
Nadia mendekati Tiara sesaat setelah dia mendengar penuturan sahabat nya.
"Kamu yakin Ra..akan berjualan di luar sana? secara kondisi perut kamu sudah membesar lho," ucap Nadia di sebelah Tiara.
"Benar yang dikatakan Nadia, apa kamu yakin bisa melakukan pekerjaan ini dengan kondisi mu yang sudah seperti ini Ra, ibu tidak mau terjadi apa - apa dengan kandungan kamu nanti nya, lebih baik kamu yang bertugas menjaga toko saja, biar Nadia dan lainnya yang menjajakan roti - roti kita di jalanan," imbuh ibu Salma yang terlihat khawatir dengan kehamilan Tiara.
Tiara tersenyum, dia merasa terenyuh dengan perhatian yang dilimpahkan teman dan atasan nya itu kepada nya.
"Tiara yakin Bu, insyaallah Tiara baik - baik saja. Kandungan Tiara kan sudah kuat, lagian jika Tiara berjualan di luar justru Tiara akan banyak gerak Bu. Nanti jika Tiara merasa lelah, Tiara akan langsung istirahat," kata Tiara dengan begitu yakin.
Bu Salma menghela nafas nya perlahan seraya berkata," baiklah jika itu sudah menjadi keputusan mu Tiara, ibu harap kamu bisa menjaga kandungan mu dengan baik. Ibu tidak ingin terjadi apa - apa dengan calon cucu ibu ini," Bu Salma mengelus lembut perut Tiara yang semakin membuncit.
"Tenang saja Bu, saya akan menjaga Tiara juga nanti saat berjualan di luar, mana mungkin aunty Nad tega melihat calon keponakan aunty kecapean," imbuh Nadia yang ikutan mengelus perut Tiara.
Tiara merasa sangat bahagia sekali karena masih di kelilingi orang - orang yang begitu baik pada nya, yang bisa menerima dia apa ada nya di tengah - tengah banyak orang yang menghujat nya.
Bu Salma dan Nadia sudah tahu keadaan Tiara yang sebenarnya sampai wanita muda itu hamil tanpa ada suami atau pernikahan. Mereka berdua sangat terharu dengan kisah hidup Tiara. Maka dari itu mereka berdua sangat menyayangi Tiara dan selalu menjaga kehamilan Tiara.
"Terima kasih Bu....Nad...kalian selalu peduli pada ku, di saat orang - orang menghujat dan menghina ku kalian selalu menguatkan ku," ucap Tiara dengan mata yang berkaca - kaca.
**
Di bandara,
Seorang laki - laki tampan baru saja menginjakkan kembali ke Indonesia setelah sekian lama meninggalkan tanah kelahirannya itu ke negeri Amerika guna menuntut ilmu.
Laki - laki tampan dengan stelan jeans Dongker yang di padu - padankan dengan kaos putih tidak lupa kaca mata hitam bertengger di hidung mancung nya itu terlihat sedang menunggu seseorang di bandara.
"Maaf tuan muda, saya sedikit terlambat," ucap seseorang dengan berpakaian serba hitam layak nya seorang supir pribadi.
"Tidak apa - apa pak, aku juga baru sampai."
Kedua laki - laki beda generasi itu berjalan ke luar ke arah mobil mereka berada. Sesaat setalah sampai di depan mobil terdengar teriakan seorang wanita yang sangat Alex kenal. Ya laki - laki tampan yang di maksud tadi adalah Alex Wiratama anak pengusaha terkenal di Indonesia.
Jika laki - laki tampan itu adalah Alex, bisa readers tebak sendiri siapa wanita yang berteriak tadi .....yup.....tebakan anda benar semua jelas wanita itu adalah Jesika siapa lagi π
__ADS_1
"Lex....." teriak Jesika setengah berlari ke arah Alex dengan menyeret koper besar nya.
Ternyata gadis itu baru saja turun dari pesawat, entah siapa yang memberitahu Jesika tentang kepulangan Alex itu. Padahal laki - laki itu sudah berpesan pada siapa pun supaya tidak memberitahu Jesika tentang kepulangan nya ke Indonesia.
Alex mendengus kesal saat mendapati Jesika sudah berada di samping nya. Wanita itu tanpa malu langsung menggandeng lengan Alex dengan sangat posesif sehingga membuat laki - laki tampan dan dingin itu menjadi risih sendiri. Dengan sangat percaya diri Jesika juga sudah menyuruh supir pribadi Alex untuk memasukan koper nya di bagasi mobil Alex.
" Sayang.....kamu pulang ke Indonesia kok tidak memberitahu ku," rengek Jesika manja.
"Emang kamu siapa, sehingga aku harus izin dulu pada mu jika aku ingin pulang," jawab Alex dengan nada dingin dan langsung melepaskan tangan Jesika yang sejak tadi melingkar di lengan nya.
