
Mohon maaf para readers karena lama tidak pernah update🤗, Alhmdulillah malam Rabu kemarin author baru saja di karuniai seorang malaikat kecil yang tampan🤗
Doain author biar lekas pulih dan sehat kembali sehingga bisa melanjutkan update novel nya....
**
Tiara pulang dengan mengendarai motor nya, jalanan nampak sepi karena saat itu sudah hampir magrib dan hujan masih turun walaupun tidak sederas tadi. Sepanjang jalan ibu dua anak itu berpikir bagaimana cara mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit Luna, yang dia tahu pasti tidak sedikit mengingat kondisi Luna sudah seperti itu.
Wanita menghentikan motor nya tepar di sebuah club' malam, Tiara menatap lekat - lekat nama club' yang terpampang jelas di depan mata nya. Lama dia memandangi tulisan itu, dalam hati ada niatan untuk ke sana karena dia tahu tempat apa itu. Seketika dia menggelengkan kepala nya berkali - kali.
"Tidak...jika aku ke sana sama saja aku membenarkan apa yang mereka tuduhkan pada ku enam tahun yang lalu," ucap Tiara yang langsung berlalu dari sana.
Sedangkan di ruangan VVIP, Alex tak beranjak sama sekali dari tempat duduk yang berada di sebelah ranjang Luna. CEO tampan itu tak melepaskan genggaman tangan nya pada Luna, bahkan sesekali dia mengusap rambut Luna saat gadis kecil itu terlihat gelisah dalam tidur nya. Sedangkan Juna, hanya memandang dengan tatapan sendu interaksi antara Alex dan Luna saat ini.
"Andai saja om Alex adalah Ayah ku," gumam Juna dalam hati saat dia memandangi punggung lebar Alex dari arah sofa yang sedang dia duduki.
Jo asisten Alex pun merasa jika kedekatan Alex dan kedua anak Tiara agak berbeda. Terlihat jelas dari arah pandangan nya jika mereka sudah seperti sebuah keluarga.
"Kenapa aku menjadi penasaran ya? Pak Al tidak biasa nya seperti ini. Pak Al seperti ayah biologis mereka, ah.....apa yang sudah aku pikirkan sech," batin Jo.
Tok...tok...
"Permisi..." ucap seorang laki - laki berseragam putih khas seorang dokter.
"Syukurlah kamu segera datang Set, tolong segera periksa anak ini," ucap Alex pada dokter yang baru saja datang.
"Mana mungkin aku tidak datang jika seorang Alexander Wiratama yang memanggil. Siapa dia Al?" tanya Seto sambil memperhatikan wajah pucat Luna yang terbaring lemah di ranjang.
"Dia Luna anak Tiara."
Deg,
"Apa?" A nak nya Tiara?" Seto berkata dengan terbata.
__ADS_1
Dia memperhatikan Luna dan Alex secara bergantian.
"Jangan bilang Alex sudah tahu kejadian yang sebenarnya enam tahun yang lalu. Jika gadis kecil ini anak Tiara, bearti dia juga anak nya..."
"Kok malah melamun, buruan periksa anak ku Set.."
"Hah...iya..." Seto langsung mengambil peralatan medis yang dia bawa. Kebetulan laki - laki ini bertugas di rumah sakit di mana tempat Luna di rawat sebagai dokter spesialis anak.
Dia bisa bekerja di sana atas rekomendasi Alex pasti nya. Karena AW.Group adalah donatur utama di rumah sakit itu. Gelar yang Seto dapat sekarang juga tak lain adalah peran dari AW.Group. Lebih tepat nya dia menggantikan posisi Tiara untuk memperoleh beasiswa kedokteran saat SMA dulu. Karena Seto bukan lah dari keluarga yang kata seperti Alex dan lain nya.
"Di mana Tiara Lex," tanya Seto setelah menyelesaikan pemeriksaan nya.
"Dia sedang pulang untuk ganti baju, kenapa emang nya. Kalau ada apa - apa dengan Luna kamu bisa jelaskan pada ku saja."
"Huft....keadaan paru - paru nya lumayan parah, seperti nya dia telat mengkonsumsi obat yang seharusnya dia konsumsi setiap hari nya. Tapi untuk lebih jelas nya aku akan melakukan serangkaian tes pada anak ini nanti," terang Seto.
"Lakukan saja yang menurut mu itu terbaik untuk anak ku."
Setiap Alex menyebut diri nya sebagai ayah dari Luna jantung Seto seakan mau melompat. Begitu juga dengan Jo yang merasa tidak percaya dengan apa yang bos nya itu katakan.
"Lex....ada hal yang ingin aku tanyakan pada mu," ucap Seto dengan hati - hati.
"Hemmm...katakanlah."
Seto nampak ragu - ragu untuk menanyakan hal yang sudah mengganjal di hati nya sejak tadi.
"Ehm.....kamu sudah tahu yang sebenarnya tentang kejadian enam tahun lalu yang menimpa Tiara?"
"Sudah..." jawab Alex santai.
"Hah....yakin kamu sudah tahu yang sebenarnya?"
"Bukan kah hal itu sudah menjadi konsumsi publik tentang foto dan video sialan itu."
__ADS_1
"Astaga...." Seto bernafas lega, ternyata apa yang dia duga salah.
"Aku kira kamu sudah...."
Brak
Tiba - tiba terdengar suara pintu terbuka," Luna...." Tiara berlari menghampiri ranjang di mana Luna berbaring saat ini.
Wanita itu sempat panik tadi saat dia kembali ke ruangan Luna ternyata anak nya tidak ada di sana. Untung saja perawat yang berjaga di bagian ruangan kelas tiga segera memberitahu Tiara jika anak nya sudah di pindahkan ke ruangan lain.
Memang sebelum meninggalkan ruangan itu Jo asisten Alex meminta perawat itu untuk memberitahu Tiara jika anak nya di pindahkan ke ruang VVIP dan itu atas perintah Alex pasti nya.
"Siapa yang memberi izin anak ku di pindahkan ke ruangan ini?" tanya Tiara dengan nada datar tanpa melirik ke seorang laki - laki tampan yang sejak tadi tidak beranjak sama sekali dari tempat duduk nya.
"Aku tidak perlu minta izin pada siapa pun untuk memindahkan anak ku ke ruangan yang lebih layak."
"Hah...apa yang barusan anda bilang? anakku? sejak kapan anda menjadikan anak saya sebagai anak anda, apa anda lupa dengan apa yang sudah anda katakan dulu tentang kedua anak saya. Anda selalu merendahkan saya karena menganggap saya wanita yang hina karena melahirkan kedua anak tanpa seorang suami. Dan sekarang anda dengan mudah nya mengakui kalau Luna adalah anak anda!"
"Aku tidak peduli yang jelas mulai sekarang baik Luna maupun Juna adalah anak ku!" ucap Alex dengan penuh penekanan di setiap perkataan nya.
"Memang mereka anak kalian..."
"Apa !" jawab Tiara maupun Alex secara bersamaan.
Kedua nya langsung menengok ke arah sumber suara.
"Ehm....maksudku kalian cocok jika menjadi orang tua mereka," jawab Seto dengan salah tingkah.
Baik Tiara maupun Alex langsung membuang muka.
"Maafkan aku Lex ... Ra."
Tiara memandangi Seto dari ujung kepala sampai ujung kaki, ada rasa nyeri yang dia rasakan dalam hati nya. Apalagi saat dia menatap jubah putih kebanggan seorang dokter yang Seto kenakan saat ini rasa nya sesak sekali di dada nya.
__ADS_1
"Harus nya aku saat ini sudah mengenakan pakaian itu."