Mutiara Sang CEO

Mutiara Sang CEO
Bab. 45 Bukan Tiara yang dulu


__ADS_3

Prok...prok..prok...


"Waw.....kejutan sekali bisa bertemu teman lama di sini, bentar - bentar bukankah ini wanita ini yang dulu viral semasa SMA ya," cibir Jesika sambil berjalan mengelilingi Tiara dengan tatapan yang merendahkan.


"Hai wanita bayaran....upz, siapa nama mu Mutiara Ayunda ya, sampai lupa. Udah ngga laku lagi sekarang, sampai harus kerja jadi cleaning service seperti ini. Atau...para pelanggan mu sekarang udah bosan menikmati tubuh mu ini, sehingga kamu banting stir seperti ini, hahahah...."


"Tiara....Tiara....muka sih polos tapi tingkah nya tidak sepolos wajah mu itu," lagi - lagi Jesika menghina Tiara di depan Alex.


Sedangkan Tiara sendiri yang mendapat hinaan dari Jesika hanya tersenyum. Dia tidak menundukkan kepala nya atau menangis dihadapan wanita itu. Hal seperti itu sudah biasa dia terima selama ini, jadi mental nya sudah seperti baja.


Alex yang mendengar Jesika menghina Tiara di hadapan nya mengeraskan rahang nya. Ingin rasa nya Alex menyumpal mulut Jesika saat itu juga, tapi dia tidak bisa melakukan hal itu sebelum dia berhasil mengembalikan apa yang sudah orang tua Jesika berikan untuk menyelematkan perusahaan ayah nya.


"Apa anda sudah selesai menghina saya Nona Jesika?" tanya Tiara dengan begitu tenang dan masih sempat menampilkan senyuman manis nya.


"Kalau belum selesai saya akan mendengarkan semua yang ingin anda katakan pada saya, tapi jika sudah tidak ada lagi saya permisi. Waktu saya terlalu berharga untuk mendengarkan hinaan anda pada saya."


Jesika membulatkan mata nya mendengar jawaban Tiara yang begitu santai menanggapi hinaan dari Jesika. Dia berpikir Tiara akan menangis atau sakit hati karena ucapan nya. Tapi pada kenyataan nya ibu dua anak itu terlihat biasa saja.


Karena tidak ada tanggapan lagi dari Jesika, akhir nya Tiara memberanikan diri untuk berkata pada Alex.


"Silahkan dinikmati kopi nya pak, saya permisi dahulu," pamit Tiara pada Alex dan langsung bergegas meninggalkan ruangan itu.


Saat melewati Jesika dia sengaja membenturkan nampan yang tadi dia bawa untuk menyajikan kopi di bahu Jesika. Sontak saja Jesika melototkan mata nya dengan tingkah Tiara itu. Alex yang melihat hal itu menyunggingkan bibir nya.


"Ternyata dia sudah banyak berubah sekarang, tidak lemah seperti dulu," batin Alex merasa senang dengan Tiara yang tidak pasrah begitu saja saat di hina seperti dulu.

__ADS_1


"Hei....wanita bayaran, lihat saja apa yang akan aku lakukan pada mu nanti," teriak Jesika yang kesal dengan tingkah Tiara.


Sedangkan orang yang di teriaki sudah melenggang begitu saja tanpa menengok ke belakang.


"Rasain Lo...dikira aku akan diam saja apa saat kamu hina, sudah cukup kamu selalu menghina ku saat sekolah dulu. Aku bukan Tiara yang dulu lagi, yang hanya bisa menangis saat mendapat hinaan dari orang lain. Keadaan yang membuat hati dan mental ku ini menjadi kuat sekarang ini. Jadi aku pastikan tidak akan ada lagi orang yang berani menghina ku," monolog Tiara dalam hati seraya berjalan meninggalkan ruangan Alex menuju pantry.


"Sayang....kenapa kamu diam saja saat wanita bayaran itu menabrak ku dengan nampan tadi, lihat....bahu ku jadi sakit dan merah seperti ini," kata Jesika dengan manja dan menunjukkan bahu nya yang terbuka karena Jesika memakai pakaian sedikit terbuka yang sedikit memerah akibat ulah Tiara tadi.