Alex langsung masuk begitu saja di dalam mobil nya dan menutup pintu mobil itu dengan sangat keras. Jesika di buat melongo dengan tindakan Alex itu. Dia awal nya mengira jika laki - laki itu akan menyuruh nya untuk masuk ke dalam mobil dan membukakan pintu mobil itu untuk nya. Tapi pada kenyataan nya justru dia di cuekin.
Jesika menghentakkan kaki nya dan berjalan mengitari mobil Alex kemudian masuk ke dalam mobil lewat pintu sebelah kanan. Dia langsung duduk di sebelah Alex. Sedangkan Alex sendiri langsung asik dengan ponsel nya.
Sang supir yang paham dengan ekspresi tuan muda nya langsung melajukan mobil nya.
"S**l....Alex masih saja cuek pada ku, tapi lihat saja bukan Jesika nama nya jika tidak bisa menaklukkan seorang Alex Wiratama," batin Jesika dengan seringai licik nya.
**
"Ra....aku ke sebelah sana dulu ya?" ucap Nadia sambil berteriak.
Tiara hanya menganggukkan kepala, wanita hamil itu kemudian menenteng keranjang roti nya kembali berjalan ke arah lampu merah. Tadi Tiara beristirahat sejenak di halte bus dekat persimpangan jalan sambil menunggu lampu merah menyala kembali. Nadia menyuruh nya hanya berjualan di sekitar sana saja supaya Tiara tidak kecapean.
Di lampu merah itu banyak mobil dan motor yang sedang berhenti, Tiara dengan telaten dan sabar menawarkan dagangan nya pada pengendara yang berhenti di sana. Lumayan banyak orang yang merespon dagangan Tiara dengan membeli roti - roti itu. Akan tetapi banyak juga yang menolak nya, terutama para pengendara mobil mewah yang selalu enggan untuk membeli jajanan yang di jajakan di jalanan seperti itu.
"Permisi....roti nya pak, ada rasa strawberry, keju, coklat dan kacang hijau..." Tiara menawarkan pada salah satu mobil mewah yang berhenti di tengah.
Supir mobil tersebut kemudian membuka kaca mobil nya dan melihat ke arah Tiara dengan tatapan yang aneh.
"Wanita ini, bukankah dia anak dari....." batin pak Ujang yang tak lain adalah supir pribadi Alex.
Jika yang Tiara tawarkan roti adalah mobil yang di kendarai pak Ujang, jelas di situ ada Alex. Akan tetapi Tiara tidak menyadari nya sama sekali.
Karena tidak ada respon dari pemilik mobil tersebut, maka Tiara mencoba kembali untuk menawarkan roti nya itu.
__ADS_1
"Roti nya higienis kok pak...soal rasa insyaallah tidak di ragukan lagi," kata Tiara dengan penuh keyakinan seraya menampilkan senyuman manis nya.
Pak Ujang langsung buyar lamunan nya setelah mendengar perkataan Tiara kembali,"eh iya saya mau lima," ucap Pak Ujang sedikit gugup karena dia merasa kaget.
"Mau rasa apa saja pak?"
"Di campur saja."
Tiara menganggukkan kepala nya, dia membungkus lima biji roti yang ada di keranjang nya ke dalam kantong plastik. Dan memberikan pada supir pribadi Alex. Karena perut nya yang sudah membesar jadi dia merasa sedikit kesulitan.
"Berapa neng?" tanya Pak Ujang.
"Satu biji nya lima ribu pak, jad total semua nya dua puluh lima ribu," jawab Tiara dengan ramah.
Pak Ujang kemudian mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu an dan memberikan nya pada Tiara.
"Maaf pak, bisa tunggu sebentar saya akan mengambil kembalian nya terlebih dahulu pada teman saya itu. Karena yang saya kurang untuk kembalian nya," kata Tiara sambil menunjuk Nadia yang sedang berdiri tidak jauh dari nya.
Pak Ujang melihat ke arah jari telunjuk Tiara, dan benar saja dia melihat seorang wanita yang sedang menjajakan roti nya dengan menggunakan keranjang yang sama dengan Tiara.
"Tidak usah neng, kembalian nya buat kamu saja," ucap pak Ujang dengan tersenyum tulus.
"Eh..tapi pak..."
"Tidak apa - apa ambil saja untuk kamu."
"Terima kasih ya pak...semoga Allah memberikan rezeki yang berlimpah pada bapak," kata Tiara dengan tulus.
"Aamiin...." Pak Ujang mengaminkan perkataan dan doa Tiara.
Tanpa Tiara sadari sejak tadi ada sepasang mata yang memandang nya dengan tatapan tajam, benci dan kecewa.
Saat Tiara ingin meninggalkan mobil tersebut, tiba - tiba pandangan mata nya tertuju pada sosok laki - laki tampan yang berada di kursi penumpang yang sangat dia kenal.
"Alex......"
__ADS_1