ada masalah yang tidak kita ketahui? Kenapa dia jadi seperti ini padahal sebelumnya terlihat lebih baik setelah bertemu Ocean.”
“Aku akan mencoba bicara dulu dengannya.” Dengan hati-hati Robin mengetuk pintu kamar Selena yang tertutup rapat, berucap lembut, “Kau belum makan apa pun sejak kemarin, Selena. Papa khawatir ....”
Tidak ada sahutan dari dalam sana. Selena mengurung diri sejak pertemuan terakhirnya dengan Ocean. Berapa kali pun mamanya membujuk untuk makan, atau setidaknya sesuap saja, Selena memilih bergeming.
Helaan napas Robin terdengar bersamaan dengan tangannya yang terangkat untuk mengusap rambutnya. Jika keadaan ini dibiarkan berlarut-larut, tidak menutup kemungkinan Selena akan jatuh sakit.
“Selena ... jika kau keberatan untuk menceritakan masalahmu pada kami, setidaknya temui Papa sebentar saja. Biarkan Papa memelukmu sebentar .... Melihatmu seperti ini, Papa—” Tenggorokan Robin tercekat, matanya mendadak berair. Semenjak isu perselingkuhan itu menyeruak, rasa bersalah terhadap putrinya semakin terasa membunuhnya. Kalau saja dia tidak memaksa Selena menikah dengan Ocean, putrinya tidak akan melalui hal buruk ini. Selena tidak akan berselingkuh dengan Felix, dia tidak perlu memaksakan diri dalam pernikahan itu. Kalau saja dia tidak egois ....
Robin baru mengusap matanya yang basah, ketika pintu kamar Selena terbuka perlahan. Tak lama setelah itu, Selena muncul dengan kepala menunduk. Robin tertegun sejenak. Ini pertama kalinya dia melihat putrinya terlihat sehancur itu. Penampilan Selena amat berantakan, matanya bengkak, dan tubuhnya menjadi lebih kurus. Keceriaan yang lekat dengannya sempurna lenyap. Dia seperti raga kosong yang tidak lagi memiliki alasan untuk melanjutkan hidup.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Robin segera merengkuh Selena dalam dekapannya. Merasakan dingin di sekujur tubuh Selena, air mata Robin luruh seketika. Ia terisak, merasa amat bersalah kepada putrinya hingga lehernya terasa tercekik.
Isakan Robin yang terdengar menyayat hati itu, turut serta membawa tangis yang coba Selena tahan sekuat mungkin. Tubuh Selena bergetar seiring melodi kesakitan yang bergema di rumah besar itu. Ia mendekap papanya erat-erat, menumpahkan air mata dan raungan di bahu tua itu. Lesakan sesak yang membelenggunya, kian menggila.
“Semuanya akan baik-baik saja, Selena. Kau pasti akan baik-baik saja.” Robin berbisik di sela tangisnya.
“Tidak. Semua tidak akan pernah baik-baik saja.” Selena menggeleng kuat-kuat. “Aku tidak mau melihat Ocean lagi, Papa. Aku benci sekali melihatnya. Tolong bawa aku sejauh mungkin darinya, jangan biarkan aku melihatnya lagi.”
__ADS_1
Suara parau penuh kekalutan bercampur putus asa itu menghadirkan luka menganga di hati Robin, menyadari dia telah menjadi seorang ayah yang gagal. Ia memejamkan matanya, mencium puncak kepala Selena, lantas berucap dengan tatapan yang kukuh, “Papa akan mengusahakan yang terbaik untuk perceraianmu.”
...****...
“Apa ada masalah, Robin?”
Nada yang menggaungkan kewibawaan itu kali ini terdengar berkali-kali lebih menggentarkan. Robin melangkah pelan mendekati pria paruh baya yang tengah duduk di sebuah kursi dengan ditemani secangkir kopi yang mengepulkan uap. Sekali lagi, Robin menginjakkan kaki di kediaman Arkananta, bertemu dengan tuan rumah di sana. Galang Arkananta.
Terpaut empat meter dari Galang, Robin menghentikan langkahnya. Sejenak, ruangan itu mengalunkan hening, hingga Robin seolah bisa mendengar degup jantungnya sendiri.
Lima detik, mata Galang melebar ketika menyaksikan Robin yang perlahan menurunkan badannya hingga berlutut di depannya. Kepalanya menunduk, matanya terpejam sendu.