Alex hanya melirik sekilas tanpa mau mengomentari perkataan Jesika.


"Ini Indonesia Jesika, buka Amerika aku harap kamu bisa berpakaian dan berpenampilan yang lebih layak lagi. Jangan lupa jaga batasan mu, aku tidak mau kejadian seperti itu terulang kembali. Dan satu lagi, aku tidak suka kamu asal main masuk ke ruangan ku dengan sesuka hati mu seperti tadi," ucap Alex dengan nada yang dingin dan tanpa ekspresi.


Laki - laki itu langsung menuju ke meja kerja nya untuk melanjutkan pekerjaan. Saat dia akan memeriksa sebuah berkas tiba - tiba pandangan nya tertuju pada secangkir kopi yang Tiara tadi bawa. Alex mengambil cangkir itu dan melihat ke arah isi nya. Dari aroma.nya saja dia bisa menebak jika takaran nya sudah pas sesuai selera Alex.


Tanpa ragu - ragu Alex kemudian meminum kopi tersebut.


Jesika yang melihat ekspresi cuek Alex menjadi kesal. Dia merogoh ponsel dalam tas nya dan terlihat menghubungi seseorang di seberang sana. Tidak lama Jesika mengobrol dengan orang di seberang sana lewat sambungan telepon. Setelah itu giliran ponsel Alex yang berdering.


Drrt....drrt...


Alex melirik ke layar ponsel nya dan tampaklah nama papa nya di sana. Dia langsung mengangkat sambungan telepon itu.


"Hallo pah...."


[.....................]

__ADS_1


"Baik pah..." jawab Alex dengan menatap tajam ke arah Jesika. Sedangkan wanita yang mendapat tatapan tajam dari nya mengalihkan pandangan nya dengan berpura - pura bermain ponsel.


Alex memasukkan ponsel nya ke dalam saku jas nya dan menyambar kunci mobil nya. Jesika langsung menyunggingkan senyuman nya.


"Akhir nya.... kenapa harus lewat om Wira dulu sih Lex baru kamu mau pergi makan siang ma aku," batin Jesika menatap nanar punggung Alex yang berlalu dari hadapan nya tanpa sepatah kata pun.


Merasa tidak ada pergerakan dari Jesika, Alex kemudian menghentikan langkah nya dan langsung menghunuskan tatapan tajam pada wanita yang justru asyik bermain ponsel di sofa.


"CK....apa kamu mau berada di sini terus."


"Emang kita mau kemana?" jawab Jesika pura - pura tidak tahu.


"Tidak usah banyak drama, dan satu lagi aku paling tidak suka dengan orang yang suka nya mengadu. Dikit - dikit mengadu, seperti anak kecil saja. Jika kamu tidak berdiri maka jangan harap aku mau makan siang dengan mu sekalipun papa yang meminta ku lagi," Alex berkata dengan nada yang penuh penekanan dan tatapan menghunus ke arah Jesika.


Jesika yang melihat ekspresi Alex langsung berdiri seketika dan menghampiri Alex yang sudah di ambang pintu.


Akhir nya mereka berdua keluar dari ruangan Alex dengan berjalan beriringan. Saat mereka akan memasuki lift, mereka berpapasan dengan Tiara. Jesika langsung bergelayut manja dengan mengalungkan tangan nya di lengan Alex.


Tiara menatap pasangan itu dengan ekspresi wajah yang biasa. Dia membungkukkan badan nya pada Alex sebagai tanda hormat seorang bawahan kepada atasan nya. Saat Tiara menegakkan badan nya kembali, tatapan mereka tanpa sengaja bertemu, seperti biasa Alex menatap Tiara dengan tatapan yang sulit di artikan. Sedangkan Tiara langsung memutus tatapan itu dan berjalan meninggalkan mereka berdua.


"Apa dia tidak membawa bekal makan siang atau membeli nasi untuk makan siang nya?"


**


Maaf readers ...kemarin tidak bisa UP karena HP tiba - tiba eror☹️, Alhmdulillah bisa normal lagi HP dan baru bisa UP sekarang.

__ADS_1


Jangan lupa dukungan nya selalu ya kakak - kakak readers, supaya author lebih semangat lagi nulis nya..😘


** SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA**


__ADS_2