Mrs. Crazy And Mr. Perfect

Mrs. Crazy And Mr. Perfect
EXTRA CHAPTER| HOW THEY MET


__ADS_3

“Wah, Selena, pertunjukan teatermu kemarin hebat sekali. Panggung hampir roboh karena suara dan aktingmu yang mirip mimpi buruk itu.”


Derai tawa mencemooh empat perempuan yang terdengar amat menyebalkan itu membuat Everly yang duduk di samping Selena mendesis kesal sembari melemparkan pelototan tajam. Sementara air muka Selena tidak berubah banyak, masih dalam kadar normal, seolah ucapan Natasha barusan hanya angin lalu.


“Kudengar akhir-akhir ini banyak anjing yang tidak berhenti menggonggong karena terkena rabies, Ever. Kurasa salah satunya tersesat di kampus ini.” Dengan santai Selena menyuapkan salad ke mulutnya tanpa sedikit pun menoleh ke arah Natasha dan ketiga temannya.


Giliran Everly yang tertawa puas.


Ucapan penghinaan Selena itu membuat tangan Natasha mengepal, wajah cantiknya yang dipoles riasan natural tampak jengkel. “Jangan berlagak kau. Dengan kemampuan akting yang payah begitu, beraninya kau bermimpi menjadi aktris. Jangan mempermalukan industri hiburan negara ini dan meringkuk saja di kamarmu.”


Everly menoleh pada Selena, khawatir dia akan terpancing karena perkataan merendahkan Natasha. Namun alih-alih marah, Selena malah menyibak rambutnya pelan. “Kau perhatian sekali padaku, Nata. Menonton pertunjukan teaterku, peduli pada mimpiku, bahkan memberikan saran yang luar biasa. Tapi kurasa kau seharusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri. Bukankah kau baru didepak dari daftar model runway bulan depan karena membuat masalah? Aduh, malang sekali nasib Natasha yang manis ini. Mau Kakak belikan ice cream?”


Genap di akhir kalimat Selena, Everly menyemburkan tawa sekali lagi. Kali ini lebih keras, apalagi saat melihat raut pias Natasha. Jelas Selena yang menang dalam pertarungan ini. Telak. Meskipun sempat mendapat serangan yang lumayan.


Menggertakkan giginya kesal dengan wajah yang memerah, Natasha dan ketiga temannya berlalu dari hadapan Selena setelah menyorotkan tatapan ‘aku akan menghancurkanmu sebentar lagi’.


Brak!


Tepat setelah Natasha ditelan pintu, Selena menggebrak meja hingga membuat Everly tersentak kaget dan semua orang di kantin meliriknya.


“Nata De Coco sialan itu benar-benar mau mencari masalah denganku rupanya! Dia bahkan tidak lebih dari seonggok tuan putri menyedihkan yang bergelayut di kaki ayahnya. Beraninya dia menilai kemampuan aktingku dari pemikirannya yang dangkal itu. Hah, benar-benar tidak masuk akal. Lama-lama kupatahkan juga kakinya biar dia hanya bisa merangkak di bawah lantai runway!” Selena berseru-seru memaki, tidak peduli berapa pasang mata yang kini memperhatikannya. “Dan wajah sialannya itu ... aku bersumpah akan membuatnya menangis darah dan merangkak di bawah kakiku!”


“H-hei, kendalikan dirimu, Selena. Aku yang malu, Bodoh!” Everly melirik sekeliling, lantas menutup wajahnya yang memerah. Perang antara Selena dan Natasha yang dimulai sejak SMA tidak terlihat akan segera berakhir, dan itu sedikit banyak membuat Everly merasa ikut terjebak dalam kumparan setan ini. “Dasar duo gila ketenaran. Kalian sebenarnya sama saja. Memangnya apa yang akan kaudapatkan kalau lebih unggul dari dia?”


“Tentu aku akan tertawa tepat di depan wajahnya sambil menginjak-injak harga dirinya.” Selena menjawab santai, kembali duduk di kursinya. “Aku harus segera mencari kelemahannya agar bisa menyerang secara lebih efektif.”


“Kelemahan Natasha?” Satu alis Everly terangkat, seperti tengah mengingat sesuatu. “Kudengar tiga bulan terakhir dia terobsesi dengan seseorang.”


Mata Selena mendadak berbinar, memusatkan atensinya pada Everly sepenuhnya. “Siapa yang dia sukai?”


“Jurusan bisnis. Ocean Arkananta.”

__ADS_1


“Ocean?” Alis Selena berkerut, baru mendengar nama itu.


“Kau tidak tahu Ocean? Wah, apa kau baru datang dari Mars? Sejak masuk kuliah dia sudah menjadi pusat perhatian. Tampan, tinggi, brilian, dan kaya. Tipe cassanova.” Everly kembali memakan saladnya, merasa lebih tenang setelah mereka tidak lagi menjadi pusat tatapan orang-orang. “Omong-omong bagaimana kau bisa tampil di pertunjukan teater?”


Selena menampilkan wajah malas sebelum menjawab pelan, “Tentu saja dengan menyuap mereka, apalagi memangnya?”


...****...


“Ah, jadi itu yang namanya Ocean?”


