
Bruk...
"Maafkan aku Tiara..." ucap Alex terisak menangis di bawah kaki Tiara.
"Aku benar - benar tidak tahu jika wanita yang berada di dalam kamar itu adalah kamu. Semua itu terjadi begitu saja dan di luar kendali ku Ra..karena saat itu aku sedang di kuasai oleh obat pe*****Ng. Aku sangat menyesal karena tidak bisa mengontrol diri ini Ra," Alex berkata lagi sambil memukuli diri nya sendiri.
Sedangkan Tiara hanya menangis dalam diam, tubuhnya bergetar mendengar penjelasan dari Alex. Sesekali dia mengusap air mata nya yang turun begitu deras di pipi nya.
"Kenapa kamu tidak mencoba untuk menghindar Al, kenapa kamu tidak lari jauh dari tempat laknat itu, kenapa kamu tidak..hiks..." Tiara tidak bisa melanjutkan perkataan nya lagi karena semua itu begitu membuat dada nya sesak hanya isak tangis pilu yang terdengar dari wanita malang itu.
"Maafkan aku Ra..." lagi dan lagi Alex hanya bisa mengucapkan kalimat itu dengan penuh penyesalan.
"Apakah dengan kata maaf bisa mengembalikan apa yang sudah kamu renggut, apa dengan kata maaf bisa mengembalikan masa depan ku yang hancur kembali utuh lagi, apa dengan kata maaf bisa mengembalikan semua nya Al ! tidak semua itu tidak akan pernah kembali lagi, tidak..semua itu tidak akan kembali seperti sedia kala walaupun seribu, seratus, atau bahkan sejuta kata maaf terucap dari mulut mu."
Setelah mengatakan hal itu Tiara beranjak berdiri, dan hendak meninggalkan tempat itu. Namun baru beberapa langkah tubuh nya langsung di dekap oleh Alex. Sebuah pelukan erat dari Alex yang dia dapatkan kali ini.
"Jangan berkata seperti itu Ra, ini semua bukan murni kesalahan ku. Kita di jebak....aku dan kamu sama - sama korban di sini."
__ADS_1
"Maksud kamu?" tanya Tiara saat Alex melonggarkan pelukan nya.
"Kejadian enam tahun yang lalu adalah ulah Jesika, dia mengajak Seto untuk melancarkan rencana busuk nya."
"Seto?"lirih Tiara.
"Ya...kamu benar Seto terlibat dalam rencana busuk Jesika, hanya karena dia tergiur dengan sejumlah uang yang Jesika tawarkan dan dia ternyata juga menginginkan beasiswa kedokteran yang kamu terima saat SMA dulu. Karena alasan itu dia mau membantu Jesika untuk menjebak kamu. Jesika juga yang menyuruh pelayan hotel itu untuk memberikan minuman kepada kamu dan aku. Dan sial nya minuman yang aku minum sudah di beri obat pe****Ng yang sangat kuat pengaruhnya sehingga aku tidak bisa mengendalikan tubuh ku. Walaupun aku sudah berusaha kuat untuk menghilangkan efek dari obat itu. Jesika sengaja memberikan minuman itu pada ku karena dia menginginkan malam itu aku menghabiskan malam bersama nya, tapi takdir justru membawa ku ke kamar di mana kamu berada Ra, saat itu pencahayaan di dalam kamar hotel itu tidak terang sehingga aku tidak bisa melihat siapa yang aku t***ri saat itu, di tambah kepala ku sangatlah pusing sang tubuhku sudah tidak bisa terkontrol lagi jadi aku tidak bisa mengenali mu. Aku tidak tahu bagaimana cara nya saat terbangun aku sudah berada di kamar yang lain dengan pakaian yang masih utuh, bahkan sepatu ku pun masih aku pakai. Ternyata semua itu adalah ulah Seto, aku punya bukti nya Ra jika kamu tidak percaya. Dan bukti itu baru aku terima tadi setelah kamu memberikan kemeja yang aku pakai malam itu." jelas Alex panjang lebar.
