Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
EXTRA CHAPTER| HOW SHE HURT


__ADS_3

“Astaga, ada apa dengan wajah dan rambutmu?” Everly menutup mulutnya dengan telapak tangan saat melihat Selena yang tidak seperti biasanya.


Rambut berantakan, wajah yang merah padam, dan bekas cakaran samar di lengan. Tambahkan gumaman yang mirip makian itu. Secara keseluruhan, Selena tampak kacau.


“Aku baru saja bertengkar. Ah, si sialan itu membuat kesal saja!” Selena membenarkan rambutnya yang awut-awutan melintang di wajah, bahkan napasnya sekarang masih memburu.


“Bertengkar? Kau? Bagaimana bisa?” Everly semakin tidak mengerti. Baiklah, Selena memang beberapa kali bertengkar hebat hingga berujung pada kekerasan secara fisik. Tapi itu saat SMA, sudah lama sekali. Everly pikir Selena akan membangun citra elegan dan berkelas di bangku perkuliahan.


Selena mendengus, masih terlihat amat kesal. “Dia mencoba mencemarkan nama baik Ocean dengan menyebarkan rumor murahan.”


“Tunggu, Ocean?” Everly sedikit memundurkan badannya sebagai reaksi keterkejutannya. “Kenapa kau tiba-tiba peduli dengan Ocean? Kukira kau tidak menyukainya.”


Ha! Selena mendadak kehilangan kata-kata. Tangannya bergerak canggung untuk mengusap pipinya. Benar juga, mengapa dia repot-repot melakukannya?


Senyum menggoda muncul begitu saja di wajah Everly, dia menyikut lengan Selena sembari menaik-turunkan alisnya. “Apa ada sesuatu antara kau dan Ocean yang tidak aku ketahui?”


“Apa-apaan!” Selena mendorong siku Everly, mendengus. “Aku hanya membelanya sedikit karena dia anak baik yang hanya tahu membaca buku. Tidur dengan banyak wanita? Bukankah itu sudah keterlaluan? Aku bahkan yakin dia belum pernah pegangan tangan dengan wanita mana pun.”


“Wah, aku tidak tahu kau punya kepedulian tinggi terhadap orang lain.” Everly mengulum senyum melihat Selena semakin salah tingkah. “Kalau melihat gaya Ocean, aku yakin dia lebih menyukai sesuatu yang klasik. Elegan dan punya makna yang dalam.”


Kening Selena berkerut. “Apa maksudmu?”


“Kau tahu, cara mengambil hatinya.”


Dan sedetik setelahnya Everly menjerit histeris saat Selena mencekiknya sembari memelotot horor.


...****...


Tiga tahun. Butuh tiga tahun bagi Selena untuk benar-benar mengikuti perkataan Everly. Selama tiga tahun belakangan ini, Selena hanya bisa menatap Ocean dari kejauhan, mengaguminya dalam senyap—baiklah, tidak sepenuhnya senyap karena Selena beberapa kali menghabisi pengacau yang berusaha merusak ketenangan hidup Ocean.

__ADS_1


Di tahun terakhirnya kuliah, keberaniannya muncul. Dia banyak berpikir tentang sesuatu yang klasik, memiliki makna yang dalam. Ada satu hal yang terlintas di kepala Selena: surat.


Maka malam itu Selena mencoba merangkai kata, menuangkan perasaannya melalui goresan tinta. Ia memikirkan tentang konsep pernyataan cinta tanpa mengutarakannya dengan gamblang. Pilihannya jatuh pada surat berseri dengan rangkaian huruf pertama yang membentuk sebuah kata. Daisuki. Aku sangat menyukaimu. Akhirnya Selena memilih kata itu, membagi suratnya menjadi tujuh bagian.


Ada seorang gadis berkacamata tebal yang Selena juluki sebagai “penunggu” perpustakaan karena hampir setiap saat berada di tempat itu, yang menjadi “kurir” surat Selena untuk Ocean. Selena akan menyisipkan surat ke dalam novel-novel tema romansa seperti Pride and Prejudice karya Jane Austen, Romeo and Juliet-nya Shakespeare, Wuthering Heights dari Emily Bronte ... total ada enam novel romansa klasik yang Selena berikan secara bertahap, lalu gadis itu akan memberikannya pada Ocean di perpustakaan.


Dan untuk surat terakhir .... Sejak pagi Selena sudah gelisah. Jantungnya tidak berhenti berdegup kencang. Surat terakhir itu sudah Selena sisipkan ke dalam novel P.S. I Love You karya Cecelia Ahern. Dan Selena akan memberikannya sendiri pada Ocean.


Berkali-kali Selena meneguk Saliva sembari menunggu Ocean di lorong menuju perpustakaan. Telapak tangannya terasa dingin, namun wajahnya memanas. Ketakutan bercampur antusias berkecamuk di pikirannya.


“Bagaimana jika dia menolak—oh astaga, dia datang.” Selena kelimpungan, kegugupan semakin santer menyergapnya saat Ocean terlihat di ujung lorong.


Ocean semakin dekat. Selena mencoba mengendalikan dirinya dengan menarik napas panjang. Tidak, dia tidak boleh terlihat aneh di depan pria itu.