Kepala Selena dan Everly menyembul dari kaca kecil yang ada di bagian atas pintu kelas. Tatapan Selena terarah pada seorang mahasiswa yang duduk di deret tengah, memakai kaus putih polos yang dibalut dengan kemeja flanel yang sengaja tidak dikancing. Mahasiswa itu itu terlihat menyimak penjelasan dosen; tidak terlalu serius, namun juga tidak tampak hanya main-main. Yang menarik, dari sudut mana pun dia terlihat menonjol dan mendominasi, meski hanya berdiam diri di sana.


“Bagaimana? Bukankah dia terlihat hebat? Dia dikenal sebagai orang suci karena tidak pernah meladeni perempuan yang mendekatinya.” Everly berdecak kagum menatap Ocean. Berapa kali pun dia melihatnya, Ocean memang terlalu sayang jika dilewatkan begitu saja.


“Yah, kuakui dia memang tampan. Tapi, Ever, aku tahu sekali laki-laki macam itu hanya bersembunyi di balik topeng malaikat. Orang suci apanya, dia hanya membangun citra konyol di kampus ini. Saat digoda perempuan seksi sedikit saja, aku yakin dia akan langsung menunjukkan wujud aslinya.” Selena tiba-tiba memicing, seolah sedang memindai Ocean.


“Dia tidak begitu. Kenapa kau berburuk sangka—”


Selena menoleh, menatap ketiga perempuan di samping Everly yang entah muncul sejak kapan.


“Kadang memang ada yang mengintip di sini untuk melihat Ocean. Biasanya dari jurusan lain yang tidak bisa sering melihatnya.” Everly berbisik menjelaskan.


“Apa-apaan informasi konyol itu? Selebriti saja bukan, kenapa mereka repot-repot melakukannya?” Selena tidak habis pikir. “Heh, aku belum selesai. Enak saja kalian menyuruh-nyuruhku. Memangnya kampus ini milik nenek moyang kalian? Pergi sana, jangan mengganggu.” Selena mengibaskan tangan untuk mengusir ketiga perempuan itu.


Perempuan berambut sebahu memelotot tidak terima. “Heh, memangnya milik nenek moyangmu?”


“Tentu saja milik nenek moyangku. Kau tahu Vitrupaus? Kampus ini tidak akan pernah ada tanpa nenek moyangku itu.”


“Vitruvius.”


Sebuah suara yang mengoreksi perkataan Selena tepat di samping telinganya, membuat perempuan itu tersentak kaget, hampir kelepasan berteriak. Seorang laki-laki dengan rambut yang sedikit berantakan menyambut Selena sambil tersenyum simpul.

__ADS_1


“Siapa kau?” Selena sedikit menjauhkan badannya dari laki-laki itu, waspada.


“Ah, kenapa semua wanita penasaran sekali denganku? Kehidupan orang tampan memang merepotkan sekali.” Laki-laki itu menyugar rambutnya, bergaya.


“Omong kosong macam apa—“


“Ah, cepat minggir!”


Selena yang hendak memaki tiba-tiba didorong oleh ketiga perempuan “penggemar” Ocean yang tidak sabaran, mencoba memanfaatkan kesempatan saat dia teralihkan sebentar karena berbicara dengan laki-laki asing itu. Selena yang tidak siap dengan serangan mendadak itu, terdorong ke pintu masuk kelas yang ternyata tidak tertutup sempurna.


Dalam sekali gerakan cepat, bersamaan dengan pintu yang terbuka karena dorongan, Selena terjerembab jatuh dengan posisi tengkurap ke dalam kelas.


Seperti ada komando tunggal, kelas itu mendadak hening, dosen menghentikan penjelasannya. Seluruh atensi sepenuhnya tertuju pada Selena yang merasakan wajahnya nyeri karena membentur lantai.


Sedetik. Everly berseru tertahan di belakang sana.


Dua detik. Selena menyadari apa yang sedang terjadi padanya.


Tiga detik. Selena mengangkat wajah perlahan dengan detak jantung yang menggila.


Empat detik. Laki-laki asing yang tadi berbicara omong kosong melangkah ke arahnya, disusul oleh Everly.


“Aduh, sudah kubilang kalian jangan terlalu bersemangat. Padahal aku tidak setampan Tom Cruise atau semacamnya, tapi kalian antusias sekali mengambil gambarku sampai terjadi kecelakaan begini.” Laki-laki itu berjongkok di samping Selena, santai mengucapkan omong kosong lainnya, seolah di depan mereka tidak ada puluhan mahasiswa. “Ayo bangun. Jangan tengkurap seperti kura-kura begitu.”


Selena dibantu duduk oleh laki-laki itu dan Everly dengan wajah yang sudah merah padam. Rasa sakit di wajah dan lututnya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan perasaan hina ketika melihat harga dirinya tenggelam ke dasar Palung Mariana. Selena sungguh berharap lantai merekah untuk menyeretnya pergi dari sana.


Selena baru ingin beranjak berdiri agar bisa segera kabur dari ruangan itu, ketika tatapannya tidak sengaja jatuh pada Ocean yang masih duduk di kursinya.


Saat itulah untuk pertama kalinya mata mereka bertemu. Dan Ocean menatap Selena seolah perempuan itu adalah manusia paling bodoh di muka bumi.


...****...

__ADS_1


__ADS_2