“Sebenarnya apa yang sedang kaulakukan?” tanya Galang dengan ketidakpercayaan yang lekat di wajahnya.
Robin mengusap kasar matanya yang tiba-tiba berair. Malam ini, harga diri tidak lagi berarti baginya. Selama Selena bisa lepas dari belenggu pernikahan ini, Robin bahkan rela merangkak, mencium kaki Galang tanpa ragu.
“Kita sungguh sudah berdosa terhadap anak-anak itu, Galang. Kita sudah merenggut mimpi mereka dengan cara yang kejam untuk keegoisan yang tidak perlu. Sudah saatnya kita berhenti, membiarkan mereka menemukan kehidupan yang mereka mau.” Sorot mata Robin memancar permohonan yang pekat. Dia telah menyerukan kekalahan dengan lantang, merendahkan diri ke titik paling hina. “Aku bisa membuat surat resmi tentang pernyataanku tadi. Kau mau pengacara dihadirkan sekarang juga? Akan kupanggil—”
Ucapan Robin terhenti kala Galang melangkah ke arahnya, lantas menariknya pelan untuk berdiri. Pria yang selalu terlihat angkuh itu sepertinya meninggalkan sebagian egonya bersama uap kopi yang mengepul.
“Cukup, Robin. Jangan membuatku semakin terlihat jahat. Aku tahu sebesar apa dosaku pada anak-anak malang itu.” Galang menghela napas panjang. “Aku berjanji tidak akan ikut campur lagi dalam hubungan mereka. Aku akan menyerahkan sepenuhnya keputusan pada mereka. Jika memang berpisah adalah yang terbaik untuk keduanya, Selena dan Ocean setuju dengan hal itu, aku hanya akan menerimanya tanpa bertanya lagi.”
__ADS_1
Robin merasakan air hujan mengguyur tubuhnya, meluruhkan beban yang bergumul di dalam rongga dadanya. Dengan sekali gerakan, Robin memeluk Galang, menepuk punggungnya berkali-kali. “Terima kasih ... sungguh terima kasih, Galang.”
Untuk pertama kalinya, mereka saling memeluk tanpa ada persaingan yang lekat dengan hubungan keduanya. Sifat kekanakan yang selama ini mereka pertahankan, melebur seiring persahabatan yang terjalin samar.
“Tolong maafkan putraku yang belum bisa menjaga Selena dengan baik, Robin.”
...****...
“Sial!”
Ocean mengusap wajahnya dengan gusar, lincah menggerakkan kemudinya. Situasi ini terasa deja vu, di mana Ocean terlihat kalut, berusaha bertemu Selena secepat yang dia bisa. Bedanya tidak ada Noah yang menampilkan wajah ketakutan di sana, Ocean bisa menggila semaunya tanpa perlu memikirkan keselamatan orang lain.
Memecahkan rekor waktu pribadinya untuk sampai di rumah Selena, tanpa menunggu barang sedetik pun setelah mobil berhenti sembarangan di halaman rumah, Ocean segera berlari masuk. Seorang asisten rumah tangga berjenggit kaget saat Ocean langsung memanggil nama Selena dengan keras tepat setelah pintu terbuka.
Kaki Ocean melangkah cepat menuju kamar Selena di lantai dua, mendorong kasar pintu, hanya untuk menemukan ruangan itu kosong. Dan sebelum Ocean kesetanan mencari di segala ruangan, wanita paruh baya yang tadi membukakan pintu untuknya takut-takut berlari mendekat.
“Tuan Ocean, Nyonya Selena ... eh, Nyonya Selena tidak ada di rumah. Sejak subuh tadi, Tuan Robin sekeluarga telah pergi dengan membawa koper-koper besar. Sepertinya mereka akan pergi lama.”
Ocean terhenyak. Dia tahu—sial, dia benar-benar tahu apa yang sedang Selena lakukan. Ocean terlambat. Sejak ayahnya menelepon pagi tadi, membicarakan tentang opsi perceraiannya dengan Selena, seharusnya Ocean bisa datang lebih cepat.
Tangan Ocean terangkat untuk mengacak rambutnya yang sudah berantakan. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk sekarang. Selena telah pergi. Dia memilih untuk bersembunyi, menghilang dari pandangan Ocean selagi punya kesempatan.
__ADS_1
Namun, Selena sungguh terlalu naif. Yang dihadapinya kini adalah Ocean Arkananta. Cassanova itu akan selalu punya cara untuk menemukannya.
...****...