"Kenapa setelah kejadian itu kamu tidak berusaha untuk mencari kebenaran nya Al, kenapa baru sekarang!"
"Karena pada saat itu aku tidak bisa mengingat semua kejadian yang aku alami malam itu Ra, kejadian itu serasa mimpi bagi ku. Di tambah setelah aku terbangun di pagi hari nya, aku masih mengenakan pakaian yang utuh dan tidur di kamar hotel sendirian yang dalam keadaan rapih. Tapi setelah melihat Juna dan Luna, entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang berbeda dalam hati ku, dan mendengar ucapan mu saat bersama Jesika di kantor waktu itu membuat aku ingin mencari tahu kejadian saat enam tahun yang lalu. Dan sayang nya rekaman CCTV pada malam itu rusak, dan aku hanya mendapatkan sepotong rekaman saja. Ternyata semua rekaman kejadian pada malam itu sengaja Jesika hapus."
"Apa yang Alex ucapakan benar Ra.. dia juga korban sama seperti mu." ucap seseorang yang tiba - tiba datang dengan tertatih dan di papah oleh Jo asisten Alex. Orang tersebut tak lain adalah Seto. Dengan wajah yang babak belur, dia berusaha untuk mendekat ke arah Tiara dan Alex.
Tiara menoleh ke arah sumber suara. Betapa terkejut nya dia melihat penampilan Seto yang babak belur seperti itu.
"Seto....." lirih Tiara.
__ADS_1
"Maafkan aku Ra...karena ulah ku kamu jadi kehilangan masa depan mu, karena kebodohan dan keserakahan ku ini kamu jadi menderita bersama kedua anak mu," ucap Seto sambil bersimpuh di kedua kaki Tiara.
Tiara menutup mulut nya, air mata nya kembali jatuh lagi membasahi kedua pipi mulus nya, dia benar - benar tidak menyangka teman baik nya selama di SMA dulu tega melakukan semua itu pada nya.
"Kenapa kamu tega melakukan semua itu pada ku to, apa salahku pada mu, hah!" Tiara berkata dengan nada tinggi. Dia memundurkan kaki nya berusaha menghindar dari Seto.
"Sekali lagi maafkan aku Ra..." Seto berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkan maaf dari Tiara.
"Aku siap mendapatkan hukuman apa pun dari kalian, karena semua itu layak aku dapat kan. Asalkan kalian berdua mau memaafkan kesalahanku," ucap Seto dengan bibir bergetar.
Tiara hanya diam mendengar perkataan Seto. Saat ini dia tidak bisa mengambil keputusan apa pun. Karena hati nya saat ini terlalu sakit mendengar kebenaran enam tahun yang lalu.
Alex yang melihat Tiara hanya terdiam, kemudian melangkah mendekati Tiara. Di rengkuhnya tubuh ringkih itu ke dalam pelukan nya.
"Percaya lah pada ku Ra....sampai detik ini aku masih mencintaimu perasaan yang aku pendam dari semasa SMA dulu sampai saat ini tidak pernah hilang, sekalipun aku berusaha untuk membenci mu karena video dan foto itu akan tetapi sekuat apa pun aku berusaha membenci mu justru perasaan itu semakin kuat Ra. Aku selalu berkata pedas bahkan aku juga sering mencaci, menghina diri mu karena aku ingin membuat hati ini membenci mu Ra...tapi justru hati ini semakin kuat mencintai mu," ucap Alex dengan tulus.
Tiara hanya terdiam dalam pelukan Alex, jujur dalam hati nya merasa tenang dan nyaman, di tambah ucapan Alex tadi. Bahkan tanpa sengaja dia membalas pelukan Alex dengan erat pula. Dan itu membuat Alex merasa bahagia.
__ADS_1
"Ibu......"