Tepat saat Ocean hendak melewatinya, Selena memberanikan diri untuk segera menghalangi jalan. Ia berdiri di depan Ocean sambil memasang senyum angkuh, menyembunyikan kegugupan yang terasa mencekiknya.


“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.” Selena diam-diam mengambil napas, membuka pembicaraan.


Mata Selena membeliak, terkesiap. Dalam surat-surat yang ditulisnya, dia sama sekali tidak mencantumkan nama. “B-bagaimana kau tahu ....”


“Kau terlalu mudah terbaca, Selena.” Ocean menyeringai tipis.


Selena mempererat cengkeramannya pada novel P.S. I Love You yang dia sembunyikan di belakang punggung. “Karena kau sudah tahu ... maka sepertinya aku tidak perlu basa-basi lagi.” Selena berdeham pelan, sebelum mengangkat wajah, menatap pada iris hitam kelam Ocean. “Aku ... sepertinya aku me—”


“Tidak.” Ocean memotong cepat ucapan Selena.


Selena mengerjap lambat, merasa ketakutannya akan menemukan jawaban sebentar lagi. Tatapan Ocean sekarang seperti tengah menghunjam tepat di jantungnya. Bersamaan dengan itu, seruan tertahan dari beberapa mahasiswi yang kebetulan lewat di lorong itu, tertangkap telinga Selena.


“Kau tahu apa yang paling tidak aku sukai? Orang bodoh yang bangga menunjukkan bahwa dia memang bodoh dengan tingkah konyolnya. Sayangnya, kau termasuk dalam daftar teratas jenis orang yang tidak kusukai, Selena.”

__ADS_1


Lorong itu tiba-tiba terasa menyempit dan begitu menyesakkan. Selena membeku di tempatnya berdiri.


“Oleh karena itu, kuharap kau berhenti membuang-buang waktumu dan hiduplah sesukamu tanpa melibatkan aku di dalamnya.”


Bahkan saat mengatakan hal menyakitkan itu, ekspresi Ocean tidak banyak berubah, masih tetap tenang seolah kejadian ini sama sekali tidak berharga untuk dipikirkan. Selena hanya kerikil yang perlu ditendang sekali agar menyingkir dari jalan.


Tangan Selena mengepal. Ia menggigit pipi bagian dalamnya seiring tatapannya yang berubah menajam. Padahal dia sudah mencoba melakukannya sebaik mungkin, kurang tidur berhari-hari untuk memikirkan kata-kata dalam suratnya. Bahkan jika Ocean memang ingin menolaknya, bukankan setidaknya dia tidak berkata sekejam itu?


Selena tahu, Ocean sama sekali tidak memiliki kewajiban untuk membalas perasaannya. Cinta sepihak memang selalu menjadi kesalahan pihak yang terlebih dulu jatuh. Meskipun begitu, Selena akan memilih untuk tidak peduli dengan hal itu. Mulai detik itu, dia memilih untuk membenci Ocean atas perasaan tak berbalasnya, atas perkataan kejam pria itu yang merenggut harga dirinya.


Selena bertekad untuk membenci Ocean selama sisa hidupnya.


...****...


“Menyedihkan sekali. Bagaimana rasanya ditolak Ocean, Selena?”


Tawa mencemooh Natasha menjadi lagu pembuka hari suram Selena. Kabar tentang penolakan Ocean itu menyebar cepat seperti domino. Selena yang terkenal gila karena selalu bertingkah semaunya, kali ini benar-benar kehilangan harga dirinya di depan semua orang.


Saat Selena lewat, beberapa orang akan mulai berbisik-bisik sambil menatapnya. Satu-dua bahkan tertawa meremehkan secara terang-terangan. Meskipun senang menjadi pusat perhatian, Selena sama sekali tidak menyukai situasinya kini, dia tidak ingin menjadi pusat perhatian dengan cara ini.


Dan Natasha jelas akan menggunakan kondisi ini untuk semakin menginjak-injak Selena, memanfaatkannya agar dia jauh terlihat bersinar dari rivalnya. Untuk pertama kalinya Natasha bisa melihat Selena kalah dengan telak.


“Kau tahu, Selena. Ada julukan baru untukmu selain Crazy Princess dan Devil Princess.” Natasha menyeringai lebar, menikmati kelam yang menggelayut di wajah Selena. “Rejected Queen. Cocok sekali denganmu, bukan?”


Natasha melenggang pergi setelah tertawa puas.


Selena memejamkan matanya, lantas memijat pangkal hidungnya. Daripada tatapan dan tawa penuh olok yang diterimanya, sebenarnya Selena jauh lebih merasa terhina saat melihat Ocean. Darahnya akan bergejolak, dan tatapan penuh kebencian akan lahir di kedua matanya saat Selena tidak sengaja melihat sosok itu.


Walaupun sudah menahan diri, lama-lama Selena benar-benar muak. Dia tidak ingin melihat Ocean lagi, meski hanya seujung rambut. Kebencian yang teramat itu akhirnya membawa kaki Selena untuk pergi, dia memutuskan keluar dari dunia perkuliahan di tahun terakhirnya di sana.

__ADS_1


Agar bisa melanjutkan hidup, Selena bertumpu pada mimpinya. Menjadi seorang aktris adalah satu-satunya cara bagi Selena untuk melupakan Ocean.


...****...


__ADS_2